Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 38 MAAF BU!


__ADS_3

Pov Erni


Setelah beberapa lama mengendarai mobil. akhirnya aku dan Farid sampai di salah satu bangunan berlantai dua, dengan menggunakan pintu lipat slending hundurson, yang terbuka sebagian. menandakan ada orang di dalamnya.


"Ayo turun! ajak Farid sambil melepas seatbelt yang melingkar di tubuhnya.


Aku pun mengangguk, kemudian mengikuti Farid berjalan di belakangnya. menuju pintu lipat yang terbuka. setelah berada di dalam, terlihat ruangan itu masih kosong, tidak ada barang apapun yang mengisinya.


"Paaaaaak! bapaaaaaaak!" teriak Farid memanggil orang tuanya.


"Yah! sebentar Bapak turun." jawab suara orang tua dengan berteriak pula, terdengar suara itu dari arah lantai dua. kemudian tak lama terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.


Dengan cepat aku pun mengambil tangan pria tua itu, menyambut kedatangannya. untuk mengajaknya bersalaman, kemudian mencium punggung tangannya.


"Terima kasih, yah! sudah membantu, meminjamkan modal untuk bapak!" ucap bapak Farid sambil mengulum senyum, menunjukkan raut wajah yang begitu bersemangat.


"Sama-sama, Pak! rencananya mau dibuat usaha apa?" aku menanggapi ucapan bapaknya Farid, dengan mengulum senyum.


"Bapak mau buka sembako saja! biar mudah menjualnya. karena semua orang membutuhkan itu, apalagi ruko ini masih ada dalam lingkungan pasar." Tutur bapak Farid dengan percaya diri


"Waaaah, mantap! semoga sukses ya, pak!" ungkapku dengan menunjukkan mimik wajah penuh kekaguman, agar orang yang ada di hadapanku, merasa bersemangat ketika dia memulai usahanya.


"Iya! semoga saja Bapak bisa cepat melunasi hutangnya!" ujar bapak Farid.


"Santai saja, Pak! Lagian aku membantu Bapak ikhlas kok, jadi Bapak nggak usah mikirin itu!" jawabku yang sebenarnya memberikan uang itu secara cuma-cuma.


"Iya Pak! semoga saja kita nggak mengecewakan Erni!" timpal Farid yang sejak dari tadi hanya menyimak, terlihat Dia memberikan isyarat agar aku tidak bercerita tentang yang sebenarnya.


"Iya, Rid! Bapak juga bukan orang bod0h, yang tidak tahu berterima kasih. yang lepas dari tanggung jawab!" dengus bapak Farid, seolah tidak suka ketika diingatkan oleh anaknya.


"Yah! bukan begitu Pak! biar bapak bisa mikir dan lebih giat saja dalam berusaha!" jawab Farid yang tidak mau mengalah.


"Halah! anak Gak berguna, jangan sok bijak!"


"Kapan memulai membuka toko sembakonya, Pak?" aku menengahi mereka, karena suasana sudah mulai sedikit memanas.


"Mungkin minggu depan, Bapak sudah mulai membuka usaha. karena ada beberapa tempat yang harus dirapikan, terus Bapak akan memberi rak terlebih dahulu. agar toko sembakonya terlihat seperti Swalayan Swalayan besar." jawab Bapak Farid yang kembali ceria, berbeda ketika dia berebut pendapat dengan anaknya.


Setelah puas meninjau lokasi, yang akan dijadikan toko sembako oleh bapaknya Farid. aku pun berpamitan untuk pulang ke rumah, mengingat waktu sudah mulai agak gelap. bapak Faridpun mengizinkan namun dia tidak ikut pulang bersama. Padahal aku dan Farid sudah memaksanya untuk ikut, namun dia tetap menolak, karena menurut beliau masih ada urusan yang harus ia selesaikan, Di tempat usaha barunya.

