Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 45 biarkan Bapak Mampus


__ADS_3

Pagi itu kira-kira pukul 06.00, aku masih menemani bapak yang terbaring setelah melakukan pemasangan ring jantung, dibantu oleh Vina Istriku yang sangat cantik dan sangat baik.


"Sudah kamu jangan banyak berpikir, mending sekarang kamu cari sarapan, kemudian mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor!" seru istriku setelah tidak mendapat jawaban dari seruannya. dia memilih menemani bapak, sedangkan aku harus pergi ke kantor, menjalankan kewajibanku sebagai seorang karyawan.


"Ya sudah, aku cari sarapan dulu," jawabku yang mengalah kemudian aku keluar dari ruang inap menuju ke kantin, untuk membeli sarapan untuk memulai hari yang sangat rumit.


Setelah membeli sarapan, aku pun dengan bergegas kembali ke ruang inap, kemudian kita berdua pun sarapan bersama, karena bapak masih tertidur, mungkin masih merasa sakit.


Kira-kira pukul 07.00, aku sudah bersiap-siap dengan memakai pakaian yang rapi untuk segera berangkat pergi ke kantor. "kamu nggak apa-apa Sendirian di sini?" tanyaku sambil menatap ke arah Vina.


"Nggak apa-apa, kamu hati-hati di jalan!" ujar Vina yang terlihat Sibuk menyuapi bapak.


"Bapak jangan sampai menyakiti hati istriku, lihat kebaikannya! jangan lihat keluarganya. dia sangat sayang sama bapak, dia mau mengurus Bapak sendirian," pesanku sebelum berangkat.


Mendengar ucapanku, Bapak seperti biasa hanya melirik sebentar, kemudian memalingkan wajah seolah tak mau menatap wajahku.


"Sudah sana buruan berangkat! nanti kesiangan," usir Vina yang mungkin dia tahu kalau aku kesal sama bapak.


"Kamu hati-hati ya! kalau bapak menyakiti kamu, bilang sama aku! Biar kita tinggalkan saja jangan dirawat," ujarku sambil mengulurkan tangan kemudian mencium keningnya.


"Iya! iya! Aku bukan anak kecil, kamu nggak harus terlalu khawatir seperti itu. palingan bapak hanya menyakiti kita dengan kata-kata, tidak menyakiti dengan fisik," ujar Vina yang terlihat mengulum senyum seolah tidak peduli dengan apa yang aku ucapkan.


Setelah berpamitan aku pun berangkat ke kantor untuk menjalankan rutinitasku seperti biasa, bekerja di perusahaan Mandiri Group, perusahaan milik sahabat yang pernah aku khianati.


Begitulah kesibukanku yang mengurus Bapak. malam menginap di rumah sakit, sedangkan paginya aku tetap bekerja di kantor, meski Arfan dan Dali memberikanku cuti, namun aku tetap giat bekerja, Karena aku tahu bagaimana susahnya mencari pekerjaan itu hingga kesempatan yang sudah aku miliki tidak akan aku sia-siakan.


Tiga hari pun berlalu, Akhirnya Bapak sudah diperbolehkan untuk rawat jalan. Sore itu aku yang baru pulang kerja langsung bergegas ke rumah sakit, untuk menjemput Bapak. Sesampainya di sana Aku mengurus semua administrasi tentang kepulangan orang tuaku, selesai mengurus administrasi aku memesan mobil online Untuk mengantarkan bapak, karena kalau menggunakan motorku itu sangat tidak mungkin.


Setelah mobil yang kupesan datang, bapak ditemani Vina masuk ke dalam mobil, kemudian pergi meninggalkan Rumah Sakit, diikuti motorku di belakang.

__ADS_1


Lama di perjalanan akhirnya mobil yang membawa bapak pun tiba di rumah, aku bergegas turun dari motor untuk membantu bapak keluar dari mobil yang mengantarnya. Setelah menurunkan penumpangnya, mobil yang mengantar langsung pergi setelah aku membayarnya.


Aku terus membantu bapak masuk ke dalam rumah, memapahnya dibantu oleh Vina langsung masuk ke kamar. setelah aku membaringkan tubuh orang tuaku, Tak sedikitpun ada perkataan yang keluar dari mulut bapak, dia hanya memejamkan mata seolah tidak mau diurus oleh anaknya.


"Ayo kita pulang!" ajakku sama Vina yang tak kuat melihat tingkah laku bapak yang sangat menjengkelkan, bukannya berterima kasih menyapa pun tidak.


"Terus kalau kita pulang bagaimana dengan bapak?" tanya Vina yang terlihat selalu mengkhawatirkan mertuanya.


"Biarkan saja dia mampus....! karena ketika kita mau mengurusnya, dia malah menolak," ujarku sambil melirik ke arah Pria tua yang masih berbaring di atas kasur.


