Dua Penghianat

Dua Penghianat
eps. 25 ANCAMAN


__ADS_3

Pov Aisyah


Trok! Trok! Trok!


Pintu ruangan rumah sakit ada yang mengetuk, Aku tutup Alquran yang sedang aku baca, setelah aku mempersilahkan, kemudian masuklah orang yang tadi mengetuk.


"Assalamualaikum, Bu!" Sapa Dali tersenyum ramah.


"Waalaikumsalam, Kamu nggak kerja?"


"Sudah Bu! Tadinya saya ke sini mau pagi-pagi, namun di kantor, pekerjaan banyak! jadi maaf baru sekarang saya bisa ke sini. jelas asisten anakku.


"Padahal kamu nggak usah repot-repot, harus datang ke sini. kamu mau jaga kantor anakku saja, saya sudah banyak terima kasih." aku mengingatkan.


"Enggak kok, Bu! semua pekerjaan sudah saya handle, dan sudah dikerjakan dengan ahlinya. Saya khawatir Ibu kelelahan, sekaranf Ibu bisa pulang terlebih dahulu ke rumah. Biarkan saya yang menjaga di sini."


Mendengar tawarannya aku hanya tersenyum menatap kebaikan asisten anakku, sambil menggeleng kepala, Menolak tawarannya.


"Bagaimana proyek yang sedang ditangani oleh Arfan  yang di luar kota itu?" aku bertanya untuk mengalihkan pembicaraan  agar tidak terus terfokus membahas tentang situasi sekarang.


"Alhamdulillah! semuanya lancar, bu! kami semua lagi menyiapkan perencanaan proyek, mulai dari desain, anggaran biaya, dan lain-lainnya." jawab dali menjelaskan.


"Syukurlah! kalau begitu, kalian harus tetap giat dalam bekerja, meski anakku tidak ada disana."


"Siap, bu. terima kasih atas sarannya, Oh iya Bagaimana perkembangan kondisi Pak Arfan?" tanya dali sambil melirik ke arah Arfan yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Masih sama seperti kemarin, dia belum sadarkan diri." ujarku lirih merasa bingung harus bagaimana lagi untuk mengobati anakku, Agar dia cepat sadarkan diri.


"Terus kita harus bagaimana, Bu?"


"Mungkin! kalau hari ini, dia masih belum siuman, saya berencana besok untuk memindahkan ke rumah sakit yang lebih besar. meski kemungkinannya sama seperti di sini. namun Saya akan melakukan yang terbaik untuk anak saya." Jawabku menjelaskan.

__ADS_1


Dali pun hanya manggut-manggut, kemudian bangkit, mendekati tubuh anakku, yang masih terbaring, dengan beberapa alat bantu, mulai dari selang pernapasan, sampai pengukur detak jantung, melengkapi penderitaannya.


"Semangat Pak! semua orang di kantor, menunggu kehadiran bapak. ketika Bapak seperti ini, kami semua tidak memiliki figur yang tepat." ujar asisten anakku, terlihat matanya yang mengembun, menunjukkan begitu loyalnya dia terhadap atasan. dia mengusap cairan bening yang mau tumpah dimatanya. kemudian ia kembali menghampiriku, yang masih duduk di atas kursi sofa rumah sakit.


"Tadi saya bertemu dengan ibu Erni, Saya kira, beliau di sini untuk menemani Pak Arfan. namun dugaan saya salah, ternyata bu Erni di rumah sakit, masih menemani seling........!" ucap dali terhenti sambil menutup mulutnya.


"Iya kemarin juga, saya bertemu dengan wanita jal4ng itu. dia dengan PD mau menggugat cerai terhadap suaminya. bahkan Dia mengancam, akan mengambil semua harta yang Arfan miliki." aku menimpali perkataan asisten anakku.


"Betul, barusan Bu Erni juga menyampaikan hal yang sama persis seperti yang Ibu sampaikan barusan. dia meminta untuk menyampaikan ke Pak Arfan, ketika dia diceraikan, maka Pak Arfan tidak akan mendapatkan harta sepeserpun. karena semua harta yang dimiliki Pak Arfan semuanya atas nama Bu Erni. bahkan bukan hanya mengancam Pak Arfan, saya juga kena ancaman itu. kalau dia sudah bisa menguasai perusahaan milik pak Arfan. Saya adalah orang yang pertama yang akan ditendang." ujar Dali menjelaskan panjang kali lebar.


"Kamu jangan khawatir, kalau wanita sial4n itu sampai menguasai perusahaan anak saya, dan memecatmu dari sana. Kamu tinggal pilih posisi yang mana, yang kamu inginkan di kantor saya." jawabku agar dia tidak merasa khawatir tentang masa depan pekerjaannya.


"Terima kasih banyak atas tawarannya, Bu! namun kalau Beneran itu terjadi, Saya ingin memilih berjualan, membuka usaha sendiri. karena kalau bukan dengan Pak Arpan, saya tidak bisa membayangkan. Rasanya malas aja Ketika Harus berhubungan dengan orang yang baru." jawab dali sambil menarik napas dalam.


Setelah selesai mengobrol, Dali pun berpamitan, untuk melanjutkan pekerjaannya di kantor. aku mengingatkan sama bawahan anakku, agar tidak terlalu memikirkan keadaan majikannya, dia harus tetap terfokus dengan pekerjaannya.


