
Pov Erni
"Untuk apa?" tanya dali seperti orang b3go, padahal kalau bawahan hanya mengikuti perintah atasannya, Tanpa ada pertanyaan seperti itu.
"Buruaaaan! kumpulkaaaaaaan!" bentakku sambil berdiri dan menaruh kedua tanganku di atas meja, menatap tajam ke arahnya.
Dengan malas Dalipun keluar dari ruanganku. untuk memberitahu rekan-rekan kerjanya, bahwa akan diadakan rapat penting dengan begitu mendadak.
Tak lama dia pun kembali, kemudian memberitahu bahwa semua karyawan yang bekerja di Erni group, sudah berkumpul di ruang rapat, untuk mendengarkan apa yang hendak aku sampaikan.
Aku pun bangkit dari tempat dudukku, kemudian berjalan diikuti oleh Dali asisten suamiku. untuk menuju ruang rapat, di mana para karyawan sudah pada menunggu di sana.
Sesampainya di ruang rapat, semua karyawan menatap heran ke arahku. karena mungkin mereka masih bingung, dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun dengan santainya Aku duduk di kursi yang menghadap ke mereka.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, maksud saya mengumpulkan para bapak dan para ibu yang terhormat. saya hanya ingin memberitahu, seperti yang sudah kalian ketahui, bahwa perusahaan Erni group ini adalah hak milik saya. dan mulai sekarang akan ada perubahan sistem organisasi kepemimpinan di kantor ini. Mulai hari ini saya adalah Direktur Utama di perusahaan, menggantikan Pak Arfan. saya berharap kita semua bisa bekerja sama, demi mewujudkan visi misi kantor kita!" Ucapku mengawali pembahasan pagi itu, membuat suasana ruangan itu menjadi riuh, mungkin sebagian dari para karyawan, belum mengetahui bahwa perusahaan Erni Group adalah milikku.
"Silahkan kalian perkenalkan diri kalian, dan jabatan Apa yang sedang kalian duduki!" Seruku membagi tatapan ke arah para karyawan, yang berada di ruangan rapat.
"Maaf, Bu! kalau ada perubahan sistem kepemimpinan perusahaan erni group, harusnya Direktur Utama yang terdahulu menyerahkan jabatannya terlebih dahulu." saran seorang karyawan.
"Maaf, Bapak namanya siapa?" tanyaku tersenyum ke arahnya, sambil menautkan kedua tanganku di hadapan wajah.
"Saya Komarudin, Bu! sebagai Direktur perencanaan pembangunan." jawab orang itu memperkenalkan dirinya.
"Pak Komarudin! Apakah bapak, harus meminta izin terlebih dahulu, ketika bapak masuk rumah bapak sendiri?" aku membalikkan pertanyaannya.
"Nggak, Bu!"
"Apakah saya harus meminta izin direktur sebelumnya, karena saya sudah mengambil hak saya sendiri?"
"Enggak, Bu! Maaf saya salah?" ujarnya sambil menundukkan pandangan.
"Apakah masih ada orang yang tidak setuju atas pergantian kepemimpinan perusahaan ini? silahkan sampaikan keluhannya!" ucapku menyimbolkan pemimpin yang baik, aku memberikan ruang kepada semua bawahanku, untuk menyampaikan aspirasi mereka.
__ADS_1
"Terus, kalau ibu menjadi direktur, Apakah Pak Arfan masih akan bekerja di sini?" tanya salah seorang karyawati.
"Kenapa bertanya seperti itu? Apakah ibu suka dengan suami saya?" aku balik bertanya sambil menatap tajam ke arah orang yang bertanya.
"Bukan begitu, Bu! Namun kami sebagai anak buah, kami harus tahu siapa pemimpin perusahaan ini sebenarnya, biar kami bisa mengikuti dan memahami Mau Dibawa Ke Mana perusahaan kita ini." jelas wanita itu sambil sedikit tergagap.
"Jadi ibu keberatan dengan saya, sebagai pemimpin perusahaan ini?"
"Bukan begitu, Bu! seperti yang tadi saya jelaskan, kami tidak mau bekerja, bila tujuan perusahaannya tidak jelas."
"Oh ya sudah! kalau begitu, silakan ibu buat surat pengunduran diri dari perusahaan Erni Group! Saya tidak butuh orang-orang yang tidak loyal terhadap atasan, karena menurut saya salah satu motor penggerak perusahaan adalah karyawan-karyawan yang berkompeten dan loyal terhadap atasannya." Jawabku tak mau kalah dengannya, sembari menunjukkan siapa pemimpin sebenarnya di perusahaan.
"Jadi bagaimana, Bu? mau bekerja bareng saya, atau mau mengundurkan diri?" aku bertanya kembali, Setelah wanita tadi terdiam agak lama, memastikan keputusannya.
"Maaf bu, saya salah! Izinkan saya kerjasama dengan perusahaan."
"Ada lagi yang merasa keberatan, karena saya menjadi pemimpin perusahaan ini. Kalau ada silakan kalian ajukan surat pengunduran diri, biar saya bisa cepat mencari penggantinya."
