Dua Penghianat

Dua Penghianat
bag 6. Hadir lagi


__ADS_3

Pov Ira


Setelah memastikan, bahwa di depan terasku tidak ada orang yang jahil, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, pintu nya aku kunci kembali. kemudian masuk ke kamar untuk beristirahat mengumpulkan tenaga untuk hari esok yang lebih baik.


Mataku mulai terpejam perlahan, namun Entah mengapa kejadian yang tadi siang ketika ketiduran di taman komplek Pak Farid terbayang kembali. Entah mengapa bisa seperti itu, padahal jangankan di bangku yang yang hanya terbuat dari, di sofa yang empuk seperti di kantor, Aku tidak pernah tidur sejenak itu bahkan sampai membesarkan. dan yang masih mengganggu pikiranku adalah sosok bayangan wanita yang kepalanya terlihat pecah, berbalutkan darah yang mengalir menambah kengeriannya, Masa tidak kuat aku menarik selimut menutupi kepala.


Lama terlarut dalam lamunan lambunan menakutkan, akhirnya mataku mulai terpejam, pikiranku mulai pindah dari alam nyata ke alam impian. di mimpi itu, aku bertemu dengan Vina yang sedang berdiri di depan rumahnya.


"Ayo masuk ke dalam!" ajak Vina menyambutku dengan ramah.


"Pak faridnya emang Ada?"


"Ada di kamar sedang beristirahat," jawab Vina kemudian dia pun masuk ke dalam rumah.


Melihat tuan rumah sudah masuk, aku pun mengikutinya, kemudian duduk di ruang tamu. namun Vina dengan cepat menarik lenganku menuju ke ruang tengah.


"Mau ke mana, di sini aja!" Tolakku dengan halus


"Nggak, di dalam aja, biar kita bisa mengobrol, sambil menonton TV," jawab Vina.


Entah mengapa kejadian itu terasa begitu nyata, walaupun sebenarnya aku hanya Baru beberapa kali bertemu dengan Vina. tapi sekarang aku terlihat akrab, padahal dalam kenyataan aku tidak seakrab itu, kita lebih mengetahui batasan masing-masing.


Akhirnya kita berdua pun duduk di kursi yang berada di ruang tv, terlihat di mejanya ada kue membuatku mengerutkan dahi, karena kue itu persis seperti kue hati yang Pak Farid belikan untuk Hadiah ulang tahunnya.


"Kok, kuenya belum dipotong Kak?" Tanyaku sambil menatap ke arah Vina.


"Belum sempat!"


"Kenapa belum sempat?" Tanyaku yang merasa heran padahal keadaan sudah siang, masa iya dia tidak memiliki kecepatan untuk memotong kue.


Mendapat pertanyaan seperti itu, dia pun hanya terdiam. kemudian matanya menatap ke arah pintu kamar, membuatku mengerutkan dahi semakin tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan.


"Aku takut," jawab Vina tiba-tiba.


"Kenapa..., takut terluka Bukan? manja amat jadi perempuan," ujarku sambil mengulum senyum meledeknya.


Vina tidak menjawab, Dia hanya terus menatap ke arah pintu kamar. "di sana...! ada tiga orang," jawab Vina sambil menunjuk ke arah kamar yang berada di ruang tengah.


"Tiga orang bagaimana?"


"Ada aku, Bapak dan Farid."

__ADS_1


"Lah, kamu kok ngelantur. kamu kan ada di sini," jawabku sambil kembali menatap ke arahnya  namun ketika aku menatap dengan begitu lekat, tiba-tiba wajahnya berubah mengeluarkan darah memenuhi seluruh area wajah, kepalanya mulai terlihat retak, sehingga aku merasa takut dengan kejadian yang tiba-tiba seperti itu.


Agrrrrhhh!!!


Teriakku dengan kencang, karena takut melihat wajah semenyeramkan itu. dengan cepat aku pun bangun dari tidur, lalu duduk sambil mengusap wajah. Kemudian aku mengelus dadaku merasa bersyukur karena yang barusan terjadi hanyalah mimpi.


Ceklek!


Agrrrrrh!


Belum Hilang Rasa kagetku, tiba-tiba pintu kamarku terbuka. sehingga Aku berteriak kembali, dengan cepat aku menarik selimut untuk menutupi wajah, berharap tidak bisa melihat kekeraman yang kaku alami.


"Kenapa teriak malam-malam?" tanya suara seorang wanita, membuatku semakin merapatkan pejaman mata, lalu menutup telingaku, tidak mau lagi melihat atau mendengar kengerian yang akan terjadi.


Lama dalam keheningan  karena seluruh Panca indraku Aku tutup, agar tidak menangkap sesuatu yang menyeramkan, namun terasa ada yang menarik-menarik tangan yang menutup telinga.


