Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 59 KAGUM


__ADS_3

Pov Arfan


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pak Umar pun kembali dari mushola, Kemudian beliau menghampiri kita, yang masih menunggu di teras rumahnya.


"Ayo masuk!" ajaknya, setelah menyalami kita berdua.


Aku dan Saipul berdiri, kemudian mengikuti Pak Umar dari belakang, masuk ke rumahnya.


Setelah berada di dalam rumah, pak Umar tidak langsung duduk. Beliau pergi ke dapur, untuk menyiapkan peralatan makan malam. melihat kejadian itu, dengan cepat Saiful berdiri membantu Pak Umar. namun ketika aku hendak ikut berdiri, mereka berdua menolak. Aku disuruh duduk menunggu saja, mungkin mereka merasa kasihan dengan kondisiku yang sekarang, aku hanya mengangguk meski dengan perasaan sedih. Karena Hidupku Masih belum bisa berguna dan hanya bisa merepotkan orang lain.


Setelah menyiapkan semua peralatan, dengan cepat Saiful pun membuka kantong berisi makanan pemberian dari ibu. Kemudian dia menuangkannya ke piring.


"Boleh minta buat Karla?" tanya Pak Umar sambil menatap ke arahku.


"Ya Allah, Pak! Kenapa harus pakai minta izin segala, Ini sudah menjadi rezeki kita semua. jadi Siapapun boleh memakannya, tanpa harus meminta izin terlebih dahulu." jawabku yang semakin kagum, dengan keluarga Pak Umar. pertolongan mereka terhadapku sudah tak terhitung banyaknya. namun mereka tetap memiliki etika yang sangat baik, tidak menjadikan pertolongan itu sebagai alat untuk mengintimidasi.


Setelah mendapat izin, Pak Umar memisahkan makanan untuk anaknya. Kemudian beliau mengantar makanan itu ke lantai atas. setelah selesai mengantar makanan, Kami bertiga menyantap makan malam bersama, namun yang membuat aku merasa khawatir, aku tidak melihat keberadaan Karla sama sekali, biasanya wanita aneh itu selalu meledekku, dengan candaan-candaannya yang begitu menyebalkan.


Selesai makan malam, dengan cepat Saiful pun merapikan bekas makan kami. aku yang ingin membantu untuk kesekian kali, namun untuk kesekian kalinya juga Saiful menolak bantuanku. menurutnya nanti setelah aku sembuh total, aku bisa membantu mereka sepuas mungkin.


Aku dan Pak Umar Hanya duduk menikmati sebatang rok0k, sambil ngobrol-ngobrol ringan. tak selang Berapa lama, Saiful ikut bergabung, setelah dia selesai merapikan bekas tempat makan kami.


"Oh iya, tadi siang Ada urusan apa, karena menurut Bu Narti. Nak Arfan izin untuk menyelesaikan urusan terlebih dahulu." tanya Pak Umar yang membuatku sedikit terdiam, serapih apapun berbohong, Sepandai apapun tupai melompat pasti akan terjatuh juga.


"Urusan, urusan, belajar berjalan Pak, iya aku ada urusan untuk belajar berjalan. aku ingin belajar berjalan yang lebih jauh, namun ketika tadi Aku belajar berjalan di Jalan Raya, ada orang baik yang mau menolongku. saya kira itu orang jahat, tapi mereka benar-benar menolongku, meski wajahku harus direkam kamera." jawabku tergagap, menutupi kebohongan.


"Iya! memang orang-orang sekarang, kalau menolong orang lain pasti harus divideokan. Bapak juga sering mendapat perlakuan seperti itu." Ujar Pak Umar yang tidak curiga, Sedikit membuatku merasa tenang.


"Oh iya! selain orang baik itu mengasih makanan, mereka juga mengasih uang." ujarku sambil mengeluarkan uang lembaran merah, yang tadi diberikan oleh ibu sebagai pegangan, kemudian aku menyerahkan uang itu kepada Pak Umar.


"Buat apa?" tanya Pak Umar yang menatap heran ke arahku.


"Buat bapak!" jelasku.

__ADS_1


"Simpan! itu uangmu, gunakan sebijaksana mungkin, untuk memenuhi kebutuhanmu. Sekarang bapak masih bisa mencari uang sendiri." tolak Pak Umar dengan halus.


"Nggak apa-apa! buat bapak saja."


"Masukkan kembali, itu uang kamu! mendingan uangnya kamu pakai buat membeli pakaian, dan perlengkapan salat. ingat janji awal kamu, mau belajar salat dan belajar ngaji." jelas Pak Umar.


Semakin aku memaksa memberikan uang itu, semakin keras juga beliau menolaknya. aku hanya berdecak kagum dalam hati. Pak Umar tetap Teguh dengan pendiriannya, Padahal kalau mengingat keadaannya sekarang, dia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan anaknya.


Setelah menghabiskan sebatang rok0k, Pak Umar pun berpamitan untuk naik ke lantai atas. menemani anaknya yang baru pulang dari rumah sakit. sedangkan aku dan Saiful meminta izin untuk menginap di rumahnya, agar ketika Pak Umar membutuhkan sesuatu, kita bisa dengan cepat membantunya.


