
Pov Arfan
"Iya deh! Gua doain, semoga semua yang jadi keinginan lu, Allah kabulkan!" tanggapanku tidak mau mematahkan semangat orang yang sedang jatuh cinta.
"Nah gitu bro! lu sebagai teman kerja, harus mendukung temen lu untuk bahagia." ujar Mukti yang mengangkat ibu jarinya.
"Kerjanya fokus dong! jangan sambil ngobrol gitu. dosa tahu! kalau kalian makan gaji buta." ujar suara seorang wanita yang sedang berjalan mengontrol kinerja bawahannya.
Aku dan Mukti pun terdiam sesaat, fokus dengan pekerjaan yang sedang kita kerjakan. sambil menunggu wanita pengontrol itu pergi, mengontrol karyawan yang lainnya.
"Karla itu! omongannya kadang bikin sakit hati, kalau kita nggak tahu sikapnya!" curhat Mukti setelah orang yang di omongkan tidak terlihat.
"Masa Gitu Muk!"
"Iya, tapi walau begitu! dia teman terbaik yang pernah aku kenal. walaupun aku tahu kehidupannya sangat susah, tapi dia sering membantuku, menyemangatiku. kadang aku juga merasa kesel sama Ratna, kalau dia mengganggu Karla, meski itu hanya candaan. Aku heran sama Ratna, Padahal aku sering menasehatinya, Jangan terlalu sibuk mengurus urusan orang lain. tapi dia kayaknya iri sama Karla, makanya terus menjahilinya."
Pagi itu kita pun disibukan dengan pekerjaan masing-masing, sesuai dengan tugas yang sudah ditetapkan. sambil terus mengobrol bercanda, agar kita menikmati semua pekerjaan yang kita kerjakan.
Pukul 11.00, seperti biasa para karyawan cleaning service sudah menyelesaikan semua tugasnya, ada yang pulang, ada yang tetap standby karena hari ini adalah long shipnya.
"Jadi nggak?" tanya Mukti yang menghampiri.
"Apanya yang jadi?
"Lu gua traktir!"
"Jadi dong! kalau masalah gratisan, Jangan Ditanya." jawabku sambil menyunggingkan senyum.
"Ya sudah, ayo!" ajak Mukti yang berjalan mendahuluiku.
Mendapat ajakan seperti itu, Aku berjalan mengikutinya di belakang. namun ketika kita mau pergi, terlihat Karla yang menghampiri.
"Kalian Mau ke mana?" tanya karla sambil membagi tatapan ke arah kita berdua.
"Aku mau ditraktir nih!"
"Mau makan enak ya? Kok kalian tega, gak ngajak?"
"Iya kali! supervisor masa masih butuh traktiran." ujar Mukti menimpali
__ADS_1
"Walaupun sudah jadi supervisor, tapi kan lu tahu gaji gua belum turun, nanti kalau gaji gua sudah turun! gua bagi deh, seorang 10.000!" ujar karla membalas candaan Mukti.
"cukup buat apa uang segitu?" jawab Mukti yang menyilangkan bibir.
"Jadi! boleh nggak gua ikut?" ujar Karla mengulang kembali pertanyaannya
"Boleh dong! lagian perutmu segede apa sih? pakai dilarang segala." Balas Mukti tersenyum mencandai karena
Kami bertiga berjalan beriringan, sambil terus mengobrol dan bercanda. hingga akhirnya kita sampai di halaman parkir perusahaan Atri Group. namun ketika kami hendak keluar pintu gerbang, terlihat ada mobil yang tak asing, berhenti mendadak di hadapan Kami bertiga.
"Nyetir Itu, pakai mata! masak kita yang jalan kaki di pinggir, mau lo tabrak!" labrak Karla sambil mengetuk-ngetuk pintu mobil, Mungkin dia tidak ingat itu mobil siapa.
