Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 11 Keranjang sayur


__ADS_3

POV Arfan


"Janji ya, jangan ngintip!" terdengar suara Karla meminta, Karena sekarang aku sudah ke rukupan menggunakan selimut, sehingga hanya suara Gadis itu yang bisa kudengar.


"Enggak, janji aku nggak ngintip."


"Awas aja! kalau ngintip," terdengar jawaban istriku mengancam.


Setelah beberapa saat berlalu, aku yang merasa penasaran mulai menurunkan selimut yang menutup tubuhku. terlihatlah Karla yang sedang melepaskan pakaiannya, dia tidak melihatku sudah menurunkan selimut, karena dia mengganti baju dengan membelakangiku.


Mataku terus menikmati setiap lekuk tubuh Karla dari belakang. ketika dia selesai ganti baju, dengan cepat aku menarik kembali selimut untuk menutup kepalaku.


"Udah Kak!" terdengar suara istriku memberitahu.


Dengan perlahan aku mulai menurunkan selimutku kembali. lalu menatap ke arah wajah Istriku yang sangat cantik. rasanya ingin segera membelai pipinya, namun aku masih belum berani untuk melakukan hal senekat itu.


"Ya sudah ayo tidur! Kenapa masih berdiri?" ajaku sambil tetap menatap ke arah wajahnya.


"Tapi Kakak nggak ngapa-ngapain kan?" tanyanya ragu-ragu.


"Nggak apa-ngapain bagaimana? Kan kamunya Masih Berdiri. lagian malam tadi aja, yang memeluk kan sayang. harusnya Kakak yang bilang seperti itu," ujarku sambil menyogingkan senyum meledeknya.


"Iiiiiiih, itu kan aku nggak sadar Kak!"


"Sadar juga, boleh kali! Ayo buruan tidur, nanti besok kesiangan," Ajaku sambil membangkitkan tubuh Dari Ranjang tidurnya, kemudian menuntun tangan istriku untuk naik ke ranjang.


Karla hanya menurut, namun terlihat malu-malu, Membuatnya terlihat semakin menggemaskan. dia tidak berani menatap wajahku, sambil naik ke atas ranjang. kemudian kita berbaring bersama, sambil saling menatap. terukir senyum indah menghiasi bibir istriku, membuat hatiku berdegupta karuan.


"Nggak apa-apa kan, kalau kita liburan ke Sukabumi hanya berdua saja?" tanyaku mulai membahas rencana kita.


"Nggak apa-apa Kak, lagian benar apa yang diucapkan oleh Bapak, kalau kita liburan mengajak anak-anak, nanti kita bukannya liburan, kita malah ngasuh anak orang. tapi kalau bisa, adek tetap ingin mengajak anak-anak liburan."


"Mau ngajak ke mana, Terus kapan?" Tanyaku yang masih tetap memandang wajahnya.


"Ke Ancol atau ke TMII, Kayaknya seru Kak."


"Boleh, kapan?:

__ADS_1


"Nanti aja kalau kita sudah pulang dari Sukabumi, sekarang fokus kita ke acara kita terlebih dahulu," jawab Karla yang terlihat tidak ingin mengecewakan suaminya.


"Terima kasih ya!" ujarku Sambil mendekatkan bibir keningnya. membuat mata gadis cantik itu terpejam seketika, menyambut hangat bibir yang menempel di dahinya.


Akhirnya malam itu kita lewati hanya dengan bercengkrama membahas apa yang akan kita lakukan nanti ketika liburan. Karla sekarang sudah nyambung ketika diajak ngobrol, tidak seperti sebelum menikah yang sifatnya sangat menyebalkan. Atau mungkin benih-benih cinta Sudah tumbuh di hatinya.


****


Beberapa hari berlalu, waktu yang ditunggu pun datang. aku dan Karla sudah bersiap-siap untuk pergi ke Sukabumi. Awalnya aku dan istriku akan pergi berdua saja, namun Ibu tidak memperbolehkan kita berangkat hanya berdua saja. Ibu lebih memilih mempercayakan aku, diantar oleh Pak Andi sopir setianya.


Aku yang tidak bisa berbuat banyak, atau menolak. Aku hanya mengikuti apa yang Ibu sarankan, sehingga hari itu kita pergi menuju Sukabumi dengan diantar oleh Pak Andi.


