
Pov Farid
"Siang juga, kamu pakai parfum ditumpahin, apa bagaimana? Kok baunya seperti ini," ujar Dali sambil memalingkan wajah seolah sedang menghindari bau yang memenuhi ruangannya.
"Disemprot kok pak! namun parfumnya, parfum yang murah sehingga baunya seperti ini, maaf kalau mengganggu kenyamanan bapak," ujar wanita itu berbohong, karena tidak mungkin parfum yang murah, wanginya bisa semerbak itu.
"Sudah saya sering ingatkan kalau masuk ke sini, kamu tidak harus memakai parfum terlebih dahulu, bisa-bisa saya mati karena sesak....!" Gerutu Dali masih belum selesai.
"Maaf pak...! ini parfum yang saya pakai tadi pagi," kelak wanita itu terus menjawab.
"Halah.....! kamu kalau diingatkan selalu saja membantah."
"Sudah jangan kebanyakan marah Pak, nanti cepet tua loh...!" ujar wanita yang bernama Ira semakin berani, padahal aku berada di ruangan itu.
Mendapat jawaban seperti itu, dali hanya mendengus kesal, kemudian dia menarik nafas lalu menghempaskannya dengan pelan, seolah sedang mengatur emosi yang memenuhi jiwa. Bagaimana tidak emosi, kalau melihat kelakuan bawahannya sekurang ajar itu.
"Maaf Pak.....! bapak manggil saya ke sini ada keperluan apa?" ujar Ira setelah tidak mendapat respon apapun yang diberikan oleh atasannya.
"Perkenalkan ini Pak Farid, karyawan baru kita yang akan mengisi staf pemasaran," jawab Dali kembali ke mode profesionalnya, dia memperkenalkanku kepada wanita yang baru datang. Aku hanya manggut sambil tersenyum sebagai sapaan.
"Bukannya staf pemasaran sudah ada yang mengisi Pak...! Kenapa Bapak menambahnya lagi?" tanya Ira sambil menatap ke arah atasannya, tanpa memperdulikanku yang menyapanya.
"Enggak, belum. sudah kamu jangan banyak tanya! Tolong kamu ajak Pak Farid dan tunjukkan Apa pekerjaannya, kamu nggak usah khawatir karena beliau adalah salah satu orang yang berkompeten di bidang pemasaran, kalau kamu mau, kamu bisa belajar sama beliau!
"Kalau menurut saya, tidak ada yang lebih ahli selain Pak Dali sendiri, orang-orang yang lain hanya karyawan biasa, yang mengikuti saran bapak."
"Ira.....! Panggil Dali sambil membulatkan mata.
"Maaf Pak.....! memang begitu keadaannya, Bapak adalah orang yang nomor satu di kantor ini."
"Sudah sana buruan, ajak Pak Farid...!" seru Dali yang sudah mulai meninggikan suaranya.
"Ayo Pak.....! ikut saya," ajak Ira setelah melihat keseriusan Dali, wanita itu mungkin tidak mau bermain berlama-lama dengan atasannya.
"Pak Dali saya ikut Bu Ira dulu....!" Pamitku sambil manggut memberikan hormat kepada orang yang lebih tinggi jabatannya.
__ADS_1
"Iya silakan Pak!"
"Terima kasih banyak, telah menerima saya bekerja di kantor ini," ujarku sebelum pergi kemudian mengulurkan tangan sebagai tanda rasa terima kasihku yang sangat besar.
"Sama-sama! semoga Pak Farid betah bekerja di sini,"
Akhirnya aku dan Ira pun keluar dari ruangan, setelah pintu ruangan kerja Asisten Manager tertutup. Ira mengajakku ke salah satu ruangan. aku yang anak baru hanya bisa mengikuti sambil menunduk, menatap lantai yang sedang aku pijak, sekaligus menghindari agar ketika ada orang yang kenal, mereka tidak mengenaliku.
Langkah kita semakin mendekat ke arah kantor, membuat jantungku semakin berdegup kencang, membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpaku. Bagaimana kalau di bagian kerjaku ada orang yang mengenali, terus dia mulai menceritakan keburukanku di masa lalu. pasti orang-orang akan menjauh, menghina, menertawaiku, karena dulu aku adalah orang yang menghianati sahabatnya sendiri. sekarang sahabat yang dikhianatilah yang menolongku, mempekerjakanku, memberikan kehidupan buat keluargaku.
Aku menenangkan diri dengan mencoba menarik nafas dalam, agar semua beban, agar semua keraguan yang menyelimuti bisa sirna. Ira yang terus berjalan dia tidak mengobrol sedikitpun, tak seperti ketika dengan Dali terlihat Dia sangat supel dan ramah.
Lama berjalan, akhirnya kita sampai di salah satu ruangan yang terlihat besar, di mana Di situ terlihat banyak orang yang sedang bekerja.
Prok! prok! prok!
