Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 92 Pembohong


__ADS_3

Pov Karla


"Baik Bu Erni! Tapi janji setelah ini, Ibu jangan mengganggu hidup saya lagi." pintaku.


"Nggak! aku nggak akan mengganggu hidup orang, lagian level kita sangat berbeda Jauh, antara ini dan sana." ujar Erni sambil menghantarkan kakinya kemudian menunjuk ke atas langit.


"Baiklah! kalau seperti itu! namun saya nggak bisa lama-lama, takut orang tua saya menunggu."


"Kabarin aja terlebih dahulu, dengan saya santai saja." ujarnya.


"Terima kasih atas kebaikan Bu Erni!"


"Kamu mau ikut dengan mobil saya, atau mau jalan sendiri menuju Cafe?:


"Jalan saja Bu!"


"Mending naik mobil! kamu belum pernah kan naik mobil dengan harga 2 miliar?"


"Nggak bu! Lagian deket ini."


"Ya sudah! kalau nggak mau dikasihani, Awas jangan coba-coba kabur, lihat para pria yang ada didalam mobil akan mengganggu kehidupanmu, bahkan bisa mengganggu keluargamu di rumah!"


"Nggak bu saya nggak berani!" jawabku yang tertekan, meski dia tidak melakukan apapun namun hanya dengan menjentikan jarinya, hidupku akan semakin susah.


"Ya Allah Tolong selamatkan hambaMu yang lemah ini, Bismillah!" gumamku sambil melangkahkan kaki menuju tempat yang tadi ditunjukkan oleh Erni.


Setelah menyeberangi Jalan Raya, akhirnya aku  sampai di pintu masuk cafe, terlihat mobil Erni yang baru saja memasuki parkiraan, diikuti oleh mobil Jeep berwarna putih. yang mengangkut bodyguard-nya, dia datang agak lama karena harus berputar arah terlebih dahulu.


Setelah sampai di parkiran, Erni pun keluar dari mobilnya, lalu menghampiriku yang masih berdiri menatap kagum dengan kemewahan yang menghiasi tubuhnya.


"Ayo masuk!" ajaknya sambil mendahuluiku masuk ke dalam cafe.


Aku yang masih merasa bingung dan merasa takut dengan segera mengikutinya masuk ke dalam. lalu Erni mencari tempat duduk yang agak sedikit jauh dari kerumunan orang-orang. Setelah kita duduk, waiter pun menghampiri untuk memberikan daftar menu yang dijual di cafe itu.


"Kamu mau minum apa, atau Sekalian makan aja? Lumayan kan bisa menghemat." tawar Erni yang terlihat sangat baik.


"Nggak, saya nggak minum!"


"Ya sudah karamel macetonya 2, dan meatballnya 2!" pinta Erni sama waiter itu.


"Baik bu! ditunggu pesanannya." jawab waiter sambil kembali membawa pesanan yang diberikan oleh pelanggannya.


"Ibu mau ngomong apa, Maaf saya harus segera pulang takut orang tua saya mencari?"

__ADS_1


"Oh ternyata anak mami, kalem aja sih! lagian aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok." ledek Erni sambil menghiasi bibir indahnya dengan senyum.


"Sekali lagi saya mohon maaf Bu! tapi kalau tidak ada hal yang penting, Izinkan saya untuk segera pulang."


"Oke! Oke! Jadi begini, kamu bantu saya agar suami saya kembali ke pelukan saya. kita ada salah paham hingga dia pergi meninggalkanku. dia menuduhku berselingkuh padahal tuduhan itu tidak terbukti sama sekali, hanya akal-akalnya saja yang ingin pergi jauh dariku. Padahal aku telah serahkan seluruh jiwa dan ragaku untuk pria itu. dan asal kamu tahu bahwa Arfan suamiku bukan pemulung sampah dan cleaning service. dia adalah pemilik perusahaan Erni Group, mungkin kamu pernah mendengar tentang perusahaan saya. dan tempat kerja kamu adalah milik ibunya sendiri, aku ngomong seperti ini, karena aku yakin kamu sudah ditipu olehnya, sama sepertiku yang sudah dicampakkan oleh Arfan." ujar Erni menjelaskan panjang lebar membuatku ragu antara percaya atau enggak dengan apa yang diucapkan oleh Erni. karena kalau benar apa yang dibicarakannya Kenapa pria bod0h itu sampai nekat mengakhiri hidupnya.


"Kenapa diam? Kamu pasti tidak percaya dengan yang saya ucapkan. nih kamu lihat!" ujarnya sambil menggeser tempat duduknya, lalu ia mulai menunjukkan foto-foto pernikahannya dengan Arfan. dan foto-foto keluarganya di mana Di situ ada Arfan dan Ibu Aisyah pemilik perusahaan Atri Group.


"Bagaimana kamu percaya sekarang?"


"Percaya Bu! namun yang saya bingungkan, Kenapa Ibu menunjukkan itu semua terhadap saya?"


"Hehehe! kamu jangan pura-pura Naif jadi orang. aku tahu sekarang kenapa suamiku berpaling, Karena dia sudah menemukan pengganti yang tidak sepadan sepertimu!" ujar Bu Erni yang terdengar rancu di telinga.


"Maksudnya bu! tolong bicara seperti biasa, Jangan membuat saya berpikir untuk mencerna perkataan ibu."


"Aku bisa melihat tatapan Arfan ketika menatapmu, tatapan yang dulu pernah aku dapatkan ketika dia masih mencintaiku."


