Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 52 Supervisor Bejat


__ADS_3

Pov karla


Pukul 10.30. akhirnya semua pekerjaanku selesai, kemudian aku merapikan semua alat-alat kerjaku ke gudang penyimpanan. setelah alat-alat kerjaku tersimpan dengan rapi, sesuai permintaan supervisor untuk menemuinya setelah selesai bekerja, aku pun dengan cepat bergegas menuju ruang kantor supervisor.


Dengan hati yang berdegup tak karuan, aku mulai mengetuk pintu ruangan yang terasa horor itu.


"Masuk!" seru suara orang laki-laki dari dalam.


Aku pun mendorong pintu ruangan supervisor, kemudian masuk ke dalam. terlihat supervisorku sedang duduk di kursi singgasananya menatap ke arahku. Perlahan aku mendekati meja kerjanya sambil menundukkan pandangan.


"Duduk!" pria itu menyeruku kembali.


"Maaf! ada apa ya? Kok, Pak Arga, memanggil saya untuk menghadap?" Tanyaku tampa mengangkat kepala.


"Nggak ada apa-apa! saya cuma ingin bertanya beberapa hal." Ujar Pak Arga yang terdengar santai, namun berbeda dengan perasaanku, yang semakin deg-degan, takut ada kabar yang tidak baik menimpaku.


"Serius, pak! saya deg-degan nih!" ujarku blak-blakan.


"Hahaha! kayak sama siapa saja. santai aja, sih! posisi kamu masih aman kok!" ujarnya disertai tertawa kecil, mungkin beliau merasa lucu dengan tingkah lakuku.


"Maaf, bapak mau bertanya apa, ya?" Tanyaku mengulang, kembali ke pokok permasalahan.


"Apa kamu bisa menjaga rahasia?" tanya Pak Arga terlihat raut wajah yang serius.


"Maksudnya, pak?" Tanyaku yang masih merasa heran.


"Yah, kamu bisa menjaga rahasia, apa nggak?" ujar Pak Arga dengan sangat tegas.


"Insya Allah! bisa Pak. maaf ini ada apa ya?" Tanyaku yang semakin merasa kebingungan.


"Pak Arga pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian Dia mendekati pintu ruangan, lalu menguncinya. setelah selesai mengunci pintu, kemudian ia kembali mendekatiku.


"Bapak mau apa?" tanyaku yang ketakutan.


"Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua, kamu belum pernah disentuh kan sama pria segagah saya. Karena saya yakin, nggak akan ada pria yang mau sama perempuan tomboy seperti kamu." ujar Pak Arga, sambil menundukkan tubuh di atas meja yang berada di depanku.


Melihat gelagatnya yang sudah mulai tidak baik, dengan cepat aku bangun dari tempat dudukku, Hendak pergi meninggalkan ruangan ini. namun tiba-tiba pundakku ditahan oleh tangan kekar milik Pak Arga.


"Mau ke mana Sayang? kok buru-buru amat, aku menunggu waktu ini, sudah sekian lama." ujar Pak Arga sambil tersenyum, memperlihatkan barisan gigi kuningnya.


"Mau apa, Pak? tolong! kalau bapak tidak suka dengan saya, pecatlah Saya dari pekerjaan ini!" ujarku memohon. tidak apa-apa Kehilangan pekerjaan, daripada kehilangan kehormatan.


Namun Pak Arga tak menjawab, perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya Ke wajahku, dengan refleks aku pun menghindar.

__ADS_1


"Aku suka cara mainmu!" ujar Pak Arga sambil memegang wajahku agar tetap diam di tempat.


"Hentikan, Pak! ingat anak istri bapak di rumah." ujarku menyadarkan orang yang sudah kerasukan setan.


Namun Pak arga tidak memperdulikan penolakanku, dia mulai menciumi pipiku. aku yang meronta-ronta dengan sekuat tenaga membuatnya sedikit kewalahan, namun semakin kuat aku melepaskan diri, tenaga pria paruh baya itu menjadi lebih kuat. sehingga gerakanku sangat terbatas, hingga akhirnya dia bisa menyentuh Bibirku dengan bibirnya.


"Aaaawwwwwwww! dasar wanita sial4n!" bentak Pak Arga sambil memegangi bibirnya yang berdarah. karena ketika dia menc1umi Bibirku, dengan refleks aku menggigit bibirnya dengan keras.


Melihat kesempatan emas untuk melarikan diri, aku tidak membuang waktu itu. dengan cepat aku bangkit dari kursi, kemudian berlari mendekati pintu.


"Mau lari ke mana Sayang?" ujar Pak Arga sambil memeluk tubuhku dari belakang, kemudian membalikkannya.


Plaaaak!


Satu tamparan mendarat di pipiku, tamparan yang begitu keras, sehingga pipiku terasa sangat panas.


"Maaf sayang! aku harus berbuat kasar, karena kamu tidak bisa dikasihani." ujar Pak Arga sambil tersenyum, terlihat di bibirnya masih mengalir darah segar. namun dia tidak memperdulikan hal itu, seolah rasa sakitnya terkalahkan oleh nafsu bejatnya.


Dugh!


Aduuuuuuuhh!


Suara pak Arga tertahan, setelah dengkulku masuk tepat ke selangk4ngannya. membuatnya meringis kesakitan, sambil memegangi tempat yang baru saja aku tendang.


"Mampus! Rasain lo sial4n. Dasar tua bangk3!" ujarku yang kembali ke mode pabrik.


Kemudian aku pun membalikan tubuhku, untuk kabur dari ruangan terkutuk ini. namun lagi-lagi pria tua itu menahanku kembali. sekarang dia lebih berhati-hati, dan lebih ganas. memegangi tubuhku dari belakang.


