Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 41 KAMU HARUS BANGKIT


__ADS_3

Pov Aisyah.


Aku menarik Pak Andi, agar menjauh dari Erni mantan menantuku. berdebat dengan orang seperti dia, sama saja berdebat dengan tembok dinding. Erni tidak punya rasa malu sama sekali, dan tidak pernah sadar dengan apa yang ia lakukan terhadap anakku. yang lebih parah dia Mau mengajak anakku rujuk, dengan masih terus berhubungan dengan Si Farid selingkuhannya. Aku heran Dia perempuan seperti apa, sampai pikirannya skerdil itu.


"Lepaskan saya, bu! biar saya hajar kedua orang itu." gerutu pak Andi sambil terus mengikutiku. dengan cepat aku pun melepaskan tarikan tanganku di baju pak andi, mengikuti kemauannya.


"Sudahlah! buang-buang waktu saja! kita tidak akan pernah menang beradu argumen, dengan orang-orang yang tak punya malu seperti mereka!" ingatku sama Pak Andi.


"Sesekali mereka harus diberi pelajaran, Bu! biar mereka Jera! Biar mereka tahu tentang makna kesetiaan!" jelas Pak Andi.


"Ya sudah! kamu tunggu di mobil. Saya akan menyelesaikan urusan saya bersama klien." seruku sama sopir pribadi, tidak mau memperpanjang pembahasan tentang menantu yang tak tahu diri.


Pak Andi pun mengangguk, tanpa ada sanggahan lagi. dia berjalan mendekati pintu. namun tidak langsung keluar, dia mencari tempat duduk, agar bisa mengawasiku. mungkin merasa khawatir ketika kejadian seperti barusan terulang.


Aku tidak memperdulikannya, aku berjalan menuju meja di mana klienku menunggu. karena ketika tadi membahas rencana kerja sama. tiba-tiba Aku ingin ke toilet terlebih dahulu, dan sialnya aku bertemu kembali dengan wanita jal4ng, wanita yang telah menghancurkan masa depan anakku. Padahal aku berdoa agar dia cepat musnah dari dunia ini, namun Entah mengapa, dia masih sehat walafiat. bahkan berencana hendak menikah dengan selingkuhannya


"Maaf! membuat kalian menunggu." ujarku sambil mengulum senyum, kemudian duduk kembali di kursi yang sempat tadi aku tinggalkan.


"Nggak apa-apa, Bu! santai saja. jadi bagaimana, Apakah ibu bersedia menanam modal di perusahaan kami?" tanya wanita yang seumuran denganku, dia datang ke sini didampingi oleh suaminya.


"Saya belum bisa mengambil keputusan sekarang, karena harus mengadakan pembahasan dengan karyawan-karyawan di kantor." jawabku sedikit tegas.


"Baiklah! kalau seperti itu, kira-kira kapan kita bisa mendapat jawaban?" tanya wanita yang duduk di hadapanku sambil menatap penuh harap.


"Dua minggu lagi, saya akan menghubungi Ibu Sinta.  memberitahu hasil keputusan perusahaan"


"Terima kasih! semoga kerjasama penanaman modal ini, bisa terjalin dengan baik!" ungkap Sinta sambil mengulurkan tangan, sebagai simbol bentuk komitmen dalam kerjasama.


Setelah tidak ada lagi pembahasan dengan keputusan, aku akan menghubungi mereka dua minggu lagi. aku pun pamit untuk pulang ke rumahku. Sebenarnya hari ini jadwalku sangat padat, namun Sinta memaksaku bertemu, untuk membahas kerjasama pengadaan tempat kesehatan. mau mengatur ulang jadwal,  rasanya Tak Tega, karena kita sudah ada pembicaraan berjauh-jauh hari, untuk mengadakan pertemuan ini. namun itu selalu gagal, kesibukanku yang sangat padat, sehingga baru sekarang, aku baru bisa bertatap muka dengan mereka.


