
Pov Erni
Lama aku termenung di dalam mobil, sambil menatap keluar arah parkiran rumah sakit. akhirnya aku memutuskan untuk mencari Arfan di rumah ibunya. kalaupun aku tidak bisa bertemu dengan suamiku. minimal aku bisa mendapat keterangan, Arfan terkena sakit apa. Sampai dia harus dirawat di ICU.
Setelah membulatkan tekad, aku menyalakan mobilku. lalu pergi meninggalkan area parkiran Rumah Sakit, menuju ke rumah mertuaku.
Pukul 18.30. akhirnya aku pun sampai di depan pintu gerbang rumah termewah di komplek itu. setelah menekan klakson beberapa kali, muncullah seorang bapak-bapak, yang Menggunakan seragam biru tua menghampiri.
"Maaf mau cari siapa ya, Bu?" Tanya satpam sambil mengetuk-ngetuk kaca pintu mobilku. seolah tidak mengenaliku yang berada di dalamnya.
"Cepat buka pintunya!" seruku sambil menurunkan kaca pintu mobil, dengan nada sedikit meninggi, menunjukkan siapa Bos sebenarnya di rumah ini.
"Oh, Bu Erni! Maaf bu, saya tidak melihat, karena biasanya Ibu ke sini bersama Pak Arfan." ucap pria itu setelah mendapat tatapan tajam dariku.
"Jangan banyak tanya! buruan buka pintunya!"
"Maaf Bu! Ibu dilarang datang ke sini, oleh Ibu!" ujar satpam itu menolak perintahku.
"Sejak kapan kamu membangkang seperti sekarang?" Tanyaku sambil kembali mengeluarkan tatapan mata yang merah menyala, menunjukkan taring sebagai menantu di rumah ini.
"Sekali lagi saya mohon maaf! saya hanya menjalankan tugas!"
"Sekarang di mana mertuaku?" aku tidak menggubris ucapan satpam itu.
"Maaf bu, saya tidak mengetahui di mana ibu sekarang." jelas satpam.
Merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh satpam, aku pun segera turun dari mobil, lalu membanting pintunya. sehingga terlihat pak satpam itu mengelus dada, sambil menggeleng-geleng kepalanya, menatap sinis ke arahku, namun aku tidak memperdulikannya, aku terus berjalan menuju ke arah dalam pintu gerbang.
"Maaf Bu! Ibu gak boleh masuk." tolak satpam itu yang berjalan mengikutiku. namun aku terus melangkahkan kaki tanpa menghiraukan permintaannya. sehingga tanganku ditarik olehnya untuk menahanku, agar aku menghentikan Niatku yang hendak masuk ke dalam rumah ibu mertuaku
Plak!
"Kurang ajar! Sejak kapan lu berani kurang ajar sama gua? lu tuh hanya satpam, jadi jangan sentuh gua, najis tau!" bentakku sambil menunjuk muka satpam itu, yang meringis menahan tamparan.
Kemudian aku membalikkan tubuhku, melanjutkan kembali langkah kaki yang sempat berhenti. satpam itu tetap menahanku dengan kata-kata, tanpa berani menyentuhku lagi. Dia terus mengekorku di belakang, mengikutiku sampai ke dalam rumah.
"Arfaaaaaaan! Arfaaaaaan! Arfaaaaan!
__ADS_1
Setelah sampai di dalam rumah tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, aku memanggil manggil nama suamiku. dengan berteriak, sehingga suaraku memenuhi semua sudut ruangan di rumah itu.
"Arfaaaaaan! Arfaaaaan! Arfaaaaaan!
Panggilku kembali, setelah tidak mendapat jawaban apapun di rumah itu. Aku berteriak sambil terus mencari ke setiap sudut area rumah mertuaku. mulai dari kamar, dapur, sampai ke lantai kedua. bahkan halaman belakang pun, tak luput dari pindaian mataku.
