
Pov Farid
"Otakmu, licik banget Vin!" pujiku sambil menatap wanita yang ada di hadapanku.
"Siapa yang licik! harusnya Bapak tidak merendahkanku seperti itu, harusnya Bapak berterima kasih! karena saya sudah membantu bapak."
"Gitu aja ngambek!" ujarku sambil kembali mendekatkan wajahku ke arah wajahnya. sehingga kegiatan tadi yang terhenti, ketika aku menelpon calon istriku kembali berlanjut. namun itu, tidak lama. karena Vina dengan cepat menghentikan itu.
"Kalau Bapak mau lebih. ikutin semua perintah saya! sampai Bapak berhasil mendapat seluruh harta Bu Erni. dan hasilnya kita belah semangka, Saya bukan orang yang tamak dengan harta. semoga tawaran saya bisa dimengerti oleh Bapak." ujar Vina, tanpa menunggu jawabanku dia keluar dari mobil, kemudian pergi entah ke mana.
Aku hanya mendenguus kesal, Karena hasrat tidak tersalurkan. Dan Awalnya aku juga ingin pergi meninggalkan hotel di mana erni sedang berhubungan dengan pria lain. namun rasa penasaran yang begitu memenuhi pikiran, hingga aku tak jadi meneruskan Niat. Aku penasaran, siapa pria yang mampu membuat erni, terpincut olehnya. Padahal selama yang aku tahu, Erni selalu memuji kegagahanku, ketika berada di atas ranjang. Bahkan dia sering menghina suaminya, yang kadang tidak bisa memenuhi hasrat wanitanya.
Akhirnya aku pun keluar dari mobil, lalu mencari keberadaan mobil Erni. benar ternyata, mobil istriku terparkir menandakan Erni ada di salah satu kamar hotel. setelah yakin bahwa calon istriku masih berada di hotel. Aku berjalan menuju ke arah resepsionis, di mana para tamu hotel mendaftar. aku memindai area sekitar, setelah dirasa aman, aku pun memanggil salah satu resepsionis agar mendekat.
"Maaf! ada yang bisa saya bantu." tanya resepsionis dengan senyum khasnya, senyum ramah ketika mereka menyambut pelanggan.
"Saya mau informasi, pengunjung atas nama Erni tidur di kamar nomor berapa?"
"Bapak sudah membuat janji, dengan orang yang Bapak Sebutkan?"
"Sudah!"
"Baik! sebentar saya tanyakan dulu sama orangnya." ujar resepsionis itu sambil mengangkat gagang telepon hendak menghubungi Erni.
"Tunggu! jangan hubungin dia."
"Kenapa?" tanya pelayan itu yang masih menempelkan gagang telepon di telinganya, matanya menatap heran ke arahku.
"Tolong kasih tahu saya! di mana kamarnya saja."
"Maaf pak! ini sudah menjadi privasi pelanggan, kalau bapak tidak membuat janji. maka saya tidak bisa membantu!" tolak resepsionis itu sambil menyimpan kembali gagang telepon yang dia pegang.
Tidak habis cara, aku mengambil Brosur yang ada di kotak resepsionis, dengan cepat aku mengisinya dengan beberapa uang lebaran merah, lalu menunjukkannya sedikit ke arahnya.
"Saya cuma mau tahu, dia sekarang tidur di kamar mana. Saya janji tidak akan membuat kekacauan." ujarku dengan pelan, takut terdengar oleh orang lain.
__ADS_1
"Maaf Pak! saya tidak bisa!" Ujarnya Sok jual mahal, namun terlihat matanya terus menatap ke arah Brosur yang terisi oleh uang.
"Gini aja! saya pesan satu kamar, yang berhadapan dengan kamar orang, yang bernama Erni. Itu cukup mudah kan? jadi kamu tidak harus takut!"
