Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 21 PENYAMBUTAN YANG SANGAT BAIK


__ADS_3

POV Farid


Semakin lama waktu pun semakin maju, hingga akhirnya kantor Mandiri group terlihat mulai ramai, layaknya seperti kantor-kantor pada umumnya.


Aku terus menunggu Dali datang sambil duduk di kursi panjang yang ada di ruang tunggu. Namun sayang orang yang ditunggu tak kunjung menampakan batang hidungnya. Entah kenapa dia bisa telat seperti itu, padahal menurut satpam, Dali tidak pernah telat, tidak pernah datang lewat dari waktu kerja. Perasaanku mulai ragu dengan apa yang diucapkan oleh asisten Arfan, tentang lowongan pekerjaan di kantornya.


Sejam, dua jam berlalu, hingga akhirnya kira-kira pukul 10.00, terlihat dari arah pintu ada seseorang yang sangat aku kenal. Dengan tergesa-gesa dia berjalan menghampiri ke arahku yang sudah bangkit hendak menyambut kedatangannya.


"Pak Farid....! Pak Farid, sudah lama menunggu?" tanya Dali setelah berada di hadapanku, kemudian dia mengulurkan tangan untuk mengajakku bersalaman.


"Lumayan Pak, saya tadi datang ke sini jam 08.00-an, Saya takut mengecewakan bapak." jawabku sambil mengulum senyum menyembunyikan kegetiran yang ada dalam hati.


"saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena saya telat datang ke kantor. tadi sebelum berangkat ke sini, istri saya muntah-muntah tak berhenti. Saya khawatir takut terjadi apa-apa sama Calista, Apalagi kemarin kita habis makan-makan  di luar, takut ada makanan yang mengandung racun. hingga akhirnya saya putuskan untuk mengantarnya terlebih dahulu ke rumah sakit, namun setelah check up, alangkah bahagianya saya Pak, ternyata istri saya muntah-muntah bukan karena keracunan makanan,"


"Terus kenapa Pak?" tanyaku yang mulai antusias mendengar cerita Dali.


"Istri saya sedang isi pak!" jawab Dali sambil mengulung senyum, mungkin merasa bahagia dengan apa yang didapatnya.


"Oh begitu.....! Selamat atas kehamilan istrinya pak, saya sangat senang mendengarnya." Jawabku dengan raut wajah penuh kebahagiaan. memang benar, ketika mendengar ada orang yang hamil, walaupun Vina belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, aku ikut merasa bahagia dengan pencapaian orang lain.


"Iya Pak! Sekali lagi saya mohon maaf."


"Nggak apa-apa Pak, padahal Bapak gak usah datang ke kantor. temanin istri bapak."


"Nggak enaklah pak, ka  Saya sudah punya janji dengan Pak Farid, Lagian ini tugas saya sebagai seorang karyawan."


"Hebat.....! ya sudah kalau seperti itu, semoga janin yang ada dalam istri bapak diberikan kesehatan dan keselamatan. Semoga istri saya cepat menyusul." Ujarku mendoakan, karena anak pertama dali tidak sempat bertahan lama, anaknya meninggal setelah beberapa saat dilahirkan.


"Amiiiin! Terima kasih doanya, semoga anak yang kedua Saya, diberikan cerita hidup yang lama," ujar Dali terlihat raut wajahnya berubah seketika, yang awalnya sangat berbahagia. namun ketika berbicara tentang almarhum anaknya, dia pun terlihat sedih. "Oh iya maaf! kita malah ngobrol di sini, Ayo ikut saya!" ajak Dali sambil berjalan mendahului, Mungkin dia tidak ingin terfokus ke masa lalu yang sangat menyedihkan.

__ADS_1


Mendapat ajakannya seperti itu, Aku hanya mengangguk kemudian berjalan di belakang asisten Arfan. aku terus berjalan dengan menundukkan pandangan, takut bertemu dengan karyawan-karyawan lama, yang dulu pernah bekerja di perusahaan Erni Group. Karena menurut keterangan yang aku dapat, sebagian besar karyawan lama adalah karyawan pindahan dari kantor almarhum istriku. Aku yakin semua karyawan itu tahu betul masa laluku yang begitu kelam.


Kita berdua terus berjalan menuju ke arah lift, setelah sampai Dali pun menekan tombol untuk membukanya. Lampu indikator pun terlihat menunjukkan tanda panah menurun, hingga tak lama pintu lift itu terbuka.


"Ayo pak!" ajak Dali yang sudah masuk duluan ke dalam.


Setelah berada di dalam, Dali pun terus mengajakku mengobrol dengan begitu ramah. kalau melihat penyambutannya yang begitu luar biasa, aku merasa malu dengannya, karena dia dari dulu adalah asisten kepercayaan Arfan. sehingga kita sering bertemu, namun aku tidak pernah mau menyapanya, karena menganggap level kita berbeda jauh.


