Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 42 Vina, Erni sama Saja


__ADS_3

Pov Farid


Melihat bapak yang membuang muka, membuat hatiku merasa sedikit kesal, karena merasa tidak dihargai, dengan semua pengorbanan keluargaku yang mengurusnya. namun meski begitu, aku menyabarkan diri dengan mengelus dada, kemudian duduk di kursi yang berada di samping bapak.


"Bagaimana kondisimu Pak?" Tanyaku dengan lembut, namun dia tetap mengabaikan, bahkan terlihat matanya mulai terpejam seolah tidak mau menatap ke arahku.


"Kenapa Bapak memperlakukan Farid seperti ini? kalau saya punya salah sama Bapak, tolong maafkan...! karena kalau bukan bapak yang memaafkan saya, siapa lagi? tapi saya minta Bapak berbicara agar Farid tahu kesalahannya di mana, sehingga saya bisa dengan cepat memperbaiki diri," ujarku masih dengan lembut setelah tidak mendapat jawabannya.


Mendengar pernyataan yang aku ucapkan, mata Bapak terlihat mulai terbuka, kemudian menatap ke arahku. matanya yang Sayu terlihat sangat mengkhawatirkan, sangat menyedihkan. membuat hatiku sedikit teriris merasa sedih melihat kondisinya yang memprihatinkan.


"Kesalahanmu Cuma Satu, kamu menikah dengan wanita yang masih keturunan dengan Erni, Apa kamu nggak sadar? bahwa mantan istrimu dulu itu sangat jahat, sangat aneh. Bapak yakin Vina juga memiliki darah jahat yang mengalir di tubuhnya." jelas bapak dengan pelan namun aku Cukup jelas mendengarnya, karena ruangan inap itu sangat sepi.


"Kok, bapak punya pemikiran sejahat itu? Vina itu berbeda dengan Erni..! Vina sangat baik, Bahkan dia selalu memotivasiku untuk terus semangat, untuk terus berjuang sehingga aku sekarang sudah bekerja di perusahaan Arfan," sanggahku yang tidak terima.


"Apa....! Kamu bekerja di perusahaan Arfan?" tanya Bapak yang terlihat kaget, karena semenjak kejadian berebut paham ketika aku meminta uang sama beliau, aku belum sempat berkunjung menemuinya.


"Iya aku bekerja di perusahaan Mandiri Group."


"Emang kamu nggak punya rasa malu, Emang kamu nggak punya otak, masa iya! kamu meminta tolong sama orang yang telah kamu khianati, sama orang yang telah kau kecewakan?"


"Punya Pak...! namun keadaanku sekarang sangat menyedihkan, bapak saja yang memiliki uang, meski uang itu dihasilkan gara-gara aku berhubungan dengan Erni. namun tak sedikitpun bapak mau berbagi denganku, sehingga mau tidak mau aku harus tetap bekerja di perusahaannya."


"Lagian salah kamu! udah bapak ingatkan, kamu tidak boleh menikah dengan si Vina. tapi kamu masih mengeyel, tapi kamu masih kekeh dengan pendirianmu. sekarang kamu Nikmati saja penderitaan yang menimpamu, karena orang tuamu sudah mengingatkan dengan berbagai cara."


"Apa salahnya Vina Pak, Dia adalah wanita terbaik yang dikirim Allah untukku. Dia sangat perhatian, Dia sangat menyayangiku, Bahkan dia selalu mengalah ketika aku sedang mengalami masalah."


"Sudahlah....! Bapak capek, Bapak mau istirahat..! dada Bapak terasa nyeri," putus bapak sambil memejamkan mata kembali.


"Tolonglah, Pak! tolong dewasa sedikit, jangan hanya ketakutan yang tidak beralasan, bapak bisa menyamakan Vina dengan Erni. karena mereka memiliki tubuh yang berbeda dan pemikiran yang berbeda. begitupun dengan sifatnya pasti berbeda!" tahanku yang mengingatkan orang tua, namun Bapak tak bergeming dia hanya memejamkan mata, seolah tidak mau melanjutkan pembicaraan.

__ADS_1


Truk..! truk...! Trukk!


Dari arah pintu terdengar suara ketukan, dengan perlahan aku pun bangkit untuk membuka pintu, sekaligus mengecek Siapa orang yang mengetuk, karena orang itu tak kunjung masuk. setelah pintu terbuka terlihatlah sepasang manusia, yang sedang mengulum senyum menyambutku.


"Selamat sore Pak Farid, maaf mengganggu..!" ujar Dali sambil mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.


"Nggak apa-apa Pak! padahal gak usah repot-repot pakai datang ke sini segala," sanggahku yang tidak enak merepotkan.


"Jangan seperti itu, Pak! kemarin-kemarin bapak yang sibuk membantu keluarga saya, sekarang izinkan kami membantu bapak, walaupun tidak maksimal seperti apa yang Bapak lakukan," jawab Ira yang ikut bersama Dali.


"Kalian datang berdua, Katanya mau nanti sore sama Pak Arfan?" Tanyaku yang merasa heran.


"Iya...! tadinya saya mau datang berdua sama Pak Arfan, namun beliau tidak bisa, karena masih ada urusan di luar. kebetulan Ibu Ira mengajak kita untuk menjenguk bareng. Akhirnya kita berdua ke sini," jawab Dali menjelaskan.


