
Pov Karla
Teriakku ketika mendengar teriakan orang lain. Aku yang merasa kaget, kenapa dia harus berteriak. tadi Pukul 02.00 setelah aku melaksanakan salat malam, tiba-tiba haus menghampiri. Sehingga aku memutuskan turun kembali ke lantai bawah, untuk mengambil air minum, yang berada di dapur. namun mataku tiba-tiba menatap seorang pria yang sedang mengucek kedua matanya, sambil menatap ke arahku. merasa heran aku pun menatap balik ke arahnya, sehingga terjadilah kita yang saling berteriak. dia kaget mungkin setelah melihatku yang menggunakan mukena, sedangkan aku kaget karena dia kaget.
"Ada apa? bukannya tidur! malah berisik." tegur bapak yang menghampiri.
"Itu, Pak! pria bod0h itu berteriak. makanya aku kaget, akhirnya aku ikut teriak juga." Aduku sama Bapak.
"Kamu mau ngapain?" tanya Bapak.
"Aku mau minum, Pak!"
"Ya sudah! setelah mengambil minum, kamu tidur kembali. Ini masih malam." Seru bapak yang mengikutiku menuruni anak tangga, Mungkin beliau juga sama, Hendak melakukan salat malam.
"Kirain ada apa, kamu pake teriak segala." terdengar suara Saiful yang bertanya kepada Arfan. Jarak dapur sama ruang tengah, hanya terhalang oleh sekat yang terbuat dari triplek. sehingga ketika ada orang yang mengobrol di ruang tengah, akan terdengar jelas.
"Gimana, aku nggak kaget full! dianya pakai pakaian begitu. padahal Apa susahnya coba! kalau mau mengambil minum, buka dulu terlebih dahulu. Jangan pakai mukena segala. Biar aku nggak kaget." ujar pria yang sangat menyebalkan itu, menyalahkanku Padahal dianya saja yang terlalu penakut, masa iya sama mukena saja Takutnya sampai berteriak seperti itu.
"Ya sudah! ayo tidur lagi, sebentar lagi subuh." ajak Saiful yang terdengar membaringkan kembali badannya.
Setelah selesai mengambil minum, aku pun mengisi botol air minum, agar Ketika aku merasa haus lagi, aku tidak harus turun ke bawah.
"Ngapain lu, lihat-lihat! sudah tidur." Ketusku sama pria yang tadi berteriak. Karena dia terus memandangiku.
Pria itu tidak menjawab, namun tatapannya menunjukkan kebencian kepadaku. tapi aku hanya membalas tatapan itu dengan tersenyum sinis, kemudian aku melanjutkan langkah kakiku, menuju lantai atas.
Setelah berada di kamarku, aku pun membaringkan tubuh, mencoba melanjutkan mimpi-mimpi indahku, yang sempat tertunda.
Dua jam berlalu, aku pun sudah terbangun kembali, oleh alarm yang sudah aku atur di jam 04.00 pagi. karena kalau aku atur terlalu siang, aku tidak bisa menyiapkan sarapan terlebih dahulu. aku harus berpacu waktu dengan bersiap-siap kerja. Meski Bapak suka menolak, karena menurutnya bapak bisa menyiapkan sarapan sendiri, namun aku tidak tega membiarkan hal itu terjadi.
Dengan malas aku membangunkan tubuhku, kemudian duduk sebentar. Mengumpulkan nyawa nyawaku yang masih tertinggal di alam mimpi. Sepuluh menit berlalu, Baru aku bangkitkan tubuhku, kemudian turun ke lantai bawah. terlihat pria bod0h itu, lagi duduk di Atas Sajadah, sambil mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Sudah bangun?" sapanya sambil tersenyum ramah.
