
Pov Erni
Aku pindai semua ruangan rumahku, yang belum selesai dibangun. mencari benda yang bisa aku jadikan Alas untuk tempat duduk. mataku terhenti ketika melihat sofa yang berada di ruang tengah, meski acak-acakan namun posisinya yang terbuka, membuatku berpikir, aku bisa duduk sambil beristirahat, menunggu mandor proyek pembangunan rumahku Datang.
Aku tepuk-tepuk kursi sofa itu, menggunakan telapak tanganku. untuk menghilangkan debu yang menempel di atasnya. kemudian aku lap dengan tisu yang aku ambil dari dalam tasku, setelah dirasa cukup bersih, Aku pun membenamkan tubuhku di atas sofa yang begitu empuk. mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah, karena sudah dua hari dua malam, mengurus keperluan Farid di rumah sakit.
Perlahan mataku mulai mengatup, menikmati empuknya sofa yang sedang aku duduki. sehingga tak sadar ada orang mengetuk pintu rumahku yang terbuka.
Aku membuka mata, kemudian pandanganku tertuju ke arah pintu yang sedang diketuk. aku menatap memperhatikan Siapa yang mengetuk dan berani mengganggu waktu istirahatku.
"Maaf Bu! saya mengganggu, Soalnya Ibu tidur nyenyak banget .apalagi keadaan pintu yang tak terkunci." ucap mandor proyek, sambil menatap ke arahku pandangannya yang terlihat aneh, sehingga membuatku semakin menatap tajam ke arahnya.
Mendapat tatapan tajam dari bosnya, dengan cepat pria itu menundukkan kepala. tak berani lagi menatap ke arahku. aku yang tadi tertidur hanya menggunakan rok sepan selutut dan baju kemeja putih. sehingga memperlihatkan pah4ku yang begitu mulus.
"Masuk!" ketusku menyerunya. setelah merapikan bajuku yang sedikit agak terbuka. dengan tetap menunduk mandor proyek itu, mendekati mengikuti perintahku.
"Maaf ada apa ya, Bu!" tanya mandor proyek tanpa berani menatapku. karena Arfan begitu selektif memilih pegawai, sehingga mereka tidak berani kurang ajar terhadap bosnya.
"Mulai besok kamu lanjutkan pekerjaanmu, sesuai rencana awal. minimal kamu selesaikan terlebih dahulu bagian kamar lantai pertama. agar aku bisa cepat menempati." aku mulai menginstruksikan perintahku, yang harus dikerjakan oleh orang yang ada di hadapanku.
"Baik! Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, karena saya sudah diizinkan kembali untuk meneruskan pekerjaan saya di sini." ucap pria berbadan kekar berkulit coklat, karena mungkin sering terkena sinar matahari.
"Iya! Tolong kirimkan nomor rekeningmu, biar saya kirimkan uang untuk pembayaran para pekerja, dan membeli kebutuhan-kebutuhan perlengkapan penyelesaian rumah." jawabku yang tak mau berbasa-basi.
Dengan cepat mandor proyek rumahku mengeluarkan handphonenya, kemudian dia mengetikkan sesuatu di hp-nya.
Tring! tring!
Handphone-ku bergetar, menandakan ada satu pesan yang masuk. dengan cepat aku mengambil handphone-ku, yang berada di dalam tas. lalu mengecek pesan yang masuk itu, setelah aku membacanya, kemudian kualihkan layar handphone, ke layar mobile banking. untuk mengirimkan sejumlah uang kebutuhan renovasi rumahku.
"Sudah masuk! nanti pulang dari sini, kamu bisa cek!" seruku sambil menyimpan kembali handphone-ku ke dalam tas.
"Baik, terima kasih banyak, Bu!" ucap pria itu sambil mengulum senyum bahagia, karena ia tidak menganggur terlalu lama.
__ADS_1
"Oh iya! Satu lagi, Tolong sekarang kamu rapikan barang-barangku, agar tidak terkena kotoran, saat kalian bekerja! aku udah kirimkan uang lebih untuk merapikan itu." aku memberi perintah lagi.
"Siap laksanakan, Bu!" jawab Pak mandor dengan semangat.
