Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 36 Istri Arfan sakit


__ADS_3

Pov Farid


Sepulangnya mengikuti acara tahlil di rumah Ira, aku dan Dali terus berjalan menyusuri gang yang nantinya tembus ke jalan raya. Sambil terus mengobrol masalah pekerjaan yang semakin lama orderan semakin menumpuk bahkan keteteran.


Dali terus memujiku, karena semenjak aku bergabung dengan perusahaan Mandiri Group, omset perusahaan naik berkali-kali lipat membuatku sedikit ada kebanggaan dalam diri. Karena aku tidak merasa menumpang hidup kepada mereka.


Lama berjalan akhirnya kita berdua sampai di depan mobil masing-masing, kebetulan Dali masih meminjamkan mobilnya untuk membantu kebutuhan Ira.


Setelah saling berpamitan, kita pun masuk ke mobil masing-masing. namun ketika aku hendak menyalakan mobil terlihat Dali yang mobilnya berada di depan, dia keluar kembali kemudian menghampiriku, dengan cepat aku pun menurunkan kaca.


"Ada apa Pak?" Tanyaku yang menatap heran.


"Pak Arfan menelepon! Kita disuruh ke rumahnya.!"


"Ada apa dengan Pak Arfan, kok tiba-tiba?"


"Kurang tahu, namun kayaknya Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan."


"Ya sudah, ayo kita ke sana! saya mengikuti di belakang. soalnya saya belum tahu di mana rumah pak Arfan."


Akhirnya Dali pun berlari kembali menuju ke arah mobilnya, kemudian dia masuk, tak lama setelah itu mobil yang dikemudikannya melaju meninggalkan tempat parkiran. Melihat Dali pergi dengan segera aku menginjak pedal gas, melepaskan kopling mengikuti mobilnya.


Mobil kita terus melaju membelah hingar-bingar kota Jakarta, kelap-kelip lampu jalan menambah suasana megah kota. di pinggir jalan terlihat banyak orang yang menjajakan makanan-makanan malam. lama di perjalanan, akhirnya mobil kita masuk ke salah satu perumahan yang ada di Menteng Jakarta. setelah melalui pemeriksaan yang agak ketat dan menyampaikan maksud dan tujuan, mobil kita pun diperbolehkan masuk.


Aku terus mengikuti mobil Dali, sehingga mobilku terhenti di salah satu rumah termegah di komplek, rumah berlantai 2 dengan arsitektur minimalis. setelah menekan klakson pintu gerbang pun terbuka, dengan cepat mobil kita berdua masuk ke dalam halaman rumah yang begitu besar.


Dari arah teras terlihat Arfan yang berjalan agak cepat, dengan menggandeng istrinya yang terlihat sempoyongan. melihat kejadian seperti itu dengan cepat aku dan Dali pun turun lalu menghampiri atasan kita.


" Bu Karla kenapa?" tanya dali.


"Nggak tahu Dal, tadi dia muntah-muntah tak berhenti. Oh iya kamu tolong secepatnya pergi ke rumah sakit dan urus pendaftarannya. saya dan Farid menyusul di belakang," jawab Arfan sambil membuka mobil yang kubawa, kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam mobilku.


"Ayo buruan....! Tolong antar saya.!" pinta Arfan mengagetkanku, karena masih Terkesima melihat kejadian yang begitu cepat.


Aku berlari Kembali menuju ke arah kemudi, tanpa berlama-lama aku mengeluarkan mobil dari halaman rumahnya. sedangkan Dali sudah berangkat duluan, menuju ke rumah sakit untuk menyelesaikan pendaftaran.


"Kita ke Rumah Sakit mana Pak?" Tanyaku ketika keluar dari gerbang Komplek.

__ADS_1


"Tanya Dali!" serunya singkat.


Aku mengambil handphone yang ada di dasbor mobil, kemudian menghubungi nomor Dali, tak lama panggilan pun terhubung, dan dia menjelaskan ke mana atasannya akan dibawa.


Setelah mengetahui rumah sakit yang akan dituju, aku mulai memfokuskan pandangan menatap ke arah depan, namun sudut mataku menangkap Arfan, yang sedang mengelus-ngelus istrinya, yang terlihat memejamkan mata.


Uweeek! Uweek!


Tiba-tiba Karla muntah kembali, membuat Arfan terlihat sangat panik, dengan cepat dia mengelus-ngelus punggung istrinya.


"Perlu berhenti Pak?" Tanyaku yang tetap menetap ke arah depan.


"Nggak perlu...! tolong tambah kecepatan agar kita cepat sampai di rumah sakit.!"


"Baik pak!" Jawabku mengangguk, kemudian menginjak pedal gas dengan agak sedikit dalam, sehingga mobil yang aku kemudikan melaju dengan cepat, hingga akhirnya kita sampai di depan rumah sakit. terlihat Dali dan beberapa perawat sudah menunggu, mungkin begitulah ketika orang yang punya duit sakit, layanan pun akan diberikan sangat ekstra. berbeda kalau menggunakan kartu, jangankan disambut mengemis pun diabaikan.


Setelah mobilku terparkir, dengan cepat beberapa perawat membawa ranjang transfer pasien ke dekat mobilku, kemudian membantu Karla untuk segera mendapatkan penanganan.


Setelah melihat Karla dibawa masuk ke dalam rumah sakit, aku memarkirkan mobil di tempat yang Semestinya. kemudian keluar berjalan masuk ke dalam menuju ruang ICU. Setelah sampai di ruang tunggu, terlihat Dali yang sedang duduk du salah satu bangku panjang yang ada di koridor. sedangkan Arfan, Dia terlihat sangat gelisah, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan ICU, sesekali dia mengintip ke arah kaca yang ditutup oleh gorden.