__ADS_1


Akhirnya aku dan farid pun mengalah, meninggalkan pria itu sendiri, untuk mengurus tempat usahanya. kita berdua terus berjalan menuju mobil yang terparkir di depan ruko.


Sesampainya di mobil, kita pun dengan segera masuk ke dalamnya, pergi meninggalkan ruko yang akan dijadikan tempat usaha oleh bapaknya Farid, membelah gelapnya malam Kota Jakarta.


"Terima kasih, ya! sudah membuat bapak kembali bersemangat." ujar Farid mengawali pembicaraan, pandangannya tetap terfokus ke arah depan.


"Sama-sama! aku yang harusnya berterima kasih. karena aku sudah sering merepotkan kamu." ungkapku yang tak mau merendahkan martabat pria yang ada di sampingku.


Tak ada pembicaraan lagi setelah itu, Farid yang fokus menyetir sambil mendengarkan musik yang diputar lewat audio mobil. sedangkan aku yang menatap ke arah luar kaca jendela, membayangkan kembali pria yang tadi aku temui di kantor.


Lamunanku terhenti, setelah Farid memarkirkan mobil di salah satu hotel, membuatku sedikit mengkerlingkan mata ke arahnya.


"Santai! Aku nggak akan minta jatah, kok! aku hanya Mau mengajakmu makan malam saja." Ungkap Farid yang selalu peka dengan perubahan sikapku.


"Halah! apaan sih, kalau mau juga nggak apa-apa!" jawabku sambil mengulum senyum manja, menyembunyikan pikiranku yang sedang terbang bersama Ari, walau ragaku sedang bersama Farid.


"Are you sure?"


"Yes!"


Faridpun turun dari mobilnya, kemudian dengan Sigap ia membukakan pintu untukku, bak seorang Ratu yang sedang dilayani oleh punggawanya.


Aku pun mengangkat tangan kiriku, dengan cepat dia  menggenggam tangan yang ku ulurkan. kemudian Iya menuntunku berjalan, menggandengku untuk masuk ke dalam hotel, mencari restoran untuk mengisi acara dinner kita.


Walaupun kita sudah berhubungan lama, Namun Baru kali ini Farid bisa leluasa menemani aktivitasku, karena kemarin-kemarin kita harus bisa mencari tempat dan waktu yang tepat, agar tidak melukai perasaan sahabatnya.


Selesai makan malam Farid mengajakku untuk menginap di hotel ini. hasrat wanitaku yang sudah bergejolak Sejak dari pagi, setelah bertemu dengan pria yang bernama Ari. membuatku tak ada alasan untuk menolak ajakan pria yang menghancurkan Rumah tanggaku.


*****


Keesokan paginya, seperti hari-hari sebelumnya. aku sudah berada di kantor, bergelut dengan berkas-berkas yang sampai sekarang belum selesai aku pelajari. apalagi perusahaan yang sedang mempunyai banyak tender, yang sedang ditangani. sehingga aku terus belajar untuk mengembangkan perusahaan yang ditinggalkan oleh suamiku.


Truk! truk! truk!


"Masuk!" seruku kepada orang yang mengetuk pintu ruanganku.


"Selamat pagi, Bu!" sapa pria yang kemarin membuatku tak bisa berpaling untuk tak memikirkannya.


"Iya Ri! Silakan duduk." ucapku yang terlihat cuek, padahal hatiku bersorak kegirangan. Karena pria yang mengganggu pikiranku, akhirnya datang untuk bertekuk lutut kepadaku.

__ADS_1


Aripun mengangguk, kemudian ia duduk di kursi yang ada di hadapanku. tiba-tiba suasana pun menjadi hening, rasa canggung membuatku kikuk, tak bisa berbuat banyak.


"Maaf!" ucap kita berdua Serentak. membuatku merasa lucu, mengingatkanku ke film-film drama yang sering aku tonton.


"Iya ada apa, Ri?" Tanyaku dengan tetap menunjukkan wajah datar.


