Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 44 kondisi Bapak


__ADS_3

Pov Farid


"Amin, Terima kasih atas doanya Pak..!'


"Yah sama-sama Pak...! tapi saya tidak bisa berlama-lama menemani Bapak di sini, karena seperti yang Bapak ketahui Istri saya sedang hamil, jadi saya agak ngeri kalau berlama-lama di luar, Apa lagi malam seperti ini. saya mohon pamit terlebih dahulu dan jangan lupa kalau bapak butuh sesuatu jangan senggan-senggan menghubungi saya," jawab Arfan untuk kesekian kalinya menawarkan kebaikannya.


"Terima kasih banyak Pak...!"


Arfan pun merogoh Kantong yang di selendangkan di pundak, kemudian dia mengeluarkan amplop berwarna coklat lalu diserahkan kepadaku.


"Ini apa Pak?" Tanyaku yang merasa heran.


"Buat keperluan Pak Farid, di rumah sakit. karena saya tidak bisa menemani bapak 24 jam di sini."


"Bapak jangan repot-repot, Minggu kemarin saya sudah dikasih uang sama Bapak, sekarang gak usah ngasih lagi, karena uang yang kemarin saya masih ada, soalnya kalau untuk membeli bensin cukup 200 ribu."


"Bapak simpan aja...! nanti siapa tahu saja butuh," paksa Arfan.


"Nggak pak..! nggak terima kasih. cukup diterima bekerja di perusahaan Pak Arfan, saya sangat berterima kasih. Maka jangan tambah lagi rasa hutang Budi saya kepada bapak."


"Saya tidak merasa menghutangkan apapun sama bapak, saya hanya membantu sebisa saya, semampu saya."


"Enggak Pak..! Bukan saya menolak Tapi jujur uang saya masih ada," belaku yang masih merasa tidak enak kalau harus terus merepotkannya.


Akhirnya perdebatan kecil terjadi, Arfan memaksa agar menerima pemberiannya, sedangkan aku menolak pemberiannya. hingga akhirnya dia menyerahkan uang itu sama Karla dan istrinya Arfan itu memberikan uangnya sama istriku. awalnya Vina pun menolak namun lama-kelamaan Vina pun mengambil uang itu.


"Makasih banyak Pak, terima kasih Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak dengan cara apa, Padahal saya sudah menyakiti hati bapak."


"Sudah Pak....! Jangan bahas Terus masalah itu. jadikan kenangan dan pembelajaran buat kita kedepannya. Ya sudah saya pamit pulang dulu!"


Mereka berdua pun berpamitan meninggalkan depan ruangan operasi, setelah mereka pergi aku pun menghampiri Vina yang terduduk di kursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak tolak pemberian Pak Arfan?"


"Kalau kita tolak, mereka akan kecewa. karena pengorbanannya tidak merasa dihargai seperti pengorbananmu, yang diacuhkan oleh Bapak .soyogianya ketika ada orang yang mau menolong kita, maka Terimalah pertolongan itu dan ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. karena mereka mau menolong kita itu adalah bentuk kepedulian yang sangat luar biasa, sehingga kalau kita menolak Bagaimana rasa sakitnya mereka."


"Tapi kita malu Vin, kalau harus terus merepotkan mereka."


"Sama aku juga malu, Namun kita sedang tidak diberikan keleluasaan untuk memilih kehidupan, kita hanya bisa Mengikuti alur yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. sudah sekarang kamu jangan banyak pikiran, mendingan kita doakan agar Bapak agar cepat sembuh dan bisa sembuh seperti sedia kala!" Pungkas Vina mengakhiri perdebatan.


"Terima kasih atas penjelasannya. Oh iya, kamu sudah makan apa belum?"


"Udah tadi, setelah kamu pergi dari rumah sakit, aku langsung makan makanan yang dibawa oleh pak Dali."


"Syukurlah kalau sudah makan.!"


Depan ruang operasi pun kembali Haning seketika, aku dan Vina hanya terdiam mengantar Lamunan masing-masing. Menerka-nerka Apa yang akan terjadi kepada bapak. namun ketika membayangkan hal yang terburuk yang menimpanya, membuatku menghembuskan napas pelan. Walaupun Bapak seperti itu, tapi mungkin ikatan darah yang lebih kuat, sehingga ketika membayangkan hal terburuk yang terjadi kepadanya, hatiku sedikit berdebar tidak sanggup menerima kenyataan yang berat.


Namun aku membuang jauh pikiran yang menyerang memenuhi rongga otaku, dengan cara memegang tangan Vina yang duduk di samping, kemudian menyandarkan kepalanya ke dadaku, kepalanya aku Usap dengan lembut, sesekali aku cium.


"Ya pasti, bau lah....!" Kan seharian aku membantu bapak di rumah sakit dan seharian itu pula tubuhku belum menyentuh air."


"Ya sudah sana mandi dulu, nanti setelah mandi Kamu ke sini lagi!"


