
Pov Farid
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramuniaga yang datang menghampiri sambil tersenyum.
"Kalau kue yang ini berapa Mbak?" tanya Ira sambil menunjuk kue yang berbentuk hati.
"Oh itu...! harganya rp300.000!" jawab pramuniaga.
"Ada kuenya?"
"Emang buat kapan?" ujar pramuniaga balik bertanya.
"Untuk sekarang, ada nggak?" jelas Ira.
"Kalau untuk sekarang ada sih Bu, namun paling tinggal menunggu di finishing aja. tapi kuenya, kue tadi siang."
"Bagaimana Pak Farid?" tanya Ira sambil menatap ke arahku.
"Masih enak dimakan?"
"Masih lah Pak, karena kami menaruh Kuenya di lemari pendingin. kalau bapak ingin kue yang fresh, mungkin Bapak bisa nunggu dulu, namun tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat," jawab pramuniaga menjelaskan.
"Selain yang bentuk hati Masih ada kue yang lain, tapi masih fresh?" tanya aku sambil menatap ke arah Pelayan toko.
"Nggak ada Pak, semuanya harus diPO terlebih dahulu. tapi kami jamin bahwa kue ini masih fresh, karena baru tadi sore Kami membuatnya."
Aku pun menatap ke arah Ira, seolah meminta bantuan. "kalau saya terserah Pak Farid saja. tapi kalau boleh menyarankan, daripada mencari ke toko yang lain yang belum tentu buka, mendingan yang ada saja. Soalnya waktunya kan sudah mepet juga kan?" jawab Ira seolah mengerti dengan tatapanku.
"Ya sudah itu saja Mbak!" akhirnya aku pun memberi keputusan.
__ADS_1
'Baik Kalau mau ini, nanti saya akan finishing dulu, mungkin 30 menit sudah selesai, karena tinggal mengasih nama dan lilin. silakan Tuliskan di sini pak!" jelas pramuniaga sambil menyerahkan bolpen dan kertas kecil.
Aku pun mengambilnya, kemudian menuliskan nama istriku dan ucapan-ucapan layaknya pria yang sangat mencintai istrinya. setelah selesai aku pun memberikan tulisan itu kembali ke pramuniaga. wanita itu membaca kembali tulisanku untuk mengoreksi, mungkin takut ada kesalahan.
"Baik kalau semuanya sudah tidak ada yang dirubah, tolong selesaikan pembayarannya!" jelas pramuniaga.
Aku pun mengeluarkan dompet, namun setelah dihitung uangku hanya tinggal 200 ribu, karena uang untuk penginapan belum Ira kasih, menurut keterangannya Besok mungkin baru bisa cair.
MeLihat aku yang seperti kebingungan, Ira pun mengeluarkan uang Rp150.000. "ini pakai uang ini saja dulu!"
"100 aja Bu, saya punya 200!"
"Sudah simpan aja, emang Pak Farid nggak takut bannya bocor atau ada kendala di jalan, kalau nggak ada pegangan sama sekali" jelas Ira.
"Ya sudah kalau begitu saya pinjam aja, besok saya ganti. Saya mau minta dulu uangnya sama Vina."
"Iya, Pak Farid santai aja, kayak sama siapa aja sih!" ujar Vina sambil memberikan uangnya ke pramuniaga, ditambah dengan uang yang aku miliki.
"Lama nggak Mbak?" tanya aku menghentikannya.
"Paling lama 30 menit."
Setelah mendapat jawaban Aku pun duduk di salah satu kursi yang sudah disiapkan buat pelanggan. namun setelah dipikir-pikir mending aku mengantarkan Ira terlebih dahulu, agar dia bisa cepat sampai dan beristirahat sambil menunggu kuenya diselesaikan.
"Ya sudah, ayo antar saya pulang!" ajak Ira sambil keluar dari toko kue, kemudian kembali masuk mobil.
Setelah berada di luar, aku pun mengeluarkan mobilku, kembali menyusuri Jalan Raya. tak terlalu lama kita pun sudah sampai di depan gang rumah Ira, aku terus mengantarnya masuk ke dalam gang, sampai ke depan rumahnya untuk memastikan keselamatan atasanku. setelah sampai ke rumah dan mengucapkan terima kasih, aku pun langsung berpamitan pulang kembali menuju ke toko kue.
Sesampainya di toko kue, tak menunggu Berapa lama. akhirnya pesananku datang lengkap dengan lilin ulang tahunnya, dengan hati-hati Aku membawa kue itu menuju ke mobil, dan menempatkannya di samping kemudi.