"Oh begitu, terima kasih banyak Pak, Terima kasih banyak Bu! sudah mau direpotkan.


"Iya Bagaimana keadaan Bapak?" tanya Dali mengalihkan pembicaraan.


Kami bertiga pun masuk kemudian mendekat ke arah ranjang bapak yang masih terbaring, mendengar ada orang yang berbicara matanya pun terbuka lalu menatap ke arah Dali dan Ira.


"Saya Ira Pak....! saya teman kerja Pak Farid di kantor Mandiri Group," kenal Ira sambil mengambil tangan Bapak yang terkulai lemas, kemudian didekatkan begitupun Dali walaupun, dia memiliki jabatan dan penghasilan yang begitu luar biasa. namun etikanya tetap dijaga, sehingga pantas saja Arfan mampu membuat perusahaan baru, kalau di topang dengan asisten SePerfect dan sepintar ini.


"Kita tidak bawa apa-apa Pak Farid, cuma bawa ini saja." ujar Ira sambil memberikan plastik berlogo supermarket, mungkin di dalamnya ada buah dan beberapa susu murni.


"Duh! kok, jadi merepotkan segala...! Saya jadi malu nih!" jawabku yang merasa tidak enak.


"Kita nggak repot kok, Lagian kalau bukan dengan kita mau dengan siapa lagi kita saling membantu. Nah, kalau yang dibawa oleh Ibu Ira itu makanan buat bapak, kalau yang saya bawa, ini makanan buat Pak Farid...!" ujar dali sambil memberikan dua box nasi.


"Aduh! saya harus bilang apa lagi ya untuk mengungkapkan rasa kebahagiaan saya. sekali lagi terima kasih ya buat kalian berdua!" Ujarku sambil membagi tatapan nanar ke arah mereka

__ADS_1


"Sama-sama Pak...! ini bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan bantuan Bapak terhadap keluarga saya yang terkena musibah. mulai dari hari kesatuĀ  sampai hari ketujuh Bapak terus hadir di acara tahlilan kakak saya."


"Sudah jangan bahas itu, Saya malu..!"


Ceklek!


Pintu kamar pun ada yang membuka, terlihatlah Vina yang baru pulang dari mushola. kemudian dia menghampiri Kami bertiga. "Eh ada Pak Dali dan Bu Ira, Bagaimana sehat bu?" tanya Vina sambil menyalami Ira, kemudian mereka berpelukan layaknya para wanita pada umumnya. Selesai berpelukan sama ira, vina menyalami Dali dengan memasang wajah datar, itu adalah sebagai bukti bahwa vina adalah wanita terbaik, sehingga dia bisa bersikap yang biasa-biasa saja.


Setelah mereka bersalaman, Dali mengajakku untuk keluar dari ruangan, dia mengajakku ngobrol sambil ngopi karena menurutnya, kalau kita tidak ngopi terasa ada yang kurang.


Aku meminta izin sama Vina dan Ira, setelah mendapatkan izin kita berdua pun berjalan keluar dari ruangan kemudian menyusuri koridor hingga akhirnya kita sampai di Cafe rumah sakit. Dali memesan dua cangkir kopi kemudian kita duduk diursi yang sudah disediakan.


"Bagaimana kondisi bapak Pak Farid?"


"Alhamdulillah sekarang sudah agak membaik, karena ketika tadi saya datang beliau masih pingsan, namun meski begitu nanti malam beliau akan dipasangkan ring jantung."


"Oh Pak Gufron terkena serangan jantung?"


"Betul Pak...! lebih tepatnya jantung koroner."


"Kasihan amat beliau, Terus bagaimana pembayarannya?"


"Alhamdulillah...! Bapak memiliki kartu Sakti, sehingga untuk biaya itu sudah ditanggung oleh pemerintah. mungkin hanya biaya kecil-kecilnya saja. namun Alhamdulillah juga, Beliau memiliki tabungan. karena seperti yang Pak Dali ketahui beliau mempunyai toko sembako."


"Syukurlah kalau begitu...! kalau Pak Farid butuh sesuatu dan butuh bantuan perusahaan, Pak Farid bilang sama saya, siapa tahu syja bisa membantu...!"


"Terima kasih atas semua kebaikan Bapak dan Pak arfan, saya tidak tahu harus bagaimana cara mengungkapkan kebahagiaan dan mengungkapkan rasa Terima kasih saya yang begitu luar biasa terhadap kalian berdua."


"Nggak apa-apa! Bapak Jangan berpikir sampai ke sana, karena walau bagaimanapun Bapak adalah sahabat terbaik Pak Arfan, atasan saya. jadi Sudah Selayaknya saya membantu sahabat dari atasan yang saya kagumi."

__ADS_1


Akhirnya kita pun terlarut dalam obrolan-obrolan ringan, namun pembahasannya tidak jauh dari tentang penyakit yang sedang Bapak derita, hingga 30 menit berlalu. Akhirnya dali pun mengajak kita masuk ke ruangan kembali, karena takut kemalaman pulang ke rumah. menurutnya istrinya sedang rewel rewel, karena sedang hamil.


__ADS_2