
Pov Farid
"Halo...., assalamualaikum!," sapaku setelah telepon dari Ibunya Ira aku angkat.
"Halo....! Mbak Iranya ke mana?" Tanya seorang laki-laki, membuatku mengerutkan dahi. karena nama dan suara sangat berbeda, sehingga aku melihat layar handphone itu untuk memastikan.
"Bu Ira pingsan Pak, Mohon maaf ini siapanya dan sebenarnya ada apa?"
"Saya ketua RT di lingkungan rumah Ira. tolong sampaikan mbak Ira harus secepatnya pulang, karena ibunya juga di sini tidak sadarkan diri.
"Sebenarnya ada apa Pak?" aku mengulang pertanyaan, karena belum mendapat jawaban.
"Ari, kakaknya Ira meninggal dunia Pak, tidak ada yang mengetahui meninggalnya kapan, namun beliau sakit sudah lama."
"Baik Pak, nanti saya akan sampaikan sama Bu Ira. tolong bantu Sadarkan ibunya. Saya akan membantu Bu Ira di sini, nanti setelah Ibu Ira sadar saya akan segera mengantarnya pulang ke rumah."
Akhirnya telepon itu terputus, terlihat Dali menatap ke arahku, seolah ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kakak Bu Ira, meninggal Pak! di sana sangat tidak kondusif, karena menurut keterangan Pak RT, ibunya juga tidak sadarkan diri."
"Ya Allah, kenapa kejadiannya seperti ini?" ujar Dali yang terlihat panik. Dia menghela nafas beberapa kali mungkin sedang menenangkan pikirannya yang sangat kacau. "Sekarang Tolong Pak Farid temui klinik, untuk membantu Ira sadarkan diri, saya akan menghubungi Pak Arfan, untuk memberi tahu kabar duka ini." Ujar Dali mulai membagi tugas.
Mendapat perintah seperti itu, akupun tak menunggu waktu lama. setelah menyimpan handphone Ira di atas meja. Aku berlari menuju ruang klinik Siapa tahu saja ada orang di sana. karena perusahaan Arfan sangat mementingkan hak-hak karyawannya, sehingga klinik pun diadakan di kantor untuk melayani kesehatan para pekerjanya. minimal bisa membantu peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan para karyawan yang sedang sakit.
"Ada apa Pak?" tanya seorang suster yang berjaga, karena perusahaan hanya mempekerjakan dua suster ditambah satu dokter yang biasa datang di jam jam tertentu, Karena harus bekerja di Rumah Sakit Umum.
"Ada orang yang tidak sadarkan diri, Tolong bantu!" Jawabku yang terengah-engah sehabis berlari.
"Sebentar....! kebetulan Pak Dokter sedang berada di sini," ujar perawat itu sambil berlari menuju ke arah salah satu ruangan, kemudian tak lama ada seorang pria bebaju putih dengan stetoskop melingkar di lehernya, keluar dari ruangan itu, kemudian menghampiriku.
__ADS_1
"Siapa yang tidak sadarkan diri?"
"Bu Ira Pak!"
"Ya sudah, ayo Tolong antar saya!"
Akhirnya Kami berempat pun, berjalan sedikit berlari menuju kembali ke ruang Dali, di mana Ira tak sadarkan diri di sana.
Sesampainya di ruangan asisten manager, terlihat Ira masih belum Sadarkan diri, dengan cepat dokter dibantu para perawat, mulai menolong Ira agar cepat bangun. Mereka bertiga dengan Sigap membantu Ira, hingga akhirnya Gadis itu tersadar kembali, namun setelah terdiam beberapa saat dia pun mulai menangis kembali. Mungkin kesedihannya mulai datang kembali.
"Sekarang bagaimana?" Tanyaku sambil berbisik sama Dali.
"Aku sudah menghubungi pak Arfan, Dia meminta kita untuk membantu Ira, mengurus kepentingan pemulasaraan jenazah Kakanya."
"Terus?"
"Bantu apa?" Tanyaku yang tidak mengerti.
"Bantu saya, temenin Bu Ira!"
"Baik Pak!"
Setelah dokter membantu Ira dan memberikan beberapa resep vitamin yang harus diminum. Mereka pun berpamitan karena menurutnya Bu Ira tidak harus mendapatkan perawatan ekstra. Apalagi setelah mendengar bahwa ada keluarga Ira yang meninggal, dokter itu menyarankan agar ia segera pulang namun harus tetap didampingi.
