
Pov ghufron
Pagi itu, ketika aku membuka mata terbangun dari tidurku. cahaya matahari sudah masuk ke dalam kamar, entah siapa yang membuka gordennya, membuatku mengkerjepkan mata membutuhkan pandangan.
Perlahan aku bangkitkan tubuhku, karena ada hajat yang harus aku Keluarkan. dengan gontai dan memegang ke dinding, Aku berjalan menuju ke kamar mandi.
Selesai membuang hajat, aku keluar kembali dari kamar mandi, berjalan dengan penuh kehati-hatian menuju kasur tempat tidurku.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruang kamarku ada yang membuka, muncullah menantuku yang mengulum senyum membuat, aku belingsatan merapikan sarung yang aku selendangkan.
"Kamu nggak sopan...! masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu," ujarku yang kesal.
"Bapak habis dari kamar mandi? sini Vina bantu!" ujar Gadis itu sambil mendekat ke arahku.
"Sudah jangan menyentuh saya..! kamu tidak ada bedanya dengan Si Erni," tolakku dengan Ketus kemudian aku terus berjalan Kembali menuju kasur, setelah sampai aku duduk di tepian ranjang.
"Bapak sarapan dulu ya!' ujar Vina sambil membuka box yang berisi bubur, kemudian dia mengaduk bubur itu agar bumbunya tercampur rata, lalu menyendoknya sedikit kemudian didekatkan ke arahku.
"Sudah..! kamu jangan pura-pura Baik, saya tahu akal bulusmu. Sini saya juga bisa sendiri!" Tolakku sambil mengambil box yang berada di tangannya.
"Bapak minum dulu nanti buburnya gak enak kalau bercampur dengan iler," ujar menantuku membuatku membulatkan mata karena sebenarnya dia tidak pantas berbicara seperti itu.
Namun benar saja ketika aku mengunyah bubur, rasanya agak berbeda. sehingga aku mencari minum dengan Sigap Vena pun mendekatkan, lalu aku meneguknya kemudian melanjutkan kembali memakan bubur.
Vina hanya terdiam, sambil duduk di kursi yang ada di dekat ranjang, dia memperhatikan gerak diriku membuatku merasa tidak enak.
Selesai makan dengan sigap vina merapikan box bubur, lalu disimpan di atas nakas, kemudian dia mengambil obat lalu diberikan kepadaku. aku yang masih merasa kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya mengambil obat itu, lalu meminumnya. aku harus cepat sembuh, karena aku dengar mereka akan pergi dari rumahku setelah aku sehat.
"Bapak mau buah?" tanya Vina.
Aku melirik sebentar kemudian membaringkan tubuhku, namun meski begitu Vina tetap bangkit dari tempat duduknya, sambil membawa box bubur untuk dibuang ke tong sampah. tak lama dia pun kembali sambil membawa buah apel kemudian dia duduk di kursi yang berada di dekat ranjang, lalu mengupas buah apel.
__ADS_1
Selesai buahnya dikupas, Vina memotongnya menjadi potongan kecil lalu dia menusuk dengan sendok garpu, kemudian didekatkan ke mulutku.
"Biar bapak cepat sembuh dan tubuh Bapak segar!" ujar Vina masih mendekatkan buah apel bibirku.
"Apaan sih kamu, saya bisa sendiri, sini!" jawabku sambil merebut piring dan sendok, sehingga tangan kita bersentuhan, namun dia tidak marah dia malah tersenyum membuatku merasa takut.
"Menurut artikel yang aku baca, kalau buah itu bisa membantu penyembuhan orang yang sakit, Selain itu ketika dia makan waktu sakit rasanya tidak berubah, tidak seperti makanan-makanan yang lainnya, yang terasa hambar," jelas Vina yang menatapku.
"Kapan kamu mau pulang dari rumah saya?" Tanyaku sambil melirik dengan sudut mata.
"Kok Bapak bertanya seperti itu, walau bagaimanapun Vina kan menantu bapak, jadi Vina masih ada hak untuk tinggal di sini."
"Nggak ada hak kamu tinggal disini, karena si Farid sudah minjam uang 50 juta, anggap aja itu bagian dari rumah ini." jawabku tidak mau kalah.
"Iya tapi walaupun begitu, harga rumah ini lebih dari 1 M. Masa Bapak mau membagi anaknya hanya 50 juta, dan yang perlu Bapak ketahui semua perabotan yang ada di rumah ini ternyata Farid yang membelikan.
