
Pov Arfan
Sekarang giliran Dali, asisten pribadiku yang mulai bercerita dari awal berpisah denganku di rumah. setelah menghajar Farid sahabatku, yang berselingkuh dengan istriku. Dia sangat syok, ketika dia tahu aku masuk rumah sakit. Dia tidak menyangka, karena pagi itu aku masih sempat memerintahkan dia, mencari orang untuk mengeluarkan barang-barang milik Erni. semenjak aku sakit dan drop. perusahaan Erni Group kepemimpinannya menjadi kosong, hingga masuklah Erni sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan itu. dia mengambil alih perusahaanku, dengan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden direktur. hingga Dali pun mengundurkan diri, karena sudah tidak suka dengan mantan istriku itu. setelah mengundurkan diri, Ibuku sempat menawarinya untuk bekerja di perusahaannya. namun Dali menolak, karena kalau tidak bekerjasama denganku, dia tidak mau bekerja sama dengan orang lain. dia lebih memilih berjualan mie ayam seperti sekarang. "Begitulah cerita saya Pak! sama-sama di bawah, sama-sama mulai bangkit kembali."
"Sekali lagi! saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. karena saya sudah merepotkan orang lain. menjadi orang yang paling bod0h, yang menyesali kedua orang sampah yang sudah menghancurkan kehidupan saya."
"Iya Pak! kita saling memaafkan, karena bukan bapak saja yang salah, saya juga mungkin ada salah. sekarang rencana Bapak bagaimana?" tanya Dali mulai mengalihkan pembicaraan.
"Pertama aku ingin sembuhkan lukaku terlebih dahulu, luka batin yang tidak terlihat. yang kedua, Aku ingin perusahaanku kembali ke tanganku. yang ketiga, aku ingin membalas kejahatan mereka yang telah menghianatiku, menghancurkanku, membunuhku secara perlahan." jelasku yang tidak ada rahasia dengan asisten yang sangat kupercayai.
"Iya Pak! Sebenarnya bukan saya aja yang keluar dari perusahaan Bapak. hampir 30% orang-orang yang masih loyal terhadap kita, mereka lebih memilih mengundurkan diri dari perusahaan Itu. sebagian lain mereka bukan loyal terhadap pemimpin yang baru, Namun kebutuhan lah, yang membuat mereka tetap bertahan. mereka sebenarnya merasa tersiksa dengan kerja yang begitu keras, tapi gaji yang begitu minim." jelas Dali menceritakan sekelumit tentang kantor yang aku tinggalkan.
"Bang mie ayamya satu." obrolan itu terhenti sesaat. karena ada orang yang membeli.
"Sebentar ya, Pak!" ungkap Dali sambil berdiri dari tempat duduknya, mendekati gerobak jualannya.
"Dibungkus apa makan di sini Mbak?" Tanya Dali sambil menatap pelanggan pertamanya itu.
"Di sini aja Mas!" Jawab wanita itu sambil memilih tempat duduk yang agak jauh dariku.
"Saya juga satu Dal! Kebetulan saya belum makan hari ini." pintaku yang baru ingat, bahwa hari ini aku belum makan. sibuk mengurus urusan karla yang hendak membantu karyawannya, sampai-sampai Aku melupakan kesehatanku sendiri.
"Baik Pak!" jawab Dali sambil mengacungkan jempolnya.
Akhirnya Dali pun membuatkan dua mangkok mie ayam. setelah selesai Mi itu dibuat. dia pun mengantarkan ke pelanggannya, kemudian dia kembali untuk mengambil pesananku.
"Kira-kira! bisa nggak, atau mau nggak. kalau kita merintis usaha lagi." aku mulai kembali ke pokok permasalahan, membahas kembali Rencanaku. sambil menuangkan saus ke dalam mangkuk.
"Kalau saya! mau, mau saja, sih, Pak! bapak juga tahu kan, saya sangat suka dengan gaya kepemimpinan bapak. emang kenapa Bapak bertanya seperti itu?"
"Sebenarnya sahamku masih ada di perusahaan Erni group, dulu aku tidak semuanya memberikan saham perusahaanku kepada Erni. Aku hanya memberikan dia 60%. Jadi kita bisa pakai saham itu buat modal membuka usaha baru kita." jelasku sambil menyuap mie ayam ke dalam mulut.
__ADS_1
"Tapi dulu aku lihat saham yang 40%, itu bukan atas nama bapak. melainkan orang lain." ujar Dali yang paham seluk beluk tentang perusahaan.
"Iya, memang! Bukan atas nama saya, namun saham itu adalah saham sah milik saya. karena sejak dari awal, kamu juga tahu kan, bahwa tidak ada orang yang menanamkan saham di perusahaan kita. itu hanya akal-akalanku saja, agar bisa melindungi hakku, untuk berbagi. kamu dulu sering bertanya, kenapa saya sering memberikan bonus kepada para karyawan. namun saya tidak pernah menjawab pertanyaan kamu itu. nah bonus itu adalah sebagian keuntungan dari saham yang 40% itu, dan sisa keuntungan lainnya menempati beberapa Pos, yang tidak bisa disebutkan." aku menjelaskan, karena ketika sudah berrumah tangga. kalau kita tidak bisa memanage uang dengan tepat, maka hancurlah keuangan keluarga itu.
"Jadi, Pak Waskito itu, adalah bapak?" tanya Dali memastikan.
"Iya, saya pakai nama Waskito, agar saya leluasa untuk berbagi." tegasku.
"Terus rencana Bapak ke depannya bagaimana?" tanya Dali sambil mengerutkan dahi, dia masih belum paham dengan apa yang aku maksud.