"Hushhh...! kamu nggak boleh seperti itu, walau bagaimanapun itu tetap masih orang tuamu,"


"Iya emang secara biologis dia adalah bapakku, tapi secara kenyataan dia tidak pantas untuk dianggap menjadi seorang bapak, bukannya berterima kasih setelah dirawat, malah menyakiti hati orang yang menolongnya."


"Ayo keluar, jangan membuat Bapak semakin drop!" ajak Vina sambil menarik tanganku agar segera keluar dari kamar bapak.


"Ayo....!" ajak Vina dengan memperkuat tarikannya, hingga tubuhku ikut bersamanya keluar dari kamar.


"Kenapa sih Vin kamu terus belain aki-aki itu, Apa kamu nggak sakit ketika kamu dicuekin, padahal kamu sangat baik sama bapak. aku saja yang anaknya merasa sakit, ketika diacuhkan seperti itu?" jelasku setelah berada di luar kamar.


Sebelum menjawab pernyataanku, Vina terlihat menutup pintu terlebih dahulu, kemudian dia terus menuntunku untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu, mungkin agar kita bisa berbicara dengan tenang.


"Sudah jangan marah-marah terus! Bapak sudah tua, kalau tidak sekarang, Kapan lagi kita mau mengurusnya," ujar Vina yang terlihat tak sedikitpun kekesalan Terukir di raut wajahnya.


"Nggak...! aku nggak marah, aku cuma kesel aja sama bapak. dan aku kasihan sama kamu, aku saja enggak pernah menyakiti kamu, Masa orang lain aku biarkan!"


"Bapak bukan orang lain, Bapak adalah Mertuaku, jadi kita sebagai yang waras kita harus mengalah!"


"Tapi aku kesel Vin! siapa yang akan bahagia ketika melihat istrinya disakiti. Ayo mendingan kita pulang saja, biarkan Bapak mengurus dirinya sendiri."

__ADS_1


"Nggak...! nggak...! itu bukan pilihan yang baik," tolak Vina.


"Kenapa kamu nggak mau pulang ke rumah"


"Bukan begitu Rid, tapi sekarang Bapak memang sangat benar-benar membutuhkan perawatan yang sangat ekstra. Bapak butuh orang yang sehat untuk menyiapkan makannya, untuk mengambilkan air minumnya, untuk mengingatkan minum obatnya. kalau bukan kita, Bapak mau mengandalkan siapa lagi. seperti yang kamu tahu, aku dan kamu tidak memiliki keluarga yang tinggal dekat, kita hanya Sebatang Kara."


"Jadi kamu tetap mau tinggal di sini, merawat bapak?:


"Minimal sampai dia bisa mengurus dan merawat dirinya sendiri, kalau dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, kita tidak terlalu khawatir untuk meninggalkannya. Jangan biarkan penyesalan datang ketika orang yang kita sayangi itu sudah tiada. seperti kedua orang tuaku yang belum sempat aku rawat mereka sudah mendahului,"


Mendengar ucapan Vina,, aku hanya terdiam memikirkan dan menimbang baik buruknya ketika tinggal di rumah Bapak. Karena di satu sisi aku sangat tidak setuju dengan perlakuan Bapak terhadap anaknya, di sisi lain apa yang dikatakan oleh Vina memang benar adanya. kalau bukan aku sebagai anaknya yang mengurus, mau mengandalkan siapa lagi.


"Paling seminggu juga sudah bisa beraktivitas seperti biasa, setelah Bapak sembuh, kita akan pulang kembali ke kontrakan," lanjut Vina setelah tidak mendapat jawaban.


"Emang kamu nggak apa-apa? Emang kamu nggak ngerasa sakit ketika bapak berbuat mengacuhkan kita?"


"Sakit pasti sakit Rid! aku juga manusia sama seperti kamu, namun tanggung jawab dan kewajiban kita lebih besar daripada rasa sakit yang diberikan. karena ketika terjadi sesuatu sama bapak, maka Kitalah orang yang akan paling disalahkan."


"Kenapa kalau hati kamu sakit, kamu masih tetap mau mengurus bapak?"


"Kalau kamu tidak bisa menerima Bapak sebagai orang tua, kamu Minimal kita bisa menerima Bapak sebagai sesama manusia, yang harus saling menolong. Lagian kita juga nggak akan lama tinggal di sini, hanya sampai Bapak sembuh."


"Kalau kamu tidak keberatan, Dan kalau kamu tidak apa-apa ketika Bapak mengacuhkan kita. ya sudah kita tinggal di rumah bapak, tapi ingat sampai Bapak sembuh." Ujarku yang mengalah karena seharusnya Aku merasa bahagia ketika ada istri yang mau mengurus mertuanya.


"Iya...! Iya aku paham kok. oh iya kamu mau kopi nggak?" tanya Vina mengalihkan pembicaraan.


"Emang kopinya ada?"


"Ya nggak tahu, nanti aku cek dulu ya ke dapur," ujar Vina sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia pun pergi ke arah dapur.

__ADS_1


__ADS_2