Mobil yang membawa keluarga kecilku, mulai melaju pergi meninggalkan hingar bingar kota Jakarta, menuju ke arah paling selatan Pulau Jawa.


Mobil yang kutumpangi, terus melaju menyusuri Jalan tol, hingga akhirnya mobil itu sampai di Kota Sukabumi. dari arah kota mobil mulai menuju ke arah selatan, di mana keindahan pun mulai terlihat. karena pemandangan di kota Jakarta hanya gedung-gedung yang menjulang tinggi, namun di sini kita bisa menikmati indahnya alam dengan gugusan gunung di setiap sudutnya.


Jalan yang dilalui, mulai berkelok-kelok. bak ular yang sedang mencari mangsa. sehingga kecepatan mobil pun tak bisa secepat ketika kita melalui jalan raya pada umumnya.  namun Itulah pengalaman pertama kita untuk mendapat sesuatu keindahan , dan dengan perjuangan yang begitu gigih dilakukan oleh Pak Andi. akhirnya kita tiba di salah satu pertigaan, terlihat di sana ada seseorang yang sedang menunggu.


Ketika melihat ada mobil yang terparkir di pertigaan, dengan cepat orang yang menunggu pun menghampiri lalu mengetuk jendela.


"Kang Fathan...! itu Kang Fathan Kak!!!" ujar Istriku yang sudah hafal dengan orang yang menunggu, Karena dia sering menonton channel YouTube keranjang sayur.


Pak Andi ketika melihat ada yang mengetuk jendela, dia pun menatap ke arahku, seolah meminta izin untuk membuka pintu. "Bagaimana ini pak?"


"Buka aja Pak! itu kang Fathan sang petani yang sukses mengembangkan kampung sukadarma," jawabku memberitahu sopir ibu.


Pak Andi pun mengangguk, kemudian dia mulai menurunkan kaca mobil namun tidak semuanya. mungkin kehati-hatian harus tetap dijaga apalagi daerah ini jauh dari kota.


"Pak Arfan?" tanya laki-laki yang berdiri didekat pintu mobil.


"Iya saya Pak!" jawabku dari belakang, setelah mengetahui bahwa orang itu mengenal Namaku, dengan cepat aku membuka pintu mobil.


Setelah Pintu itu terbuka, aku keluar lalu menguluarkan tangan untuk mengajak pria berbadan tinggi, berkulit putih sedikit kehitaman berkenalan.


"Benar ini Pak Arfan?" tanya orang itu memastikan.


"Benar, Saya sendiri. ini Kalau nggak salah Pak Fatan ya?" jawabku sama-sama memastikan.

__ADS_1


"Benar pak, saya Fathan salam kenal, senang bertemu dengan pengusaha properti tersukses di Jakarta." Pujinya sambil mengulum senyum ramah.


"Pak Fathan bisa saja, saya yang harusnya berbicara seperti itu. karena saya bisa bertemu dengan sang petani sukses dari Sukabumi," jawabku mengembalikan sanjungannya.


"Saya dulu pernah bekerja di kantor TB property, di Jalan Simatupang." ujar Fathan memperkenalkan dirinya.


"Oh perusahaan properti yang di bawah naungan Pak Wira karna?" Tanyaku memastikan.


"Betul Pak! saya lama bekerja di situ, makanya saya Tahu betul tentang Bapak apalagi kalau membicarakan perusahaan Atri group semua orang pasti akan sangat mengetahuinya."


"Terus kenapa berhenti bekerja?"


"Saya resign Pak, saya ingin mengembangkan warga kampung yang pada dasarnya kita adalah para petani. Saya sedih ketika melihat semua warga Kampung sukadarma, harus merantau untuk mencari kehidupan."


"Hebat! hebat..! Benar apa yang disampaikan oleh Pak Fathan, kalau bukan kita yang yang mengembangkan kampung halaman, mau mengandalkan siapa lagi?"


"Betul Pak! Maka dari itu saya berusaha mengembangkan kampung saya agar bisa dikenal khalayak ramai, dan bisa memberi penghidupan kepada warga kampung, sehingga ketika mereka mencari nafkah tidak harus keluar dari kampung. Maaf malah diajak ngobrol, ayo ikuti saya! Semoga liburan di kampung sang petani, bisa memberikan kesan yang baik buat pak Arfan sekeluarga." Ajak Fathan memungkas obrolannya yang terlihat akan semakin seru.


