Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 49 perubahan Sikap


__ADS_3

Pov Farid


Selesai kerja dari perusahaan Mandiri Mandiri group, aku bergegas pulang ke rumah Bapak, Karena sekarang orang tuaku sedang membutuhkan perawatan, sehabis melakukan penanaman ring jantung.


Sesampainya di rumah, terlihat istriku sedang menemani Bapak mengobrol di teras, membuatku sedikit aneh karena Sekarang bapak terlihat mau mengobrol dengan Vina, Awalnya dia sangat membenci istriku, karena dia beranggapan bahwa Vina sama seperti Erni.


"Assalamualaikum...!" ujarku setelah memarkirkan motor butut di halaman rumah bapak.


"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang Sayang?" ujar Vina yang berdiri di teras, dengan cepat dia menyambutku dengan mengambil tas kerja.


"Bagaimana bapak tidak macam-macam kan?" ujarku sambil mengeluarkan tangan, kemudian dicium punggungnya oleh Vina.


"Nggak...! bapak baik kok!" jawab Vina sambil melingkarkan tangan di Pinggangku.


"SUdah pulang Rid?" tanya Bapak membuatku berhenti seketika, karena semenjak aku menikah dengan Erni dia tidak seramah sekarang.


"Sudah Pak!" jawabku sambil duduk di kursi yang Vina tinggalkan, sedangkan istriku masuk ke dalam untuk menyimpan tas kerjaku.


"Syukurlah! Bagaimana kamu betah bekerja di perusahaan Arfan?" ujar bapak kembali.


"Alhamdulillah betah Pak! Kenapa Bapak baik seperti sekarang?" Tanyaku penuh curiga.


"Gak Apa-apa! Bapak sekarang sadar kalau bukan kamu yang mengurus bapak, siapa lagi yang bisa diandalkan. Kamu adalah anak satu-satunya yang Bapak miliki, kalau bapak tidak baik sama kamu siapa yang akan menolong bapak ke depannya."


"Baguslah kalau Bapak sudah sadar!" jawabku dengan nada sini.


"Bapak mohon maaf kalau selama ini Bapak punya salah sama kamu, kita harus mulai hidup yang baru, agar kedepannya kita bisa saling membantu, baik suka maupun duka  karena kalau tidak sekarang mau kapan lagi, bapak sudah tua, sudah sakit-sakitan," jelas bapak yang membuatku semakin tidak mengerti Ke mana arah pembicaraannya.


"Iya Pak...! semoga saja Bapak cepat sembuh, agar Farid bisa cepat pulang ke kontrakan!' Jawabku sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian masuk ke dalam rumah, terlihat istriku datang dengan membawa nampan berisi kopi.


"Mau ke mana Kok Bapak ditinggalin sendiri?" tanya Vina yang menatapku penuh curiga.


"Mau mandi dulu Vin! kok Bapak aneh ya sekarang?"

__ADS_1


"Aneh kenapa?"


"Bapak tiba-tiba baik dan sangat ramah, kamu nggak salah ngasih obat kan?"


"Ih.....! apaan sih nggak jelas banget! Mana mungkin aku berani melakukan hal seperti itu, Harusnya kamu bersyukur kalau bapak sudah berubah sikap! Berarti Bapak sekarang sudah menyadari pentingnya seorang anak," ujar Vina menepis prasangka burukku.


"Lagian aneh banget, tiba-tiba seperti itu!"


"Mungkin Bapak sudah sadar, tapi maaf ya!"


'Sadar bagaimana?"


"Ya sadar kamu adalah orang yang terbaik yang selalu membantunya. Ya sudah ayo temenin Bapak ngobrol lagi, Kasihan dia kan sudah lama tidak ngobrol sama kamu!"


"Tapi aku mandi dulu ya, rasanya Gerah banget."


"Yah aku tunggu di depan sambil menemani Bapak ngobrol," jawab Vina kemudian dia berjalan Kembali menuju ke teras, sedangkan aku langsung masuk ke kamarku, terlihat handuk dan baju ganti sudah disiapkan di atas kasur.


"Kamu memang Istri terbaik vin! kamu bisa merawat orang tuaku, sekaligus merawat suamimu." Gumamku sambil mengulum senyum, tanpa berpikir panjang aku mengambil handuk yang sudah disiapkan, kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu.


Malam hari, ketika waktu makan malam tiba, aku berkumpul dengan istri dan orang tuaku di ruang makan. rasanya kebahagiaanku mulai kembali hadir setelah masa-masa sulit yang ku lalui. Sekarang aku sudah bekerja dan lambat laun Bapak mulai menerimaku sebagai anaknya, Bahkan dia sudah terlihat sering mengobrol dengan Vina


Hari-hari berikutnya, kedekatanku sama bapak semakin terjalin. kita berdua sering mengobrol menghabiskan waktu Senja di ruang teras, hingga Bapak pun terlihat sudah menunjukkan kondisi tubuh yang sudah membaik. hari itu hari Sabtu sore aku dan Vina sedang duduk di samping rumah, sambil melihat ikan koi yang terlihat sangat gemuk, istriku dengan senang dia ngasih makan ikan-ikan yang sedang berenang.


