Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 52 Curiga


__ADS_3

Fov Farid


"Apaan sih kamu Farid! kok kamu jadi kasar seperti ini," ujar Vina yang tak terima dengan perlakuanku, dia terlihat meringis sambil memegangi pipinya.


"Jujur siapa yang membuat tubuhmu bau rokok seperti ini?" Tanyaku dengan sedikit menaikkan intonasi suara dan membulatkan mata.


"Ya ampun Farid Siapa lagi kalau bukan kamu, tadi pagi sebelum berangkat kerja kamu ngapain saja?" jawab Vina membalikkan pertanyaanku.


"Iya tadi pagi emang aku aku menciummu, Tapi mana mungkin bau itu tertahan sampai sore."


"Ya mungkin saja, karena dari tadi pagi sampai sekarang aku belum mandi."


"Apa Kamu belum mandi, terus ngapain aja Kamu di rumah?" Tanyaku seolah tidak percaya.


"Kan tadi aku sudah jelaskan, bahwa aku mencuci piring di kamar mandi, terus aku ketiduran," jelas Vina membuatku terdiam namun hati kecil tetap menaruh curiga.


"Kamu tega Rid! kamu melukaiku secara fisik, padahal Apa salahku?" ujar Vina matanya yang sejak dari tadi mengembun, akhirnya tumpah ketika dia mengedipkan netra, air kesedihan itu membasahi pipinya.


Melihat istriku menangis, aku menjadi merasa bersalah karena aku selalu menuduh hal-hal yang tidak rasional, mungkin ini adalah ketakutanku karena aku pernah melakukan kejahatan terhadap Arfan, sehingga sekarang aku dihantui rasa bersalahku.


Vina terus menangis Mungkin dia sangat sedih dengan apa yang telah kuperbuat, karena memang sebenarnya istriku sangat baik, namun akunya saja yang selalu berprasangka buruk.


Truk! truk! truk!


Pintu kamarku terdengar diketuk, membuatku dengan cepat kemudian mendekat ke arah datangnya suara.


Ceklek!


Pintu kamar aku buka sedikit lalu mengintip Siapa orang yang mengetuk. "Iya ada apa Pak," Tanyaku sambil menatap ke arah Bapak yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Kenapa istrimu menangis, apa jangan-jangan kamu menyakitinya?" Tanya bapak penuh selidik.


"Nggak nggak ada yang menangis Pak, mungkin Bapak salah dengar!" jawabku mengelak.


"Masak Bapak salah dengar, nggak mungkin suara tangis itu terdengar dari kamarmu, kalian bertengkar kenapa?" tanya Bapak yang tidak mudah dibohongi.

__ADS_1


"Nggak Pak..! aku nggak berantem," jawabku tetap mengelak.


"Oh begitu, ya sudah! kalau nanti kamu habis mandi bapak ingin berbicara denganmu."


"Baik Pak...!" jawabku sambil menutup pintu kembali, kemudian menghampiri ke arah Vina.


"Maafkan aku Vin, aku khilaf, aku takut kejadian yang dulu pernah aku lakukan terjadi dengan keluarga kita, Maafkan Aku...!" ujarku sambil duduk di samping Vina, kemudian memeluknya dengan agak erat.


Aku terus mengusap lembut rambut Vina, sambil terus berucap meminta maaf, namun Vina hanya terdengar senggukan seperti kesedihannya sangat dalam.


Lama menangis, dia pun melepaskan pelukanku kemudian dia pergi ke kamar mandi, sambil membawa handuk tak lama terdengar guyuran air yang membasahi tubuh.


Aku yang masih merasa bersalah, Aku pun menghampiri pintu kamar mandi yang berada di kamarku, kemudian mendorong sedikit tapi pintu kamar mandi itu terkunci.


"Vin! Vina! boleh aku masuk, Tanyaku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


Seperti biasa Vina tidak menjawab hanya guyuran air yang terdengar, membuat aku merasa semakin bersalah karena sudah menyakiti istriku.


"Vin...! vina! maafin aku," ujarku sambil terus mengetuk-ngetuk pintu, namun istriku tetap tidak menjawab.


