
Pov Farid
Setelah semuanya selesai, aku dan Ira menuju ke meja makan untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan, karena kita harus membahas kerjaan dulu dengan klien.
Selesai makan kami bersama para staf perusahaan Mandiri group, diantar oleh pak Ramlan orang kepercayaan klien kami, meninjau lokasi yang akan dijadikan rumah yang jaraknya agak jauh dari pusat Kota.
Sampainya di lokasi staf-staf Mandiri group mulai bekerja sesuai bidangnya masing-masing. untuk mengecek kontur tanah, luasnya dan hal-hal yang lain yang akan dijadikan perencanaan pembangunan. awalnya pekerjaan itu aku kira akan menemukan kesulitan, Namun ternyata jam lima pun sudah selesai dilakukan peninjauan.
"Bagaimana nih?" tanya Ira sambil membagi tatap ke arah semua staf yang ikut ke Bogor.
"Apanya yang Bagaimana Bu?" tanya salah seorang karyawan.
"Apa kita mau pulang atau menginap, Kalau saya lebih memilih pulang, karena saya kasihan kalau meninggalkan Ibu sendirian dirumah!" ujar Ira memberi masukan.
"Kalau pulang Sayang dong kita sudah memesan hotel," tanggap salah seorang karyawan yang terlihat Tidak setuju.
"Gampang...! karena kita hanya baru berencana memesan Hotel, kalau kita pulang kita bisa mengambil uang itu untuk tambahan uang jalan kita!" jelas Ira memberikan solusi.
Kami semua pun terdiam saling bertanya, saling berdiskusi Bagaimana baiknya. namun setelah lama akhirnya mendapat keputusan bahwa kami semua akan pulang ke Jakarta.
"Bagaimana Pak Farid, nggak capek kan menyetirnya?"
"Nggak..! saya sangat senang kalau kita bisa pulang ke Jakarta, soalnya saya mempunyai acara dengan keluarga." jawabku yang merasa bahagia karena bisa merayakan ulang tahun istriku.
"Ya sudah kalau begitu, mendingan kita pulang saja. tapi beneran kan Bu ini nggak bohong?" Ujar salah seorang karyawan sambil menatap ke arah Ira.
"Apanya yang bohong?" ketus Ira.
"Kalau kita pulang, kita akan mendapat uang perjalanan yang lebih, karena kita tidak jadi menginap."
"Bisa diatur...!" jawab Ira dengan tegas.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja, kita berpamitan sama pak Ramlan dan membuat rencana Kapan kita bisa bertemu lagi, untuk membahas kelanjutan perencanaan pembangunan rumah atasannya." saran karyawan lainnya.
Akhirnya Ira pun menghampiri pak Ramlan yang sejak dari tadi menunggu, memantau kinerja pada staf karyawan Mandiri group. setelah terlihat berbincang beberapa saat, akhirnya Ira pun kembali sambil mengangkat jempol menandakan bahwa kita bisa pulang ke Jakarta sekarang juga.
"Beneran nih Pak Farid nggak apa-apa, kalau kita pulang ke Jakarta, Nanti Bapak kecapean?" tanya soalnya seorang karyawan yang mengkhawatirkanku.
"Nggak apa-apa! Saya sudah biasa ya sudah, ayo masuk! Agar nanti kita sampai ke Jakarta tidak terlalu malam," ajakku sambil membuka pintu masuk ke belakang kemudi.
Setelah semuanya berada di dalam, aku mulai menyalakan mobil Dali. kemudian menginjak kopling, memasukkan persneling lalu melepaskannya dibarengi dengan menginjak pedal gas, akhirnya mobil itu pun melaju meninggalkan kota hujan.
Perjalanan agak sedikit macet, karena ketika kita pulang kita berbenturan dengan para karyawan-karyawan lain yang keluar dari tempat kerjanya, sehingga mobilku tidak bisa melaju dengan cepat.
"Nggak ngasih tahu Bu Vina dulu, kalau Pak Farid nggak jadi menginap?" tanya Ira yang duduk di kursi samping kemudi.
"Enggak lah Bu..! Saya ingin membuat surprise buatnya. agar suasana semakin romantis," jawabku yang mengulum senyum, membayangkan Bagaimana bahagianya istriku, ketika aku bisa merayakan ulang tahun dengannya.
"Oh begitu....! berarti Pak Farid memang benar-benar suami yang selalu membahagiakan istrinya."