"Baik kalau begitu!" ujarnya sambil mengambil Brosur yang tadi aku serahkan, kemudian dia membuka buku tamu, setelah menemukan apa yang ia cari. kemudian dia pun mendekati loker. yang di mana, di dalamnya berjejer kunci kamar hotel. dengan cepat dia pun mengambil salah satu kunci, lalu dia simpan di atas meja.
"Mau short, apa long?"
"Short!" ujarku.
"Sebentar saya bikinkan catatannya terlebih dahulu." ujarnya sambil menulis nota, kemudian dia menyerahkan kunci yang ia pegang ke arahku. setelah melihat nota itu, aku pun mengeluarkan uang Sesuai yang ada di nota.
"Silakan semoga puas dengan pelayanan kami!" Katanya, kembali tersenyum ramah, senyum yang dipaksakan karena Tuntutan kerja. Namun aku tidak memperdulikan itu, aku terus berjalan menuju kamar sesuai yang disarankan oleh resepsionis hotel.
Sesampainya di kamar, dengan cepat aku pun masuk ke dalam. lalu mencari posisi terbaik, agar aku bisa melihat apa yang dilakukan oleh calon istriku. Namun sayang keamanan hotel yang sangat luar biasa, sehingga aku tidak bisa menembusnya. aku hanya bisa menunggu Erni keluar dari kamarnya. hanya itu Harapan satu-satunya, agar aku yakin dengan apa yang hendak aku lakukan ke depannya.
Aku sedikit membuka pintu kamarku, agar bisa melihat jelas ke kamar yang sedang Erni tempati, kamar yang berhadapan dengan kamar yang aku tempati sekarang.
Aku terus menunggu sampai Aku mulai ragu dengan apa yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi. karena hampir 2 jam menunggu, tidak ada pergerakan atau perubahan yang membuatku curiga. "Awas aja kalau resepsionis itu berani berbohong, maka aku tidak akan segan-segan melukainya." gerutuku yang sudah merasa pegal, karena dari tadi mondar-mandir terus.
Pukul 14.30. akhirnya terdengar suara pintu yang digeser dari arah kamar yang berada di hadapan kamarku. Dengan cepat aku menempelkan tubuh, untuk melihat ke arah datangnya suara.
Sebelum pergi meninggalkan kamarnya, dia pun berdiri sebentar, lalu menggeridigkan tubuh, seolah lagi membayangkan kembali dengan apa yang baru saja ia alami. aku meremas handle pintu dengan sangat kuat, kalau tidak ingat apa yang dikatakan oleh Vina, mungkin saat itu aku sudah menarik tangannya. lalu melemparkan dia dari lantai atas ke bawah.
"Sabar! sabar!" hanya motivasi itu yang terus aku Tanamkan dalam hati, agar aku bisa tetap tenang dalam menghadapi musibah dan cobaan yang begitu menyakitkan. Erni tak lama dia berdiri di depan pintunya, dia dengan segera pergi meninggalkan kamar itu.
"Dret! dret! dret!"
HP ya aku kantongi bergetar, beruntung ketika aku kerja tidak pernah menyalahkan notifikasi handphone, sehingga ketika ada panggilan masuk tidak mengundang kecurigaan orang. dengan cepat aku merogoh handphone yang bergetar dari dalam saku celana, lalu melihat Siapa orang yang menelepon.
"Wanita sial4n!" gumamku setelah melihat orang yang menelponku, dengan cepat aku menggeser tombol warna hijau ke atas.
"Kenapa sayang!" ujarku setelah menarik nafas beberapa kali.
"Kamu masih lama pulangnya, Kalau masih lama, nanti sayang langsung datang ke rumah saja! soalnya Hari ini aku capek banget, karena pekerjaanku sangat banyak. Jadi gak bisa nunggu kamu buat pulang bareng." ujar Erni.
__ADS_1
"Pekerjaan melayani gundikmu! dasar wanita Jal4ng!" gumamku dalam hati.
