
Pov Erni
30 menit berlalu, akhirnya aku sampai di gerbang pintu rumah termegah yang ada di komplek itu.
"Masuk dulu!" tawarku sama Farid yang mengantarkan ku pulang.
"Enggak, Katanya kamu mau menghubungi keluargamu, nanti aku ganggu!" jawab farid sambil tersenyum.
"Ya sudah! kamu pulang hati-hati, yah!" ucapku Sambil mendaratkan ciuman di pipinya kemudian aku turun dari mobil Farid, untuk masuk ke rumah mewah itu.
Deri satpam rumahku, sejak dari tadi dia sudah berdiri, membukakan pintu menyambut kedatangan majikannya.
"Selamat malam, Bu!" Sapa satpamku sambil menganggukan kepala tanda menghormatiku.
Aku hanya memberikan senyum ramah sebagai jawabannya. aku terus berjalan menyusuri halaman rumah yang begitu luas, ditumbuhi dengan bunga-bunga yang sedang Mekar. meski malam hari, Namun bunga itu tetap terlihat indah karena pencahayaan yang begitu memadai.
Sesampainya di dalam rumah, dengan cepat Bi Inem pun menghampiri, seperti biasa dia akan menawarkanku minuman segar, untuk melepas haus setelah bergelut di kota yang begitu panas.
Setelah menyampaikan pesanan minumanku, aku pun segera masuk ke kamar. untuk membersihkan badan setelah seharian bekerja.
Selesai membersihkan badan, seperti biasa aku duduk di kasur sambil menonton film drama kesukaanku, di temani segelas jus lengkap dengan cemilannya.
Tring!
Suara handphoneku berbunyi, menandakan ada satu pesan masuk di dalamnya. dengan cepat aku ambil handphoneku, tanpa memalingkan pandangan dari layar kaca. setelah jeda iklan aku baru membuka pesan itu.
"Jangan lupa, nanti setelah menonton film, untuk mengabari orang tuamu!" isi pesan yang dikirimkan oleh Farid.
Aku hanya membalas dengan emoticon jari telunjuk yang ditautkan ke ibu jari, tanda mengiyakan permintaannya.
Farid pun membalas pesanku dengan emoticon kiss Love, dengan begitu banyak. membuatku tersenyum melihat tingkah lucu kekanak-kanakannya.
Setelah selesai menonton film drama. aku merapikan tempat cemilanku, menaruhnya di bawah ranjang. kemudian mengambil handphone-ku lalu mencari nomor Bapak untuk menghubunginya.
Tuuuuuuuuuuuuuuut!
Tuuuuuuuuuutttt!
Tuweeeeeeett!
Telepon itu tersambung, tak menunggu lama akhirnya Bapak mengangkat telepon itu.
"Ada apa, Kok tumben kamu nelpon malam-malam?" tanya Bapak seolah tidak suka.
"Nggak apa-apa, Pak! aku kangen saja sama bapak."
"Bagaimana, kerjaanmu lancar?'
__ADS_1
"Lancar, Pak! sampai saat ini, aku masih bisa menghandle semua masalah yang ada di kantorku."
"Syukurlah kalau begitu, Oh iya! kamu ingat Vina anaknya mang Basri? dulu rumahnya ada di depan rumah kita." tanya Bapak sehingga membuatku terdiam, mengingat-ingat kejadian yang sudah begitu lama.
"Mang Basri! Adiknya ibu kan, pak?" Tanyaku memastikan, semenjak pamanku memutuskan untuk pindah dari kampung halamanku, Sampai sekarang aku belum pernah mendengar kabarnya.
"Iya, pamanmu. sekarang mereka sudah meninggal, karena kecelakaan mobil!" Jelas bapak.
"Astaga! kok bisa?" ucapku seolah tidak percaya.
"Iya semenjak mereka pindah dari kampung kita, Vina tidak melanjutkan sekolah lagi. mereka sekeluarga memutuskan untuk menjadi TKW ke luar negeri. Empat tahun menjadi TKW sehingga kehidupan mereka berubah begitu drastis. orang tua Vina sampai bisa membeli rumah dan mobil di daerah Jawa. sedangkan Vina sempat membuka restoran di salah satu hotel di daerah itu, namun Sekarang dia sedang menganggur, karena hotel yang menjadi tempat usahanya. ditutup oleh pihak yang berwajib, karena ditemukan ada kegiatan prostitusi." jelas Bapak panjang lebar membuatku mengerinyitkan dahi, belum mengerti ke mana Arah tujuannya.
"Terus apa hubungannya denganku, Pak?"
"Sekarang Vina ada di rumah, membantu ibumu mengurus rumah. Lagian Bapak kasihan sekarang Dia tidak punya keluarga."
"Biasa banget! kalau sudah senang lupa, tapi kalau susah baru ingat kita!" ketusku.
"Huuush! kamu nggak boleh begitu sama orang, ingat kita juga dulu orang gak punya."
"Iya miskin Sih! Miskin, Pak. tapi nggak pernah numpang sama orang lain." jawabku.
Ya sudah! bapak cuma memberi tahu, siapa tau saja kamu kangen sama shabat SMP. Kamu. Sekarang jujur! kamu ada keperluan apa, karena kalau nggak ada kepentingan mana ingat kamu sama orang tua." tanya Bapak kembali ke pokok permasalahan.
"Aku sekarang kan sudah resmi menjadi janda, Pak! kebetulan tadi aku bertemu dengan keluarga Farid, mereka mau melamarku.
