Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 73 MEMDAPAT BALASAN


__ADS_3

Pov Karla


"Kenapa, kenapa hidup gue, selalu susah selalu banyak yang menghina." ucapku dalam pelukan pria bod0h.


Dengan ragu-ragu, dia pun mulai mengusap lembut punggungku. membuat sedikit memberikan ketenangan, Entah mengapa aku bisa nyaman menangis dipelukannya. Padahal baru kali ini aku diperlakukan seperti itu. Dipeluk oleh pria selain bapak.


"Sudah! jangan nangis! nanti malu dilihat orang. sekarang kamu masuk ke ruangan kerjamu, dan berikan aku Tugas! yang harus aku kerjakan hari ini." tenangnya sambil melepaskan pelukannya. di bagian kemeja putih dada pria itu terlihat basah.


Dengan langkah gontai, aku pun berjalan melewati koridor, menuju ruangan tempat kerjaku. diikuti oleh Arfan yang mengekor ku di belakang.


Dia pun terus mengantarku, sampai masuk ke dalam salah satu ruangan. Ruangan yang dulu hendak merenggut kesucianku. Aku belum sempat pindah dari ruangan ini, karena masih menunggu ruangan yang lain disiapkan terlebih dahulu. setelah berada di dalam ruangan, dengan cepat aku pun mengambil telepon yang ada di meja, kemudian menekan tombolnya.


"Tolong! panggil Mukti untuk menghadap ke ruangan saya!" seruku sama resepsionis yang berada di ujung telepon sana.


Arfan hanya berdiri di dekat dinding, karena aku tidak menyuruhnya duduk. Tak lama Menunggu, masuklah Mukti yang tadi menarik tangan Ratna.


"Selamat pagi Bu! Ibu memanggil saya?" tanya Mukti sambil manggut memberi hormat kepada atasannya.


"Tolong kamu ajarkan karyawan baru kita!" seruku sambil menatap ke arah Arfan.


Mukti pun mengangguk, kemudian dia mengajak Arfan agar mengikutinya. akhirnya mereka berdua pun keluar dari ruangan kerjaku.


Setelah kepergian mereka, aku sandarkan tubuhku ke kursi, yang sandarannya tinggi. sambil terus berpikir, apa aku memang salah, karena aku menggantikan Pak Arga, supervisor sebelumnya, yang hendak menodaiku.


Pikiranku yang kalut, sehingga aku tidak fokus dalam bekerja. aku lebih sering terdiam menatap kearah lampu yang tergantung di tengah plafon ruangan, daripada mengerjakan pekerjaanku.


Merasa bosan dan tidak menemukan jawaban atas kerisauan hati. akhirnya aku memutuskan untuk mengecek semua pekerjaan karyawan yang ada di bawah naunganku. agar tidak terus terfokus ke dalam masalah yang sedang kualami.


Aku mulai berkeliling menyusuri setiap inci area kantor Atri Group, untuk mengecek hasil pekerjaan semua karyawan cleaning service. terlihat Arfan yang sangat giat dalam bekerja, Dia sedang mengepel lantai koridor yang tinggal sedikit lagi selesai. karena waktu hampir mendekati tengah hari.


"Siang Bu, maaf! kalau pekerjaannya belum rapi," ujar pria itu, sambil manggut memerankan perannya, sebagai bawahan yang selalu hormat terhadap atasannya.


"Nggak apa-apa! dulu juga aku seperti itu, namun kamu harus tingkatkan kinerjamu." seruku sambil terus melanjutkan berkeliling, Sampai Akhirnya aku tiba di toilet kantor.

__ADS_1


Entah mengapa tiba-tiba aku ingin masuk dan mengecek ke dalam. sambil berniat mencuci mukaku, setelah dari tadi sesesudah menangis belum menyentuh air.


"Huaaaaa, huuuuuua! hua!"


Namun ketika aku sedang mencuci muka, terdengar suara orang yang sedang menangis dari dalam toilet. membuatku menghentikan aktivitas, tertarik dengan suara tangisan itu.


Perlahan aku mulai mendekati salah satu pintu toilet, ingin mendengar lebih jelas, siapa yang menangis di dalam.


"Truk! truk!"


"Siapa, di dalam?" Tanyaku.


Seketika suara tangisan itu terhenti, tak terdengar lagi. membuatku semakin merasa penasaran, dengan siapa yang ada di dalam.


"Halo! apakah ada orang di dalam?" panggilku setelah tidak mendapat jawaban.


Ceklek!


Terdengar seperti suara kunci yang dibuka, kemudian pintu itu terbuka. terlihat Ratna sedang berdiri menatap tajam ke arahku, dengan mata sembab.


"Apa! apa kamu belum puas menghancurkan hidupku?" tiba-tiba rata berucap seperti itu, membuatku merasa heran. Tak mengerti dengan apa yang dia bicarakan.


"Puas kenapa, Na?" aku bertanya untuk meminta kejelasan.


"Jangan pura-pura! bod0h. Lu sudah menghancurkan hidup gua! hidup masa depan janin!" ujar Ratna yang sedikit menaikkan intonasi suaranya, terlihat matanya mulai di banjiri oleh air bening, yang mengalir ke pipinya.


Melihat Ratna yang sedang seperti itu, membuatku merasa kasihan. karena walau bagaimanapun Ratna adalah bawahanku, tanggung jawabku. Aku harus tetap membantu menyelesaikan masalahnya, membantu mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dia hadapi.


"Ayo! kamu ikut ke kantorku, biar kamu bisa cerita."  ajaku memberi saran.