Aku hanya mendelik sebentar, kemudian melanjutkan Niatku yang hendak pergi ke dapur. namun sebelum menyiapkan sarapan, aku mencuci muka terlebih dahulu, agar tubuhku terasa segar. setelah mencuci muka, aku memanaskan air untuk membuat kopi, sambil menyiapkan bumbu nasi goreng. karena sisa nasi semalam masih banyak, Jadi aku putuskan untuk menggorengnya agar tidak mubazir. Aku menyiapkan bumbunya terlebih dahulu, biar setelah salat Subuh aku tinggal mengerjakannya.
Lima belas menit kemudian, akhirnya air pun mendidih. kemudian aku tuangkan ke gelas yang sudah terisi dengan kopi. Setelah selesai mengaduk kopi itu dengan merata, aku pun mengantarkannya ke ruang tamu.
"Buat siapa?" tanya pria bod0h itu.
"Buat yang mau!" jawabku Ketus, karena aku membuat kopi panas itu tiga gelas, Mungkin dia berharap aku menawarkan langsung untuknya.
Namun itu tidak akan terjadi, aku hanya memicingkan pandangan ke arahnya. Kemudian aku pun kembali ke dapur, untuk mengambil air wudhu. setelah selesai mengambil air wudhu. Dan ketika aku hendak naik ke lantai atas, untuk mengambil mukena. terlihat dari ujung tangga, Bapak pun turun, lengkap menggunakan sarung dan baju kokonya.
"Sudah bangun? nggak nyenyak, ya! tidur di sini?" tanya Bapak basa-basi, setelah berada di lantai bawah.
"Nyenyak kok, pak! Aku baru saja bangun, karena mencium aroma kopi yang begitu wangi." jawab pria itu berbohong.
"Ya sudah! kalau begitu, kopinya diminum. Bapak mau ke masjid dulu." ujar Bapak sambil berlalu Pergi menuju ke arah dapur, sedangkan aku terus melanjutkan langkahku naik ke lantai dua, untuk mengambil mukena terlebih dahulu. setelah itu aku pun turun kembali, dan melaksanakan salat subuh berjamaah di mushola.
Selesai sarapan, aku merapikan kembali piring-piring kotor kemudian membawanya ke kamar mandi, untuk dicuci. sambil membersihkan tubuhku yang mau berangkat bekerja.
Pukul 06.00, akhirnya aku sudah siap-siap untuk berangkat kerja, lengkap dengan memakai seragam kerjaku.
"Kamu bekerja di perusahaan Atri grup?" tanya Arfan ketika aku melewatinya.
"Iya, emang kenapa?" Seperti biasa aku menjawab dengan Ketus.
"Nggak, nggak apa-apa!" jawabnya tergugup, kemudian ia memalingkan pandangan.
"Ya sudah! Gue berangkat kerja dulu, elu baik-baik ya di rumah. jangan nekat lagi! tapi nggak apa-apa, deh! Mau nekat juga. biar dunia ini, bersih dari orang-orang yang seperti lu, orang yang tidak punya pendirian." Ujarku sambil berlalu pergi keluar dari rumah tak memperdulikannya lagi.
Aku terus berjalan menyusuri Gang, melewati rumah-rumah warga, yang penuh dengan tumpukan plastik di depan rumahnya. Ini adalah pemandangan yang biasa aku lihat, ketika berangkat atau pulang bekerja. karena sebagian besar dari warga kampungku, mereka mengandalkan sampah sebagai mata pencaharian utamanya. selesai melewati gang gang rumah warga. akhirnya aku sampai di jalan raya, aku terus berjalan menyusuri trotoar, menuju kantor terbesar yang ada didaerah ini.
__ADS_1
Pukul 06.30, akhirnya aku sampai di kantor aTri Group. Memang sebagai karyawan cleaning service, mengharuskanku datang lebih awal, dibandingkan dengan para karyawan-karyawan yang bekerja di kantor. karena harus menyiapkan ruangan kerja mereka dengan bersih dan rapi, kalau bisa wangi. sehingga mereka, para karyawan kantor, merasa nyaman dan tentram ketika mereka lagi bekerja .