"Bapak bisa nggak datang ke sini? untuk menerima lamaran keluarga Farid."
"Kapan?"
"Menurut Bapak baiknya kapan, agar kegiatan Bapak di kampung tidak terganggu."
Bapak pun terdiam sesaat, mungkin dia sedang berpikir Kapan waktu terbaik untuk datang ke rumahku.
"Ya sudah! minggu depan Bapak ke sana." Setelah berpikir Bapak pun mengambil keputusan.
"Ajak semuanya ya, pak! biar kita bisa berkumpul, kalau bisa ibu dan bapak tinggal di sini, nggak usah pulang ke kampung lagi."
"Ya, pasti! bapak Ajak semuanya, sekalian liburan. tapi kalau untuk tinggal di situ, Bapak belum siap. karena masih banyak adik-adikmu yang masih sekolah."
"Ya sudah, kan dari dulu juga. aku mengajak semua keluarga tinggal di sini. Biar adik-adikku dipindahkan sekolahnya ke sini."
"Nggak! bapak enggak betah kalau tinggal di rumah orang, Bapak mending tinggal di sini, di kampung, biar pikiran Tetap tenang."
"Selalu begitu!" ucapku dengan Ketus
"Oh iya! Bapak minta uang dong buat beli rokok." ucap bapak.
__ADS_1
"Yang dulu aku kasih, emang sudah habis, Pak? Yang 250 juta itu?"
"Halah! kamu kaya nggak tahu ibumu saja, kalau Uang sudah masuk ke ibu. Kamu tahu kan, dengan apa yang akan terjadi."
"Berapa?"
"10 juta aja?"
"Haaaaah! beli rokok apaan sampai sebanyak itu?"
"Ya, kan! sekalian buat pegangan nanti, kalau bapak datang ke situ.
"Alasan! Ya sudah nanti aku kirim!"
"Tapi jangan kirim ke nomor rekening si Ardi!"
"Kenapa?" tanya aku merasa heran.
"Kalau dikirim ke rekening si Ardi, nanti bisa-bisa digasak oleh ibumu. jujur bapak nggak ada pegangan sama sekali, Masa mau ngerokok aja harus ngemis-ngemis dulu." jelas bapak terdengar suaranya yang sedikit memelas.
"Terus? aku kirim uang ke nomor rekening siapa?"
"Ke rekening Vina saja, Dia anaknya bisa dipercaya, kok!" ungkap bapak membuatku menautkan alis, kenapa Bapak bisa percaya dengan orang yang baru hadir kembali. "Tolonglah! Lagian Kamu nggak ngirim setiap bulan ini." Susul Bapak setelah tidak dapat jawaban.
"Ya sudah! kirim saja nomor rekeningnya. Tapi janji Bapak harus datang ke sini.
"Iya! iya! bapak pasti datang, masa anaknya mau merayakan kebahagiaan, bapaknya tidak datang. tapi jangan lupa yang tadi bapak bilang."
Akhirnya kita mengobrol seperti biasa, namun pembahasannya tidak jauh dari keponakannya. yang baru saja datang ke rumah keluargaku. Aku belum tahu Vina tinggal di situ hanya untuk sementara, atau untuk selamanya.
30 menit berlalu, akhirnya kita berdua mengakhiri teleponan untuk beristirahat. menyiapkan tenaga untuk pekerjaan esok hari.
Setelah selesai bertelepon dengan bapak. aku pun mengabari Farid, bahwa acara lamaran akan diadakan malam minggu depan. tak lama setelah pesanku terkirim, Farid langsung menelepon, untuk memastikan kebenarannya. lama berteleponan sehingga kita tidak sadar, terlelap masuk ke alam mimpi, tanpa mematikan telepon terlebih dahulu.
******
Keesokan paginya. sebelum berangkat bekerja, aku sarapan terlebih dahulu sambil,mengecek handphone Siapa tahu saja Ada hal penting di sana.
Terlihat di aplikasi pesan berwarna hijau, berlogo telepon ada nomor baru yang mengchat, dengan foto profil seorang wanita muda. dengan penasaran aku pun membuka chat itu.
"Hai, kak Erni! ini Vina. tadi malam Bapak memintaku untuk mengirimkan nomor rekening ke nomor kakak." isi pesan itu diakhiri dengan deretan angka lengkap dengan nama banknya.
Aku klik profilnya, penasaran dengan wanita yang bernama Vina itu. ternyata dia berubah dengan begitu signifikan, dulunya dekil, kucel, hitam, ingusnya suka keluar mengalir di hidung. sekarang berubah menjelma menjadi wanita cantik, dengan kulit putih mulus, dihiasi dengan rambut di bawah bahu, bulu matanya yang disambung dengan eyelash, semakin membuatnya terlihat cantik.
Lagi asik memperhatikannya. handphone-ku bergetar, dengan cepat aku kembalikan layarku untuk melihat Siapa yang mengirim pesan.
"Maaf Kak! kalau saya lanjang, saya hanya Disuruh bapak." isi pesan yang dikirim oleh saudara sepupu itu. Kita memang seumuran namun silsilah keluarga mengharuskan dia memanggilku kakak sepupu.
__ADS_1
"Iya, Sebentar aku kirim." Balasku sambil mengalihkan layar ponsel ke mobil banking, untuk mengirimkan jumlah uang sesuai permintaan bapak.