Ruangan pun menjadi horor seketika, mereka yang asalnya riuh mengobrol, dengan rekan yang ada di sampingnya. sekarang terdiam, bahkan suara napas pun tak terdengar sama sekali. aku hanya tersenyum, merasa bangga dengan pencapaianku sekarang, bisa menguasai dan menaklukkan para karyawanku semudah ini.
"Maaf Bu, ini surat pengunduran diri saya, saya sudah siapkan dari dulu." ucap dali sambil menyerahkan suatu berkas ke hadapanku, kemudian ia berlalu pergi, tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"Dasar sombong, orang miskin saja belagu!" selorohku sambil melempar surat pengunduran diri yang baru dali serahkan.
"Kenapa kalian masih diam, sekarang kalian kembali bekerja, sesuai kerjaannya masing-masing!" bentakku menyeru mereka.
Setelah mendapat intruksi, para karyawanku pun segera berdiri, kemudian mereka bergegas untuk pergi meninggalkan ruang rapat.
"Sebentar, saya ingin berbicara sama HRD di kantor saya!" pintaku yang sedikit telat menyadari, karena sepeninggal dali asisten di kantor ini tidak ada.
"Maaf, saya bu!" ujar seorang laki-laki yang menghampiriku.
"Tolong carikan saya asisten terbaik. dan kalau bisa seleksi orang-orang yang tidak mau bekerja sama dengan kita, karena saya tidak mau orang yang bekerja di tempat saya, tidak totalitas dan tidak loyal sama perusahaan." pintaku sama laki-laki yang masih berdiri sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Siap, Bu! laksanakan."
"Ya sudah! sekarang kamu boleh pergi!"
"Baik, saya pamit dulu, Bu!" izin orang yang menjabat sebagai HRD di kantorku, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruang rapat, meninggalkanku yang masih duduk sendiri tanpa ada yang menemani.
Aku Rebahkan tubuhku ke kursi, menikmati jabatan yang baru saja aku duduki. kedua sudut bibirku mulai terangkat, merasa bahagia dengan pencapaianku sekarang, karena aku tidak harus bersusah payah untuk berada di posisi ini.
Merasa bosan dan bingung dengan apa yang harus ku kerjakan, aku raih handphone-ku yang ada di atas meja, kemudian menghubungi Farid untuk memberitahukan kondisi kantorku sekarang.
"Bagaimana lancar, sayang?" tanya Farid yang seolah tidak sabar ingin mengetahui kejadian apa yang terjadi di kantor.
"Lancar! semua karyawan di perusahaanku, tidak ada yang berani membantah. karena walau bagaimanapun sebagian dari mereka mengetahui, bahwa perusahaan ini adalah milikku." aku menjelaskan
"Syukurlah kalau begitu! terus rencanamu sekarang bagaimana?"
"Aku ingin bertemu dengan suamiku, ingin tahu kelanjutan rumah tangga kita?" ucapku.
"Emang sampai sekarang, kamu belum mendapat kabar tentang keberadaan suamimu, ada di mana?"
"Belum!" Jawabku sambil menghela napas pelan.
"Ya sudah, nanti aku cari tahu keberadaan suami kamu, sekarang kamu fokus urusin pekerjaan! kamu harus lebih sukses daripada suamimu! biar dia menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita secantik dan secerdas kamu." saran Farid.
"Pasti! Terima kasih ya! bagaimana surat pengunduranku, sudah kamu sampaikan sama Pak David?" Aku bertanya, karena sebelum aku pindah ke perusahaanku sendiri, aku sudah meminta Farid untuk mengurus pengunduran diriku dari perusahaan Pak David, agar terlihat sopan.
"Sudah, dong! Kamu tenang saja, itu sudah selesai Kok, nanti siang , menurut Pak David bonus sama gajimu akan dikirimkan kerekeningmu!" jelas Farid melaporkan tugasnya.
"Wah! baik banget, Padahal aku mengundurkan diri dengan mendadak, tapi masih dapat bonus segala."
"Iyalah! siapa dulu yang mengurusnya." jawab farid dengan suara yang sedikit membanggakan diri.
Akhirnya kami pun berlanjut dengan obrolan obrolan yang tidak penting, sampai Farid meminta izin, untuk melanjutkan pekerjaannya, sehingga obrolan itu terputus.
__ADS_1
Setelah selesai menelepon Farid. aku kembali masuk ke ruang kerjaku, untuk mengecek apa saja yang harus aku kerjakan. sambil mempelajari proyek-proyek apa saja yang sedang ditangani oleh perusahaan Erni Group. ternyata setelah aku mempelajari beberapa data perusahaan yang dikembangkan oleh suamiku. Aku baru mengetahui bahwa perusahaan Erni Group, sedang menangani beberapa proyek yang begitu besar. Salah satunya pembuatan tempat wisata yang bernilai puluhan miliar.
Aku terus mengkaji data-data itu, agar aku bisa paham Ke mana arah tujuan perusahaan ini. Dan aku bisa mengambil keputusan Ketika nanti dibutuhkan. lama menjadi karyawan di perusahaan Pak David, sehingga tak menyulitkanku untuk mempelajari semuanya.