"Hai wanita kampung! Akhirnya kita bertemu kembali." jawab Erni setelah membuka kaca pintu mobilnya.
"Oh, elu! yang ngaku-ngaku suaminya si Arfan ya, Kenapa masih penasaran dengan pria lembek itu?" balas Karla yang tak kalah sangar.
"Emang dia suami gua! Asal lu tahu, dia belum pernah menceraikan gua."
"Arfan, nih urus gundik lu!" seru Karla sambil menatap ke arahku.
"Apaan sih! Ya sudah, jangan diladenin orang seperti itu! mungkin dia lagi kurang waras. ayo kita makan saja." jawabku yang tak mau memperpanjang masalah, kemudian aku mengajak Mukti untuk melanjutkan kembali langkah kita, melewati mobil Erni di mana Carla Masih Berdiri.
Karla yang Masih Berdiri di dekat pintu, pandangannya yang tak fokus ke arah Erni. Tubuhnya terdorong oleh pintu yang terbuka, sehingga tubuh itu hendak jatuh ke arahku, beruntung reflek tanganku masih bagus, aku bisa menahan tubuh Karla agar tidak jatuh ke tanah, dengan cara memeluknya.
"Kalian apa-apaan sih, lepaskan!" tolak Erni sambil membanting pintu, Kemudian dia melangkahkan kaki, dengan cepat melepaskan genggaman tanganku yang memeluk tubuh Karla.
"Lepaskan bod0h! ngapain lu peluk gua." Ujar Karla sambil menggerinjal, ingin melepaskan pelukanku.
Aku yang selalu salah tingkah ketika bertemu Erni, karena kebencian yang sudah memenuhi setiap sel saraf di otakku. dengan refleks melepaskan pelukan tanganku, sehingga tubuh Karla yang sudah Condong, terjatuh ke tanah.
"Aduh!" desis karla tertahan.
"Maafkan aku! maafkan!" Ujarku yang semakin gugup, sambil menarik tubuh karla agar segera bangkit.
Karla hanya meringis menahan ngilu, di bagian tumpuan duduknya. sambil menatap tajam ke arahku, yang masih gelagapan. "memang benar-benar bod0h! lepaskan sih, lepaskan! tapi jangan dijatuhkan juga." gerutu Karla sambil menepuk tangannya, kemudian dia bangkit sendiri, lalu menarik tangan Mukti agar segera pergi.
Melihat mereka berdua pergi, dengan cepat aku pun mengikutinya, namun tanganku dipegang oleh Erni dengan sangat erat.
"Lepaskan gua!" bentakku sambil menatap tajam ke arah wanita yang telah menghianatiku.
__ADS_1
"Tolong sebentar saja! Aku mau menjelaskan semuanya." Balas Erni tanpa melepaskan genggamannya.
"Mau ngomong apa? mau cerita ketika lu tidur dengan si sampah?" jawabku dengan suara bergetar, tak kuat menahan emosi yang sudah di ubun-ubun. namun Entah mengapa dengan tubuhku, seolah secara sengaja mengulang kembali kenangan-kenangan indah bersama wanita penghianat ini.
"Aku mau bilang! aku melakukan seperti itu, Aku dipaksa oleh Farid. kalau aku nggak nurut, dia akan menyebar videoku, ketika berhubungan dengannya." jelas Erni, matanya yang tak seindah dulu menatap lekat memenuhi wajahku.
"Dipaksa kok, menikmati?" jawabku dengan sinis sambil menarik pergelangan tanganku.
"Jujur! aku nggak punya pilihan, tolong Mengertilah aku! tolong Maafkan Aku, yang tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu. aku ingin kita kembali lagi seperti dulu. Di mana keluarga kecil Kita penuh dengan kebahagiaan." jelas Erni yang terlihat mengiba, seolah dialah orang yang tersakiti. dengan aktingnya yang sangat menjiwai, sampai-sampai kedua matanya berenang dengan cairan kebohongan.
