
Pov Karla
Ditanya seperti itu Aku hanya meringis menahan sakit. Perutku seperti ada yang mengaduk-ngaduk, aku pegang rasa sakit itu untuk meredakannya.
"Kamu kenapa sayang, kamu kenapa?" tanya Arfan yang terlihat panik, "terus ini darah apa, nggak mungkin kan darah perawan. aku hanya baru menciumnya." Lanjut Arfan sambil menatap ke arah bawah, dimana darah sudah membasahi sprei.
"Maafkan Aku!" hanya kata itu yang bisa aku ucapkan, karena rasa sakit yang masih menyiksa. Entah mengapa haidku yang sekarang terasa begitu nyeri, Apa mungkin gara-gara haid datang ketika aku sedang menikmati sesuatu yang baru saja aku rasakan.
"Maaf kenapa? Sebentar aku panggil Ibu," ujarnya hendak Turun Dari Ranjang, namun dengan cepat aku genggam tangan pria yang tak berbusana itu.
"Jangan.....! aku nggak apa-apa......., aku haid......!" Ucapku dengan cepat,
Mendengar penuturanku seperti itu, dia hanya tertegun sesaat, terduduk di samping ranjang terlihat sangat kasihan.
"Maafkan Aku......" ujarku sambil mengambil tangannya.
"Nggak apa-apa...... Terus bagaimana dengan ini?" tanya Arfan sambil mengulum senyum mungkin menyembunyikan kekecewaannya. Dia berbicara seperti itu sambil menunjuk ke arah benda yang masih berdiri.
"Nggak tahu Kak!!!! aku bingung...! Aku benar-benar gak tahu kalau datangnya secepat ini, perasaan beberapa hari ke depan baru mulai datang."
Mendapat jawaban seperti itu, dia hanya memperlebar jarak senyumnya, kemudian dia mengusap lembut kepalaku, mendaratkan kecupan hangat di kening.
"Maafkan aku Kak.....! Aku benar-benar enggak tahu." ujarku yang merasa kasihan dan tidak tega.
"Sudah! ini bukan salahmu kok....! kamu jangan merasa bersalah seperti itu." ujarnya sambil menggeser tubuh, turun dari atas ranjang. kemudian Arfan mengambil handuk yang tadi aku tarik, lalu mengenakannya. dengan cepat dia pun masuk kembali ke kamar mandi.
Aku hanya menyelimuti tubuh dengan selimut, karena merasa malu kalau bertel4njang bulat seperti sekarang, sambil terus menikmati rasa kram di area perut. lama menunggu namun Arfan tidak keluar dari kamar mandi, membuatku sedikit merasa khawatir, takut terjadi sesuatu kepadanya.
Dengan sisa-sisa tenaga, aku mulai membangkitkan tubuh lalu menggeser mendekati tepian ranjang. setelah berada di tepian aku turunkan kakiku. dengan memegang dinding Aku mulai berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi.
Truk! truk! truk!
"Kak! Kakak! Kakak nggak apa-apa kan?" tanyaku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, namun tak ada jawaban dari dalam. membuatku sedikit mengerutkan dahi. sedikit takut dia berbuat yang tidak tidak, karena orang yang pernah frustasi akan mudah terserang penyakit itu untuk kembali.
Ceklek!
Pintu kamar mandi itu aku dorong, terlihatlah Arfan yang sedang menghadap ke dinding, tangannya bergerak-gerak di bagian larangannya. ketika pintu terbuka tanpa melepaskan pegangannya, dia menatap nanar ke arah pintu, sehingga aku semakin merasa kasihan.
"Lagi ngapain Kak?"
"Nggak apa-apa, maaf.....!" Jawab Arfan sambil melepaskan pegangannya, kemudian dia menyiram bagian itu dengan air karena penuh busa sabun, terlihatlah kembali benda yang menyubul itu.
"Kakak kenapa....? Kakak marah ya......?" Tanyaku sambil menatap nanar ke suami yang terlihat sangat kasihan, wajahnya dipenuhi dengan kekecewaan yang tidak bisa dia ungkapkan.
__ADS_1
"Nggak sayang.... Kakak nggak marah," ujarnya sambil menutup benda itu dengan handuk, lalu menghampiriku, menggandengku menuju ke atas kasur kembali.
"Kamu istirahat saja dulu, nanti aku ambilkan air hangat.
"Terima kasih Kak!"
Akhirnya dia pun masuk kembali ke toilet, terdengar guyuran air seperti orang lagi mandi. Padahal dia belum sempat memasukkan kepunyaannya, tapi kenapa dia harus mandi seperti itu. namun aku tidak terlalu memikirkan itu, rasa sakit di area perut mulai terasa kembali.
Tak lama menunggu akhirnya Arfan pun keluar dari kamar mandi, lalu memakai baju koko dan sarung. "Sebentar yah aku ambilkan minum. kamu kuat pakai baju sendiri gak?" tanya Arfan.
"Kuat Kak.....!"
"Ya sudah, kalau seperti itu. aku salat dulu ke bawah!" Pamitnya sambil Beranjak Pergi keluar dari kamar, meninggalkanku yang masih terbaring lemas di atas kasur, hanya ditutupi dengan selimut.
"Kasihan banget Kak Arfan! Mungkin dia kecewa," gumamku sambil terus mengelus-ngelus perut yang masih terasa kram.
Truk! truk! truk truk!
