
Pov Arfan
Setelah selesai mengobrol, Saiful pun berpamitan untuk mencari kehidupan. mengais rezeki dari tempat sampah ke tempat sampah yang lainnya, untuk bertahan hidup di tengah kerasnya Kota Jakarta. tak lupa Sebelum berangkat dia menitipkan rumahnya terlebih dahulu, karena menurutnya walaupun di rumahnya tidak ada barang yang berharga, namun menjaga harta itu hukumnya wajib.
Setelah kepergian Saiful, aku hanya terdiam di ruang sempit tampa melakukan apa-apa. merasa bosan aku pun keluar, untuk melatih langkah kakiku, dengan tidak menggunakan tongkat penyangga.
"Ngapain?" terdengar suara anak kecil yang bertanya.
Dengan cepat aku membalikan tubuh, menoleh ke arah datangnya suara. terlihat anaknya Bu Narti yang sedang berdiri menatapku. di tangannya ada kantong plastik belanjaan, Mungkin dia baru pulang dari warung disuruh oleh ibunya.
"Belajar jalan?" jawabku jujur.
"Masa udah gede masih belajar saja, kalah sama aku dong." cibirnya menunjukkan kepolosannya sebagai anak kecil.
Mendengar ucapannya seperti itu, Aku hanya tersenyum. tanpa memperdulikan perkataannya. "Pulang dari mana Tong?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Kepo!" ucapnya sambil berlalu pergi, seolah tak memiliki dosa, padahal yang pertama bertanya dia sendiri.
"Dasar Bocil!" Gumamku sambil tersenyum, kemudian Aku terus melanjutkan latihanku, tanpa memperdulikan anaknya ibu Narti yang sudah tak terlihat lagi. merasa bosan berjalan di Gang depan Rumah Saiful, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah pak Umar.
Setelah berada di depan rumahnya, terlihat Pak Umar yang sedang merapikan sampah botol minuman.
"Assalamualaikum?" ujarku sambil mendekati.
"Waalaikumsalam! Wah hebat! sudah bisa berjalan saja." Ujar Pak Umar, yang menunjukkan raut wajah kekaguman.
"Sedikit-sedikit, Pak! biar cepat terbiasa." jawabku kemudian duduk di atas kursi jongkok, yang nampak warnanya sudah memudar, bahkan salah satu kakinya sudah ada yang retak.
"Ya kalau tidak dibiasakan, nanti kita terbiasa berjalan menggunakan tongkat." Tanggapan Pak Umar, tangannya yang sibuk memisahkan antara botol dan penutupnya.
"Ya begitulah, Pak! Oh ya, ini kenapa dipisahkan dengan penutupnya?" aku bertanya karena baru kali ini, aku melihat pekerjaan seperti ini.
"Harganya beda! mungkin bahan dasar pembuatannya juga beda, dan ini sudah ditentukan oleh pihak pembeli. kalau tidak dipisahkan, harganya sama dengan plastik botolnya." jelas Pak Umar.
"Oh begitu!" ujarku mencempungkan pipi ,sambil mengambil botol yang belum dibuka penutupnya kemudian membantu Pak Umar.
"Nggak usah! biarkan bapak saja, nanti tanganmu kotor." tolak Pak Umar.
__ADS_1
"Nggak, Pak! daripada Saya bingung harus ngapain," ujarku yang tak memperdulikan penolakannya.
Tanpa ada penolakan lagi, akhirnya pak Umar pun membiarkanku membantunya. kita terus mengobrol kesana kemari. namun dalam setiap obrolannya, selalu ada nasihat yang ia sematkan, sehingga membuatku betah berlama-lama berbincang dengan orang tua seperti beliau.
"Oh iya, bagaimana keadaan Putri bapak?" Tanyaku di sela-sela Obrolan.
"Alhamdulillah sudah baikan, namun begitulah! anak saya masih trauma dengan kejadian yang baru saja menimpanya." jelas Pak Umar.