"Siap sayang! nanti setelah selesai kerja, aku langsung berangkat ke rumah kamu."
"Oke ditunggu! Aku kangen sama kamu." ujar Erni dengan suara manjanya namun suara itu tidak membuat hasratku terpanggil, sekarang hanya menyisakan rasa jijik mendengar suaranya.
"Sama aku juga!" Jawab ku sambil memalingkan wajah, membuang nafas agar tidak terdengar olehnya.
"Ya sudah! kamu hati-hati kerjanya ya."
"Yah, kamu juga hati-hati pulangnya! jalannya jangan cepat-cepat, nanti kamu lecet!"
"Kok kamu tahu aku sedang jalan, emang sekarang kamu ada di mana?" tanya Erni yang terlihat curiga, dengan cepat aku menggigit bibirku merasa kesal dengan ucapan yang tidak bisa ku kontrol.
"Ya tahulah! suaramu terengah-engah seperti itu, pasti kamu lagi jalan, apa lagi sepatu hak tinggimu tidak bisa menyembunyikan langkahmu." Otaku yang sedikit moncer, sehingga dengan cepat aku bisa memberi alasan yang tepat.
"Ya sudah, ya! aku sudah sampai mobil nih! ditunggu yah kedatangannya, awas jangan sampai tidak datang!" ancam Erni sambil memutus telepon itu.
Setelah telepon itu terputus. dengan cepat aku membuka pintu kamar hotelku, lalu mendekati pintu kamar hotel yang baru saja Erni tinggalkan. perlahan aku dorong pintu itu, beruntung pintu itu tidak terkunci.
"Ban9sat! kamu di mana." Teriakku setelah Mengunci pintu Hotel, kemudian aku memindai area kamar yang sudah acak-acakan. sprei sudah tidak pada tempatnya, bantal dan guling sudah berceceran di mana-mana. aku terus berjalan sambil berhati-hati, takut takut pria yang berkencan dengan calon istriku, dia menghadangku, atau melukai.
Aku terus memindai area kamar bekas orang jahan4m melakukan dosa. Aku Terus mencari keberadaan laki-laki yang sudah menghancurkan kebahagiaanku. di atas nakas ada tumpukan uang yang disimpan, entah uang apa itu, namun aku tidak terlalu mempedulikannya. Fokusku hanya mencari keberadaan pria yang sudah menghancurkan kebahagiaanku.
"Ceklek!"
aku dorong pintu kamar mandi, setelah pintu kamar itu terbuka. Aku melihat ada seorang pria yang sedang duduk di pojok toilet, tanpa menggunakan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. kepunyaannya yang masih tegak berdiri, dibiarkan begitu saja. dia tertunduk dengan senggukan, seperti orang yang sedang menangis. Posisinya yang tertunduk sehingga aku belum melihat siapa Wajah pria biadab ini.
Melihat orang yang sedang menangis, tidak membuat hatiku merasa Iba. dengan cepat aku pun melayangkan tendangan tepat ke arah wajahnya, hingga kepala pria itu terbentur ke dinding tembok.
"Pak Farid! ujar pria itu setelah melihat ke arah wajahku.
"Ari! Bukannya Lo Ari! yang kerja di perusahaan calon istri gua." aku layangkan kembali tendanganku ke arah dadanya.
"Bangun ban9sat! Ayo lawan gua! lu hanya sampah yang tak tahu malu." ujarku sambil menjambak rambutnya, Kemudian beberapa pukulan aku layangkan ke arah wajah Ari.
__ADS_1
Namun dia hanya tersenyum tanpa melawan.
"Bunuh saja saya Pak! saya sudah tidak pantas hidup lagi, harta yang saya miliki, sudah direnggut oleh Bu Erni." Ungkap ari. wajahnya yang sudah mulai terlihat penuh dengan cairan merah. namun dia tetap mengembangkan senyum seolah dia tidak merasakan sakit akibat hantamanku.