Aku bekerja di ATri Group, baru 6 bulan yang lalu. setelah ada teman yang menyarankan untuk melamar sebagai cleaning service di perusahaan ini. Karena mereka sedang membuka lowongan pekerjaan di bagian itu, dan Beruntung aku pun diterima, sebagai salah satu karyawannya.
Dan yang paling aku sukai bekerja sebagai cleaning service di perusahaan ini. Kita bisa pulang lebih awal, setelah semua pekerjaan kita selesai. Karena ketika siang hari cleaning service tidak terlalu dibutuhkan. namun Walau begitu perusahaan menugaskan, agar tetap ada beberapa karyawan yang bekerja sampai sore hari. Agar ketika ada sesuatu masalah yang berhubungan dengan kebersihan, bisa diselesaikan dengan cepat.
"Karla! nanti setelah selesai bekerja, saya tunggu di kantor." ujar supervisor, yang baru saja menghampiriku. Mungkin dia sedang mengontrol para karyawan yang sedang bekerja.
"Maaf! ada apa ya, pak?" Tanyaku sambil menyipitkan mata, meminta penjelasan.
"Selesaikan dulu, pekerjaanmu! nanti kita berbicara di kantor." seru supervisor tanpa menjawab keherananku.
"Baik, Pak!" jawabku yang seketika merasa lemas, karena tidak seperti biasa aku dipanggil ke kantor. Membuatku menerka-nerka dengan apa yang akan terjadi, apa mungkin ini adalah berita pemecatanku, padahal aku sudah bekerja segiat mungkin.
Bapak supervisor pun, Beranjak Pergi meninggalkanku. Mungkin dia ingin melanjutkan pekerjaannya, mengecek pekerjaan para karyawan yang berada di bawah naungannya.
"Makanya kalau kerja itu yang rajin! jangan malas-malasan." cibir Ratna yang baru keluar dari ruangan, Mungkin dia menguping sehingga mengetahui, aku dipanggil untuk menghadap ke kantor supervisor.
Aku tidak memperdulikan orang yang selalu menggangguku itu. aku terus terfokus dengan mengepel lantai, menyelesaikan tanggung jawabku sebagai cleaning service.
"Hello! gua ngomong sama lo! apa lo budeg?" ujar Ratna sambil memiringkan wajah, menatap sinis ke arah wajahku. rasanya ingin menggetok muka itu, dengan gagang pel yang sedang aku pegang.
"Ratna, kamu malah ngobrol. buruan selesaikan menyapunya. aku sudah selesai nih! ngepelnya." ujar Mukti pasangan kerja Ratna. Iya, setiap ruangan biasanya dikerjakan oleh dua orang, yang satu menyapu dan yang satu mengepel.
"Sapu sendiri saja, sih! gitu saja repot." gerutu Ratna sambil melemparkan sapu yang ada di tangannya.
"Kita sama-sama kerja, Harusnya kita bekerja sama. nanti kalau kamu kehilangan pekerjaan, kamu akan susah mencari pekerjaan di tempat lain. ingat zaman sekarang mencari pekerjaan sangat susah." Nasehat Mukti sambil mengambil sapu yang dilemparkan oleh Ratna.
"Biarkan aku saja yang nyapu!" tiba-tiba Ratna menghampiri Mukti, dengan begitu cepat. kemudian dia mengambil sapu itu dengan paksa, membuatku memindai sekeliling, mencari tahu penyebab orang ini bisa berubah begitu cepat, dan ternyata ada supervisor yang berjalan melewatiku.
Melihat kelakuan makhluk yang satu ini, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Karena Ratna akan giat bekerja, ketika ada atasan. namun ketika tidak ada atasan, dialah yang akan menggantikan posisi atasan itu. Dia akan semena-mena menyuruh rekan kerjanya untuk mengerjakan tugasnya. Padahal dia sudah sering dilaporkan sama supervisor cleaning service, namun tidak ada tindakan yang berarti bahkan yang lebih aneh, Ratna sering mendapatkan penghargaan sebagai karyawan cleaning service terbaik.
__ADS_1