
Pov Arfan
Seminggu telah berlalu aku bekerja di kantor ibu sebagai cleaning service. bahkan Hari ini adalah hari selasa kedua, aku menjadi bawahan Karla wanita aneh yang selalu menyudutkanku.
Pagi itu, seperti biasa Karla akan menjemputku untuk berangkat kerja bersama-sama, semakin lama kita saling mengenal, semakin nyambung juga dalam obrolan. Ternyata karla Orangnya asik juga, ketika berbicara tidak nyeleneh.
Mentari pagi baru keluar beberapa menit dari upuk Timur, memberikan hangat bagi jiwa-jiwa yang merasa kedinginan. orang-orang mulai berlalu Lalang, untuk mencari nafkah kehidupannya. sama sepertiku dan Karla yang sedang berjalan beriringan menyusuri trotoar kota.
"Bagaimana lu betah nggak, kerja Jadi cleaning service?" tanya Karla di sela-sela obrolan.
"Betah dong! kan supervisornya menggemaskan." ujarku sambil mengangkat senyum.
"Serius! gua nanya, Soalnya kemarin bu Aisyah bertanya seperti itu ke gua." ujar Karla sambil mengkerlingkan mata ke arahku.
"Betah! betah! cuman uang jajanku saja yang sudah menipis, Mana gajian masih lama lagi."
"Makanya jangan boros! Ingat! hemat adalah pangkal kekayaan." nasehat Karla.
"Ya mau hemat Bagaimana, kalau Uangnya sedikit. mau ditarik sekeras apapun, kalau benda itu tidak Meral, Ya tetap saja tidak akan tertarik." jawabku menyahuti pendapatnya.
"Lu tuh! diajarin malah ngeyel. kalau lo masih kecil, pasti sudah gua jewer tuh telinga, sampai putus."
"Yey! emang bener kan, begitu." dumelku sambil terus tetap berjalan.
Kita terus berjalan menuju kantor tepat di mana kita mencari nafkah untuk kehidupan. kalau dibarengi dengan obrolan obrolan ringan, perjalanan itu tidak terasa. sadar-sadar ketika kita sudah sampai di lobby kantor.
"Aku pamit dulu! mau ke gudang, mau ngambil peralatan kerja terlebih dahulu." ujarku ketika kita berada di pertigaan koridor.
"Sebentar!" tahan Karla sambil melepaskan ikatan tas gendong yang melingkar di pundaknya. kemudian dia merogoh sesuatu dari dalam.
"Uang lu!"
"Uang apaan?" Tanyaku mengerutkan dahi.
"Uang pas hari Rabu, yang lo tinggalkan di tukang bakso."
"Jangan bahas bakso, sampai sekarang aku masih mual. Gara-gara kelakuanmu yang Barbar. masa iya? tisu bekas ingus dimasukkan ke dalam mangkok. Itu sama saja seperti kamu berak di dalam piring, lalu piringnya dipakai alas makan."
"Hahaha!" tanggapan karla sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar, Tampa memperdulikan ucapanku. "buruan ambil!" serunya sambil membulatkan Pupil mata.
"Enggak! itu buat kamu."
"Terima kasih pangeran. ambil, nggak!" jawab karla dengan raut wajah yang menyebalkan.
__ADS_1
"Itu uang kamu, uang aku kan sudah dipakai membayar bakso. Bakso ingus!"
"Ambil!" Paksa Karla sambil mengambil pergelangan tanganku, lalu menyimpan uang yang baru dia ambil, uang lembaran berwarna merah. tanpa menunggu jawaban, dia pun pergi meninggalkanku menuju ruangannya.
"Karla! ini uangnya!"
"Maaf siapa, ya? kayaknya kita baru kenal deh!" tanggapannya yang tak acuh, dia terus berjalan hingga akhirnya masuk ke ruangan.
"Ini uangnya! ambil!" Desakku untuk kesekian kalinya, desakan yang tidak membuat karla menghentikan langkah.
"Sekali lagi , lu maksa, dan sekali lagi langkah lu masuk ke dalam ruangan gua. gua nggak senggan-senggan, untuk melaporkan lu! atas tindakan pelecehan." ancam karla sambil mengacungkan jari telunjuk ke hidungku.
MeLihat telunjuk karla yang berada di depan hidung. dengan cepat aku pun menggigitnya dengan bibir.
"Iiiiiiiiiih, jorok banget sih lu!" ujar karla sambil mengelapkan jarinya ke bajuku. lalu mencium jari itu untuk mengecek baunya. "benarkan, bau! Uwwwweeekek!" reaksi Karla setelah mencium Jari tangannya. Kemudian dengan berlari dia pun pergi menuju ke arah dalam. tanpa memperdulikanku lagi, yang masih berdiri di ambang pintu, sambil memegang uang kertas yang baru diberikannya.
"Ngapain lu, masih di sini? bukannya kerja!" seloroh Karla setelah keluar dari dalam toilet.
"Aku takut, kamu kenapa-kenapa! karena kamu muntah-muntah seperti itu."
"Iyalah! gimana nggak muntah, Sudah berapa hari lu nggak sikat gigi?"
"Tiga hari!" jawabku mencandainya.
"Sudah buruan kerja, dan kalau ada waktu, lu sikat tuh mulut dengan sikat kloset, biar sama-sama bau!" Seru karla sambil menyeret tubuhku dengan pintu.
"Awwwwwwwwww!" bisa nggak sih nggak nyubit, dan enggak mukul." gerutuku dengan kesal. setelah tangan yang menahan pintu, dicubit keras oleh Karla.
"Rasain! Lagian lu nggak bisa diatur." jawab Karla tersenyum, merasa puas dengan apa yang dia lakukan.