"Mau apa! kamu mau menertawakanku? karena aku hanyalah wanita bod0h yang sudah merelakan rahimnya di isi oleh janin, yang bapaknya mendekam di penjara." Tanya Ratna. tatapannya yang tajam seolah menyalahkanku.


"Jujur! aku belum mengerti dengan apa yang kamu ucapkan, Ayo kita bicara di ruanganku! biar lebih enak, Siapa tahu saja aku bisa membantu kesulitanmu." ajakku sambil menarik lengannya, kemudian menggandeng Ratna menuju ke ruanganku.

__ADS_1


Setelah Berada di ruangan, dengan cepat aku pun mengambilkan air minum yang ada di dispenser. kemudian memberikannya ke Ratna, agar dia sedikit merasa tenang.


"Maaf! kalau aku ikut campur dengan urusan kamu, Tapi walau bagaimana pun sekarang Aku adalah atasanmu, yang harus bertanggung jawab atas semua yang menimpa karyawannya. coba kamu cerita dengan jelas! Sebenarnya ada apa sampai kamu menangis seperti ini." pintaku setelah melihat Ratna yang mulai tenang.


Ratna mulai menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan. lalu menatap ke arahku seolah memastikan keseriusanku yang hendak menolongnya.


"Apakah kamu nggak akan mengolok-ngolok saya?"  tanya Ratna Mungkin dia ingin lebih yakin dia berhadapan dengan orang yang tepat, untuk menceritakan masalahnya.


"Apakah aku orang seperti itu. jujur walaupun kamu suka menghinaku, aku tak ada sedikitpun niat hati ini mengolok-olok orang yang lagi kesusahan. aku juga orang susah sama seperti kamu, mungkin hanya cara dan ceritanya saja yang berbeda." jawabku untuk meyakinkan Ratna.


"Kalau ada penilaian wanita terbod0h ,terg0blok di dunia ini, Maka Akulah pemenangnya. karena aku telah tergoda oleh tipu rayu Pria tua, yang kemarin kamu jeblos kan ke penjara. sehingga Aku menyerahkan kesucianku sampai membuahkan janin di dalam rahimku." jelas Ratna sambil menundukkan kepalanya, tak berani menatap ke arahku.


"Ya Allah! kamu nggak boleh ngomong seperti itu, seperti yang tadi aku bilang. semua orang memiliki cobaan masing-masing, sekarang apa yang jadi masalahnya? siapa tahu saja aku bisa membantumu. walaupun aku tidak bisa, mungkin kamu merasa tenang karena tidak menghadapi masalah sendirian." ujarku memberikan nasihat.


"Ya itu masalahnya, aku malu kalau hamil tapi tidak ada suami. bagaimana nanti marahnya keluargaku, apalagi kalau mereka tahu aku hamil oleh pria yang sudah punya istri, dan jahat seperti supervisor kita." ungkap Ratna sambil terisak, kalau tidak cermat memperhatikan kata-katanya, kita tidak akan menangkap apa yang ia sampaikan.


Setelah mendapat keterangan dari bawahanku, Aku pun terdiam berpikir. memang ini adalah kesalahan Ratna yang tidak bisa menjaga dirinya dari godaan pria. namun kesalahan itu tidak sepenuhnya kesalahan Ratna, karena Siapa saja yang terus-terusan digoda, terus-terusan di Raayu. mereka pasti akan jatuh juga dipelukan orang yang tidak bertanggung jawab.


"Maaf sebelumnya! Apakah selama ini ada pria yang suka sama kamu." Tanyaku sambil menatap ke arahnya.


Perlahan Ratna pun mengangkat kepalanya, kemudian dia membalas tatapanku, sambil menganggukan kepala sebagai jawaban dari pertanyaanku.


"Kalau ada, coba kamu hubungin pria itu, siapa tahu saja dia mau menolong kamu, menyelamatkanmu dari masalah ini."


"Aku malu, karena aku sudah menolak mentah-mentah pria itu." jawab Ratna sambil menundukkan kembali kepalanya, matanya terus berenang dengan cairan kesedihan.


Aku hanya menarik nafas bingung harus menolong Ratna dengan cara apa. "Kalau boleh tahu, siapa laki-laki yang pernah mengatakan perasaannya terhadap kamu?:


"Mukti!" jawab Ratna sesuai dengan tebakanku, karena aku melihat tatapan Mukti ketika menatap Ratna, mengandung Tatapan yang sulit dijelaskan.


"Ya sudah! aku coba bantu untuk mencari jalan keluarnya. sekarang kamu pulang saja terlebih dahulu. Kamu harus banyak betistirahat. dan kalau kamu butuh sesuatu tolong kabarin aku. jaga kandunganmu! walau bagaimanapun janin itu tidak bersalah." seruku sama wanita yang sedang diterpa musibah itu. musibah yang dibuat oleh dirinya sendiri.


Ratna pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia keluar dari ruanganku. setelah kepergian Ratna aku memijat-mijat keningku yang terasa pening. Padahal baru tadi pagi saja dia memfitnahku dengan sangat keji. sampai-sampai aku kepikiran terus dengan perkataannya. sekarang melihat keadaannya seperti itu, aku malah merasa kasihan. Harusnya Aku senang ketika orang yang menghinaku mendapatkan balasan.

__ADS_1


Semoga aja dengan kejadian seperti ini, Ratna bisa berubah, Ratna bisa semakin dewasa dalam menyikapi suatu masalah. Dan semoga saja aku bisa membantunya keluar dari jurang cobaan yang sedang menimpa Ratna.


__ADS_2