Melihat aku berjalan meninggalkan dua orang yang ku temui. Pak Andi pun dengan Sigap dia keluar dari restoran untuk menungguku di mobil


"Sekarang kita ke mana, Bu?" tanya Pak Andi setelah melihatku duduk dengan nyaman di kursi belakang.


"Pulang!" seruku sambil menyandarkan punggung ke kursi mobil, sedikit melepaskanlah lelah seharian bekerja.


Truk! truk! truk!

__ADS_1


Ketika aku hendak memejamkan mata, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara ketukan di kaca jendela. dengan penasaran aku pun melirik ke arah luar pintu, untuk memastikan Siapa yang mengetuk. terlihat ada seorang pria paruh baya, seperti lagi memanggil-manggil. mobilku yang kedap suara, sehingga suara dari luar tidak begitu terdengar jelas.


"Siapa?" aku bertanya sama Pak Andi, yang menatap heran keluar di mana pria Masih Berdiri.


"Kurang tahu, Bu! mungkin orang iseng, Biarkan saya keluar untuk mengusirnya!" Pinta Pak Andi sambil menekan kunci pintu mobil.


"Nggak usah!" tolakku, karena setelah aku perhatikan dengan teliti orang yang mengetuk-ngetuk kaca mobil itu, seperti orang yang aku kenal.


Aku sedikit menurunkan kaca jendala, untuk memastikan siapa sebenarnya orang yang mengetuk itu.


"Aisyah! Aisyah! ini aku Gufron." ujar pria yang ada di luar, suaranya sekarang terdengar. Karena ada udara yang masuk mobil.


Setelah mengetahui orang yang mengetuk pintu, adalah sahabat dari almarhum suamiku. dengan cepat aku pun menurunkan semua kaca pintu mobil.


"Bisa ngobrol dulu, sebentar?" tanya Gufron sambil menatap ke arahku.


"Mau apa? kamu belum puas menyakiti anak saya?" Tanyaku sambil memasang muka sinis.


"Bukan! bukan, seperti itu, justru aku mau minta maaf. karena gara-gara anakku rumah tangga anakmu jadi berantakan. Bisakah kita ngobrol sebentar saja." rajuk Gufron dengan sedikit memelas.


Aku pun membuka pintu mobil, untuk mengajaknya masuk. agar kita bisa mengobrol dengan leluasa.


Gufron tidak menjawab, Dia melirik ke arah sopirku yang sedang duduk di depan. mungkin dia ingin privasi ketika dia mengobrol denganku.


"Pak Andi! boleh Tunggu sebentar di luar!"


"Siap Bu!" Jawab Pak Andi sambil membuka pintu Kemudian dia berdiri di dekat mobil.


"Apa yang mau kamu sampaikan! cepat waktuku tidak banyak." ujarku mengulangi pertanyaan.


"Aku mewakili anakku. mau minta maaf atas kejadian yang menimpa keluarga anakmu." ujar pria paruh baya itu


"Buat apa, minta maaf? Bukankah ini yang kamu mau, Bukankah kamu senang melihat keluarga anakku hancur?"


"Enggak, Aku adalah orang yang pertama yang tidak suka dengan hubungan mereka. namun aku tidak bisa berbuat banyak. kamu juga pasti tahu  semenjak perusahaanku bangkrut, aku mengandalkan hidup dari Farid. aku sudah sering mengingatkan anakku, namun Farid selalu mengungkit apa yang ia berikan. Sehingga membuatku terdiam, sekali lagi aku minta maaf!"  ucap Gufron, terlihat raut penyesalan nampak di wajahnya.


"Sudahlah! yang lalu Biarkan Berlalu, jadikan pelajaran untuk kita ke depan. Karena Kita sebagai manusia, hanya berencana. namun yang mengkehendaki adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. kita tidak bisa memilih hidup baik atau buruk. Kita hanya menjalani peran masing-masing." Jawabku yang tak mau memperpanjang urusan.

__ADS_1


"Terima kasih! sudah memaafkanku. aku nggak mau menanggung dosa yang telah diperbuat oleh anakku!" ucap Gufron sambil mengusap cairan bening yang mengalir di pipinya, menandakan keseriusan ketika ia meminta maaf.


