Dua Penghianat

Dua Penghianat
bag 5. ketukan dijendela


__ADS_3

Pov Ira


"Dek....!" panggil ibu dengan suara lembutnya, membuatku mengangkat kepala kemudian menatap wajah keriput yang begitu sayu.


"Kenapa Bu, apa ada yang bisa Ira bantu?"


"Kapan kamu mau menikah?" tanya ibu sambil menatap lekat ke arahku.


"Nggak tahu lah Bu, aku juga bingung karena selama ini tidak ada pria yang dekat denganku, padahal perasaan aku tidak jelek-jelek amat!" jawabku mengungkapkan isi hati.


"Kamu bukan jelek dek, tapi kamunya yang terlalu memilih. bukannya dulu kamu pernah bilang kamu memiliki Pria Idaman, namun sudah memiliki kekasih, Bagaimana sekarang kelanjutannya?" tanya ibu mengingat kembali perkataanku setelah Kak Ari meninggal.


"Tahulah Bu, bingung...! Kayaknya aku yang berjuang sendiri, sedangkan dianya tidak memberikan respon sedikitpun"


"Kalau prianya sudah tidak mau, maka kamu jangan paksa dia! kamu cari pria lain yang bisa menerima kekuranganmu, menjadikan kelebihan, Begitupun sebaliknya!" nasihat ibu terhadap anaknya.


"Tapi aku tetap menginginkan pria itu Bu, soalnya kesempurnaan tidak aku temukan, selain di pria itu!"


"Hush! kamu nggak boleh ngomong seperti itu, semua ciptaan Tuhan itu, semuanya sempurna. walaupun kesempurnaan hanya milik Tuhan, tapi Tuhan menciptakan makhluk yang paling sempurna, kalau dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lainnya. jadi Cobalah kamu mulai membuka hati untuk menerima pria yang mendekatimu."


"Kenapa sih Ibu bertanyanya seperti itu?" jawabku membalikkan pertanyaan.


"Nggak apa-apa, sebelum Ibu meninggal, Ibu ingin anak Ibu menikah terlebih dahulu, biar Ibu bisa tenang di alam sana."


"Sudahlah Bu...! nggak boleh ngomong seperti itu, kalau belum rezekinya mau Sekuat apapun kita berusaha, ya akan susah, akan selalu gagal," jawabku memberi pengertian.


"Semangat ya! Oh iya, pria itu memiliki pacar orang mana?" tanya ibu.


"Adalah Bu, Ira Malu kalau harus bercerita."


"Kalau dia serius, sayang sama Kamu. mintalah untuk memutuskan pacarnya dan segeralah minta untuk menikahimu! karena tidak baik berhubungan tanpa ada ikatan yang sah," ujar ibu yang tidak tahu bahwa pria yang aku sukai adalah Kak Dali, entah apa yang terjadi kalau dia sampai mengetahui.


"Udah ah Bu Jangan bahas itu, Ira sekarang mau fokus mengurus Ibu terlebih dahulu, sampai Ira puas...!" ujarku mulai mengalihkan pembicaraan, agar ibu tidak terlalu fokus membahas tentang kehidupan pribadiku.

__ADS_1


"Kalau bukan ibu yang membahas, Siapa lagi yang akan mengingatkanmu tentang fitrah manusia yang harus menikah?"


"Ya, Iya...! Ira mau makan dulu," jawabku sambil bangkit tak mau melanjutkan pembicaraan, Kemudian aku pergi ke dapur untuk mengambil nasi.


Sampainya di dapur, aku mengambil piring kemudian mendekat ke arah rice cooker yang selalu menyala, karena sudah Kebiasaan kalau makan nasi tidak panas rasanya kurang nikmat.


Ketika aku mengisi nasi ke dalam piring, dari arah belakang terasa ada yang bayangan berkelebat menuju ke arah kamar mandi, dengan cepat aku melirik ke arah bayangan itu, namun tidak ada apa-apa.


"Ibu....! ibu....!" panggilku, Siapa tahu saja bayangan tadi adalah ibu yang pengen buang air kecil, namun tak ada jawaban, sehingga aku melanjutkan mengisi nasi kemudian mengambil lauknya.


Setelah piringku terisi dengan makanan, aku pun kembali ke ruang tengah. terlihat Ibu masih menonton televisi dengan begitu khusyuk, membuatku mengerutkan dahi, karena ternyata orang yang aku kira ke kamar kecil, masih ada di ruang tengah.


"Ibu tadi ke kamar mandi?" tanya aku sambil duduk kembali di sampingnya.


"Enggak..! Ibu dari tadi di sini, Kenapa emang?" tanya ibu tanpa melepaskan pandangan dari telayar televisi.


"Enggak apa-apa, ira kira tadi ibu ke kamar mandi, soalnya ada bayangan yang menuju ke kamar kecil itu."


"Ah kamu suka mengada-ngada, Paling itu tikus yang lewat di kabel."