"Semoga anak bapak cepat sembuh! seperti sedia kala."
"Amin!"
Lagi asik mengobrol, terlihat dari kejauhan ada seorang wanita paruh baya, dengan berpakaian rapih, dikawal oleh dua orang laki-laki, mendekati ke arah kita.
"Assalamualaikum! selamat siang, Apa benar ini rumahnya Pak Umar?" tanya ibu-ibu yang baru datang.
"Waalaikumsalam! iya saya sendiri, maaf ada keperluan apa ya?" tanya Pak Umar yang merasa bingung dengan kehadiran mereka bertiga.
"Pekenalkan! Saya presiden direktur perusahaan Atri Group, tempat anak bapak bekerja." jelas ibu.
"Maaf sebelumnya! kalau kehadiran saya mengganggu keluarga Bapak, namun Bapak harus percaya saya tidak ada niat buruk datang ke sini, kemarin saya mendapat laporan bahwa staf saya ada yang dirawat di rumah sakit, karena sudah dihajar oleh karyawati yang bernama Karla. Saya tidak langsung percaya, makanya saya datang ke sini karena saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. biar saya sebagai pemimpin perusahaan, bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat." jelas ibu dengan wajah datar, menunjukkan wibawanya sebagai wanita karir.
"Maaf Pak! apa nggak sebaiknya mereka diajak masuk terlebih dahulu, agar kita bisa mengobrol dengan tenang, dan kita bisa mengetahui tentang maksud tujuan mereka datang ke sini." ujarku sedikit menenangkan Pak Umar, agar beliau bisa berpikir dengan jernih.
"Ya Allah! maaf kalau penyambutan saya kurang sopan, Ayo mari masuk ke dalam. namun sebelumnya saya minta maaf terlebih dahulu, karena keadaan saya yang seperti ini. Rumah saya sangat kotor dan tidak Layak." ujar Pak Umar seolah baru tersadar.
"Iya Pak, nggak apa-apa! Maaf mengganggu pekerjaannya." ujar ibu yang mengulum senyum, kemudian kami berlima masuk ke dalam rumah pak Umar.
"Sekali lagi saya mohon maaf! kalau penyambutan saya kurang baik, maklum keluarga saya sedang ditimpa musibah." ujar Pak Umar mengawali pembicaraan.
"Nggak apa-apa! sekarang di mana anak bapak? Bolehkah saya mengobrol dengannya?" Pinta ibu, yang tak memperdulikan tentang cara penyambutan Pak Umar.
"Boleh, bu! Sebentar saya panggil dulu anaknya. namun kalau anak saya tidak berkenan bertemu, dengan orang lain. saya Mohon pengertiannya." jawab Pak Umar yang dibalas oleh senyum ibu.
Pak Umar pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia naik ke lantai atas, untuk menemui anaknya. sedangkan ibu ditemani dua orang yang tidak aku kenal, duduk sambil menatap ke arahku, Kemudian beliau tersenyum.
"Kamu betah di sini?" tanya ibu sambil berbisik.
__ADS_1
"Betah! Lagian aku nggak tinggal di sini, aku ikut tinggal di rumah warga yang lainnya." Jawabku sambil berbisik pula, takut mengundang keculegaan orang lain.
Sekian lama menunggu, akhirnya terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, terlihatlah Pak Umar yang diikuti oleh anaknya. Mata Ibu Terus terfokus ke arah Karla yang tertunduk. Seolah beliau ingin melihat jelas bagaimana keadaan Karla yang sebenarnya. terlihat wajah Karla yang lesu dan mata yang memerah sedikit sembab, mungkin dia baru selesai menangis. Dengan tertunduk karla menyalami ibu, kemudian dia duduk di samping bapaknya.
"Hai, Karla!" sapa seorang laki-laki yang ikut dengan ibu.
"Mukti!" desis karla dengan suara pelan, kemudian ia menundukkan pandangannya kembali.