Setelah selesai menyampaikan permohonan maaf, Gufron berpamitan untuk pulang ke rumahnya.


Rasa sakit begitu menyelimuti diri, membuatku terdiam seketika, Untuk mengatur nafas yang terasa begitu sesak. Bagaimana tidak, anak dan bapak itu adalah sahabat dari keluargaku, namun mereka pula yang menghancurkan kebahagiaan keluargaku.


"Pulang ke rumah Bu"" tanya Pak Andi yang sudah duduk kembali di belakang kemudi mengagetkanku.


"Iya!" jawabku singkat.


Pak Andi pun mengangguk, tanpa bertanya lagi. Dia menghidupkan mobil, kemudian pergi meninggalkan tempat parkir restoran. melaju ke arah selatan Kota Jakarta.


20 menit berlalu. Akhirnya aku tiba di depan pintu gerbang rumahku. Pak Andi menekan klakson, pintu gerbang pun terbuka. setelah Arman satpam rumahku, mendorong pintu besar itu.


Setelah keluar dari mobil, aku langsung masuk ke dalam rumah,  menyusuri koridor menuju ke dapur.


"Anakku sudah makan mbok?" tanyaku sama Mbok Iyem, yang sedang menonton televisi sambil menyetrika baju.


"Tadi saya udah antarkan makanan Bu, tapi seperti biasa si Aden tidak mau makan." jawab asisten rumah tanggaku sambil menaruh setrikaannya.


"Terima kasih!" ujarku sambil berlalu meninggalkan Si mbok yang sedang menyetrika. menuju lantai 2 rumahku. tak lupa Sebelum naik ke lantai dua, aku menyimpan barang-barangku terlebih dulu ke kamar. dan mengambil senter yang berjajar rapih di dekat tangga.


Truk! truk! truk!


"Assalamualaikum!" ucapku sambil membuka pintu kamar yang ada di lantai atas.


Seperti biasa tak ada jawaban yang menyambut sapaanku. perlahan aku dorong pintu kamar yang begitu gelap, aroma bau pesing menyeruak memenuhi rongga hidungku. setelah Pintu itu terbuka, aku menyalakan senter untuk memindai seluruh area kamar yang nampak begitu gelap. terlihat piring yang masih penuh dengan makanan, masih tersimpan rapi di dekat pintu. mungkin si bibi tidak berani untuk masuk ke dalam. lantai kamar yang dipenuhi dengan berbagai pecahan barang, sehingga aku harus berhati-hati ketika melangkahkan kaki. namun itu semua tak menghentikan langkahku, untuk terus masuk ke dalam kamar.


Aku Arahkan cahaya senter ke seluruh ruangan, mencari keberadaan orang yang tinggal di kamar ini. hingga cahaya senter itu Terhenti Di bayangan manusia, yang sedang berjongkok di sudut kamar.


"Makan dulu!" tawarku setelah mengambil piring yang berisi makanan, kemudian membawanya mendekati pria itu.


Kududukan tubuhku di lantai yang sudah tak berbentuk. kemudian menaruh senter di sampingku, untuk menerangi semua area ruangan ini. mesti tidak maksimal, namun cukup membantu untuk melihat orang yang pada dihadapanku.


Perlahan aku pun mengambil sendok, lalu mengambil nasi serta lauknya. untuk menyuapi orang yang terdiam tanpa ekspresi itu. namun walaupun begitu, dia tetap membuka mulutnya, untuk memakan nasi yang aku suapkan.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini? kamu harus bangkit! kamu harus kuat! apa kamu tega sama ibu, yang harus terus berjuang menyemangati kamu. seharusnya sekarang giliran kamu yang menjadi penyemangat ibu, pelindung ibu!" ucapku sambil terus menyuapinya.

__ADS_1


Seperti biasa orang itu tidak menjawab, tatapan matanya yang kosong. sehingga tak memberikan ekspresi apapun. namun terlihat dari netranya keluar cairan bening, yang membasahi pipinya, sambil tetap mengunyah nasi.


__ADS_2