Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 10 gak apa-apakan?


__ADS_3

Pov Arfan


Pagi itu Sesampainya di kantor, dengan segera aku masuk ke kedalam ruangan. Meski banyak orang yang menatapku penuh tanya, mungkin mereka beranggapan kenapa aku sudah masuk kantor, Padahal baru saja menikah. mereka tidak tahu Kalau istriku sedang datang bulan, sehingga acara malam bulan madu ditangguhkan sampai beberapa hari ke depan.


Kira-kira pukul 09.00, aku yang sedang berkutat dengan semua Project yang sedang perusahaan tangani, pintu kantorku ada yang mengetuk.


"Masuk!" aku menyeru orang yang berada di luar.


"Selamat pagi Pak!" sapa Dali sambil manggut memberi hormat.


"Pagi juga dal, Silakan duduk!"


"Nggak jadi Libur pak, katanya mau libur seminggu?" tanya asistenku Setelah dia duduk.


"Ditunda!" jawabku singkat.


"Kenapa?"


"Kayaknya kamu nggak harus tahu Alasannya kenapa aku menunda acara liburan setelah pernikahan."


"Baik, Maaf Pak!"


"Tolong kamu cari tahu tentang kampung sukadarma, yang berada di Sukabumi," pintaku mulai memberi tugas.


"Untuk apa Pak?"


"Aku mau berbulan madu ke sana, Namun aku belum tahu kondisinya seperti apa?"


"Oh begitu emang ada apa di sana, kok bapak lebih memilih ke Sukabumi, daripada ke luar negeri?" tanya Dali sambil mengerutkan dahi.


"Pengennya ke luar negeri, namun istriku lebih memilih ke sana. Sekalian tolong cek juga tempat itu, aman gak buat anak-anak."


"Baik Pak!"


"Oh iya, kamu kapan mau liburan, perasaan kamu belum pernah ngambil cuti?" Tanyaku yang mulai mengkhawatirkan kesibukan asisten yang selalu membantuku.


"Saya nggak berani libur Pak! saya takut perusahaan yang sudah kita Rintis terjatuh kembali."


"Gak Boleh seperti itu, Kamu harus menikmati hidup, jangan mikirin pekerjaan terus!" aku mulai memberikan nasihat, Padahal aku juga sama belum pernah mengambil cuti kerja.


"Iya nanti saya libur pak!"


"Jangan nanti-nanti, setelah liburan saya berakhir. kamu harus mengadakan liburan bersama istrimu. sesekali kamu harus punya waktu buat keluarga, jangan berkutat terus dengan pekerjaan."


"Baik Pak! nanti saya akan coba pikir-pikir dulu."


"Nggak boleh berpikir, kamu harus mengikuti perintah saya!"


"Baik Pak, terima kasih!"

__ADS_1


"Oh iya, kamu menemui saya ada urusan apa?" tanyaku mulai mengintrogasi asistenku.


"Nggak ada Pak, semua Project yang kita tangani aman terkendali. saya datang ke sini hanya untuk mengecek kebenaran Apakah Bapak beneran masuk atau tidak. Dan saya takut ada masalah, sehingga bapak yang harusnya berbulan madu, datang ke kantor untuk mengurus pekerjaan."


"Nggak ada Dal, terima kasih atas perhatiannya. Ya sudah sana kembali lagi bekerja, dan tolong cari tahu tentang kampung sukadarma."


"Ada lagi pak?" tantang Dali.


"Kalau tempat itu sangat bagus untuk dikunjungi dan ramah bagi anak-anak, Tolong kamu pesankan tempat menginap di sana."


"Buat berapa orang?"


"Kamar buatku dan Karla, dan beberapa kamar untuk anak-anak yang ikut liburan."


"Anaknya Berapa orang pak?"


"Mungkin 20 orang, kamu pesan saja untuk 25 orang. namun karena mereka anak kecil biarkan saja mereka tidur bersama-sama, biar mudah mengawasinya."


"Siap, Baik! saya akan memberikan laporan secepatnya!"


"Terima kasih!"


Akhirnya Dali pun bangkit dari tempat duduknya untuk kembali ke ruangan tempat dia bekerja. namun sebelum keluar terdengar ada orang yang mengetuk pintu ruanganku.


"Masuk!" seruku.


Pintu ruangan itu terbuka, lalu masuklah seorang wanita dengan menggunakan kacamata besar, berambut panjang tergerai lurus.


"Maaf mengganggu Pak!" Ujar perempuan itu sambil manggut menatap ke arahku.


"Iya kenapa Ra, Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sambil menyilangkan tangan di depan wajah.


"Nggak ada Pak! saya mau bertemu pak Dali, Soalnya ada pekerjaan yang harus dibicarakan."


"Iraaaaa! kamu nggak sopan banget masuk ke ruangan Pak Arfan, tanpa ada kepentingan. kalau kamu mau bertemu dengan saya, tunggu saya sampai selesai bertemu dengan Pak Arfan." ujar Dali dengan membulatkan mata menatap ke arah wanita itu.


