Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 32 HAKKU


__ADS_3

Pov Erni


Pukul 12.00, mengingat hari ini, adalah hari Sabtu. maka jam kerja kantor pun hanya setengah hari, jadi setelah jam 12.00, para karyawan sudah boleh pulang. sama sepertiku yang sudah berada di parkiran, hendak meninggalkan tempat kerjaku.


Tring! tring! tring!


Tiba-tiba ponselku berbunyi, setelah melihat Siapa yang memanggil, dengan cepat aku pun mengangkatnya.


"Yah, ada apa, Rid?" aku bertanya sama orang yang menelponku.


"Lembur gak? kalau nggak, kamu ke sini, ada beberapa hal penting, yang mungkin bisa membuatmu bahagia!" jelas Farid yang terdengar bersemangat


"Enggak, Ini aku baru mau pulang, Ada apa nih, kayaknya serius banget?"


"Sebelum kamu pulang, kamu mampir dulu ke sini! dekat kok dari kantor kita. Nanti aku jelaskan biar enak, kalau langsung."


"Ya sudah! share loc." pintaku.


Farid pun memutus telepon itu, kemudian tak lama setelah itu ada pesan masuk ke handphoneku. dengan cepat akubmembuka pesan yang dikirim oleh Farid, kemudian menekan tombol rute, untuk memanduku menuju ke lokasi yang Farid kirimkan.


Mobilku pun melaju, meninggalkan kantor di mana Aku bekerja. membelah panasnya kota Jakarta, yang begitu semraut dengan berbagai macam kemacetan, dan keunikannya.


Setengah jam berlalu, akhirnya aku pun sampai di salah satu cafe, yang tak begitu mewah. namun terlihat cocok untuk mengobrol, karena memiliki ruangan private room untuk para tamu yang memiliki privasi yang tinggi. Kepadatan jalan di kota Jakarta membuatku membutuhkan waktu selama itu, padahal jarak tempuh sebenarnya hanya 5-10 menit. Ketika jalanan normal.


Setelah bertanya sama waiter, aku pun diantar menuju ruangan di mana Farid menungguku. setelah sampai di salah satu room, waiter itu mengetukkan pintu untukku, tak lama menunggu Pintu itu terbuka, kemudian terlihat farid tersenyum menyambut kehadiranku. Dengan cepat ia menghampiri dan mempersilahkanku, untuk masuk bergabung mengobrol dengan mereka. karena selain Farid di ruangan itu, sudah menunggu dua pria dengan kemeja putih dibalut dengan jas hitam, serta dasi yang mengait di lehernya. menunjukkan bahwa mereka sangat profesional dalam pekerjaannya.


"Silakan duduk, Bu!" tawar Farid Sambil menggeserkan salah satu kursi untuk mempersilahkanku.


"Terima kasih!" Ucapku sambil tersenyum ke arah Farid, namun Sebelum duduk, tak lupa aku menganggukkan kepala, memberi hormat kapada kedua orang yang ada di hadapanku. Mereka pun membalas penghormatan itu dengan manggut sambil memberikan senyum ramah.


"Perkenalkan, saya dasa, dari lembaga hukum bibit kelapa. dan ini rekan saya, namanya Pak Nanang." ucap salah seorang yang baru aku kenal mengenalkan dirinya, kemudian dia menguluarkan tangan untuk mengajakku bersalaman.

__ADS_1


"Erni!" jawabku, sambil tersenyum manggut menunjukkan Sisi keramahanku. sebagai orang yang membutuhkan bantuan mereka. Begitulah hidup kadang kita harus merendah untuk meninggi.


Kami bertiga pun duduk kembali, sebelum membahas pokok pembahasan yang utama.


"Jadi bagaimana, Pak?" aku mengawali pembicaraan dengan bertanya kepada mereka.


"Pak Farid, bisa tolong jelaskan?" tawar Pak dasa, sambil melirik ke arah Farid yang berada di sampingku.


"Biar lebih jelas, pak Dasa saja yang menjelaskan langsung, karena bapak yang lebih mengerti masalah ini." tolak Farid dengan halus.


"Jadi begini, Bu Erni! setelah tadi kami melakukan pengecekan, ternyata tidak ada yang harus kami usahakan, karena Erni Group adalah murni hak Ibu. jadi itu satu hal yang sia-sia, ketika kita menggugat hak milik kita sendiri." jelas Pak dasa sambil menatap ke arahku, menggambarkan bahwa yang diucapkan itu sangat serius.


"begitu! Terus sekarang Saya harus bagaimana?" aku bertanya kembali, karena masalah yang kuhadapi, Bukan keahlianku.


"Ya! Ibu tinggal masuk aja ke kantor, lagian itu perusahaan milik Ibu sendiri. Masa iya masuk ke rumah sendiri harus meminta izin sama orang lain. nanti kalau ada yang menggugat, baru kita hadapi. jadi menurut saya, tidak ada masalah kalau Bu Erni menduduki kantor milik sendiri." jelas pak Dasa.


"sekali lagi saya ucapkan Terima kasih! atas semua bantuannya. dan nanti untuk kedepannya, kalau ada masalah dikantor, Tolong bantu ya!"


"Baik, itu sudah menjadi tanggung jawab Kami. yang terpenting sekarang ibu harus sering rajin-rajin datang ke kantor. apalagi menurut cerita Pak Farid, kepemimpinan perusahaan Erni group, sedang tidak ada. jadi inilah kesempatan yang baik untuk ibu menduduki kepemimpinan perusahaan yang sedang kosong, mengambil kembali hak ibu, sebagai pemilik sah perusahaan itu." saran Pak Nanang, yang sejak dari tadi diam, hanya menyimak.