"Vin...!" panggilku sama Vina yang sedang asyik menatap ke arah kolam.


"Iya kenapa sayang?" tanya Vina sambil melirik ke arahku.


"Sini Duduk Aku mau ngobrol," ujarku sambil menepuk kursi yang ada di samping.


Vina pun mengangguk, sebelum beranjak dia pun melemparkan pelet ikan terlebih dahulu, kemudian dia duduk di samping. "Ya ada apa?" Ujar Vina mengulang pertanyaan.


"Bapak kan sudah sembuh, Sudah bisa makan sendiri, sudah bisa jalan sendiri, besok kita pulang ke kontrakan yah!" ujarku menyampaikan niat.

__ADS_1


"Kenapa buru-buru amat, lagian kan Bapak sekarang udah nggak marah, Bapak sekarang udah baik, kenapa kita nggak tinggal di sini aja?" jawab Vina balik bertanya.


"Nggak enak Vin..! kalau kita merepotkan orang tua. walaupun kita hanya ngontrak, tapi kita tinggal di tempat kita sendiri."


"Aku sebenarnya sudah betah tinggal di sini, karena kegiatanku lumayan banyak. pagi-pagi aku bisa ngepel dan nyapu, siang sedikit bisa masak, Bisa ngasih makan ikan seperti barusan. Aku kalau boleh jujur aku tinggal di kontrakan sudah tidak betah, rasanya sesak pengap karena kalau kontrakan itu dibandingkan dengan kabarmu, itu lebih luas kamar kamu," jawab Vina memberi alasan.


"Maafkan Aku...! kalau aku belum bisa memberi kehidupan yang terbaik buat kamu," jawabku sambil menundukkan pandangan.


"Sudah nggak usah bersedih...! aku cuma bercanda kok," jawab Vina sambil mengulum senyum. "Ya sudah besok kita pulang, Tapi nanti malam izin dulu sama bapak!" lanjut Vina memberi saran.


"Emang nggak apa-apa, kamu tinggal di tempat sempit dan pengap?"


"Nggak apa-apa, kalau aku mau mengeluh, kenapa nggak dari kemarin-kemarin saja. Ya sudah ayo kita masuk ke dalam sebentar lagi adzan maghrib!" ajak Vina sambil menarik tanganku untuk bangkit, kemudian dia menggandeng tubuhku masuk ke dalam rumah bapak.


Aku hanya mengelus-ngelus rambut pendek milik Vina, sambil sesekali mencium rambut yang tercium wangi sampo.


Setelah makan malam, kami sekeluarga berkumpul di ruang tv, Vina terlihat memberi isyarat agar aku menyampaikan niat yang mau pulang.


"Pak....!' panggilku ketika acara TV di Jeddah oleh ikan.


"Yah kenapa Rid?" tanya Bapak sambil melirik ke arahku.


"Farid senang karena Bapak sekarang sudah sembuh, meski belum total. tapi Bapak sudah bisa merawat diri bapak sendiri. untuk itu, besok Farid dan Vina mau pulang ke kontrakan, Sayang kalau ditinggalkan terlalu lama, nanti pakaian dan perabotan kita berdebu," ujarku menjelaskan niat sesuai dengan apa yang direncanakan tadi sore.


"Kenapa mau pulang, nggak betah ya direpotin Bapak terus?" tanya Bapak membuatku kikuk.


"Bukan seperti itu Pak! tapi Farid nggak enak kalau harus tinggal di sini, nanti ketenangan Bapak terganggu," jawabku memberi penjelasan.


"Padahal Bapak sangat senang, karena rumah bapak yang sudah setahun sepi, sekarang mulai hangat kembali dengan hadirnya kalian di rumah. Sekarang bapak sadar ternyata kamu adalah nyawa di rumah ini, dan Kalau kamu pergi maka rumah ini akan terlihat mati kembali. Jadi kalau bisa kamu pindah saja ke sini, temani Masa Tua bapak yang mungkin sebentar lagi pergi meninggalkan dunia ini." pinta Bapak membuat aku mengurutkan dahi karena takut salah dengar.


"Kalau Farid tinggal di sini, nanti bapak terganggu?"


"Terganggu apa, Justru semenjak Kalian ada di sini, pola makan bapak teratur karena istrimu pintar masak. Terus kalau nanti bapak terkena penyakit lagi, akan ada orang yang mengurus. Bapak tidak bisa membayangkan kalau kejadian yang kemarin menimpa bapak yang pingsan, itu terjadi di rumah, mungkin Bapak sudah tinggal nama, karena tidak ada orang yang menolong. dengan adanya kalian berdua tinggal di sini, minimal ada orang yang mengetahui ketika Bapak meninggal," ujar Bapak sambil menundukkan pandangan terlihat sudut Katanya penuh dengan cairan.

__ADS_1


Mendengar penuturannya seperti itu, Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena memang benar kalau kejadian Baba pingsan seperti kemarin, terus tidak ada orang yang mengetahui. mungkin sekarang Bapak tinggal almarhum, dan kalau beruntung mayat bapak bisa ada yang menemukan, kalau tidak mungkin seperti jenazah lain, yang ditemukan setelah beberapa hari meninggal di rumah, setelah baunya tercium oleh warga sekitar.


__ADS_2