Aku mulai terfokus menyantap nasi yang berada di piring, mataku terus menatap ke arah layar televisi karena acara favoritku sudah dimulai.


Seusai makan azan magrib pun berkumandang, aku dan ibu bergegas menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan salat. walaupun di kantor Aku jarang melakukan hal itu, dengan berbagai alasan. tapi ketika di rumah Aku akan pergi ke kamar mandi dan masuk ke kamar tidur, memakai mukena walaupun kadang juga tidak sampai melaksanakan salat, hanya kamuflase agar tidak dimarahi ibu.


Selesai melaksanakan salat magrib, notifikasi handphone pun berbunyi. setelah aku melihat ternyata ada pesan Whatsapp yang dikirim oleh kak Dali.


"Selamat malam, Semoga kamu tidak marah Atas kejadian tadi siang, aku tidak pulang lagi ke kantor, karena aku langsung berangkat sama Pak Arfan," isi pesan yang dikirim oleh orang yang sangat menyebalkan, Aku tidak membalasnya, aku malah membuka laptop untuk Berselancar Di Internet.


Aku mulai mencari cara bagaimana cara memikat hati lawan jenis dari berbagai artikel aku baca, agar memiliki pemahaman yang luas, tentang bagaimana cara menaklukkan hati pria idaman.


Truk! truk! truk!


Pintu kamarku ada yang mengetuk, akupun bangkit dari tempat dudukku, kemudian membukanya. "Ada apa Ibu?" Tanyaku sambil menatap wanita yang sedang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Salat dulu, waktu Isya udah terlewat," ujar Ibu mengingatkan.


"Baik bu," jawabku sambil keluar dari kamar kemudian menuju ke kamar kecil untuk mengambil air wudhu.


Selesai mengambil air wudhu, aku pun melaksanakan salat Isya. setelah selesai salat Isya aku keluar untuk menemani Ibu menonton TV.


Kira-kira pukul 10.00 acara favorit kita di televisi sudah selesai. aku masuk ke kamarku, sedangkan ibu masuk ke kamarnya untuk beristirahat,


Sebelum tidur aku mulai buka internet kembali melalui handphone, aku mulai membaca kembali artikel-artikel tentang bagaimana cara menaklukkan hati pria.


Trek! trek! trek!


Namun ketika aku fokus membaca, dari luar jendela terdengar ada ketukan di kaca seperti menggunakan koin, membuatku mengerutkan dahi, karena di kampungku tidak ada anak nakal yang suka mengerjai orang lain, sehingga aku beranggapan bahwa itu adalah orang yang jualan yang lewat. Aku mulai fokus membaca kembali tentang artikel-artikel cara menaklukkan hati pria idaman.


Trek! trek! trek!


Suara itu kembali terdengar, bahkan seperti di bisikan ke telinga membuatku mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. merasa kesal aku pun bangkit dari tempat tidur, Kemudian mendekat ke arah jendela. dengan cepat aku pun membuka gordennya, untuk melihat Siapa orang yang jahil, Namun ternyata di luar tidak apa-apa, karena jendelaku langsung terhubung ke teras, sehingga di area itu terang benderang dengan lampu yang dipasang di luar rumah, bahkan ditambah dengan lampu yang berada di gang.


Merasa tidak ada yang aneh, aku pun mulai menutup kembali gorden jendelaku, kemudian berjalan menuju ke kasur untuk merebahkan tubuh kembali. namun belum sempat aku memposisikan badan untuk berbaring, suara itu terdengar kembali.


"Kurang ajar...! Siapa sih yang iseng," gerutuku sambil bangkit, kembali kemudian berlari lalu membuka gorden jendela dengan cepat. namun sama seperti tadi tidak ada siapa-siapa.


Merasa penasaran aku pun keluar dari kamar, kemudian menuju ke teras. ketika membuka pintu terasa ada hembusan angin yang sangat besar menerpa tubuhku. membuatku semakin heran, kenapa bisa terjadi seperti itu, karena biasanya di perkampungan padat penduduk angin itu seolah sirna, karena tidak ada pepohonan yang tumbuh di sini.


Aku tidak memperdulikan hembusan itu, aku keluar kemudian memindai area teras, untuk mencari orang yang menjahili. aku tidak takut dengan siapapun, karena sekarang akulah kepala keluarga yang harus melindungi ibu.


"Lagi ngapain Ra, Kok masih di luar?" tanya salah seorang yang kebetulan lewat ke depan rumahku.


"Nggak tahu nih Pak RT, tadi ada yang mengetuk-ngetuk jendela, tapi ketika aku cek tidak ada."


"Paling suara orang yang jualan Neng, soalnya di kampung kita tidak ada anak yang bandel yang suka menjahili orang lain."


"Mungkin kali ya, Mau ke mana Pak RT?"

__ADS_1


"Biasa mau mantau ronda. Oh iya Kalau ada apa-apa hubungi saya aja, karena ronda di pos akan selalu siap membantu warga yang kesulitan," ujar Pak RT sambil kembali melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2