"Perkenalkan saya Ibu Aisyah, pemilik perusahaan aTri Group, saya datang ke sini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. dan Sebelumnya saya meminta maaf kalau kedatangan saya mengganggu istirahat Karla." ucap ibu yang selalu sopan, beliau tidak pernah membedakan Kasta ataupun tahta.
"Maaf kalau saya melakukan kesalahan, saya siap menerima semua resiko dari semua perbuatan saya." ujar Karla tiba-tiba berucap seperti itu. mungkin dia sudah berburuk sangka terhadap kedatangan ibu. dia berbicara tanpa berani mengangkat kepala.
"Saya baru mendapat keterangan, dari Manager perusahaan. bahwa pak Arga supervisor cleaning service, dia dirawat di rumah sakit. karena disiksa oleh kamu, apa itu benar?" tanya ibu yang mulai mengintrogasi.
"Iya, Bu!" jawab Karla singkat.
"Kenapa?"
"Karena Pak Arga, hendak merebut kesucian saya." jawab Karla, matanya yang dibanjiri oleh air dari tadi, sekarang pecah membasahi pipinya.
"Apa Bapak, sudah membuat laporan tentang kejadian pelecehan ini?" ujar ibu yang mengalihkan pertanyaan, Mungkin beliau paham dengan kondisi Karla sekarang.
"Belum, Bu! saya takut kalau saya membuat laporan ke pihak yang berwajib, saya takut kesalahan itu, berbalik kepada anak saya. dan kami semua di sini hanya orang, yang tidak berpendidikan tinggi. yang tidak tahu cara membuat laporan penganiayaan." jelas Pak Umar sambil menarik napas dalam, menyembunyikan kekecewaan yang telah dialaminya.
"Saya sebagai pemilik perusahaan, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. karena ini adalah kelalaian kami, yang tidak bisa mengawasi semua karyawan. sehingga terjadi kekerasan seperti itu. namun sebagai pihak yang bertanggung jawab, Kami akan membantu proses pembuatan laporan, serta memberikan dukungan penuh, kepada pihak-pihak yang dirugikan. Kami akan terus mendampingi korban dan memberikan payung hukum sesuai kemampuan kami. sekarang tergantung kesiapan korban, Apakah mau membawa masalah ini ke jalur hukum atau membiarkannya. Semua keputusan ada di tangan korban, karena laporan itu harus berdasarkan kesaksian dari korban. sekarang bagaimana? Apakah mau melaporkan pelecehan itu?" jelas ibu panjang kali lebar diakhiri dengan pertanyaan.
Mendapat pertanyaan seperti itu, semua orang yang berada di ruangan terdiam seketika. hanya terdengar napas dan isakan Tangis Karla yang ada di ruangan itu. semua orang menunggu jawaban dari Karla.
"Bagaimana?" tanya Pak Umar yang tak kunjung mendapat jawaban dari anaknya.
"Yang lalu, Biarkan Berlalu. buat menjadi pelajaran saya ke depannya, Biarkan saja." ucap Karla sambil terisak tak sesuai ekspektasi.
"Kenapa?" tanya ibu mewakili pertanyaan Semua orang yang berada di situ.
Sebelum menjawab terlihat Karla menarik nafas terlebih dahulu. "saya tidak mau memperpanjang masalah, karena keadilan hanya buat mereka yang kaya raya, saya akan tetap salah, karena saya miskin."
"Nggak! kamu nggak boleh ngomong seperti itu, mungkin Ibu ini mau membantu kita, menyelesaikan masalah. ingat dengan kamu membiarkan kejahatan seperti itu, sama saja kamu membiarkan orang itu terus berbuat jahat. kamu masih beruntung bisa kabur dari cengkraman pria sial4n itu. bagaimana kalau kejadian itu menimpa wanita yang lemah, yang tidak seberani kamu, wanita yang tak setangguh kamu. Tolong kamu pikirkan kembali!" ucapku yang tidak puas mendapat jawaban dari Karla.
__ADS_1