"Sebelumnya saya minta maaf terlebih dahulu, karena sudah mengganggu waktu ibu." ucap Ari sambil tetap menundukkan pandangan.


"Nggak, kok! saya nggak lagi sibuk. kamu butuh apa?" Tanyaku sambil menautkan tangan di hadapan wajahku.


"Begini, bu! kemarin Pak HRD. sebelum pulang dari kantor, beliau memanggil saya!"


"Terus?" ujarku memotong  Yang Tak sabar mendengar kelanjutannya.


"Beliau memanggil saya, untuk menawarkan menjadi asisten pribadi ibu. apakah itu benar?" tanya Ari yang sedikit tergagap.


"Terus, kalau benar kenapa? kalau nggak kenapa?" Tanyaku seperti wanita pada umumnya, yang suka memutar-mutar perkataan.


"Kalau benar! saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. kalau nggak Mohon maaf saya telah mengganggu waktu ibu." jawab Ari yang tak merubah posisi duduknya.


"Terus tanggapanmu Bagaimana? mau, apa enggak jadi asisten pribadi saya?" Ucapku yang menunjukkan bahwa yang disampaikan oleh HRD perusahaanku itu benar adanya.


Aripun terdiam beberapa saat, tanpa berani menatap ke arahku. membuatnya semakin terlihat cool. Lama terdiam akhirnya terlihat dia menarik nafas dalam, sehingga membuatku menjadi penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan.


"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. karena sudah memberi kesempatan saya, untuk menduduki posisi yang luar biasa itu, namun saya mohon maaf terlebih dahulu, apabila yang hendak saya sampaikan, melukai perasaan ibu, yang sudah begitu baik terhadap saya." ujar pria tampan itu diplomatis.


"Yah, nggak apa-apa! sampaikan saja!" ucapku sambil mengulum senyum, menyembunyikan rasa gemas terhadap karyawanku ini.


"Sekali lagi saya meminta maaf, saya lebih nyaman dengan pekerjaan saya, yang sekarang. saya takut tidak bisa menjadi yang terbaik, ketika mendampingi Ibu. karena itu bukan keahlian saya! Sekali lagi saya mohon maaf!"


"Nggak apa-apa, kok! kalau kamu nggak bisa. tadinya saya berharap kamu bisa membantu saya lebih dekat! Karena setelah melihat pekerjaanmu, Saya yakin! kamu adalah orang yang profesional, dan begitu disiplin. Saya suka sama orang yang punya prinsip seperti kamu. ya sudah! kalau seperti itu, kamu boleh lanjutkan kembali pekerjaan!" jawabku dengan suara datar, menyembunyikan perasaan kecewa, yang menyelimuti tubuh. rasanya ingin memarahi pria yang ada di hadapanku. namun hasrat untuk memilikinya lebih tinggi, sehingga aku harus mengalah terlebih dahulu, untuk menang kemudian.


"Jadi, Ibu! tidak marah?" ucap ari sambil mengangkat pandangan menatap Ekspresiku.


"Ngapain marah, kurang kerjaan amat!" ucapku sambil mengulum senyum.


"Terima kasih banyak! ternyata Bu Erni, memang sangat baik. kalau begitu saya pamit untuk melanjutkan pekerjaan." Ujarnya sambil bangkit.


Melihat dia bangkit, aku pun ikut berdiri, menghormat orang yang akan berpisah. kemudian aku mengulurkan tangan untuk memberi selamat bekerja. namun ketika tanganku bersentuhan dengan tangannya, ada getaran-getaran yang tidak bisa aku tuliskan. yang membuatku semakin merasa penasaran dengan pria muda yang sedang aku genggam ini.

__ADS_1


Ari pun keluar dari ruangan, meninggalkanku yang masih menatap gemas ke arahnya. "Semakin kamu menolak, semakin membuatku penasaran." Aku bergumam


__ADS_2