"Maaf Pak Dali! saya tidak akan ulangi lagi, Saya akan tunggu Bapak di luar." ujar Ira sambil manggut menatap ke arahku, kemudian dia keluar kembali lalu menutup pintunya.


"Maaf pak! kelakuan Ira kalau dia kurang sopan," ujar Dali yang terlihat seolah tidak enak atas kelakuan bawaannya.


"Sudah , masalah seperti itu jangan diperpanjang, Mungkin ada sesuatu hal yang penting sehingga membuatnya ingin bertemu kamu dengan cepat."


"Ya sudah, kalau seperti itu saya pamit dulu Pak!" ujar Dali sambil manggut, kemudian dia pun keluar dari pintu. terdengar suara orang yang mengobrol, lalu pergi menjauh dari tempatku bekerja.


Hari itu, aku habiskan untuk bekerja seperti biasanya seperti aku yang belum nikah, hingga pukul 16.00. akhirnya aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


Setelah sampai di rumah, terlihat Karla sedang duduk di teras menatap ke arah mobil yang baru datang. setelah keluar dari mobil dengan bergegas aku menghampirinya.


"Assalamualaikum!" ujarku sambil melempar senyum.

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" jawabnya yang sudah bangkit dari tempat duduk. kemudian dia menyambutku dengan mengambil tangan kanan lalu diciumnya. Tidak sampai di situ, Karla pun mengambil tas Yang aku bawa.


"Kenapa kok diam di teras, bosen ya?" Tanyaku sambil menggandeng tangan Karla.


"Nggak! aku nggak bosen, aku lagi nunggu Kakak pulang."


"Serius?" Tanyaku sambil menatap ke arah wajahnya.


"Seriuslah! emang aku pernah bohong kayak kakak," balas Karla sambil mendengus kesal, namun membuatnya terlihat imut seperti pertama kali kita bertemu.


"Terima kasih banyak ya!" hanya kata itu yang keluar dari Mulutku sambil terus menggandeng Karla masuk ke dalam rumah. kemudian menghampiri ibu yang seperti biasa dia sedang menikmati waktu senja, dengan menatap tanaman di samping rumah.


Seusai Menemui ibu, aku diajak Karla untuk langsung naik ke lantai atas, Di mana kamar kita berada.


"Mandi dulu, biar seger! nanti aku buatkan jus." seru Karla yang baru kembali dari balkon setelah mengambilkan handukku.


"Jus apa?"


"Kakak maunya jus apa?"


"Emang Buahnya ada?"


"Ada, tadi aku ikut ke pasar bersama Si Mbok."


"Jus alpukat saja, kayaknya enak!"


"Ya sudah, ayo mandi dulu." Seru istriku sambil menarik tangan, lalu mendorongu menuju ke arah kamar mandi. namun ketika aku tarik untuk ikut masuk ke dalam kamar, dengan cepat dia menghempaskan genggaman tanganku. dengan tersenyum penuh kemenangan, dia keluar dari kamar untuk membuat apa yang dia tawarkan.


Sehabis mandi kita berdua duduk di balkon lantai atas, sambil menikmati jus yang terasa dingin.


"Kak!" Panggil Karla sambil menatap ke arahku,  matanya yang bulat memenuhi seluruh area wajah.


"Iya kenapa sayang?" jawabku sambil meletakkan kembali gelas setelah meminum isinya.


"Nggak apa-apa kan, kalau aku panggil suamiku dengan panggilan kakak?"


"Emang kalau panggil Sayang nggak mau?" Tanyaku membalas tatapan wanita cantik yang sudah sah menjadi istriku.


"Mau, tapi malu Kak. aku nggak pernah bilang sayang-sayangan," jawabnya sambil menundukkan pandangan, mungkin menyembunyikan wajahnya yang memerah seketika.


"Sayang mau manggil aku apa aja, Itu terserah sayang, yang terpenting itu tidak memberatkan dan tidak membuat terpaksa. karena kata sayang kata kasih itu tidak hanya diucapkan, tapi dari perbuatan kita yang bisa saling menghormati, menghargai. layaknya pasangan pada umumnya, pasangan yang sakinah mawadah warohmah.


"Terima kasih! satu lagi boleh nggak?"


"Apanya yang boleh?" tanyaku menatap lekat wajah oval milik istriku.


Ditanya seperti itu Karla kembali menundukkan pandangan. seolah Dia sedang mengumpulkan keberanian dengan apa yang hendak ia ungkapkan. "boleh nggak kalau Malam ini kita tidurnya di rumah bapak?" ujar gadis cantik itu tanpa mengangkat pandangan.


"Boleh....! boleh.....! kirain Sayang mau minta apa, aku sudah deg-degan, takut tidak bisa menuruti apa yang Sayang mau. ya sudah! ayo kita siap-siap Nanti keburu Magrib."

__ADS_1


__ADS_2