Setelah Dali pergi, aku pun mendekati ranjang di mana anakku sedang berbaring. aku duduk di kursi yang ada di samping ranjang, yang sudah disediakan oleh rumah sakit. aku tatap wajah yang sangat memprihatinkan, hanya deru napas yang sangat pelan, yang terpancar dari wajahnya. tak terasa butiran bening pun jatuh membasahi pipiku. rasanya kalau boleh meminta, biarkan aku saja ya menggantikan dia, melewati rasa sakit yang begitu dalam yang arfan derita, sampai tega mencelakai dirinya sendiri.


Terlihat mata anakku sedikit bergerak, seperti orang yang hendak membuka mata, namun setelah aku menunggu lama  mata itu tetap tertutup. terlihat ada cairan bening yang mengalir dari sudut netranya. membuat hatiku semakin teriris perih, semakin membenci orang yang membuat keadaan anakku seperti sekarang.


Kuambil tisu yang ada di atas nakas rumah sakit, kemudian mengusap cairan bening, yang keluar membasahi pipi anakku.


"Semangat ya! kamu pasti kuat!" ucapku dengan suara lirih, tak kuasa menahan rasa Sesak Dalam dada.


"Bangun nak! ibu takut kalau ibu sendirian di sini!" aku terus berbicara menyemangati anakku, agar dia memiliki motivasi untuk hidup kembali.


"Kamu tega? membiarkan ibu sendirian di sini! bangun ayo! bangun!" ucapku terus-terusan memohon, berharap anakku bisa mendengar.


Kuperhatikan seluruh tubuh anakku, terlihat jarinya yang sedikit bergerak, ketika aku mengajak dia berbicara. mungkin benar apa yang dikatakan oleh dokter waktu itu, anakku bisa masih mendengar dengan suara-suara di sekitar, namun tubuhnya saja yang tidak bisa merespon otaknya.


Melihat Arfan yang seperti itu, Aku  terus menerus menyemangati dan memotivasi anakku. meski sebenarnya aku juga butuh motivasi. rasanya tidak tega, apalagi ada beberapa ucapanku yang membuat dia mengeluarkan air mata, namun aku terus melakukan hal itu, agar dia bisa bangkit kembali.

__ADS_1


Perlahan kelopak matanya yang tertutup, mulai sedikit terbuka. aku semakin semangat untuk terus melakukan hal yang sama. akhirnya dengan perjuangan yang begitu berat, Arfan mulai membuka mata, meski hanya menyipit. kemudian dia memiidai seluruh area ruangan ICU. tatapannya terhenti setelah melihatku, yang merasa bahagia melihat perubahannya, karena anakku sudah tersadar dari komanya.


Dengan cepat aku menekan tombol pemanggil perawat, untuk memberitahu tentang keadaan anakku, yang sudah ciuman.


Tak lama menunggu, pintu ruangan rumah sakit pun ada yang mengetuk. kemudian masukkan beberapa perawat, mendekati ke ranjang di mana Arfan sedang dirawat.


"Ada apa, Bu?" tanya perawat itu yang belum sadar Arfan sudah siuman.


"Anak saya! anak saya!" tiba-tiba saja lidahku terasa kelu, Rasa Bahagia dan Haru yang menyelimuti tubuh, sampai suaraku tertahan di tenggorokan.


Mendengar keteranganku, perawat itu menatap ke arah arfan, kemudian dia memperhatikan anakku, yang sedang berbaring.


"Alhamdulillah! anak Ibu sudah sadarkan diri." gumam perawat itu sambil, menyuruh rekannya untuk memanggil dokter, untuk mengecek kondisi Arfan yang baru siuman.


Tak lama menunggu, dokter jaga pun datang. kemudian dia memeriksa kondisi anakku. mulai dari mengecek pupil matanya, dengan di senter. dilanjutkan dengan pengecekan pengecekan tubuh lainnya.


"Alhamdulillah tubuh anak ibu semuanya normal, semoga saja setelah ini Pak Arfan bisa sembuh kembali seperti sediakala." jelas dokter itu sambil melepas stetoskop, yang menempel di telinganya.


"Terima kasih, dok! Terus sekarang Apa yang harus saya lakukan?" aku bertanya kembali.


"Ibu tenang saja! dan terus berdoa. mungkin pak Arfan bisa sadar, itu adalah salah satu dari Doa Ibunya. untuk tahap selanjutnya, nanti akan kami lakukan pemeriksaan berkala." jelas dokter itu.


Setelah selesai mengecek kondisi Arfan, dokter itu pun berpamitan. dan berjanji nanti ketika dokter spesialis datang, dia akan melaporkan hasil pengecekannya.


Dokter dan perawat pun akhirnya keluar, dari ruang ICU. meninggalkanku dan arfan yang masih terbaring lemah, matanya yang Sayu, menatap ke arahku. terlihat dia menggerakkan jemarinya seperti memanggil. dengan cepat aku pun mendekati.


"Iya, ada apa fan?" ujarku sambil duduk kembali di kursi yang ada di samping ranjang, kemudian membelai lembut rambut anakku, dengan penuh kasih sayang. Rambut terlihat basah oleh keringat. dia tidak menyampaikan sepatah kata apapun, namun terlihat butiran bening kembali membasahi pipinya.


"Kamu yang kuat ya, nak! anak ibu pasti sehat kembali!: ujarku sambil mengusap cairan yang ada di pipinya, dengan tisu basah.


"Udah jangan berbicara terlebih dahulu, Kamu harus banyak istirahat. biar kamu cepat sembuh!" cegahku ketika dia hendak berbicara.

__ADS_1


Aku pun Kembali terus memotivasinya, agar Arfan punya alasan untuk tetap bertahan hidup. walaupun orang yang sangat dia cintai, dan sahabat yang ia banggakan, telah menghianatinya. tapi masih banyak orang-orang yang menggantungkan hidup kepadanya.


__ADS_2