Akhirnya aku dan Dali pun membantu Ira, untuk bangkit dari tempat duduknya, kemudian kita berdua menggandeng Ira menuju parkiran sebelum sampai dari memberitahu karyawan lain bahwa ada berita duka yang menimpa keluarga Ira.
Sesampainya di parkiran, ketika Dali mau masuk ke dalam mobil. Ira pun menahannya Dia meminta asisten Arfan itu untuk menemaninya duduk di belakang. mungkin dia sedang membutuhkan tempat bersandar ketika sedang rapuh seperti sekarang.
"Biarkan saya saja yang menyetir pak!" ujarku yang mengerti dengan kondisi yang sangat kaku ini.
__ADS_1
Dali pun tidak menjawab, Dia memberikan kunci mobilnya kemudian menggandeng Ira masuk ke kursi belakang, sedangkan aku masuk ke kursi sebelah kanan di belakang kemudi.
Aku mulai menyalakan mesin mobil Dali, beruntung Dulu aku pernah sempat mempunyai mobil. sehingga sekarang aku bisa memanfaatkan ilmu itu. tak menunggu lama mobil yang aku kemudikan mulai melaju meninggalkan tempat parkiran perusahaan Mandiri Group.
Mataku menatap ke arah spion dalam, terlihat Ira yang sedang menyandarkan kepalanya ke arah dada bidang Dali, sambil terus terisak. membuat asisten Arfan itu terlihat Salah Tingkah. namun tangannya seolah reflek mengelus rambut panjang milik gadis yang tersendu di dadanya. Aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena mungkin Ira sekarang sangat membutuhkan sandaran di tengah-tengah kesedihannya.
"Sebentar....! saya mau menghubungi istri saya terlebih dahulu," terdengar Dali meminta waktu, membuat wajah Ira ditekuk dengan sempurna.
"Kakaknya Ira meninggal sayang! kamu mau melayat," ujar Dali memberitahu Calista, Mungkin setelah teleponnya tersambung.
Tak terdengar balasan jawaban dari orang yang ditelepon, karena Dali tidak melaod Speaker kan panggilannya.
"Ya sudah...! kalau kamu mau melayat hati-hati bawa mobilnya! kalau bisa, sayang, Minta tolong pak Supri Untuk mengantarkan ke rumah Ira."
"Ya sudah hati-hati, miss you! muah.....," terdengar Dali yang begitu perhatian sama istrinya.
Setelah Dali berhenti menelepon, terlihat Ira mulai menyandarkan kembali kepalanya ke dada bidang milik asisten Arfan. aku yang sejak dari tadi memperhatikan hanya menatap fokus ke arah jalan, tak mau berprasangka yang tidak tidak.
Lama di perjalanan akhirnya mobil yang ku kendarai, terparkir di pinggir jalan dekat Gang. ternyata rumah Ira tidak berada di komplek perumahan, melainkan di perkampungan namun perkampungan yang tidak kumuh seperti kontrakanku.
Setelah memarkirkan mobil, Kami bertiga pun turun lalu berjalan menuju ke arah Gang yang berkibar Bendera Kuning, menandakan ada duka di dalam. Dali terus menggandeng Ira sambil terus memberikan motivasi, agar Gadis itu kuat menghadapi cobaan. Aku terus mengikuti mereka menuju ke salah satu rumah yang terlihat sudah banyak orang.
Dari arah depan terlihat ada seorang wanita yang menghampiri, kemudian memeluk Ira lalu menggandengnya, menggantikan posisi Dali. "kamu yang sabar ya nak, doakan kakakmu agar mendapat tempat terbaik di sisinya!" ujar wanita yang menggandeng memberikan motivasi.
"Kak Ari.....! Kak Ari....!" terdengar suara Ira yang memanggil kakaknya, Entah mengapa jantungku terasa tidak tenang mendengar nama itu disebut
Aku terus mengikuti Ira dan Dali yang masuk ke dalam rumah. setelah masuk ke rumah Ira dengan cepat menghampiri seorang wanita yang sedang menangis di samping seorang jenazah laki-laki. jenazah dengan raut wajah yang sangat memprihatinkan, rambutnya panjang tak terurus, wajahnya berantakan hanya menyisakan tulang. membuatku tak berani berlama-lama menatapnya.
Kedua wanita itu saling menangis, sambil saling memeluk, membuat suasana terasa pilu. tak terasa butiran bening dari sudut mataku keluar, Entah mengapa aku bisa semelow itu. padahal dulu ketika ibu meninggal saja, aku merasa biasa saja tidak mengeluarkan air mata seperti sekarang.
__ADS_1