"Nanti saja kalau Bapak sudah dipindahkan ke ruangan inap, baru aku mandi dan kamu harus mandi juga..!" jawab Vina yang melingkarkan tangan ke Pinggangku.


Akhirnya ruangan itu pun hening kembali, menikmati kebersamaan yang terasa indah. sehingga mengalir di tubuhku, satu ketentraman yang tidak bisa dituliskan. istriku memang sangat cantik dan sangat baik, sehingga ketika aku memeluknya ada kenyamanan yang keluar dari tubuhnya, memberikan energi positif terhadap tubuhku.


Kira-kira pukul 10.00 malam ruang operasi pun terbuka, lalu keluarlah ranjang transfer pasien yang membawa bapak. aku dan Vina pun dengan segera mengikuti ranjang yang menuju ke ruang inap, setelah sampai tubuh bapak yang terlihat lemas dipindahkan ke ranjang ruang inap.


Setelah menempatkan pasiennya para perawat pun meminta izin untuk keluar kembali melanjutkan pekerjaannya. aku menatap tubuh bapak yang terbaring lemas di atas ranjang  kemudian aku benarkan posisi tidurnya, lalu menutup dengan selimut yang diberikan oleh rumah sakit.


"Bagaimana kondisi bapak?" tanya Vina memecah heningnya suasana karena mungkin dia juga sudah tahu apa yang disampaikan oleh para perawat, dan dia juga bisa melihat kondisinya seperti apa.

__ADS_1


"Semoga saja Bapak baik-baik saja, katanya kamu mau mandi, sana mandi terus salat, kebetulan tadi aku membawa mukena buat kamu salat."


"Iya! kita salat berjamaah bareng, kita berdoa agar Bapak baik-baik saja!" ajak Vina.


"Iya kamu duluan..!"


Vina Masuk ke dalam kamar kecil, terdengarlah suara guyuran air yang membasahi tubuh. sedangkan aku duduk di samping ranjang sambil menatap bapak yang matanya terpejam, Aku seka keringat yang keluar di dahinya menggunakan tisu.


Lama menunggu akhirnya Vina pun selesai membersihkan tubuh, tibalah giliranku dengan tergesa-gesa aku masuk ke kamar mandi, Aku tidak mau membuat Vina menunggu untuk melaksanakan salat Isya berjamaah bersama.


Selesai melaksanakan salat, aku doakan kesembuhan bapak yang sedang dirawat serta mendoakan keluargaku agar selalu diberikan kesabaran, ketabahan dalam setiap menghadapi masalah dan cobaan


Selesai berdoa, aku membalikan tubuh lalu mengeluarkan tangan mengajak istriku bersalaman. "Maafkan aku kalau selama ini aku belum bisa jadi yang terbaik untukmu, belum bisa menafkahimu secara lahir, maupun batin," ucapku sambil mengelus kepalanya.


"Sama aku juga minta maaf...! kalau selama ini aku belum bisa menjadi istri yang terbaik buat kamu, namun aku akan terus berusaha melakukan semuanya."


Tak terasa butiran bening pun jatuh membasahi pipi, karena entah mengapa walaupun keluargaku Sedang dicoba dengan sakit yang diderita oleh Bapak. tapi kalau melihat Vina hatiku merasa bahagia seolah Vina adalah obat disetiap Lara yang menimpaku.


Malam itu kita bergantian menjaga Bapak yang sedang sakit. Meski aku mengajak vina untuk tidur, namun dia memilih menjaga Bapak. takut sewaktu-waktu Bapak ingin minum atau ingin makan, menurutnya kasihan kalau tidak dirawat.


Keesokan paginya, setelah melaksanakan salat subuh aku dan vina duduk di kursi yang berada di samping ranjang Bapak. kita memperhatikan bapak yang sedang tertidur sehingga lama-kelamaan matanya pun terbuka, kemudian membagi tatap ke arahku dan ke arah Vina. namun itu tidak lama karena dia dengan cepat membuang wajahnya.


"Maafkan Bapak Ya Vin, kalau kelakuannya seperti ini!"


"Nggak apa-apa! namanya juga orang tua, kita harus sangat memakluminya. Oh iya nanti kamu mendingan bekerja saja, biarkan aku yang menunggu Bapak di sini."


"Aku menemanimu saja menunggu bapak. aku nggak enak kalau terus merepotkan kamu," sanggahku menolak.


"Kita harus berbagi tugas. aku menjaga Bapak di sini, kamu menjaga gak kepercayaan yang telah diberikan oleh Arfan dan Pak dali. karena mungkin untuk selanjutnya Bapak tidak akan membutuhkan perawatan ekstrak, mungkin hanya menyuapi dan memberi minum saja," ujar Vina


"Tapi Vin!"

__ADS_1


"Sudah, gak Ada tapi tapi. ingat ketika dulu kita sedang susah, kita mencari kesana kemari untuk mendapatkan pekerjaan, sekarang sudah dapat jangan sampai di sia-siakan."


__ADS_2