"Kira-kira, untuk menyelesaikan kamar utama membutuhkan waktu berapa hari?" aku bertanya kembali.
"Untuk kamar utama, hanya tinggal pengecatan saja Bu, semuanya sudah selesai, karena Pak Arfan juga dulu memerintahkan kami untuk memfokuskan pekerjaan di ruangan itu." jelas mandor proyek rumahku.
"Iya! selesai Berapa hari?" Tegasku yang tak suka dengan jawabannya yang berbelit.
"Dua hari bisa langsung ditempati Bu!" jawab pria itu singkat.
"Nah tinggal jawab gitu doang kan, gampang! jadi nggak usah berbelit!" ketusku.
Setelah selesai memberikan perintah dan arahan ke mandor proyek pembangunan. aku bangkit berdiri membiarkan mandor proyek agar menghubungi rekan-rekan kerjanya, untuk membersihkan dan merapikan barang-barangku, agar tidak kotor atau pun rusak. mengingat waktu yang masih siang, jadi mereka bisa mengerjakan itu sekarang. Biar besok mereka bisa terfokus menyelesaikan pekerjaan di kamarku.
Aku langkahkan kakiku menuju pintu keluar rumah, kemudian masuk ke mobilku, untuk mencari penginapan sementara, sebelum kamarku selesai pengerjaannya.
Aku mencari hotel yang dekat dengan kantorku, agar ketika besok masuk kerja, tidak terlalu jauh. setelah mencari beberapa saat, akhirnya aku pun menemukan hotel yang pas, memang tidak terlalu mewah, namun cukup untuk membuat mataku bisa terpejam. Dahulu sebelum kenal dua lelaki yang ada dalam kehidupanku, Aku hanya tidur di kasur lepek yang sudah tidak empuk.
*****
Keesokan paginya, seperti biasa aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantorku. yang tidak terlalu jauh dari hotel. kalau ditempuh dengan jalan kaki, mungkin hanya 5 sampai 10 menitan, Aku sudah bisa sampai di tempat kerjaku.
Setelah semuanya dirasa rapih, aku pun keluar dari kamarku, menuju parkiraan. berangkat bekerja, untuk memulai kehidupan baru, tanpa hadirnya seorang suami.
Sesampainya di kantor, terlihat ada beberapa karyawan yang selalu menatap sinis ke arahku. karena walau bagaimanapun Aku adalah orang penting di kantor ini, sehingga banyak proyek-proyek yang dipercayakan kepadaku bersama Farid. dan setiap proyek yang Aku garap bersama kekasihku itu, tidak pernah ada yang gagal. sehingga sudah tak aneh, ketika mereka menatap iri dan dengki ke arahku.
Aku terus berjalan, tanpa memperdulikan orang-orang yang tidak mampu menyaingi hidupku. menuju ruangan di mana tempatku bekerja.
"Bagaimana keadaan suamimu?" tanya rekan kerjaku yang satu ruangan denganku. terlihat di tangannya ada satu gelas yang mengeluarkan asap, mungkin dia baru saja menyeduh kopi, untuk memulai harinya.
"Nggak tahu!" jawabku singkat.
__ADS_1
"Lah, bukannya kamu tidak masuk kerja, gara-gara mengurus suamimu yang masuk ruang ICU?" tanya rekanku yang menatap penuh keheranan, perlahan Dia mendekati meja kerjaku.
"Kamu dapat info dari mana, Kalau suamiku masuk rumah sakit. yang ada noh, si Farid lah yang masuk rumah sakit." Tanyaku yang tak kalah heran, dengan penuturan Rekan kerjaku.
"Serius! semua orang di sini sudah tahu, bahwa Pak Arfan masuk rumah sakit. karena ada beberapa proyek kerjasama dengan perusahaannya, yang ditunda pembahasannya!" jelas wanita yang memakai baju blus abu dipadukan dengan rok panjang.
"Kok bisa, aku yang istrinya saja, nggak tahu, Rin!" aku masih kekeh dengan pendapatku, karena sepengetahuanku yang sakit itu bukan Arfan. namun Farid lah yang dirawat, karena dihajar habis-habisan oleh asisten suamiku.