Pintu kamar ada yang mengetuk dari arah luar, aku yang belum memakai baju dengan cepat merapikan selimut menutup tubuh. karena aku yakin orang yang datang itu bukan Arfan, karena Kalau suamiku masuk dia pasti tidak akan mengetuk pintu lama seperti itu.
"Siapa?" Tanyaku dengan sedikit berteriak.
"Si Mbok!" jawab suara seorang wanita dari balik pintu.
"Non Carla sakit?" tanyanya sambil menaruh gelas di atas nakas.
"Enggak Bu! aku cuma lagi datang bulan aja."
"Seperti itu, ya sudah minum air hangatnya, Biar sakitnya agak reda. Mbok ke bawah dulu, soalnya masih banyak pekerjaan."
"Terima kasih Bu! nanti lain kali nggak usah repot-repot seperti ini, aku bisa ngambil sendiri kok!"
"Gak Repot kok non, ini sudah tanggung jawab Mbok. Terus non Karla Jangan panggil Ibu, Panggil Mbok aja. nanti ketuker sama Ibu Aisyah. Hehehe," ujar asisten rumah Ibu Aisyah sambil tersenyum.
"Baik Bu! eh, Mbok!"
"Ya sudah lanjutkan istirahatnya, Maaf mengganggu." Ujar wanita paruh baya itu, kemudian dia menghampiri pintu, keluar dari kamarku. sebelum pergi, tak lupa mbok Iyem dia pun menutup pintu itu terlebih dahulu.
Aku yang merasa menyesal karena belum sempat mengenakan baju, gara-gara tadi dilempar oleh Kak Arfan. sekarang aku mulai sedikit tidak enak hati. Apakah Mbok Yem tadi melihat bajuku yang berserakan di lantai atau tidak.
Aku yang tidak mau mengulang rasa malu untuk yang kedua kalinya. dengan masih memakai selimut untuk menutup tubuh. perlahan mulai turun kembali dari atas ranjang, hendak mencuci kewanitaanku, karena baru saja mengeluarkan darah haid. namun sebelum masuk ke kamar mandi, aku terlebih dahulu mengambil baju yang ada di lemari gandeng, yang terletak di dekat dinding kamar. Yang di atasnya ada kasur lantai.
Setelah mengambil baju ganti, dengan baju yang kemarin aku bawa dari rumah. merasa penasaran dengan pintu lemari yang satunya, Aku ingin melihat pakaian pemilik suamiku. Perlahan aku buka pintu lemari di mana baju Arfan tertata rapi. namun mataku terbelalak kaget, ketika melihat lemari penuh dengan baju-baju wanita, bukan dengan baju yang aku sangka.
__ADS_1
"Kok dia masih menyimpan baju Mantan istrinya?" gumamku sambil terus menatap ke arah tumpukan baju yang tersusun rapi.
Ceklek!
"Assalamualaikum!" terdengar suamiku mengucapkan salam, lalu menghampiriku kemudian dia mengulurkan tangan untuk mengajakku bersalaman.
Dengan malas aku pun mengambil tangan itu, lalu mencium sebentar. ketika dia mau mencium keningku dengan segera aku tahan.
"Kenapa, kan Kalau haid yang tidak boleh disentuh oleh suami hanya dari pusar sampai dengkul, ini kan kening." tanya suamiku tanpa dosa.
"Ini baju siapa?" Tanyaku sambil menunjuk ke arah lemari yang masih terbuka, mata aku bulatkan dengan sempurna agar dia tahu kalau aku sedang marah.
"Ini lemari sayang! berarti yang ada didalam, semuanya milik sayang."
"Sejak kapan aku punya baju sebanyak ini, kemarin aku hanya membawa beberapa setel baju ganti." jawabku yang menatap penuh curiga.
"Sejak sayang sah menjadi istriku?"
"Bukan baju almarhumah Bu Erni?"
"Nggak......., bukan.....! lihat aja semua baju yang ada di lemari itu masih ada mereknya. belum dilepas! sudah jauh-jauh hari Ibu mempersiapkan ini semua. kalau kamu mau, sayang pakai, kalau enggak nanti kita kasih ke warga kampung. biar kamu beli baju yang baru lagi." jawab suamiku yang terlihat datar tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun, karena mungkin memang benar bahwa baju yang ada di lemari itu adalah baju yang disiapkan untukku.
"Serius! Kakak nggak bohong," Aku memastikan
"Enggak, aku mana mungkin berani berbohong sama kamu."
"Terima kasih ya sayang! kalau beneran ini untukku. Aku boleh pakai salah satu?" Tanyaku dengan penuh rasa bahagia.
"Boleh, tapi cium kening dulu." pintanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah kening, Aku hanya terdiam mendapat perlakuan seperti itu.
"Oh iya! boleh nggak aku minta tolong satu lagi." pintaku sambil menatap penuh harap ke arah sang suami.
"Boleh, mau minta tolong apa. Mau dibuatkan danau seperti Dayang sumbi, atau mau dibuatkan seribu candi seperti Roro Jongrang."
"Aku lupa membawa pembalut dari rumah, jadi tolong belikan itu."
"Lah kok.......?"
"Kenapa, nantangnya kayak yang benar. apa kamu mau dibuatkan 1000 candi?, diminta tolong seperti itu aja Malah terlihat seperti enggan."
"Nggak apa-apa, aku nyuruh Arman aja yah!"
"Aku istrimu Kak! masa Kakak berani menyuruh orang, untuk membelikan kebutuhan terahasia seorang wanita."
__ADS_1