Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 23 Sumbang


__ADS_3

POV Farid


"Nggak mungkin kebetulan sebagus ini pak!" jawab Pak Karto sambil menatapku penuh kekaguman.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Aku hanya mengulum senyum, kemudian kembali menatap ke arah layar komputer yang masih menunjukkan padang rumput hijau. menunggu komputerku di billing untuk menerima file yang akan diberikan oleh pak Karto.


"Pak Farid....!" Panggil Pak Karto sambil menoleh ke arahku.


"Ya Pak, sudah dikirim filenya?" jawabku balik bertanya.


"Mending bapak bantuin saya untuk membuat iklan buat renovasi, karena saya sedang deadline untuk secepatnya mempresentasikan hasil kerja saya, kalaupun tidak selesai, minimal sudah ada project.


"Baik Pak, Apa yang harus saya bantu?"


"Coba tolong buka emailnya!"


Aku pun mengangguk, kemudian memasukkan email-ku yang dulu ketika aku masih bekerja. setelah masuk Pak Karto meminta alamatnya. setelah itu, barulah dia mengirimkan file-file yang harus aku kerjakan.


Aku mulai memperhatikan setiap detail detail pekerjaan yang harus aku kerjakan, Setelah lama berpikir akhirnya mendapatkan ide, kemudian aku menuangkannya dalam CorelDRAW, AutoCAD dan Photoshop serta aplikasi-aplikasi yang membantu mengerjakan Project promosi, hingga akhirnya aku terlarut dalam pekerjaan.


Sejam berlalu, akhirnya pekerjaanku sudah memiliki progres dan mulai tahu mau dibawa arah ke mana konsep pemasarannya.


"Bagaimana pak?" tanya karto sambil menatap ke arah layarku.


"Baru 10% Pak, tapi saya yakin saya sudah tahu konsepnya seperti apa."


Pak Karto pun memperhatikan detail apa yang aku kerjakan, membuatnya manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang aku tuangkan dalam layar. "bagus...! bagus...!" Gumamnya hanya itu, kemudian dia pun kembali menatap ke arah layar komputernya.


Pukul 12.00 tepat, Pak Karto pun menggeliat seperti orang yang baru bangun tidur, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, lalu meregangkan otot-otot tubuh yang mungkin terasa tegang, karena sudah 4 jam duduk di depan layar.


"Ayo istirahat dulu...!" ajak Pak Karto.


"Saya istirahatnya di sini aja Pak," jawabku sambil tetap menatap layar, memainkan keyboard sesekali memainkan Mouse.


"Bekerja Di sini nggak boleh tidak istirahat, karena kalau kita tetap bekerja waktu istirahat, maka Gaji kita akan dipotong. kecuali waktu lembur, itu pun tidak memberatkan."

__ADS_1


"Masa iya sih, begitu! Bukannya perusahaan sangat senang ketika melihat karyawannya rajin," jawabku yang tidak percaya.


"Di perusahaan lain memang begitu, karyawan terus dipras tenaganya. namun di sini berbeda, ini adalah Mandiri Group, perusahaan Pak Arfan, perusahaan yang selalu menjunjung tinggi integritas, namun tidak melupakan hak-hak karyawan. Ayo kita makan dulu...!"


Mendengar penuturannya seperti itu, Aku pun mensave data-data yang baru aku kerjakan. Seperti biasa aku mensave data beberapa kali, agar ketika memori korup, atau ada orang yang iseng, aku masih punya backup datanya. setelah selesai mensave data, aku pun bangkit kemudian melakukan hal yang sama, meregangkan otot-otot yang terasa tegang, meski baru sejam duduk. mungkin karena aku sudah lama tidak melakukan bekerja seperti ini. aku memindai area sekitar, ternyata para karyawan di divisi yang sama sudah tidak ada lagi, hanya meninggalkan aku dan Pak Karto.


Setelah melemaskan otot-otot yang terasa kaku, aku berjalan berdampingan dengan pak Karto menuju ke kantin. meski uangku sangat pas-pasan, namun kalau untuk makan aku rasa itu cukup.


"Kantinnya sebelah mana Pak?" Tanyaku sambil terus berjalan menuju ke arah lift.


"Di sini nggak ada kantin,"


"Terus?"


"Ayo ikut saja!" ajak Pak Karto sambil menekan tombol pintu elevator agar ketika lift lewat, pintunya otomatis terbuka. Namun sayang setelah pintu terbuka pintu lift itu sangat penuh diisi oleh karyawan-karyawan yang hendak makan siang. sehingga kita beberapa kali melewatkan lift itu, hingga akhirnya lift yang kelima, barulah kita bisa ikut naik. namun itu tidak lama karena hanya satu lantai, kita sudah sampai. aku memindai ruangan untuk mencari tahu di lantai berapa sekarang aku berada. tertulis di dinding dekat pintu masuk lift, di situ ada angka 4, mungkin ini adalah lantai teratas dari kantor Mandiri Group.


