
Pov Aisyah
Aku berteriak setelah gorden penutup jendela itu terbuka, yang ditarik oleh pak Andi. Aku sangat terkejut, hatiku sangat hancur. saat aku melihat ada seseorang yang sedang terbujur kaku di atas lantai. lututku tiba-tiba merasa lemas, tak kuat lagi menahan tubuhku.
"Arfan! Arfaan!" aku terus memanggil-manggil nama anakku, dengan begitu Lirih. orang tua mana yang akan tega melihat anaknya putus asa seperti itu.
Cring! cring! cring!
Terdengar suara pukulan tongkat bisbol, yang terkena besi teralis jendela rumah, yang dihantamkan oleh Pak Andi. pikirannya yang masih jernih, sehingga dia masih bisa mengambil tindakan dengan cepat.
Lama berusaha, akhirnya pintu teralis itu jebol terbuka. Arfan yang sejak dari tadi, dia hanya terbaring. tak menggubris suara yang begitu nyaring. dengan cepat Pak Andi masuk melewati jendela itu. Namun ketika aku hendak menyusul, Pak Andi menolak. dia menyarankanku agar masuk lewat pintu, karena jendela itu sangat tinggi, tidak mungkin aku bisa masuk lewat jendela
Aku berlari menuju arah depan rumahku, menuju pintu rumah, untuk masuk kembali ke dalam. air mataku terus berjatuhan, tak bisa ke Bandung lagi. memikirkan keadaan Arfan yang belum diketahui.
Namun ketika pintu rumah itu aku buka, terlihat Pak Andi yang sedang menggendong Arfan di punggungnya. Dia sedikit berlari menuju arah pintu di mana Aku sedang berdiri.
"Anakkuuuuuuuuuu, kenapa?" aku bertanya sambil menatap ke arah Pak Andi, yang terburu-buru keluar dari rumah.
Pak Andi tidak menjawab, dia terus berjalan dengan secepat yang ia bisa, menuju ke arah mobil. kemudian membuka pintunya, memasukkan tubuh Arfan ke dalam mobil. aku yang mengikuti di belakang, hanya bisa menangis tanpa tahu yang harus aku lakukan.
"Ayo bu! pak Arfan degup jantungnya sudah semakin lemah. Mungkin dia kebanyakan minum obat penenang." jelas sopirku sambil berlari ke arah pintu kemudi, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya allah! Anakku!" Aku mengusap air mata, yang terus mengalir di pipi. lalu mengikuti apa yang diperintahkan Pak Andi, masuk ke pintu mobil kanan, yang bersampingan dengan kemudi. setelah aku masuk, tanpa berbicara, Pak Andi mulai menyalakan mobil kemudian meninggalkan rumah anakku.
"Kita mau ke mana Pak?" tanyaku sambil terus memperhatikan ke arah kursi belakang, di mana Arfan yang masih terbaring, terlihat ada busa putih yang keluar dari mulutnya, matanya yang terus tertutup membuatku semakin merasa khawatir.
"Ke rumah sakit Bu, saya tadi sudah cek nadinya, masih berdenyut, walaupun lemah." jawab sopirku sambil terus menatap ke arah jalan.
"Ngebut Pak! Tolong selamatkan anak saya!" ucapku memohon kepada Pak sopir.
"Iya Bu! saya lagi berusaha. tolong Ibu tenang, agar saya tidak panik!" pinta Pak Andi sambil terus memfokuskan pandangannya.
__ADS_1
"Loh! loh! ini mau ke mana Pak? Kok ke rumah sakit ini." aku yang tidak setuju ketika Pak Andi membawa Arfan, ke rumah sakit di mana Farid dan Erni berada di situ.