"semoga kerjasama Kita terus terjalin, sampai kapanpun." ucapku sambil mengajak kembali mereka bersalaman, memulai kerjasama dalam bidang perlindungan hak milik.


"Amin! semoga saja perusahaan ibu terus maju."


Setelah tidak ada lagi pembahasan, mereka berdua pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya. tinggallah aku dan Farid yang masih duduk berdua, sambil saling menatap, diikuti kedua sudut bibir yang saling terangkat, merasa bahagia. karena apa yang dibayangkan sangat susah, ternyata begitu mudah. Mungkin inilah hokiku dan hoki Farid Kekasihku.


"Bagaimana, kamu siap jadi ibu direktur?" tanya Farid sambil mengkerlingkan mata ke arahku.


"Siap, nggak siap, aku harus tetap menjadi direktur itu, karena itu adalah hakku." jawabku.


"Berarti kalau kamu jadi direktur di perusahaan kamu sendiri, kamu akan mengundurkan diri dari perusahaan Pak David?" tanya Farid.

__ADS_1


"Yah! nanti aku akan mengobrol dulu sama Pak David, karena walau bagaimanapun. Dia adalah orang yang mempercayaiku sebagai Direktur perencanaan di perusahaannya, kalau nggak, tolong kamu urus pengunduran diriku dari perusahaannya." jawabku meminta bantuannya.


Akhirnya kami pun terlarut dalam obrolan-obrolan, seputar tentang pekerjaan. bahkan sesekali diselingi membahas Arfan yang entah berada di mana sekarang.


****


Dua hari kemudian, tepatnya Hari Senin. pagi-pagi itu aku sudah bangun, kebetulan kamar rumahku sudah selesai, sehingga kemarin sore. aku sudah bisa menempati kamarku, yang begitu luas, lengkap dengan berbagai peralatan canggih, sesuai desain yang dibuatkan oleh suamiku. meski rumahku sebenarnya belum selesai seutuhnya, namun aku lebih memilih tinggal di sini, karena Aku takut ketika ditinggalkan, nanti Arfan mengambil rumah ini kembali, sehingga aku tidak akan mendapat apa-apa. Ketika kita harus berpisah.


Kemudian aku pun masuk ke kamar mandi, yang ada di kamarku. kamar mandi yang berukuran 3 kali 3 meter, sehingga mampu menampung peralatan mewah, seperti peralatan mandi yang ada di kamar hotel bintang 5.


Aku rendam tubuhku di bathub, dengan air panas kuku, agar tubuhku tetap terawat, apalagi Hari ini aku berencana yang mendatangi perusahaanku, untuk mengelolanya. Untuk memperkenalkan diri sebagai Direktur Utama di perusahaan itu.


Setelah selesai mandi, aku pun menuju ruang dapur untuk sarapan. kebetulan kemarin sebelum pindah ke sini, aku sudah mendapatkan ART. dan satu satpam sesuai anjuran Farid. Agar aku tidak kesusahan dalam mengurus rumah Baruku. Sehingga seperti sekarang, aku dengan mudah mendapatkan sarapan tanpa harus membeli di luar.


Selesai sarapan, aku pun berangkat menuju kantor Baruku. untuk memulai menjalankan misiku, menguasai perusahaan ku sendiri.


Pukul 08.00. akhirnya aku sampai di perusahaan Erni Group, ketika aku menapaki lobby utama kantor itu, banyak mata yang menatap heran, karena tak seperti biasanya aku datang ke sini. Namun aku terus melangkah, tidak memperdulikan tatapan itu. menuju ruangan Direktur Utama, ruangan yang biasa suka dipakai suamiku bekerja.


Pukul 08.30. terdengar suara ketukan di pintu ruangan kerjaku. dengan cepat aku pun mempersilahkan orang yang mengetuk itu untuk masuk.  pintu ruangan pun didorong kemudian masuklah Dali asisten suamiku.


Tiba tiba Matanya terbelalak kaget, melihatku yang sudah duduk di kursi direktur. Kemudian dia mengkerajapkan mata memastikan bahwa dia benar-benar melihatku, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.


"Biasa aja kali, menatapnya! kayak menatap Bidadari saja." Ledeku sambil menatap sinis ke arahnya.


"Ada apa, Bu? kok Ibu, bisa berada di sini?" tanya dali tak menghiraukan ucapanku.


"Kenapa, kamu bertanya seperti itu? ini kan perusahaan milik gua. dan kalau lu nggak percaya, nih baca!" ujarku sambil melemparkan satu berkas kepemilikan perusahaanku, ke atas meja


Dengan wajah kesal, Dali pun mengambil berkas itu, lalu membacanya dengan teliti, memperhatikan setiap paragraf, agar dia tidak salah baca. setelah selesai membaca, Dali menutup kembali berkas itu, dan menyimpan kembali di tempat semula.


"Bagaimana, sudah jelas kan?" Tanyaku sambil menarik satu sudut bibirku ke atas.

__ADS_1


"Ya, Bu! maaf kalau saya kurang sopan." ucap Dali sambil menundukkan kepala.


"Nah gitu dong, kamu lucu kalau wajahmu kelihatan takut seperti itu. Sekarang kumpulkan semua staf yang bekerja di perusahaanku. kita akan mengadakan rapat tentang pengurusan baru di kantor ini!"


__ADS_2