"Iya! aku juga nggak ada pilihan! sekarang kita sudah berada di dunia masing-masing. Aku tidak akan terjatuh ke lubang yang sama. cukup sekali, dalam hidupku. mengalami penyesalan bod0h yang pernah aku lakukan. sekarang aku sudah melihat cahaya yang begitu cerah, yang menyinari jiwaku. jadi sekali lagi Tolong! jangan ganggu hidupku lagi. aku sudah berikan semuanya kepadamu, tanpa terkecuali. agar kamu bisa hidup dengan nyaman." jelasku panjang lebar agar wanita yang masih berdiri menatap ke arahku mengerti.
"Aku nggak bisa Fan! Aku nggak bisa hidup tanpamu, Sayang! tolong maafkan aku, dan kembalilah! Sekarang aku sudah siap memiliki bayi. anak yang selalu kita harapkan kehadirannya."
"Silakan! kamu bisa lakukan itu dengan selingkuhanmu. Harusnya kamu bersyukur aku tidak menuntut apa-apa, aku tidak melaporkan kejahatanmu ke pihak yang berwajib. aku cuma mohon dengan sangat, Jangan ganggu hidupku lagi!"
"Nggak mau! Aku nggak mau. Kenapa dulu kamu memberikan kenyamanan, kalau hanya untuk kamu tinggalkan. Kenapa dulu kamu berikan aku harapan, kalau hanya untuk disia-siakan?"
"siapa yang meninggalkan, siapa yang menyia-nyiakan. apa kamu nggak malu, apa gak bisa intropeksi diri dengan semua kesalahanmu Yang telah kau perbuat?"
"Kalau kamu tidak mau. Jangan Panggil aku Erni! Jika aku tidak bisa membuatmu kembali!" Ancamnya sambil menatap tajam ke arahku.
"Hahaha! Lagian siapa yang mau manggil dengan sebutan nama Erni, kamu lebih pantas dipanggil dengan sampah kotoran." jawabku dengan sinis.
Merasa tidak ada gunanya, mengobrol dengan wanita yang tak memiliki otak. Segera aku membalikkan tubuh hendak pergi meninggalkannya.
"Arfaaaaan! tungguuuuuu! Tolong dengarkan penjelasanku dulu." Tahan Erni sambil kembali menarik tanganku. namun sekarang tarikan itu dengan cepat aku kibaskan, lalu berjalan dengan cepat pergi meninggalkan Erni.
"Arfan tunggu! Arfan!"" Panggil Erni sambil terus mengejarku, beruntung hari ini dia menggunakan sepatu hak tinggi, sehingga jalannya terbatas.
Aku terus mempercepat langkahku, agar cepat sampai ke arah di mana Mukti dan Karla masih menunggu, menonton pertunjukan drama rumah tangga yang sudah Hancur.
"Sandi! tolong tahan wanita itu. jangan sampai dia mengikuti saya." perintahku sama seorang satpam yang aku kenal, dia sedang bertugas menjaga area parkir.
"Baik, pak Arfan!" jawab sandi sambil berjalan menuju ke arah Erni, dengan segera Ia pun menjalankan tugasnya, menghentikan langkah mantan istriku.
Merasa sudah aman, aku pun mendekati Mukti dan karla untuk mengajaknya agar segera pergi.
"Siapa itu Fan, cantik banget! kalau lu nggak mau, mendingan lu kasih gua!" ujar Mukti yang berjalan di belakangku.
__ADS_1
"Tau! mungkin dia orang kurang waras, masa iya aku disamakan dengan suaminya yang sudah tiada." Jawabku berbohong. karena aku yakin ketika tadi aku mengobrol dengan Erni, Mukti dan Carla mereka tidak akan bisa mendengar dengan apa yang kita bicarakan. karena jarak dari mobil parkir sama pintu gerbang lumayan cukup jauh.