"Cubit lagi dong! tapi jangan pakai tangan." Tantangku
"Terus?"
"Pakai bibir!" Jawabku sambil berlari meninggalkan ruangan Karla.
"Eh m3sum, mau lari ke mana." tahan Karla namun dia tidak mengejarku, dia malah masuk ke ruangannya, Mungkin dia hendak memulai pekerjaannya.
"Hahaha! hahaha!" Tawaku yang merasa puas karena berhasil mengerjainya sambil terus berlari. Setelah dirasa aman, Aku mulai berjalan seperti biasa, menuju ruang penyimpanan alat kerjaku.
Setelah sampai di ruangan itu, aku mengambil sapu dan alat pelan. walaupun jam kerja baru dimulai 15 menit lagi, namun aku dan Carla selalu datang lebih dulu, dibandingkan dengan karyawan-karyawan cleaning service lainnya.
Ting ting ting ting tung tung ting ting tung ting tung ting!
__ADS_1
Handphone pemberian Karla berdering dengan suara khasnya, yang tak lekang oleh waktu. menandakan ada panggilan masuk, Awalnya aku mengabaikan telepon itu, karena sekarang waktunya bekerja. namun telepon poliponik itu berbunyi kembali, Mungkin orang yang mau menelepon, dia akan menyampaikan hal penting.
Aku rogoh kantong Celanaku, untuk melihat Siapa yang menelepon, setelah aku perhatikan aku tidak mengenal nomor itu.
"Halo! maaf Ini siapa?" aku bertanya Setelah telepon itu terhubung.
"Saya Anto, Pak! Maaf mengganggu aktivitas pagi bapak, karena ada hal penting, yang saya ingin sampaikan." kenal suara orang di ujung telepon.
"Oh, Pak Anto! maaf saya kira siapa. Ada apa Pak?" Tanyaku sambil berjalan mencari tempat yang sepi, takut pembicaraanku ada yang menguping.
"Gini Pak Arfan! aset saham bapak di perusahaan Erni Group, saya sudah coba Tawarkan ke beberapa investor. Ada yang menolak, ada juga yang minat. Nah untuk yang minat ini, mereka tidak berani membayar harga lebih, sesuai yang kita harapkan. saya hanya mau menyampaikan itu saja."
"Memang mereka yang mau dengan saham kita, mereka Berani bayar di harga berapa?" Tanyaku yang merasa penasaran.
"Sekitar! di angka 15, Pak! namun mohon maaf sebelumnya, karena menurut saya, itu adalah tawaran terbaik yang kita dapat. Karena setelah saya telusuri perusahaan Erni group dalam beberapa bulan terakhir mengalami penurunan omzet. jadi sekarang adalah waktu yang tepat kalau bapak berkeinginan untuk menjualnya. daripada nanti nanti, bisa-bisa kita Capital loss atau bisa juga liduksi." jelas Pak Anto memberi saran.
"Begini saja, Pak! saya serahkan urusan itu, sama bapak. berapapun harganya, mungkin itulah harga terbaik yang kita dapatkan." dengan cepat aku memberikan keputusan.
"Baiklah Kalau begitu! nanti saya akan kabari kembali, terima kasih dan mohon maaf telah mengganggu aktivitas Bapak, Selamat pagi!" ujar Pak Anto sambil mematikan teleponnya.
"Ngurus begitu saja, nggak becus!" gumamku mengumpat mantan istri, yang sok tahu. coba kalau dia bisa berpikir jernih, Biarkan saja perusahaan itu Dali yang mengurusnya, dia tinggal tumpang kaki menunggu uang mengalir ke rekeningnya.
"Ngelamun aja!" ujar Mukti yang baru datang menghampiri dengan wajah tersenyum sumringah.
"Nggak! Aku nggak ngelamun! cuman lagi ngehayal aja." jawabku sambil berjalan Kembali menuju tempat kerja yang tadi aku tinggalkan.
"Jangan ngelamun! nanti juga ngalamin! hehehe." canda Mukkti yang terdengar garing.
"Yey!" ujarku mendelik.
"Kenapa?"
"Kamu tuh yang kenapa? aku perhatiin akhir-akhir ini, kamu sering tersenyum sendiri. jangan-jangan kamu sudah ingin gil4 tapi jinnya belum merasuki tubuh?"
"Ah sial4n lu! aku lagi bahagia hati nih Fan! nanti siang lu mau makan apa? aku traktir!"
"Widih! Senang kenapa nih? apa jangan-jangan habis ketiban Durian Runtuh?" Tanyaku yang menghentikan menyapu sebentar, kemudian menatap ke arah kepala Mukti.
"Ngapain lu, ngelihatnya seperti itu?"
"Nggak apa-apa! lagi merhatiin, siapa tahu aja kepala lu Bonyok! kan habis ketiban Durian Runtuh?"
"Ah! Makin sial4n lu! bukan begitu Bro, Cewek yang gua ceritakan sama lu, waktu itu. sekarang dia datang kepadaku, bak Bidadari yang turun dari langit, untuk menjemputku naik ke Kayangan." ujar Mukti seperti orang yang keracunan tutup botol, Dia berbicara ngelantur seperti itu.
__ADS_1
"Hahaha!"
"Serius Bro! lu tinggal tunggu undangannya saja, dia ngebet banget minta dinikahin secepatnya. menurut pengakuannya, kenapa kemarin-kemarin dia cuek sama sang pangeran, karena dia ingin mengetes seberapa tangguh, pangeran itu memperjuangkan cintaku untuknya." ujar Mukti bak deklamasi handal yang sedang membaca puisi.