"Nggak mungkin lah, Bu! kalau beneran Pak Arfan yang di foto itu sama dengan Arfan yang saya kenal, mana mungkin dia mau dengan saya."


"Sudah jangan mengelak! sekarang Aku ada tugas buat kamu."


"Tugas apa?"


"Maaf Bu Kenapa melibatkan saya dengan urusan kalian berdua?"


"Itu salah kamu! Kenapa kamu bisa kenal dengan suami saya." jawabnya dengan enteng.


"Sudah kan, Bu! hanya itu saja yang ingin Ibu sampaikan?" Tanyaku yang sudah merasa tidak nyaman mengobrol berlama-lama dengan wanita baru aku kenal ini.


"Belum! Karena kamu belum menjawab perintah saya."


"Maaf bu! saya tidak bisa, karena saya tidak mau ikut campur dengan urusan orang."


"Tidak bisa Apa? jangan-jangan kamu sudah suka atau sudah tahu bahwa Arfan itu adalah orang kaya. Jujur saja kamu ingin menumpang hidup kepadanya kan?"


"Ibu Jangan asal menuduh! tanpa tahu yang sebenarnya." semakin lama Aku merendah semakin terpancing pula emosiku.


"Kenapa marah, berarti benar kan apa yang diucapkan oleh saya, kalau tidak benar pasti kamu tetap acuh." ujar Erni semakin memojokkanku.


Merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang kaya seperti mereka, karena mereka tidak akan menerima apapun pendapat yang kita keluarkan. aku segera bangkit dari tempat dudukku, lalu berjalan pergi meninggalkan Erni yang masih terduduk menatap tersenyum ke arahku.


Beruntung dia tidak menahanku lagi, sehingga aku bisa terus berjalan keluar dari Cafe shop yang terasa mengerikan, membawa hati yang tak karuan, aku kecewa dengan Arfan Kenapa dia tega membohongiku, membohongi keluargaku.

__ADS_1


Aku terus berjalan menuju arah pulang, hingga akhirnya aku sampai di rumah Saipul. terlihat Bapak ditemani oleh Arfan dan Saipul mungkin mereka sedah mengobrol sambil menungguku pulang.


"Tuh, Karla  sudah pulang, Pak!" Dari mana saja kamu?" ujar Arpan seolah tak memiliki dosa dia menyambut kedatanganku dengan tersenyum yang menghiasi bibirnya.


Tak terasa butiran bening membasahi pipi, mengingat kembali apa yang baru saja terjadi menimpaku, yang mendapat ancaman dari Erni istri Arfan.


"Karla Kenapa kamu menangis?" tanya Arfan yang segera bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh Bapak. kemudian Pria penipu itu menggenggam pundaku, namun dengan cepat aku melepaskan genggamannya.


"Kamu kenapa?" Arfan mengulangi pertanyaannya.


"Penipu!" hanya kata itu yang keluar dari mulut, membuat semua orang yang berada di situ menatap heran ke arahku.


"Maksudnya apa, Kenapa kamu bilang seperti itu?"


"Ayo pak, kita pulang!" ajakku sama Bapak sambil mengusap cairan bening yang tak tertahan membasahi pipi.


"Ada apa sebenarnya, Cerita dong! agar kami bisa mudah untuk membantunya."


"Sandiwara apa lagi yang sedang kamu mainkan wahai penipu! mulai sekarang jangan injakan kaki kamu di rumah saya." ujarku memberikan ancaman sambil menarik tangan bapak agar segera pergi dari tempat itu. merasa muak ketika berlama-lama dengan seorang penipu.


"Karla  ada apa sebenarnya? Tolong kamu cerita!" ujar Arfan yang mengikutiku.


"Bapak tolong hentikan pria penipu itu. jangan sampai mengikuti kita!" pintaku sama pria yang selalu aku percaya, dan tak pernah mengecewakanku.


"Nak Arfan! Tolong biarkan Karla tenang dulu. nanti kalau sudah tenang bapak akan tanya kenapa sikapnya bisa berubah sederastis sekarang. jadi mohon Nak Arfan agar memberikan pengertian." ujar Bapak, seperti biasa dia lemah lembut. padahal berbicara sama penipu tidak harus selembut itu.


Mendapat penolakan Bapak, Arfan pun hanya terdiam berdiri.


Bugh! bugh!


Terdengar beberapa pukulan dari arah belakang, membuat aku dan bapak menghentikan langkah. lalu menatap ke arah datangnya suara, terlihat Arfan sudah tersungkur di selokan Gang.


"Sudah gua bilang! sekali lho menyakiti Karla! gua lah orang yang pertama yang akan menghajar lu!" bentak Saiful sambil menatap tajam ke arah Arfan.


"Saeful kamu apa-apaan!" bentak bapak sambil menahan tangan Saiful yang hendak kembali mengajar Arfan.


"Biarkan saya memberikan pelajaran buat orang yang sudah menyakiti hati Karla. saya sudah memberikan peringatan, namun dia abaikan. Inilah pembalasan yang tepat untuknya." ujar Saiful.


"Kenapa Ful! kamu kenapa? aku juga nggak tahu Karla menangis gara-gara apa."


"Halah! sudah jelas itu gara-gara lu, ban9sat!" ujar Saipul yang menendang dada Arfan.


Aku tidak menyangka kejadiannya akan seburuk itu, dengan cepat aku membantu bapak untuk memisahkan mereka, lebih tepatnya menahan Saiful.

__ADS_1


__ADS_2