"Maaf Bu! Pak Arfan, nggak ada di sini, jadi tolong! jangan membuat kegaduhan di rumah ibu!" pinta satpam yang sejak dari tadi mengikuti, mengawasi gerak-gerikku.
Lama mencari, Aku pun tidak menemukan siapa-siapa yang berada di rumah itu. membuatku merasa bingung harus mencari suamiku kemana lagi.
"Mertuaku ke mana? Kok nggak ada di rumah?" aku bertanya dengan pelan sambil menatap satpam itu. Setelah aku merasa kelelahan, karena aku tidak menemukan apa-apa di rumah ibu mertuaku.
"Ibu, lagi keluar kota Bu? lagi ada urusan pekerjaan? katanya beliau mau mengisi seminar gitu." jelas satpam
"Sejak kapan?"
"Dua hari yang lalu, Bu!"
"Jangan bohong!" bentakku sama Pak satpam, sambil sedikit mengeringitkan dahi. karena dua hari yang lalu, aku bertemu Ibu mertuaku di rumah sakit. Setelah aku membeli makanan ringan dari supermarket.
"Maaf! saya nggak berani berbohong, Bu. kalau Ibu nggak percaya, Ibu bisa tanya sama Mbok Iyem. Bukannya ibu sangat dekat sama dia?" saran satpam itu.
"Ada apa, Non?" dengan cepat Mbok iyem mematikan air keran, kemudian mengelapkan tangannya ke handuk yang tergantung di dinding wastafel.
"Ibu mertuaku ke mana, mbok?" Tanyaku sama wanita tua yang ada di hadapanku, Aku lumayan begitu mengenal dia. karena setiap menginap di rumah Arfan, Aku akan pura-pura membantu membersihkan dan merapikan bekas makan suami dan mertuaku. supaya aku tetap terlihat baik di hadapan mereka.
"Maaf saya kurang tahu Bu! namun dua hari yang lalu, ibu berpesan. dia ada urusan di luar kota." jelas mbok Iyem, dengan sorot mata yang sudah cembung, menandakan ia tidak berbohong.
"Kira-kira, kapan Mertuaku pulang?
"Kurang tahu Bu, Coba Ibu telepon saja!" saran satpam yang sejak dari tadi mengawasiku, terus mengikuti sampai ke dapur.
Namun saran yang diberikan sekarang oleh Pak satpam, sangat tidak mungkin aku lakukan. karena Aku sebenarnya tidak mencari ibu mertuaku, aku lebih mencari suamiku yang sudah lost contact semenjak kejadian malam suamiku pulang dari luar kota.
Setelah tidak mendapatkan apa-apa dari rumah ibu, Aku melangkahkan kakiku, menuju pintu keluar rumah ibu mertuaku. tanpa mempedulikan lagi mereka yang menatap heran dengan tingkah lakuku. Setelah berada di luar, aku terus berjalan menapaki paving block, yang tersusun rapi, menuju mobilku yang terparkir di luar gerbang. memang sialan satpam itu, sehingga mobilku tidak diperbolehkan masuk ke dalam.
Setelah berada di dalam mobil, aku menghidupkannya untuk pulang ke hotel. karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. mulai dari merapikan berkas yang akan diserahkan kepada Farid, untuk menjadi bukti bahwa perusahaan Erni Group adalah milikku. namun ketika Aku hendak menginjak pedal gas, terlihat dari kaca spion mobilku, ada mobil yang mendekati rumah ibu mertuaku. setelah aku perhatikan, ternyata mobil itu, adalah mobil yang suka dipakai oleh ibu mertua.
__ADS_1
Tin! tin! tin!
Suara klakson mobil berbunyi, karena mobilku menghalangi jalan masuk pintu mobil itu. atau mungkin memberikan tanda ke satpam yang ada di dalam pintu gerbang, untuk membukakan pintu. benar saja dugaanku, karena setelah itu terlihat pintu gerbang yang tadi hanya terbuka pintu kecilnya, sekarang pintu besarnya pun didorong agar mobil tuan mereka bisa masuk.