"Iya terima kasih!" Ujarku sambil masuk kembali ke dalam mobil, lalu menyuruh pak Andi untuk mengikuti motor yang dikendarai oleh Fathan, motor besar berwarna merah.


Akhirnya mobil yang mengantarkanku, mulai melaju kembali mengikuti Fathan yang sudah berjalan duluan. meski tidak bisa cepat karena jalannya yang dilalui selain semakin sempit, ada beberapa bagian jalan yang terkelupas. sehingga laju mobil yang dibawa oleh Pak Andi tidak bisa menggunakan kecepatan penuh. namun Walau begitu, akhirnya kita sampai juga di gapura Kampung Sukadarma. dari situ, mata kita dimanjakan dengan berbagai sayuran yang tertata rapi di samping kanan dan kiri jalan, dari arah jauh terlihat sawah yang membentang seluas mata memandang, padinya yang sedang hijau bak permadani yang sedang dihantarkan.


Mobil itu terus melaju membelah sayuran yang berjajar rapi di samping kanan kiri jalan. hingga akhirnya kita tiba di salah satu Saung yang terlihat besar. Setelah sampai ke tempat yang dituju, dengan cepat aku dan Karla pun turun dari mobil. disambut oleh beberapa orang yang sudah berdiri menatap ke arahku.


"Selamat datang di kampung sukadarma, kampung sang petani yang sedang maju!" jawab Fathan sambil mengulum senyum terlihat raut wajah penuh kebahagiaan.


"Terima kasih banyak Pak atas penyambutannya, Saya kagum melihat pertanian yang terhampar luas dengan subur. Bapak memang benar-benar hebat, bisa mengelola tanah yang katanya, dulunya hanya ditumbuhi oleh ilalang dan rerumputan liar." pujiku mengungkapkan kekaguman.


Karla semenjak turun dari mobil, dia hanya memindai seluruh tempat yang sangat Asri di. samping kanan kirinya sejauh tatapan mata memandang terhampar berbagai macam sayuran, bahkan di belakang terlihat green house yang berdiri berjajar rapih. istriku terlihat seperti orang yang pendiam, dia hanya menundukkan pandangan, tanpa berani menatap ke arah orang-orang yang menyambut kedatangan kita. berbeda ketika dia mengobrol denganku, Dia sangat mengagumi Fathan, karena mampu mengubah Kampung sukadarma menjadi Kampung sang petani.


"Terima kasih atas pujiannya Pak! namun ini belum seberapa, masih banyak yang harus diperbaiki, Tolong kasih masukan agar Kampung kami, semakin maju! karena saya yakin dengan sentuhan tangan Bapak, Apapun akan terlihat indah."


"Ah, Pak Fathan itu sangat berlebihan. Saya gak sesempurna itu, Dan saya yakin setiap orang punya kekurangan dan punya kelebihan. insya Allah, nanti saya akan mencoba melihat-lihat Siapa tahu saja bisa berguna bagi kelanjutan perusahaan bapak." jawabku menyanggupi namun tidak langsung.


Akhirnya Fathan pun mengajak aku dan Karla, untuk menuju Mini Resort yang sudah di pesan jauh jauh hari. sesampainya di bangunan kecil yang terbuat dari bambu yang tersusun rapi, sehingga membentuk tenda penginapan. Fathan mulai membuka pintu, sehingga membuat kekagumanku bertambah. karena terlihat di dalamnya sudah tersusun rapi tempat tidur bersama kelengkapan-kelengkapan lainnya, bak hotel berbintang 5.


"Selamat menikmati liburannya! kalau butuh sesuatu bapak bisa menghubungi saya," ujar Fathan mempersilahkan. kemudian dia pun berpamitan untuk pergi melanjutkan pekerjaannya kembali.

__ADS_1


"Indah banget ya, Kak. ternyata begini rasanya hidup di kampung pertanian," ujar Karla Suaranya Baru terdengar setelah sekian lama terdiam.


"Iya sayang, kamu suka?" Tanyaku sambil menatap dia yang Sedang memindai seluruh ruangan yang ada di Mini Resort.


__ADS_2