Dua Penghianat

Dua Penghianat
bag. 8 rencana


__ADS_3

Pov Ira


Aku terduduk di kasur, sambil terus menatap ke arah layar handphone yang sedang memanggil nomor Pak Farid. namun untuk kesekian kalinya aku memanggil, namun telepon itu tetap tidak aktif, Ingin rasanya menghubungi nomor Vina. tapi sayang aku tidak menyimpan nomor istrinya pak Farid itu, selain hanya beberapa kali ketemu, aku juga tidak terlalu akrab dengannya.


"Huh...!" aku hembuskan nafasku merasa bingung harus bagai mana. Kenapa aku selalu di dihantui oleh mimpi buruk tentang orang yang tidak terlalu aku kenali.


Aku mencoba membuka searching engine, untuk mencari penyebab kenapa kita diteror mimpi buruk yang berulang kali. tapi setelah aku cari tidak ada jawaban yang memuaskan karena para penulis hanya menjelaskan bahwa mimpi buruk tentang hantu itu didasari dengan kenyataan kenyataan yang kita alami sebelumnya, seperti kita habis menonton film horor. maka alam bawah sadar kita akan merekam semuanya, lalu ditransmisikan menjadi sebuah mimpi. jadi ini sama sekali tidak ada hubungan dengan apa yang aku alami, karena aku tidak suka menonton film horor, apalagi kalau harus main ke bioskop.


"Belum tidur?" tanya ibu yang membuatku merasa kaget, karena aku sedang terfokus membaca artikel yang berada di handphone.


"Eh ibu, Sudah Bu....! Tapi kebangun," jawabku sambil meletakkan handphone kemudian menatap ke arah wanita yang masih tertidur.


"Mimpi buruk lagi?" ujar Ibu sambil bangkit dari tidurnya, kemudian Dia merapikan rambut yang terlihat acak-acakan.


"Iya Bu, kenapa ya aku selalu dihantui Kak Vina, apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya?"


"Kok bisa?" Ujarnya sambil menatap penuh keheranan.


"Nggak tahu lah Bu, makanya Ira nanya sama ibu."


"Kamu sudah mencari tahu tentang keberadaan Bu Vina sama Pak Farid?"


"Belum Bu, besok kalau kita masih di teror terus dengan mimpi buruk, maka kita akan mengunjungi rumah Pak Farid kembali."


"Kita, kita siapa maksudnya?"


"Aku dan kak Dali."


"Kok bisa, Pak Dali bermimpi buruk yang sama?"


"Aku belum cerita sama ibu, kemarin siang aku berangkat menuju rumah Pak Farid bersama Kak Dali untuk mengambil mobil yang dipinjamkan ketika kami berangkat ke Bogor. namun rumah Pak Farid terlihat sangat sepi, hanya lampunya yang menyala. beberapa kali aku dan kak Dali mengetuk pintu pagar dan mengucapkan salam. namun tidak ada jawaban, sehingga kita memutuskan untuk mengambil kunci cadangan buat membawa mobilnya Dali, karena dia akan memakainya. sambil menunggu kunci yang diantarkan datang, aku dan kak Dali beristirahat di taman. Tapi entah mengapa tiba-tiba aku tertidur dan bermimpi buruk," ceritaku menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi.


"Aneh ya...! Aneh Kok bisa seperti itu, kayak Bu Vina mengasih tanda apa begitu?"


"Benar Bu, tapi kita doakan saja semoga beliau baik-baik saja."


"Bagus, memang harus begitu. daripada kita berprasangka buruk mending kita doakan yang baik-baik, semoga keluarga Pak Farid diberikan kesehatan dan keselamatan. Ibu yakin orang baik akan selalu ditolong oleh Allah," jawab ibu membenarkan.

__ADS_1


Amin!


Akhirnya Ibu Pun bangkit dari tempat tidurku, membuatku sedikit kaget takut ditinggalkan." mau ke mana?" Tanyaku sambil menatap penuh heran.


"Mau ke kamar mandi sekalian mengambil air wudhu."


"Ikut...!" ujarku dengan manja.


"Emang kamu mau salat juga?"


"Nggak bu, hehehe! Kalau di sini sendirian Ira takut."


"Halah manja amat jadi orang!"


Aku pun bangkit dari tempat duduk, kemudian mengikuti Ibu menuju ke kamar mandi, Ketika ibu di dalam kamar mandi aku berdiri di dekat pintunya. mataku terus memindai area dapur yang lampunya sedikit remang-remang, membuat bulu kudukku berdiri, teringat dengan mimpi-mimpi yang baru saja aku alami.