Lama menunggu, akhirnya Vina pun keluar dari kamar mandi, dia tidak memberikan respon apapun, dia terus berjalan mendekat ke arah lemari untuk mengambil baju.


"Vina Sayang maafin aku! aku salah," ujarku Untuk yang kesekian kali sambil mengikutinya.


Namun istriku seperti seorang boneka yang sudah tidak memiliki perasaan, dia sama sekali tidak menghiraukanku. setelah mengganti baju dia pun keluar dari kamar, aku yang tidak tahu harus bagaimana lagi, aku pun duduk di tepian ranjang, menyesali perbuatan yang telah aku lakukan.


lama terdiam, akhirnya aku bangkit dari tempat dudukku. kemudian mengambil handuk untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu dan berharap nanti setelah selesai mandi Vina memaafkanku.


Selesai mandi aku pindain seluruh area kamarku, namun keberadaan Vina tidak aku temukan, membuat aku semakin merasa bersalah, karena telah berbuat kasar kepadanya.


Setelah mengganti baju aku keluar dari kamarku, untuk meminta maaf sama Vina. namun ketika aku mencari ke area teras, istriku tidak ada, hanya bapak yang sedang menikmati teh.


"Lihat Vina Pak?" Tanyaku sama bapak.


"Nggak, bapam nggak melihat, emang kenapa?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa," jawabku sambil masuk kembali ke dalam rumah.


"Farid tunggu....!" tahan bapak yang membuatku kembali mengembalikan tubuh.


"Yah Ada apa Pak?"


"Sini duduk !bapak mau ngobrol sebentar," ujar bapak.


Aku yang sebenarnya sedang malas mengobrol dengan orang tua, namun ketika melihat keseriusan Bapak, aku mendekati kemudian duduk di kursi yang berada di samping bapak.


"Mau apa Pak?" Tanyaku mengulang pertanyaan.


"Nggak apa-apa, Bapak cuma ingin ngobrol sebentar," jawab Bapak sambil mengambil mug, lalu meneguk kembali teh yang ada di mug nya.


"Ngobrol tentang?" Tanyaku yang merasa heran.


"Nggak apa-apa, Bapak cuma mau ngobrol tentang almarhum ibu, wanita yang sangat baik, yang belum pernah Bapak bahagiakan."


"Maksudnya bagaimana Pak? Apa Bapak kangen sama Ibu, kalau kangen Besok kita ke kuburan."


"Iya bapak sangat kangen sama Ibu, bapak merasa sedih karena selama hidup Bapak belum pernah menjadi kebahagiaannya. untuk itu Bapak pesan sama kamu! jaga Vina jangan sampai kamu menyakitinya, nanti kamu akan menyesal seperti bapak."


"Iya pak aku akan jaga istriku, sampai kapanpun tidak boleh ada orang yang menyakitinya!"


"Dan kamu juga tidak boleh menyakiti istrimu," lanjut bapak.


"Farid Selalu berusaha menjadi yang terbaik buat Vina, namun cobaan rumah tangga itu selalu datang kapanpun dan di manapun, kadang Farid belum terlalu dewasa untuk menghadapi masalah."


"Kamu harus belajar mendewasakan diri, karena setelah bapak lihat istrimu memang sangat baik, Bapak telah salah menilainya."


Mendengar pembelaan Bapak terhadap istriku, membuatku merasa curiga apa jangan-jangan bau rokok di tubuh Vina, adalah bau rokok dari mulut bapak. "Astagfirullahaladzim...!"  Gumamku segera membuang jauh-jauh prasangka buruk itu, karena dengan prasangkaan seperti ini aku sampai berani menampar Vina.


"Kenapa kamu dinasehati kok nyebut seperti itu?"


"Nggak, nggak apa-apa Pak." jawabku menyembunyikan kecurigaan. "Oh iya bapak sudah mulai merokok kembali, apa belum?" Tanyaku, semesti Aku sudah membuang prasangka burukku namun prasangka itu seperti menyeruak mendorongku untuk menanyakan yang mengganggu pikiranku. karena orang yang pertama Aku curiga adalah orang yang berada di rumah.

__ADS_1


__ADS_2