"Bagaimana keadaannya?" Tanyaku sambil duduk di samping Dali.


"Semoga aja tidak ada yang membuat kita khawatir."


"Amin.!" ujar Dali yang terlihat menarik napas, Mungkin dia merasa khawatir, takut terjadi sesuatu sama istri atasannya.


"Maaf jadi merepotkan kalian!" ujar Arfan yang terlihat duduk di kursi tunggu, yang berada di koridor di hadapan kita.


"Gak Apa-apa Pak! justru kalau bapak tidak menghubungi kami, Kitalah yang akan menyesal." jawab Dali yang terlihat tidak dibuat-buat.


"Terima kasih banyak! Tolong doakan Semoga istri saya tidak apa-apa!"


"Amin! Emang kejadiannya bagaimana, kok bisa Bu Karla  muntah-muntah?"


"Kurang tahu Dal! Sebelum saya berangkat menuju tempat Ira, Dia terlihat baik-baik saja, Bahkan sehabis magrib kita sempat makan bersama. namun ketika pulang aku tidak menemukan istriku di kamarnya, Setelah Aku cari ternyata dia berada di kamar mandi sambil muntah-muntah, hingga tubuhnya lemas. Tadinya Aku mau menghubungi bapak dan ibu, namun aku takut mereka khawatir, jadi aku menghubungi kamu."


"Semoga bu karla baik-baik saja!"

__ADS_1


Amin!


Ruangan koridor pun Kembali ke semula, menjadi ruangan sepi di mana tiap kekhawatiran hinggap di semua orang yang berada di tempat itu. lama menunggu akhirnya dokter yang memeriksa Karla keluar dari ruang ICU, dengan cepat Arfan pun bangkit lalu menghampirinya.


"Bagaimana istri saya dok?"


"Alhamdulillah bu Karla tidak apa-apa, ini adalah gejala yang umum bagi setiap wanita yang sedang memasuki fase kehamilan."


"Maksudnya dok?" tanya Arfan entah dia tidak mendengar, atau tidak percaya.


"Iya! istri bapak sedang hamil, dan setiap wanita hamil fase seperti ini, adalah fase yang wajar. Bahkan bukan cuma muntah-muntah wanita hamil juga akan mengalami pusing, akibat penurunan darah, dan masih banyak yang lainnya. Bapak harus sabar! harus siaga terus untuk membantu istrinya!"


"Serius istri saya hamil?" tanya Arfan yang masih tidak percaya.


"Serius pak! kalau untuk lebih meyakinkan, nanti saya akan tunjukkan hasil USGnya!'


"Dali istri saya hamil dal! istri saya hamil!" ucap Arfan sambil menatap ke arah asisten kepercayaannya.


"Selamat pak....! selamat, akhirnya sebentar lagi bapak akan jadi lelaki sesungguhnya," ujar Dali sambil mengulurkan tangan memberi selamat, wajahnya dihiasi dengan senyum penuh kebahagiaan, berbeda denganku yang sedikit meringis, karena telah setahun pernikahan, Vina tak kunjung hamil.


Arfan pun memeluk Dali, mungkin kalau tidak malu dia akan berjengkak-jengkrak menari-nari layaknya film-film yang dari Bollywood. Setelah memeluk Dali, dia pun memelukku dengan begitu erat, pelukan yang dulu sering kita lakukan, pelukan seorang sahabat yang sedang mendapat kebahagiaan.


"Selamat ya Pak Arfan! untuk kehamilan istrinya," gumamku sambil membalas pelukannya.


Setelah memeluk kita berdua Arfan pun menghadap kembali ke arah dokter yang masih berdiri, mungkin dia juga ikut merasakan kebahagiaan yang sedang atasan kami rasakan.


"Terus kapan saya bisa menemui istri saya?"


"Sebentar lagi,, bapak bisa menemui beliau. sekarang sedang diberikan penanganan, agar mual dan pusingnya tidak terlalu. untuk itu silakan menunggu kembali!" saran Dokter sambil masuk kembali ke dalam ruangan ICU.


Setelah dokter itu masuk Arfan pun membagi tatap ke arah kita berdua, kemudian kedua sudut bibirnya terangkat, layaknya orang yang kurang waras, karena mungkin kebahagiaannya sudah mencapai tingkat teratas.


"Saya doakan istri Pak Farid segera menyusul!" ujar Arfan yang mungkin dia paham dengan perasaanku, karena dulu juga dia sempat merasakan hal yang sama, istrinya tidak kunjung hamil, karena Erni mengkonsumsi KB.


"Terima kasih banyak atas doanya Pak! semoga bu Karla dan janin yang dikandungnya, diberikan kesehatan, keselamatan!"


Amin! amin!

__ADS_1


Akhirnya kita bertiga duduk kembali, sambil terus mengobrol, mendengarkan cerita Arfan yang sedang mendapat kebahagiaan, layaknya seorang anak yang sedang bercerita terhadap bapaknya. dia terus mengulang kejadian yang hari itu dia alami, yang tak menyangka bahwa istri yang dikhawatirkannya sakit, ternyata sedang mengandung anak pertamanya.


Lama menunggu, akhirnya terdengar suara pintu yang terbuka kemudian keluarlah ranjang transfer pasien, yang didorong. melihat istrinya sudah keluar Arfan pun dengan cepat bangkit, sambil mendekat ke arah kepala Karla. Dia memegang tangan istrinya dengan begitu erat, Seperti takut kehilangan.


__ADS_2