"Lagi berusaha menjadi yang terbaik."
Stap-staf lain yang merasa kecapean, Mereka pun mulai memejamkan mata menikmati perjalanan, begitupun dengan Ira yang meminta izin untuk beristirahat, membuatku sendirian mengemudi, namun meski begitu aku tetap terfokus karena aku merasa bahagia bisa menepati janji, bahwa hari ini kita akan mengadakan perayaan ulang tahun bersama Vina.
Keadaan pun semakin lama semakin gelap, digantikan dengan lampu-lampu yang berdiri di samping jalan, memberikan penerangan. lampu-lampu mobil terlihat menyorot dari arah belakang mendahului mobil yang kukemudikan. aku tetap memacu mobilku dengan kecepatan sedang, karena kita tidak sedang berburu-buru dan keselamatan adalah yang paling utama.
Mobil yang aku kendarai terus melaju, hingga akhirnya kita keluar di Kebun Jeruk. mobil pun sekarang sedikit tertahan, karena Masih Banyak pengendara yang baru pulang dari kantor atau baru berangkat untuk nikmati gemerlap malam di kota Jakarta.
Dengan perjuangan yang sangat melelahkan, akhirnya kami semua tiba di Kantor Perusahaan Mandiri Group. para karyawan yang ikut ke Bogor pun mulai turun dan mengucapkan terima kasih, sedangkan aku dan Ira masih berada di dalam mobil.
"Bagaimana Bu mau diantar pulang?" tanyaku sambil melirik ke arah Ira.
"Nanti aku telepon dulu Kak Dali, untuk menyampaikan laporan!"
__ADS_1
"Baik bu!"
Ira pun mengambil handphonenya, kemudian dia melakukan panggilan ke nomor atasannya. sedangkan para karyawan lain mereka mulai berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing, aku yang merasa tidak enak meninggalkan Ira sendirian, hingga akhirnya aku pun masih duduk menunggu Ira selesai memberitahu hasil kinerja kepada atasannya.
"Bagaimana?" Tanyaku sambil menatap Ira setelah dia memutus teleponnya.
"Aman terkendali, pokoknya semuanya beres! tapi Pak dali berpesan Pak Farid harus Mengantarkan saya ke rumah, nanti sekalian bawa saja mobilnya ke rumah Pak Farid, agar tidak pulang pergi. Soalnya kalau kembali lagi ke kantor nanti takut kemalaman," saran Ira.
Sebelum menjawab permintaannya, Aku pun melihat jam yang ada di tanganku. ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. "boleh, tapi kalau ada toko kue ulang tahun, saya mohon berhenti dulu!" jawabku memberi keputusan.
"Baik...! Gampang itu bisa diatur, ya sudah ayo berangkat!"
Akhirnya aku pun mengeluarkan mobil kembali dari kantor perusahaan Mandiri group menuju ke rumah Ira. di perjalanan mataku terus memindai ke arah samping kanan kiri jalan, mencari toko kue yang masih buka. beruntung sebelum sampai ke rumah Ira, di pertigaan jalan ada toko kue ulang tahun yang terlihat Lampunya masih menyala, menandakan toko itu masih buka.
"Tuh itu toko kuenya!" ujar Ira sambil menunjuk.
"Iya Bu...! Boleh kan saya berhenti dulu?"
"Boleh, ayo saya bantu pilihkan!"
"Mobil yang kukemudikan aku parkirkan di halaman toko kue, kemudian aku ditemani Ira turun dari mobil itu lalu masuk ke dalam.
"Kayaknya ini Kuenya sangat cocok buat perayaan ulang tahun Seorang Istri," ujar Ira sambil menunjuk etalase yang di dalamnya ada kue berbentuk hati.
"Kira-kira berapa ya harganya?" jawabku karena tidak memegang uang lebih, hanya memegang uang bonus perjalanan.
"Ngapain mikirin harga?"
"Soalnya semua uang yang saya dapat, saya serahkan sama istri saya!" jawabku sambil menundukkan pandangan, rasanya malu saja karena aku tidak memegang uang yang lebih.
"Sudah Biar saya aja yang bayarkan, hitung-hitung ucapan terima kasih karena Pak AFarid sudah mau mengantar saya."
__ADS_1
"Nggak ah Bu! kalau boleh saya minjam uangnya saja dulu, besok saya bayar, itu pun kalau uang saya kurang."
"Sudah nggak boleh nolak!" tegas Ira.