"Kita tarik semua saham kita di perusahaan Erni Group, buat modal awal perusahaan baru kita."
"Caranya Bagaimana? bukannya saham itu tidak boleh ditarik, dan kalau kita menarik saham itu kita akan kena pidana?"
"Caranya biar saya yang mengatur, tugasmu tinggal menghubungi orang-orang yang dulu pernah bekerja sama dengan kita. orang-orang yang masih loyal terhadap kita. agar kita tidak terlalu repot mengarahkan mereka, bisa cepat paham dengan apa yang kita maksud. agar kita tidak harus mentraining kembali orang-orang. rasanya dengan karyawan yang 30% itu, kita bisa berdiri kembali." aku menjelaskan panjang lebar. Memang benar saham tidak bisa ditarik dari perusahaan, tapi masih ada cara lain yang bisa membuat saham itu bisa diuangkan.
"Siap! berarti saya harus libur jualan terlebih dahulu."
"Kapan kita akan memulai usaha baru kita?" tanya Dali semakin antusias.
"Nanti saya kabarin! sekarang kamu kondisikan terlebih dahulu. orang-orang yang sudah tidak bekerja," aku mempertegas tugasnya.
"Baik, siap Pak!"
"Kalau bisa, Saya minta nomor rekening kamu. kamu belum mendapat pesangon kan, dari perusahaan setelah kamu dipecat." pintaku.
"Nggak, Pak! Terima kasih saya untuk sekarang masih ada, namun suatu saat kalau saya butuh, baru saya meminta bantuan."
"Kirimkan!" tegasku. Padahal aku juga bingung, Dali harus mengirimkan lewat apa karena untuk sekarang aku tidak memiliki handphone.
"Jangan sekarang, Pak!" Sekarang kita masih butuh uang untuk membangun usaha kita kembali. sekarang kita harus fokus terlebih dahulu dengan tujuan bapak. jangan sampai memikirkan yang lain." ujar asisten terbaikku mengingatkan.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu! terima kasih atas kesediaanmu bekerja sama kembali. semoga usaha baru kita akan jaya, seperti usaha yang pernah kita dirikan."
"Amin! oh iya, saya boleh minta nomor kontak bapak." pinta Dali.
"Seperti yang sudah tadi saya ceritakan. saya sekarang tidak memegang HP, namun kalau kamu ingin menghubungi saya, Saya akan datang ke sini. dan kalau siang kamu bisa cari saya di kantor ibu saya. tapi kalau bisa tulis aja nomor handphone-mu, Nanti kalau saya sudah bisa memegang HP, saya yang akan menghubungi kamu." jawabku menjelaskan.
Mendengar penjelasanku Dali hanya mengangguk-anggukan kepala, dia mulai paham dengan apa yang aku bicarakan. setelah selesai menghabiskan Miku yang ada di mangkok, aku pun berpamitan, hendak pulang ke rumah Saiful. Tak lupa Sebelum pulang, aku pun menyuruh Dali untuk membungkuskan 3 bungkus mie ayam, sebagai oleh-oleh untuk orang-orang yang ada di rumah.
Setelah pesanan aku dibuat, aku pun membayarnya. meski Dali menolak, namun aku tetap memaksa. setelah membayar pesanan, aku pun berpamitan dan berjanji akan sering-sering datang ke kios mie ayamnya.
Aku pun kembali berjalan menyusuri trotoar, menuju ke arah Sungai cimandiri. Ketika aku melewati jembatan terlintas di bayanganku, ketika aku terjun ke bawah. membuatku semakin membenci wanita yang telah menghancurkan hidupku, yang telah menghianatiku.
Aku semakin membulatkan tekad, aku harus bangkit, karena ternyata bukan aku saja yang menderita dari perbuatan wanita jahat itu. orang-orang yang bekerja sama denganku, mereka juga ikut merasakan kerugian yang sama. Karena harus kehilangan pekerjaan mereka.
"Eh! sial4n tunggu!" teriak suara seorang wanita dari arah belakang, membuatku menghentikan langkah lalu menoleh ke arah datangnya suara. terlihat Karla yang berlari menghampiri.
Dugh!
Tiba-tiba dia memukul dadaku, membuatku sedikit meringis kesakitan.
"Eh Barbar! ngapain kamu memukulku!" ujarku sambil memegangi dada yang rasanya sangat sakit. Pantas saja supervisornya sampai babak belur, kalau Dia memiliki pukulan sekeras ini.
"Gara-gara, lu! gua diceramahin habis-habisan oleh ibu Aisyah. lu tahu, dia nyeramahin gua dari kapan sampai kapan? dia nyeramahin Gua. dari tadi lo pergi, sampai Barusan sebelum gua pulang. gua masih di ceramahin." cerocos Karla menjelaskan.
"Syukurin! lagian Salah kamu sendiri, ngapain kamu ngelempar pemilik perusahaan dengan tisu." ujarku sambil menyipitkan mata.
"Ya itu, semua gara-gara lu! kalau lu nggak kurang ajar sama gua, dengan cara mencubit hidung gua. kejadian hal seperti itu tidak akan terjadi."
"Nikmatin aja sih! tapi kamu nggak dipecat kan." Tanyaku sambil senyum tsinis.
"Nggak!"
__ADS_1
"Ya baguslah kalau nggak dipecat, Kenapa kamu marah-marah. wajarlah kalu kamu diceramahin karena kamu kurang ajar. makanya harus diajarkan, Sebenarnya waktu dari tadi siang sampai sekarang, itu tidak cukup untuk mengajarimu." ujarku terus menyudutkannya tak melepaskan senyum sinis di Bibirku.