"Ini rumah sakit terdekat Bu! Saya khawatir kalau dibawa ke rumah sakit yang lebih jauh. membutuhkan waktu yang lebih lama. Saya takut keburu kerja di apa-apa sama Pak Arfan!" Jelas Pak sopir memberitahu yang sebenarnya. Walau aku juga mengetahui, karena memang benar rumah sakit yang paling dekat ,hanyalah rumah sakit di mana kedua penghianat itu berada.
"Di sana ada Erni dan Farid Pak?" aku memohon
"Maaf Bu? Apakah ibu lebih mementingkan gengsi, daripada keselamatan nyawa Pak Arfan?" supirku bertanya dengan mendengus kesal, selama dia bekerja, dia tidak pernah berani membantahku. namun kali ini aku benar-benar merasa kebaikan Pak Andi sangat luar biasa. dia berani menolak permintaan majikannya, dalam keadaan waktu yang tepat.
"Sekarang Tolong! Ibu tenang! Biarkan saya fokus dengan pekerjaan saya!"
Aku pun terdiam kembali, lalu menatap ke arah Arfan anakku yang sedang kritis. menurut Pak sopir, Mungkin dia overdosis gara-gara kebanyakan minum obat penenang.
10 menit berlalu, akhirnya mobil yang membawa Arfan berhenti tepat di pintu lobi rumah sakit. dengan cepat Pak Andi membuka pintu mobil, di mana Arfan dibaringkan. kemudian dengan sekuat tenaga, dia menggendong kembali tubuh anakku, Pak Andi terlihat kesusahan Karena sekarang dia harus menggendong Arfan dari bagian depan tubuhnya. aku yang tersadar dengan apa yang harus kulakukan, dengan cepat berlari menuju ke dalam rumah sakit, meminta para perawat agar cepat membawakan ranjang strecher, untuk membawa Arfan mendapat pertolongan pertama.
Para perawat yang mengetahui, bahwa aku adalah orang yang tadi membuat keributan, mereka hanya menatap sinis. terlihat dengan malas mereka mendorong ranjang transfer pasien, mengikuti arah yang aku tunjukkan. namun ketika melihat Pak Andi yang kesusahan menggendong Arfan, dengan cepat mereka berlari. karena rasa tidak suka harus dikesampingkan, ketika ada nyawa yang harus diselamatkan.
"Tolong! tolong! Pak Arfan dia overdosis obat penenang!" ucap Pak Andi dengan nafas tersenggal-senggal. Setelah menyimpan tubuh Arfan di atas ranjang. Kemudian dia mengeluarkan botol kapsul obat, untuk mempermudah penanganan. Kekaguman ku bertambah terhadap bawahanku itu, dia Memang benar-benar luar biasa, sampai hal seperti itu dia ingat.
"Ibu tunggu di sini!" tolak Seorang perawat, ketika aku sudah sampai di depan pintu ICU.
"Tolong selamatkan anak saya! saya mohon! Berapapun saya akan bayar biayanya!" Pintaku memohon.
"Sabar bu! Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Ibu tolong tenang! dan banyak-banyak berdoa! agar pasien bisa diselamatkan." ucap perawat itu sambil menutup pintu, meninggalkanku yang masih dilanda kekhawatiran.
Aku terus mundar-mandir di depan pintu ruang ICU, Berharap ada orang yang keluar dari dalam, dan memberikan kabar baik tentang keadaan anakku. lama menunggu, namun pintu itu tak kunjung terbuka. Hanya Pak Andi yang datang menghampiri, kemudian dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di koridor rumah sakit. dia tidak berbicara, namun terlihat wajahnya yang tegang, mungkin merasa sok dengan apa yang baru saja terjadi.
"Pak Andi! jangan tanggung menolong keluarga saya. sekarang Bapak! tolong urus semua administrasi pengobatan anak saya!" Aku meminta, karena merasa tidak enak aku terus merepotkannya. Walaupun pak Andi adalah pekerjaku, namun ini bukan dari tanggung jawabnya.
"Baik bu!" jawab Pak Andi singkat, kemudian dia bangkit.