Aku terus berjalan bersama Pak Karto, dan para karyawan lainnya hingga akhirnya kita tiba di salah satu aula yang terlihat sangat besar. di aula itu tertata rapih kursi kursi panjang bersama mejanya, kursi yang sangat elegan karena dibuat dari bambu gelondongan. di bagian depan terlihat masih banyak orang yang mengantri mengambil makanan, karena di bagian depan ada stand makanan yang menjajakan jualannya.


Aku dan Pak Karto terus berjalan sampai akhirnya kita tiba di depan, untuk mengambil nasi. rasanya sangat malu, rasanya aku diperhatikan, karena mungkin seluruh karyawan Mandiri group berada di ruangan itu. Sehingga aku yakin pasti ada orang yang mengenaliku.


Aku hanya menganggukan kepala, kemudian mengikuti apa yang dilakukan oleh pak Karto. setelah memegang piring kita pun ikut mengantri dengan beberapa karyawan lainnya. hingga akhirnya tiba giliranku mengambil nasi. aku yang tidak memiliki uang banyak, hanya Rp135.000 pemberian Bapak dan Vina, aku putuskan untuk mengambil makanan yang tidak mewah, aku hanya mengambil tahu dan tempe beserta beberapa sayuran yang dianggap aku bisa membayarnya. aku tidak mengambil lauk ayam atau empal padahal wanginya sangat menggoda karena terlihat masih hangat.


Setelah selesai mengisi piring dengan makanan, Pak Karto mengajakku untuk menuju tempat duduk yang agak sepi, mungkin agar punya privasi.


Tak susah mencari karena ruangan yang sangat luas, dengan banyaknya kursi yang tersedia. hingga akhirnya kita duduk di meja paling belakang. setelah itu tanpa ada pembicaraan lagi, aku dan Pak Karto mulai menyantap makanan yang ada di piring masing-masing.


"Pak Farid, nggak suka ayam atau empal begitu?"


"Enggak Pak...!" jawabku dengan suara pelan takut ada orang yang mendengar.


"Yah, benar..! kalau tidak suka jangan dipaksakan, itu tidak baik buat kesehatan," obrolan kita disela-sela makan.


10 menit berlalu, akhirnya kita berdua menghabiskan makanan yang berada di piring masing-masing, dilanjutkan dengan minum air mineral yang tadi kita bawa dari depan.


"Bukannya itu si Farid," terdengar salah seorang yang berbicara dari arah belakangku.

__ADS_1


"Iya ngapain dia ikut makan di kantor kita?" Jawab yang lainnya.


"Nggak tahu, dari pagi juga dia sudah ada di kantor kita, mungkin sedang mencari mangsa."


"Mangsa apaan?" Tanya salah seorang mungkin itu karyawan baru yang belum mengetahui tentang Seluk beluku.


"Itu mangsa mangsa keluarga yang ingin dihancurkan."


"Hmm...., iya! kita harus hati-hati, jangan sampai kita tergoda oleh bujuk rayunya si sialan itu, nanti yang ada keluarga kita yang akan hancur."


"Emang kenapa?"


"Kayaknya dia ikut kerja di kantor kita, kalau nggak kerja ngapain dia makan di sini?"


"Masa sih, dia kerja di sini."


"Emang kenapa?"


"Ya Kalau ikut kerja di sini, nggak tahu malu banget...! Dulu dia sangat sombong dan sangat belagu, bahkan sahabat sendiri saja dia khianati. sekarang Lihatlah siapa yang mempekerjakannya!"


Telingaku terus menangkap pembicaraan pembicaraan Sumbang dari arah belakang, membuatku hanya bisa menundukkan pandangan. Menyembunyikan rasa malu, rasa takut kayaknya akan terus menghantui selama aku bekerja di sini. aku menarik nafas dalam, mencoba untuk menerima dengan semua yang menimpa.


"Pak Farid...!" Panggil Pak Karto.


"Ya pak....!" Jawabku agak terkaget karena sedang asik melamun.


"Kemarin sebelum di sini, Bapak kerja di mana?"


"Saya kerja di perusahaan Alexis."


"Alexis yang ada di Matraman?"


"Betul Pak, Tapi itu sudah lama."


"Pantes....! Saya kira baru bekerja di sini."

__ADS_1


__ADS_2