Pintu lift pun terbuka, kita pun terus berjalan menuju salah satu ruangan yang berada di lantai tiga, hingga akhirnya langkah kita terhenti Di depan pintu yang bertuliskan Asisten Manager.


"Masuk Pak!" ajak Dali setelah membuka pintu.


"Terima kasih Pak Dali, tapi kalau bisa jangan panggil Bapak. Cukup saya saja yang memanggil dengan sebutan itu.


"Nggak papa, Pak, kalau di kantor kita harus agak formal sedikit, hehehe." Canda Dali, mungkin agar kita tidak Canggung.


"Silakan duduk!" ujar Dali Setelah dia duduk di kursi yang berada di ruangan Asisten Manager.


Aku pun mengangguk, kemudian duduk di hadapan Dali. pandanganku tertunduk tidak berani menatap ke arah orang yang berada di hadapanku. Entah mengapa aku bisa secanggung ini, padahal Dali selalu mencandaiku, agar diantara kita tidak ada kecanggungan. Mungkin karena bayangan masa lalu selalu menghantui, membuatku agak minder mengobrol dengannya. "Terima kasih Pak!" hanya kata itu yang keluar dari mulutku.


"Bagaimana lukanya sudah sembuh?" tanya Dali terus mencairkan suasana.


"Alhamdulillah Pak...! cuman tinggal lebam sedikit, itu wajar buat laki-laki," jawabku sambil mengulum senyum.


"Syukurlah kalau begitu, kirain kemarin bapak menelepon, Bapak keterusan sakit ,tadinya saya sudah sangat khawatir."


"Terima kasih Pak! Oh iya, saya ke sini mau memastikan tentang pembicaraan kemarin di telepon. Apakah benar lowongan pekerjaan di bagian staf pemasaran masih tersedia"


"Masih Pak....! Masih....! saya sangat berterima kasih, karena bapak sudah mau membantu perusahaan kami. Saya yakin kalau bapak berada di bagian pemasaran, omset Perusahaan kita akan melambung tinggi." Ujar Dali yang masih tetap memujiku.

__ADS_1


"Harusnya saya yang mengucapkan terima kasih, karena bapak sudah mau menerima saya bekerja di Mandiri Group, tapi kalau boleh tahu, kapan saya mulai bekerja?"


"Hari ini Bapak boleh mulai bekerja, sebentar saya panggilkan orang yang berada di bagian pemasaran, agar bisa membantu pekerjaan apa yang harus Bapak kerjakan." jawab Dali sambil mengambil gagang telepon kemudian ditempelkan di telinganya.


"Ira....! Tolong kamu ke sini," pinta Dali Setelah telepon itu terhubung, kemudian dia pun menutup kembali teleponnya.


"Beneran saya diterima bekerja di sini pak?" Tanyaku seperti orang yang belum percaya.


"Bener lah Pak! apa saya terlihat sedang bercanda?"


"Terus bagaimana dengan Pak Arfan?"


"Kemarin setelah Pak Farid menelepon, saya langsung menelepon Pak Arfan, yang sedang berbulan madu. dia pun dengan sangat senang menyambut kehadiran bapak di kantor kita. untuk sekarang Bapak jangan banyak pikiran, jangan nggak enak hati, Bapak harus fokus bekerja dan bantu perusahaan kami agar lebih maju." nasehat Dali seolah dia tahu dengan apa yang kurasakan. Namun Tak sedikitpun terlihat di raut wajahnya ada dendam atau ada kekesalan yang hendak membalas kejahatanku waktu dulu.


"Saya malu Pak!"


"Malu kenapa?"


"Malu karena waktu dulu saya selalu jahat sama Bapak, sama Pak Arfan juga, sekarang kalianlah yang menolong hidup saya."


"Yang lalu Biarkan Berlalu, Jadikan semua pelajaran agar kedepannya tidak melakukan hal yang sama, sekarang kita mulai membuka lembaran baru, menulis dengan cerita-cerita yang indah, yang berkesan, sehingga bisa menjadi kebanggaan ketika tua nanti."


Truk! truk! truk! truk!


Obrolan itu terhenti, ketika pintu ruang kantor Dali ada yang mengetuk. "masuk....!" seru Dali sama orang yang berada di luar.


Pintu ruangan itu pun didorong, kemudian terciumlah wangi yang begitu menyengat, wangi seorang perempuan yang sangat khas. membuat mataku tidak tahan ingin melihat Siapa yang datang. terlihatlah ada seorang gadis cantik dengan menggunakan rok hitam sepaha, dipadukan dengan Blazer coklat memperlihatkan kemeja putih yang terlihat agak tipis, dia pun manggut memberi hormat kepada atasannya, bibirnya yang merah dengan gincu, sudutnya sedikit tertarik ke atas."


"Siang pak!" sapa wanita itu sambil manggut.

__ADS_1


__ADS_2