Aku mengeluarkan kartu ATM-ku dan memberikan passwordnya, agar dia mengambil uang terlebih dahulu. Sebelum mengurus administrasi rumah sakit. aku tidak takut Pak Andi kabur membawa uangku, karena dalam keadaan segenting ini, harta itu tidak penting.
__ADS_1
Setelah kartu anjungan tunai Mandiri itu berpindah tangan, dia pun berlalu pergi, untuk melaksanakan semua perintah yang aku berikan.
Sejam berlalu, pintu ruang ICU pun belum ada tanda-tanda terbuka. Hanya Pak Andi yang datang, kemudian dia memberikan kembali kartu ATMku, serta uang lebih dari pembayaran. aku tidak mengambil uang itu, aku suruh memegangnya terlebih dahulu, agar ketika ada sesuatu yang harus diurus, dia bisa langsung mengurusnya.
Pukul 14.00. barulah pintu ruang ICU akhirnya terbuka, kemudian keluarlah seorang dokter, memanggil nama keluarga pasien. dengan cepat aku menghampiri dokter itu, untuk menanyakan keadaan anak semata wayangku. dengan perasaan yang begitu campur aduk, membayangkan hal-hal yang terburuk yang menimpanya.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" aku bertanya sambil menatap ke arah pria yang baru keluar.
"Kami sudah memberikan pertolongan pertama kepada pasien, namun pasien Masih belum sadarkan diri, Mungkin akibat Dia meminum obat terlalu banyak. Ibu berdoa saja! supaya anak Ibu bisa kembali pulih seperti semula." jawab dokter itu menjelaskan.
"Tolong selamatkan anak saya! dia adalah harta saya satu-satunya!" pintaku memohon.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, untuk menolong anak ibu. jadi saya mohon ibu bersabar, dan Tetap tenang!"
"Terima kasih, dok! Terus kapan saya bisa melihat keadaan anak saya?"
"Sebentar lagi! Ibu bisa masuk. ajak pasien berbicara dengan yang baik-baik! Karena biasanya orang koma seperti itu, otak mereka tetap jalan. namun fungsi tubuhnya saja yang tidak responsif. ya sudah saya pamit dulu! nanti kalau ada apa-apa, Ibu bisa tanyakan langsung kepada saya!" ucap dokter itu mengingatkan, kemudian ia berlalu pergi. namun langkahnya terhenti, Kemudian membalikkan badannya kembali menghadap ke arahku.
"Ini, Ibu Aisyah, kan? orang yang suka menjadi pembicara dalam menyemangati pengusaha-pengusaha?" Tanya dokter itu, sambil memindaiku. Memastikan bahwa aku adalah orang yang ia tanyakan.
"Iya saya sendiri, Kenapa ya, Dok?"
"Istri saya sangat ngefans sama ibu! jadi saya sedikit tahu banyak, tentang ibu. terima kasih sudah memotivasi istri saya, sehingga dia giat dalam bekerja."
"Sama-sama, dok!" ucapku sambil tersenyum, menyembunyikan pilu yang memenuhi dalam dada. Alhamdulillah dengan sedikit ilmu yang aku bagikan, bisa dikenal orang banyak. Meski keadaanku yang sangat memprihatinkan, mereka masih tetap bisa mengenaliku.
"Ya sudah, semoga anak Ibu cepat sembuh, seperti sedia kala!" Doa pak dokter, kemudian ia berlalu pergi meninggalkanku.
Aku hanya menarik napas dalam, kemudian menghampiri Pak Andi, yang dari tadi Ia hanya duduk menunggu perintahku selanjutnya.
"Bagaimana keadaannya Pak Arfan Bu?" tanya Pak Andi.
__ADS_1
"Alhamdulillah! sudah diberi pertolongan pertama, Mungkin sebentar lagi saya bisa melihat ke dalam, Bagaimana kondisi sebenarnya anak saya!"