"Kamu kenapa Dek, kamu kenapa..? ini Ibu...!" ujar suara itu terdengar kembali.


Suara Orang yang berbicara, adalah orang yang aku kenal. perlahan aku mulai membuka penutup telinga, kemudian membuka mata  ruangan kamarku sudah mulai terang, karena mungkin Ibu sudah menyalakannya.


"Ibu....!" panggilku sambil memeluk erat tubuhnya, kemudian aku menangis sejadi-jadinya, mengingat keseraman yang baru aku alami.


"Aku takut Bu...! aku takut....!" jawabnya sambil mempererat pelukan.


"Takut kenapa?" tanya ibu yang mungkin merasa penasaran.


"Ada hantu Bu...! ada hantu yang mengikuti Ira!"


"Hantu bagaimana, sudah kamu Tenangkan Diri. nih minum!" tawar Ibu sambil mengambil botol yang sengaja aku sediakan, agar ketika malam pengen minum tidak harus keluar dari kamar.


Mendapat tawarannya, aku tidak melepaskan pelukan. aku masih terbayang dengan mimpi buruk, mimpi bertemu dengan Vina yang kepalanya tiba-tiba pecah.


"Sudah Ayo minum dulu...!" ujar Ibu sambil melepaskan pelukanku, kemudian dia menatap lekat seolah ingin memastikan keadaan anaknya.


Setelah dipaksa beberapa kali, akhirnya aku pun mengalah. mengambil botol minum yang Ibu berikan, benar saja setelah meneguknya aku pun mulai tenang, kemudian memeluk Ibu kembali.


"Ada apa?" tanya ibu yang tak bosan menanyakan keadaan anaknya.


"Aku mimpi buruk B,  namun mimpinya sangat aneh rasanya begitu nyata."


"Mana mungkin ada mimpi seperti kenyataan, Karena mimpi dan kenyataan itu sangat berbeda jauh. seperti dua sisi pisau yang tidak akan bisa menyatu. mimpi ya mimpi, kenyataannya ya kenyataan!"

__ADS_1


"Emang begitulah bu keadaannya, aku mimpi bertemu dengan Kak Vina."


"Terus?"


Aku pun mulai menceritakan pengalaman buruk yang baru saja aku alami di dalam mimpi. bahkan pengalaman sebelum tidur aku ceritakan tak ada yang terlewat, agar Ibuku mengerti dengan apa yang sedang aku alami.


"Kok bisa aneh seperti itu ya mimpinya?"


"Ira juga heran bu, kenapa Ira bisa bermimpi buruk seperti itu, bahkan ini Mimpi yang kedua kali."


"Ya sudah kalau begitu, Kamu Tidur lagi saja, nanti bangun subuh kesiangan. ujar Ibu sambil melepaskan pelukanku, namun aku tahan agar dia tidak pergi.


"Aku takut Bu?"


"Sudah nggak usah takut itu kan cuma mimpi,"


"Ibu Jangan pergi... ibu tidur di sini aja temani Ira, karena Ira sangat takut," pintaku dengan sedikit manja.


"Kamu sudah gede, masa masih mau tidur sama orang tua."


"Tolonglah Bu, temani Ira malam ini saja."


"Ya sudah, sebentar ibu ambil selimut dulu, soalnya kamar kamu kan pakai AC, nanti Ibu kedinginan." jawab ibu membuatku sedikit lega, karena ada tempat yang bisa dijadikan perlindungan.


Ibu Pun melepaskan pelukanku, kemudian dia bangkit namun dengan cepat aku pun bangkit mengikuti ke kamarnya, setelah mengambil selimut kita pun kembali ke kamarku.


Aku tidak mematikan lampu, karena semakin gelap rasanya akan semakin takut, kegelapan membuat pandanganku tidak bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar kamar.


"Ayo tidur nanti kesiangan!" ajak ibu yang sudah memposisikan tubuhnya berbaring.


Aku pun mengangguk, kemudian merebahkan tubuhku di samping orang tua. mataku menatap ke arah langit-langit kamar, bayangan wajah yang sangat menyeramkan mulai memenuhi kelopak mataku, sehingga dengan cepat aku memeluk ibu.


"Jangan kencang-kencang meluknya, ibu engap!" dengus ibu yang terdengar kesal.


"Jangan tidur duluan! nanti kalau Ira sudah tidur, baru Ibu boleh tidur."


"Halah kok kamu jadi cemen begini sih dek, itu hanya mimpi tidak nyata."


"Tapi takutnya sama bu," jawabku tanpa melepaskan pelukan.


"Ya sudah Ibu aja yang meluk!" ujarnya sambil melepaskan pelukanku, kemudian dia memelukku, tangannya terasa lembut mulai mengusap kepala yang ditumbuhi oleh rambut.

__ADS_1


__ADS_2