Setelah Pintu itu terbuka dengan sempurna, aku yang awalnya hendak pergi meninggalkan rumah Mertuaku. mendadak berubah pikiran sehingga mobilku bukannya dipundurkan, namun aku injak pedal gas, untuk masuk ke dalam carport rumah ibu mertuaku.
Setelah berada di dalam, aku pun turun dari mobil. Lalu menunggu mobil ibu mertuaku masuk ke dalam carportnya. tak lama menunggu, akhirnya mobil itu terparkir. dan keluarlah orang yang aku cari, ibu mertuaku menatapku dengan begitu tajam, terlihat sorot mata yang penuh kebencian memenuhi wajahku.
Melihat Ibuku masih berdiri di dekat mobil, aku sebagai menantu yang baik. dengan cepat menghampiri ibu mertuaku, kemudian mengambil tangan kanannya untuk aku cium, seperti biasa yang aku lakukan, ketika aku bertemu dengan Ibu dari suamiku ini. namun ibu mertuaku dengan cepat menarik tangannya, sehingga aku yang sudah mendongkokkan tubuh menatap heran ke arahnya.
"Masih punya muka, kamu berani datang ke sini?"
"Masih lah, bu! makanya aku datang ke sini, lagian aku dan Ibu masih resmi menjadi menantu dan mertua. Jadi Ibu jangan galak-galak sama saya!" Ucapku sambil tersenyum menatap ke arahnya.
Cuuuuwihh!
Satu ludah mendarat di wajahku, sehingga dengan gelagapan aku mengusap cairan yang berbau kotoran itu, dengan tisu yang ku ambil dari dalam tas.
"Pergi kamu pergi dari sini!" bentak ibu mertuaku, seperti biasa dia akan menaikkan intonasi suara, ketika mengobrol denganku.
"Kenapa harus pergi? ibu kan, ibu mertuaku!" dengan santai aku bertanya seperti itu, Lagian aku tidak punya salah sama ibu mertuaku.
"Pergiiiiiiii! pergiiiiiii! Arman tolong usir wanita ini, dari rumah saya." teriak ibu mertua sambil menatap ke arah satpam yang tadi mengikutiku.
"Sabar bu! aku datang ke sini, dengan baik-baik. Aku ingin berdamai dengan anak Ibu, jadi ibu Jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Biarkan saya menyampaikan suatu pilihan, agar kita bisa tetap menjadi keluarga yang utuh." tolakku memberikan pilihan.
"Eh! Jal4ng, pilihan apa? yang akan kamu berikan?:
"Jujur, Bu! aku sangat mencintai anak ibu, dan mencintai sahabatnya. Kalau Arfan mau, dia bisa berbagi cintaku dengan Farid sahabatnya." aku memberikan saran yang berlian, agar tidak ada orang yang terluka perasaannya.
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipiku, dengan begitu keras. tamparan kedua yang aku dapatkan dari Mertuaku, setelah kemarin menamparku di rumah sakit.
"Armaaaan! kenapa lu diam? kayak orang b3go gitu! cepat usir wanita sial4n ini!" teriak Ibu Aisyah dengan begitu kesal.
Satpam yang bernama Arman itu, dengan Sigap mendekatiku, lalu memegangi lenganku, hendak menarik tubuhku mendekati mobil. Untuk mengusirku dari rumah majikannya.
__ADS_1
"Jangan sentuh gua! tadi sudah gua Ingatkan, elu jangan sentuh gua! lu itu najis!" bentakku sambil mengibaskan pegangannya, namun satpam itu kembali memegangi lenganku, menarik dengan begitu kasar mendekati mobilku yang terparkir di carport.
"Tol0l! sudah dibilang lu jangan pegang gua! gua bisa jalan sendiri." mendapat bentakan yang seperti itu, dan melihatku mengikuti kemauannya, Arman pun hanya berjalan mengikutiku di belakang.