"Kalau kamu mau, kamu boleh membawa semua barang yang sudah dibeli oleh si Farid, tapi kamu harus secepatnya meninggalkan rumah saya!"
"Iya, Biarkan saja barang-barang Farid di sini, Lagian saya nggak akan pergi sebelum bapak sembuh," ujar Vina kemudian dia bangkit kembali dari tempat duduknya lalu keluar.
Ceklek!
Pintu kamarku pun terbuka kembali, membuatku menatap tajam ke arah orang yang kurang ajar itu. "bisa nggak sih kamu kalau masuk itu Ketuk pintu dulu, jadi orang kok gak ada sopan santum amat...!" bentakku yang merasa kaget.
Vina hanya mengulum senyum, kemudian dia mulai menyapu kamarku membersihkan debu-debu yang menempel, aku yang merasa kesal inginnya keluar dari kamar, namun ketika aku hendak bangkit jantungku masih terasa nyeri.
Selesai menyapu lantai dia kembali membawa ember dengan pel, tanpa disuruh dia mulai mengepel lantai kamarku
aku hanya memperhatikan tingkah lakunya yang sangat mengerikan, aku takut dia punya maksud yang tersembunyi dengan keluargaku.
Selesai merapikan kamar dia pun keluar, lama menunggu dia tak kunjung datang, membuatku lama-kelamaan merasa ngantuk, hingga akhirnya tertidur pulas mungkin ini efek obat yang aku minum.
Lama tertidur mataku mulai terbuka, aku pindai area kamarku, sehingga jantungku rasanya mau copot setelah melihat seorang gadis yang tersenyum.
__ADS_1
"Bisa nggak sih, kamu nggak masuk kamar saya...!" bentakku yang merasa kesal.
Namun orang yang dibentak hanya mengulum senyum, sambil memperhatikan ke area bawah. dengan cepat aku menutupnya dengan selimut. "kamu jangan kurang ajar, kamu itu istri anak saya+"
"Lagian sudah tua, masih bangun seperti itu...!" jawab Vina sambil mengulum senyum.
"Kurang ajar kamu.....!"bentakku sambil bangkit agar benda yang menyumbul tersamarkan.
"Bapak makan dulu ya! kebetulan Vina sudah masak."
"Gak Usah saya bisa sendiri," tolakku dengan Ketus.
Namun seperti biasa Vina hanya mengulum senyum aneh, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya. tak lama dia pun kembali dengan membawa nampan berisi nasi dan sayuran.
"Ayo makan dulu, Vina suapin..!" Tawarnya sambil mengaduk nasi dengan sayur bening, kemudian dia sendok satu suap nasi lalu didekatkan ke mulutku.
Dengan cepat aku tepis sendok itu, sehingga makanan yang ada di atas nampan, ikut tumpah memenuhi selimutku, kakiku lumayan terasa panas tersiram oleh air sayur bening.
"Hati-hati dong, tumpah kan!" ujar Vina atau sedikitpun raut marah.
Dengan telaten dia mulai menarik selimutku untuk dibersihkan, kemudian Dia merapikan sisa-sisa makanan yang masih tumpah di atas kasur.
Sarungku yang basah, membuatku harus segera membersihkan badanku yang terkena tumpahan sayuran, perlahan aku bangkit dari tempat tidurku, lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Vina yang melihatku berjalan, dengan segera dia mengambil tanganku lalu dikaitkan ke pundaknya.
"Bapak hati-hati jalannya," ujarnya sambil Terus membopong masuk ke kamar mandi.
"Sudah jangan kurang ajar kamu, tanganku ketika dia ingin ikut ke dalam kamar!"
Vina hanya mengulum senyum, kemudian dia melanjutkan kembali membersihkan sayuran yang tumpah dikasur, aku segera menutup pintu lalu membersihkan tubuh dengan air.
"Celaka...! apa yang aku takutkan kayaknya akan terjadi, Ibu mampu sambil terus membersihkan tubuh, namun setelah selesai aku lupa membawa handuk.
"Haduh mana sarungku sudah basah, handuk tertinggal di luar." gumamku dalam hati, dengan perlahan aku mulai membuka sedikit pintu kamar mandi memindai kamarku beruntung Vina sudah tidak ada di kamar.
__ADS_1
Dengan segera aku keluar untuk mencari sarung, yang baru Namun ketika aku mencari sarung pintu kamarku terbuka. aku yang tidak memakai bawahan apa-apa, membuat menantuku menatap tajam ke arah bawahku.