"Terus kalau suami kamu tidak ada di rumah sakit, lantas Sekarang dia ada di mana. Soalnya bos menyuruh kita semua agar cepat merampungkan pembahasan kerjasama, dengan perusahaan Erni Group." tanya Rini sambil duduk di kursi yang ada di sampingku, Mungkin dia ingin lebih serius membahas tentang pekerjaannya.
Ditanya seperti itu. Aku terdiam seketika, merasa bingung dengan apa yang harus aku jawab. gak mungkin aku jujur, aku sudah tidak mengetahui kabar suamiku, setelah aku dan Farid ketahuan sedang berada di atas ranjang oleh Arfan.
"Kenapa, apa jangan-jangan perusahaan suami kamu, mempunyai partner baru, sehingga mereka beralasan bosnya sakit sebagai tarik ulur, untuk menghindari kerjasama dengan perusahaan kita." Selidik Rini sambil menatap ke arah wajahku yang nampak kebingungan.
"Lagi.... istiraha..... Iya..... suamiku lagi istirahat, karena habis pulang kerja dari luar kota." jelasku tergagap, karena bingung harus berkata apa.
"Oh berarti, suamimu tukang bohong juga ya! masa hanya demi kepentingannya sendiri, dia mengorbankan kehidupan banyak orang." tuduh Rini.
"Enggak begitu Rini, Emang siapa sih yang nyebarin bahwa suamiku dirawat di rumah sakit." Aku mengalihkan pembicaraan agar Rini tidak terfokus membahas dan menjelekkan suamiku, sekaligus mencari tahu kebenaran yang diucapkan oleh Rini.
"Pak Dali yang bilang, kemarin Kebetulan aku yang datang ke kantornya. untuk mengurus proyek kerjasama antara kantor kita dengan kantor suamimu. namun dali menjelaskan bahwa Pak Arpan, sedang dirawat di rumah sakit. Jadi asistennya itu tidak bisa memutuskan sendiri, tanpa ada persetujuan dari bosnya." jelas Rini membuat mataku terbelalak dengan sempurna, karena aku baru tahu bahwa suamiku dirawat. namun yang membuatku bingung, suamiku tidak pernah memiliki riwayat penyakit yang begitu luar biasa, apalagi harus sampai dirawat di rumah sakit.
Aku dan suamiku, paling kalau ke rumah sakit, hanya untuk check up kandunganku, yang tidak kunjung dikaruniai anak. padahal bukan masalah medis, akunya saja yang tidak mau mempunyai anak terlebih dahulu, dan menundanya dengan melakukan suntik KB. Aku belum bisa memutuskan, siapa yang Pantas untuk mengisi kekosongan rahimku, Aku tidak mau anakku nanti, tidak tahu siapa bapak yang sebenarnya.
"Kenapa kamu bengong?" Susul Rini setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dariku.
"Si Dali bilang nggak, suamiku dirawat di mana. nanti biar aku laporkan sama suamiku, dia bekerja tidak profesional. Masa bosnya yang sehat walafiat dibilang dirawat." aku terus mengorek keterangan Di mana suamiku berada. Dengan sedikit improvisasi.
"Menurut penuturan Pak Dali, suami kamu dirawat di rumah sakit terdekat dari rumah kamu!"
"Wah, parah tuh si Dali, masa iya Bos yang sehat walafiat dibilang masuk rumah sakit. Kamu tenang saja, nanti saya akan adukan semuanya dengan suamiku, Terima kasih ya, buat infonya." ucapku yang hendak mengakhiri perbincangan pagi itu.
"Sama-sama! Oh ya, kalau bisa kamu tolong bantu rayu suamimu, agar mengacc tentang kerjasama perusahaan kita!" pinta Rini sambil mengedipkan sebelah mata, kemudian menyunginkan senyum termanisnya. menghipnotisku dengan akal bulus, untuk mengikuti perintahnya.
__ADS_1
"Yah nanti, aku sampaikan! sekarang ayo kita bekerja. nanti Pak David marah." ucapku mengingatkan rekan kerja yang hobi ngerumpi ini.
"Terima kasih, sayang!" Jawabnya sambil menaikkan alis kemudian dia berlalu pergi menuju meja kerjanya.