Selepas kepergian Pak Umar yang naik ke lantai atas, aku dan Saipul mengobrol sambil berbaring, membahas kejadian-kejadian yang tadi siang kita lewati. namun ketika aku bercerita, terdengar suara dengkuran yang begitu nyaring dari arah samping.


"Sial4n! aku dianggap radio butut, Aku bercerita dianya malah molor." gumamku setelah melihat orang yang aku ajak berbicara dia Sudah terlelap.


Merasa kesal dengan Saipul, akhirnya aku pun mencoba memejamkan mata, untuk menyambut hari-hari yang akan datang. namun baru saja terlelap aku terbangun kembali, karena mendengar suara isak tangis seorang perempuan, setelah aku perhatikan, ternyata suara itu terdengar dari lantai atas.


"Karla!" Desisku setelah sadar dengan keadaan sekitar.


Namun tak lama setelah itu, terdengar suara derap kaki yang ditimbulkan ketika menginjak lantai papan. dan tak lama terdengar suara laki-laki yang sedang menenangkan anaknya. meski suaranya sangat pelan, namun suasana malam hari yang begitu sepi, sehingga suara itu bisa terdengar dengan jelas.


"Sudah! kamu jangan bersedih, Kamu harusnya banyak beristighfar dan bersyukur. karena pria jahat itu tidak berhasil menyentuh tubuhmu." terdengar suara pak Umar menenangkan anaknya.


Pak Umar terus menasehati anaknya, sama seperti ibu yang selalu menasehatiku, ketika aku terpuruk ketika aku butuh motivasi.


Merasa Karla sudah berada di tangan yang tepat. Aku merebahkan kembali tubuhku, sambil terus mendengarkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh pak Umar. sampai akhirnya mataku tertutup kembali. hingga adzan subuh berkumandang membangunkan tidur lelapku.


Perlahan aku membuka mata, kemudian memindai area sekitar. namun pandanganku terhenti ketika muncul seorang wanita dari arah dapur, Mungkin dia baru saja mengambil air wudhu, sebelum melaksanakan salat subuh.


"Karla!" panggilku tanpa sadar.


Wanita itu hanya mendelik sebentar, lalu melanjutkan kembali langkahnya menaiki anak tangga, tanpa memperdulikanku lagi.


"Ful! Ful! bangun! sudah adzan." ujarku sambil menggoyangkan tubuh Saiful, yang tidak merubah posisi tidurnya semenjak tadi malam.

__ADS_1


Setelah beberapa kali membangunkan, akhirnya perlahan mata Saiful mulai terbuka, kemudian menatap tajam ke arahku, seolah tidak suka kenikmatannya diganggu.


"Sudah subuh, ayo kita salat!" ajakku.


Mendengar penjelasanku, dengan cepat dia membangunkan tubuhnya, kemudian ia berdiri lalu pergi keluar, untuk menuju mushola. meninggalkanku yang masih menatap bengong ke arahnya.


Melihat Saipul sudah ngacir duluan, dengan perlahan aku bangun dari tempat dudukku. kemudian berjalan perlahan tanpa menggunakan tongkat. agar aku cepat terbiasa dan kembali seperti sedia kala, Yang bisa berjalan tanpa menggunakan alat bantu.


Dengan perjuangan yang begitu berat, Akhirnya aku bisa sampai ke mushola, tanpa menggunakan tongkat ketiak. dan dengan cepat aku pun mengambil air wudhu, karena sudah terdengar suara iqomah dari dalam mushola.


Sebelum kembali ke rumah pak Umar, aku mengajak Saiful untuk mencari sarapan terlebih dahulu. karena melihat kondisi Karla yang seperti sekarang, dia tidak mungkin menyiapkan kita sarapan, seperti hari-hari sebelumnya.


Saiful pun setuju dengan saran yang aku usulkan, kemudian ia mengajakku untuk menuju penjual nasi uduk, yang letaknya tidak jauh dari masjid. setelah selesai membeli sarapan, kita pun kembali ke rumah pak Umar. kemudian memakan sarapan bersama, tak lupa Sebelum makan Sarapan, Pak Umar mengantarkan sarapan jatah anaknya ke lantai atas.


Selesai sarapan, aku dan Saiful meminta izin untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. dan nanti siang setelah mandi aku akan datang kembali ke sini, namun Saipul Dia meminta izin untuk melakukan aktivitasnya seperti biasa.


"Nanti setelah aku bisa berjalan, Boleh nggak aku ikut bekerja dengan kamu, bro?" Tanyaku setelah berada di rumah Saiful.


"Nggak boleh! mending lu cari pekerjaan yang lain, susah dan hina di pandangan orang lain, kalau lu bekerja seperti gua." tolak Saiful.


"Nggak apa-apa! Kita kan nggak nyolong, kita hanya mengambil barang yang sudah dibuang oleh orang lain." ujarku.


"Iya Justru kita mengambil barang yang sudah dibuang, jadi kita terlihat hina."


"Boleh ya, please! aku nggak punya pekerjaan, zaman sekarang nyari kerjaan yang enak susah bro! Tolong bantu, boleh ya!" Cpintaku mengiba sambil memainkan kedua alis.


"Ya sudah! gimana nanti saja, yang terpenting sekarang lo sembuh terlebih dahulu."


"Berarti boleh nih?"


"Boleh! lagian lu sendiri kan yang mau menjalani, yang terpenting lo kuat mental saja."


"Siap, pak Bos! Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2