Beruntung tidak ada kejadian apa-apa, setelah Ibu mengambil air wudhu, kita pun kembali ke kamar. aku meneruskan tidurku, sedangkan ibu melaksanakan salat malam.


Berada di dekat Ibu, membuatku sedikit tenang, tidak terlalu ketakutan karena aku yakin Ibu bisa menjagaku, seperti dia menjaga ketika aku waktu kecil.


~~


Siang hari ketika aku sudah berada di kantor, terlihat Kak Dali menemuiku kembali mungkin dia mengalami hal yang sama seperti mimpi yang aku alami.


"Aku mimpi didatangin Vina lagi dan mimpinya hampir mirip dengan mimpi yang kemarin," ujar Kak Dali langsung ke inti permasalahannya.


"Sama Kak..! terus kita harus ngapain sekarang, kayaknya ini adalah satu pertanda seperti yang kakak bilang kemarin."


"Mau tidak mau kita harus kembali ke rumah Pak Farid dan mengajak warga sekitar untuk mengecek keberadaan rumah itu."


"Kapan?"


"Nanti aku kabarin lagi, soalnya takut Pak Arfan mengajakku untuk keluar."


"Jangan lama-lama! secepatnya kita harus cari tahu kebenarannya Seperti apa. aku takut kalau harus diteror terus seperti itu, lama-lama aku bisa frustasi."


"Nggak, nggak akan frustrasi. kita akan selesaikan secepatnya. ya sudah tunggu saja!" ujar Kak Dali sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia meninggalkan ruangan kantorku.

__ADS_1


Setelah kepergian Asisten Manager perusahaan Mandiri group, aku hanya menarik nafas dalam membayangkan kejadian-kejadian aneh yang beberapa hari terakhir menimpaku. mulai dari bayangan-bayangan yang berkelebatan di rumah, serta ketukan di kaca, membuatku sebenarnya merasa aneh, kalau yang mengalaminya aku sendirian Mungkin aku akan merasa stress.


Tak mau terfokus dengan memikirkan hal-hal yang tidak penting, aku mulai kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. karena kedatangan Kak Dali hingga waktu istirahat pun tiba seperti biasa para karyawan akan makan bersama di aula, kemudian dilanjutkan dengan salat zuhur berjamaah.


Selesai melaksanakan salat, aku dipanggil ruangan Kak Dali. Dengan cepat aku pun menghampirinya, takut ada hal yang penting yang ingin disampaikan.


"Assalamualaikum...! permisi kak," ujarku sambil mengetuk-ngetuk pintu ketika aku sudah berada di ambangnya.


"Masuk Ra...!" jawab Kak Dali dari dalam.


Aku mendorong pintu ruangan kerjanya, kemudian masuk ke dalam, sebelum duduk aku manggut memberi hormat kepada atasan.


"Ada apa Pak, kok manggil saya?"


"Ada pekerjaan sedikit, berubung Pak Farid beberapa hari ini tidak masuk kerja. maka Kamulah yang harus mengerjakan pekerjaan ini, karena klien kita sudah menunggu."


Truk! truk!


Belum sempat aku menjawab, Terdengar pintu ruangan Kak Dali ada yang mengetuk, membuat kita menatap ke arah datangnya suara.


"Silakan masuk.." ujar Kak Dali membuat pintu ruangannya terbuka. lalu muncullah Pak Arfan.


Aku yang suka malu ketika bertemu dengannya, dengan cepat aku bangkit sambil menundukkan pandangan, tak berani beradu tetap dengan orang yang berwibawa.


"Ada apa Pak?" tanya Kak Dali yang bangkit juga.


"Pak Farid belum masuk kerja lagi?" tanya Pak Arfan


"Belum Pak, Silakan duduk...!" ujar Kak Dali menyambut atasannya.


Akhirnya pria tampan dan berwibawa itu duduk di sampingku. Aroma harum khas tercium dari tubuhnya. walaupun sudah menikah yang kedua kali tapi ketampanannya masih terlihat nyata. sudut mataku ke arah kedua orang yang sedang berada di samping dan di hadapanku.


"Ira Bisa Tinggalkan kami sebentar?" seru Kak Dali.


"Nggak perlu keluar, mungkin Bu Ira bisa memberik.an sedikit keterangan," sanggah Pak Arfan menolak


Aku yang awalnya hendak pergi meninggalkan ruangan kantor Kak Dali, dengan segera duduk kembali namun tetap dengan menundukkan pandangan. aku sangat bahagia karena merasa dihargai ketika diperlakukan seperti itu. Aku merasa menjadi bagian penting di tengah-tengah kedua pria yang sukses ini.

__ADS_1


__ADS_2