"Perhatian semuanya.....! sekarang kita kedatangan karyawan baru lagi, padahal menurut keterangan Dali lowongan di bagian marketing sudah terisi penuh, tapi entah mengapa dia masih menerima orang ini," ujar Ira layaknya seorang bos besar yang sedang memberitahu karyawannya. Dia tidak sedikitpun menghormati Dali di hadapan karyawan-karyawan lain.
Orang-orang yang bekerja hanya berhenti sebentar, kemudian menatap ke arah Ira. Namun itu tidak lama, mereka kembali lagi melanjutkan pekerjaan masing-masing, tapi masih ada beberapa karyawan yang menatap ke arahku, mungkin mereka penasaran siapa yang akan menjadi rekan kerja mereka.
"Kami lagi kerja Bu, silahkan kalau mau berbicara! karena Kuping kami masih bisa mendengar," jawab salah seorang perempuan yang menyanggah.
Mendapat sanggahan seperti itu, terlihat Ira menarik nafas dalam, matanya sedikit membulat, menatap tajam ke arah orang yang berbicara. namun orang itu seolah Acuh, seolah tidak menganggap keberadaan gadis yang masih menatap ke arahnya.
"Pak Farid...! Silahkan Bapak bergabung dengan Pak Karto!" seru Ira sambil menatap ke arahku.
Aku pun mengangguk, kemudian mataku memindai ke arah orang-orang, mencari keberadaan orang yang bernama Karto. dari sudut ruangan, terlihat ada orang yang mengangkat tangan, mungkin itu adalah orang yang bernama Karto.
"Silakan tanyakan apa yang harus dikerjakan, katanya Bapak sangat kompeten di bidang pemasaran."
"Baik, Terima kasih Bu!" jawabku sambil manggut kemudian mendekat ke arah orang yang bernama Karto.
Karto pun bangkit menyambutku sambil mengulum senyum, kemudian dia menguluarkan tangan mengajakku berkenalan.
"Karto.....!"
__ADS_1
"Farid Pak....!"
"Silakan duduk di meja ini....!" perintah karto sambil menunjuk ke salah satu meja yang kosong, meja hanya dibatasi oleh sekat antara karyawan satu dan karyawan lain.
"Terima kasih Pak!" jawabku sambil manggut, Kemudian aku mendekat lalu duduk di kursi yang karto Tunjukkan. setelah melihat aku duduk orang yang menyuruh pun ikut duduk kembali, lalu menatap ke arah layar komputer yang ada di hadapannya.
Sedangkan Ira, dia duduk di salah satu sekatan yang terpisah dengan karyawan-karyawan lain. komputernya menyala namun dia tidak terlihat sedikitpun menatap ke arah layar, yang sering dia lakukan hanya menatap cermin yang sering dikeluarkan dari dalam tasnya.
"Maaf Pak, saya harus mengerjakan apa?" Tanyaku sama kartu yang masih tetap menatap ke arah layar.
"Sebentar Pak...! saya lagi tanggung nih, Bapak Nyalakan dulu saja komputernya! nanti saya kirim file-file yang harus dikerjakan," jawab Karto sambil tetap terfokus menatap ke arah layar.
Mendapat perintah seperti itu, Aku pun menekan tombol power di CPU, sambil menunggu Komputerku booting. aku menatap ke arah layar yang sedang dikerjakan oleh Karto. Jarak kita yang berdekatan sehingga aku bisa leluasa mengintipnya.
"Sedang membuat promo buat renovasi bukan Pak?" Tanyaku pelan agar tidak mengganggu karyawan-karyawan yang lain.
"Iya nih...! tapi saya bingung menentukan tagline-nya."
"Boleh saya memberi masukan?"
"Boleh...." jawab Karto sambil menatap ragu ke arahku.
"Cara mudah untuk kembali ke rumah. itu tagline-nya Pak! karena kalau rumah sesuai dengan harapan, sesuai dengan impian, maka kita akan sering pulang, karena rumah adalah tempat ternyaman dan teraman yang ada di dunia ini.
Mendapat saran dariku Pak Karto terdiam sesaat, seolah Sedang berpikir dengan tagline yang aku berikan. melihat rekan kerja yang terdiam, aku pun kembali menatap ke arah layar Komputerku, yang menampilkan pasir yang hijau dengan rumputan.
"Iya bener! bener! cara mudah untuk kembali ke rumah yaitu dengan merenovasi rumah sesuai dengan impian. karena kebanyakan orang-orang membeli rumah setelah jadi, mereka berpikir ketika membeli yang sudah jadi, akan lebih murah dibandingkan membangun dari awal." ujar Pak Karto tiba-tiba seperti itu, mungkin dia sudah mengerti dengan apa yang aku sampaikan.
"Jadi bagaimana Pak?"
"Saya akan pakai tagline itu, Tapi bagaimana kalau mau merenovasi kantor atau tempat usaha,"
"Berarti Bapak cukup menggunakan tagline, cara mudah untuk kembali."
"Iya benar, Segitu juga cukup! tapi kok bapak bisa secepat itu menentukan tagline-nya?"
__ADS_1
"Hehe, Itu mungkin kebetulan saja Pak," jawabku merendah.