__ADS_1
Mobilku mulai melaju membelah gemerlap kota Jakarta, yang sudah tidak terlalu penuh sesak dengan kendaraan. sehubung waktu sudah menunjukkan jam 11.00, mungkin warga Metropolitan sudah masuk ke dalam rumahnya masing-masing, untuk beristirahat dan mempersiapkan tenaga kembali buat menghadapi hari esok yang penuh tantangan.
Kira-kira pukul 11.45 malam, Aku pun tiba di depan gerbang rumah orang tuaku. aku parkirkan mobil di luar pintu gerbang, agar rencana surpriseku berjalan dengan lancar.
Setelah mengunci mobil dan dirasa aman, perlahan aku membuka kunci gerbang lalu mendorongnya sedikit, yang terpenting tubuhku bisa masuk. dengan membawa Perasaan hati yang bahagia, karena baru sekarang aku bisa memberikan kue dan merayakan ulang tahun istriku.
Dengan mengendap mengendap, aku terus berjalan menuju ke arah teras rumah. aku Letakkan kue ulang tahunku di atas meja, yang berada di tempat itu, kemudian mengambil korek untuk membakar Lilinnya. namun beberapa kali aku Nyalakan, beberapa kali juga lilin itu mati terus, tertiup angin. "mungkin aku menyalakannya harus di dalam," gumamku dalam hati.
Dengan hati-hati aku membuka kunci pintu rumahku, menggunakan perasaan agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. setelah pintu terbuka aku mengambil kue ulang tahunku kemudian masuk ke dalam rumah yang nampak gelap, karena biasanya setelah kita tidur hanya lampu ruang tengah yang dinyalakan.
Setelah berada di ruang tamu, aku pun menutup pintu. Kemudian menyalakan lagi Lilin yang berada di kue ulang tahun buat istriku,.sekarang tidak mati seperti ketika aku menyalakannya di luar.
Dengan perasaan hati yang berdebar, padahal aku yang mau beri kejutan tapi, aku yang berdegup duluan. aku mulai mendekat ke arah pintu kamarku, yang berada di depan. dengan penuh perasaan aku mulai memegang handle pintu lalu menariknya ke bawah.
Ceklek !
pintu kamar pun terbuka, kemudian aku berjalan menuju ke saklar lampu untuk menyalakan lampu kamar, Jantungku terus berdegup, hatiku terus berdebar, membayangkan betapa bahagianya istriku dikagetkan dengan kedatanganku yang membawa kue.
Trek!
Saklar lampu Pun dinyalakan, sehingga kamarku terlihat terang benderang. namun mataku membulat sempurna, Setelah melihat ke atas kasur yang tidak ada siapa-siapa. membuatku mengerutkan dahi tidak mengerti Kenapa Vina tidak berada di luar kamar. "Apa dia menginap di rumah temannya atau bagaimana, tapi kalau menginap di rumah temannya mana mungkin dia tidak memberitahuku?"
Aku simpan kue ulang tahun di atas meja kerja yang berada di kamarku, kemudian aku menuju ke arah toilet berharap istriku berada di sana, namun ketika aku membukanya istriku tidak ada di sana, bahkan lampu kamar mandi pun tidak dinyalakan.
"Vina ke mana kamu?" gumamku sambil terus memindai sudut kamar, kemudian menjatuhkan tubuh ketepian kasur, menerka-nerka Ke mana perginya istriku.
"Apa jangan-jangan dia kabur, gara-gara kecapean harus mengurus rumah dan bekerja di tempat bapak?" gumamku yang tidak mendapat jawaban, dari segala keanehan yang berada di kamar.
"Bapak....! Iya bapak...! aku harus bertanya sama bapak," ujarku sambil membangkitkan tubuh kemudian berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang tengah, mataku menangkap sesuatu yang aneh karena di atas meja ada kue ulang tahun yang masih terlihat acak-acakan seperti tidak dirapihkan.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Vina sedang berada di dapur?" gumamku dalam hati sambil mendekat ke arah pintu yang menghubungkan antara ruang tengah dan ruang dapur. namun setelah dibuka ruangan pun nampak gelap, aku kembali ke ruang tengah kemudian mendekati kamar bapak.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, aku mulai menekan handle pintu kamar bapak, dengan perlahan pintu pun aku dorong suasana kamar itu terlihat remang-remang. mataku menangkap ada dua orang yang sedang tidur berada di atas kasur.