Aku yang meronta-ronta hendak melepaskan pelukannya, namun itu sia-sia. Bahkan Pak Arga dengan mudah mendorong tubuhku, agar jatuh tertangkup. seperti penjahat yang baru ditangkap oleh pihak yang berwajib.


"Apa susahnya sih? kamu nurut dan nikmatin. daripada kamu melawan, kan capek Sayang!" ujarnya yang membuatku semakin merasa jijik, dengan pria paruh baya ini. bukannya ingat umur namun malah mengabur nafsu.


Perlahan Dia membalikkan tubuhku, untuk menghadapnya. sehingga sekarang aku terlentang, menatap wajah iblis penuh nafsu itu.


"Lepaskan! lepaskaaaan saya! toloooooooong! tolooooooong!" teriakku yang sudah tidak tahu harus menyelamatkan diri dengan cara apa lagi, namun dengan cepat Pak arga menutup Mulutku dengan tangannya, menghentikan teriakanku.


"Jangan berisik! nanti ada yang tahu, katanya kamu bisa jaga rahasia." bisik Pak Arga di telingaku, sambil terus menutup mulutku.


Mulutku yang dibekap, sehingga aku tak bisa menjawab ucapannya. jangankan untuk berbicara, untuk bernafas saja aku sangat kesusahan. hanya deraian air mata yang membasahi pelipisku, sebagai tanda jawaban dari perkataannya. kemudian Pak Arga membenarkan posisi tanganku yang meronta-ronta, untuk disatukan dengan tubuhku kemudian dia mendudukinya.


"Jangan nangis sayang! nanti kalau sudah masuk, kamu pasti ketagihan." Ujarnya yang semakin membuatku membenci Pria tua ini, yang berada di atas tubuhku.


"Ya Allah, Tolong selamatkan hambaMu! yang hina ini." ucapku dalam hati, karena hanya kepadaNya lah sebaik-baiknya meminta pertolongan.

__ADS_1


Perlahan dia mememulai membuka kancing seragam kerjaku, dengan satu tangan, membuatku sangat merasa takut.


"Awwwwwwwwww!" teriak Pak Arga, yang tangan kirinya aku gigit dengan kencang, sehingga dia sangat kesusahan ketika hendak melepaskan gigitanku.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Beberapa pukulan mendarat di wajahku, dengan pukulan yang begitu keras, sehingga pandanganku mulai sedikit mengabur.


"Kurang ajar! dasar wanita sial4n!" terdengar suara pak Arga yang terus memukuliku, dengan begitu ganas. Fokus menghajar tubuhku, sehingga dia melonggarkan dekapaan tanganku, yang tadi di himpit oleh kakiknya


Aku rapatkan Kedua telapak tanganku, yang berada di atas perut. kemudian dengan sekuat tenaga aku sogokan tanganku, ke belahan ****4* Pak Arga.


Agrhhhhhhhh!


Mendapat seranganku yang begitu mendadak, membuat Pak Arga berteriak sambil memegangi pant4tnya, Menghentikan pukulannya yang sedang menghajarku. Dengan posisi berdiri dengan kedua lututnya, kemudian aku loloskan tubuhku, dengan menggeser ke bawah. sehingga kepalaku tepat berada di bawah selangk4ngannya. tanpa berpikir panjang aku tandukan kepalaku, ke selangk4ngan itu.


Bugh!


Agrrrrrrhhhhhh!


Teriakan nyaring terdengar kembali, Pak Arga yang tak kuat menahan seranganku, dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. aku yang berada di atas angin, tidak membiarkan kesempatan itu, aku tendang kepala pria b4jing4n ini dengan sekeras tenaga, bahkan aku sempat menginjaknya.


"Mampus kau sial4n!" gerutuku sambil terus menghajarnya.


Setelah puas menyiksa pria tua itu, aku pun segera merapikan kancing bajuku. yang sempat terbuka, kemudian membuka pintu, berlari Pergi Meninggalkan ruangan terkutuk itu. ruangan yang sangat jauh dari pantauan orang, karena berada di gedung paling belakang.


Aku terus berjalan menuju lokerku, setelah berada di depan loker. dengan cepat aku membuka kuncinya, kemudian mengambil Tasku serta menggunakan hoodie, yang aku tutupkan ke kepala, menyembunyikan luka-luka yang ada di wajahku, takut mengundang kecurigaan orang.


Setelah semuanya rapi, aku pun bergegas meninggalkan lokerku, takut Pak Arga bangun kemudian mengejar. Dan membuat berita bohong kepada orang lain. Walau Bagaimanapun aku terluka, pasti akulah yang salah, karena aku hanya orang kecil.


"Eh! Salim dulu dong! sama senior. pulang ngeloyor saja kayak berudu." ujar Ratna yang melihat kepergianku.


Pikiranku yang sedang kalut, ditambah luka-luka yang begitu parah. sehingga aku tidak memperhatikan ucapan wanita yang sangat menyebalkan itu. aku terus berjalan keluar dari gedung kantor Atri Group. setelah berada di luar, aku terus berjalan menuju arah jalan pulang, tak terasa butiran bening mengalir di pipiku, ketika mengingat Kejadian beberapa menit yang lalu.


"Alhamdulillah! ya Allah, alhamdulillah! alhamdulillah!" ujarku memuji kepada sang pencipta, Karena aku telah terbebas dari petaka maut.


30 menit berlalu akhirnya aku sampai di depan rumah, terlihat bapak yang sedang merapikan plastik-plastik yang mungkin baru ia pungut.


Tiba-tiba lututku terasa lemas, merasa syok dengan kejadian yang hampir merenggut kesucianku.

__ADS_1


Brukkkkkk!


__ADS_2