Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 65 GAGAL LAGI


__ADS_3

Pov Erni


Melihat ibu mertuaku keluar, dengan cepat aku menghentikan menekan klakson, kemudian aku juga keluar dari mobil, untuk menghampiri ibu.


"Erniiiiiiiiiiii" teriaknya sangat kesal, setelah melihatku berada di luar mobil.


"Hai ibu mertua! Bagaimana kabarnya?" sapaku ramah sambil tersenyum, kemudian menghampiri hendak mencium punggung tangannya, seperti yang biasa aku lakukan ketika aku masih menjadi menantunya.


"Halah! Kamu ngapain? pagi-pagi Sudah bikin kegaduhan di rumah orang?" tanya ibu mertuaku sambil menepis tangan yang ku ulurkan


"Marahin tuh, Bu! satpamnya. Bukannya dia membukakan pintu, malah dia banyak berbicara." Aduku sama ibu dengan sedikit manja.


"Kamu tuh yang banyak basa-basi, sekarang kamu mau ngapain datang ke sini lagi, Dasar gak punya malu!" Ujar ibu


"Aku mau ketemu sama suamiku, Bu! Karena aku belum merasa diceraikan." aku mulai menjelaskan maksud kedatanganku ke rumahnya.


"Arfan nggak ada di sini, Arfan sedang berada di luar kota, dia lagi mengurus pekerjaannya." ujar ibu matanya yang bergerak, seperti menyembunyikan sesuatu.


"Hahaha! jangan ngibul deh bu! aku tahu Arfan ada di rumah ibu." ujarku membantah pengakuannya.


"Serius! Arfan tidak ada di sini. Lagian kamu mau ngapain sih? sudah dibuang, masih mencari. padahal kamu sudah menemukan pasangan yang layak, karena kalau sama-sama sampah, pantas menjadi pasangan serasi." tegas ibu dengan sedikit intonasi suara yang agak sinis.


"Santai saja ibuuuuuuu. jangan marah-marah, nanti tensi darahnya naik repot lagi!" ujarku sambil membalas senyum sinisnya.


"Sudah, kamu pulang sana! Dan jangan datang ke sini lagi, padahal saya sudah Ingatkan beberapa kali, Apa kamu masih nggak mengerti?"


"Aku Ngerti kok, Bu! aku ke sini bukan karena ibu, tapi karena suamiku, Siapa tahu saja dia berubah pikiran. karena aku sekarang akan memprioritaskannya, ketimbang calon suamiku." ucapku memberi kabar gembira terhadap mantan ibu mertuaku.


"Hahaha, PD. mu selangit Erni! mana mau anakku sama sampah seperti kamu. Dan hanya orang bod0h lah yang mau sama sampah! sekarang Cepat kamu tinggalkan rumah saya!" bentak ibu suaranya sudah meninggi, mungkin emosinya sudah di ubun-ubun.


"Aku nggak akan pergi dari rumah ini, sebelum aku bertemu suamiku." Tolakku dengan tegas.


"Kalau kamu nggak mau pergi, saya akan Panggil pihak yang berwajib, untuk mengusir kamu!" Ancam Ibu terlihat serius, dia tidak main-main dengan ucapannya.


"Silakan! silakan Ibu Panggil! aku nggak takut! Lagian aku nggak salah. Aku hanya ingin bersilaturahmi." tantangku


Ibu hanya mendengus kesal, kemudian ia menatapku dengan lekat, seolah hendak menelan bulat-bulat tubuhku.


"Kenapa? sekarang di mana suamiku?" ujarku balik menekan ibu mertua.


"Nggak, Arfan nggak ada di sini!"


"Aku sudah tahu kok, Bu! Ibu jangan bohong lagi sama aku. nih buktinya!" ujarku sambil menunjukkan video Arfan yang ada di kanal YouTube Karin. "ini Arfan lagi menuju ke rumah ibu, aku datang ke sini karena aku kasihan sama mantan suamiku. Hidup sama ibunya sendiri, dia malah tidak terurus seperti ini. aku mau merangkul dia kembali, pasti sekarang dia Terpukul dan terpuruk, karena dia tidak bisa mencari penggantiku. Tidak bisa hidup tanpaku!"

__ADS_1


"Hahaha! kamu Kepedean banget, apa kamu nggak punya kaca di rumah." sanggah ibu, namun aku melihat sorot mata yang sedikit basah, membuatku semakin yakin bahwa Arfan sekarang ada di rumah ibu.


Aku tidak memperdulikan perkataan ibu, perlahan Aku berjalan menuju pintu gerbang yang terbuka. menuju ke rumah ibu, untuk mencari keberadaan suamiku.


"Arman! kenapa kamu diam? cepat kamu hentikan wanita sial4n itu!" Pinta ibu sama satpam yang sejak dari tadi hanya berdiri, seperti patung yang tak berguna.


Dengan cepat Arman pun menghampiriku, dia hendak menghentikanku yang sudah melewati pintu gerbang.


"Sekali, lu, sentuh kulit gua, lu akan tahu akibatnya." ancamku sambil menatap tajam ke arah pria itu.


Namun dia tidak menghiraukannya, dia dengan cepat memegang pergelanganku. lalu menariknya dengan kasar menuju ke arah luar.


"Arfaaaaaan! Arfaaaaaaan! Arfan tolong aku!" Teriakku dengan keras, berharap mantan suamiku mendengar suaraku. karena dia tidak akan mungkin tega, melihat seorang wanita yang disakiti seperti sekarang.


"Lepaskaaaaaan! lepaskaaaaaaan sial4n!" ujarku sambil meronta-ronta, hendak melepaskan genggaman satpam bod0h itu.


"Sudah, Ibu nurut saja! Ibu tidak boleh datang ke sini. Heran deh sama ibu, rasa malunya di mana sih!" ujar Arman yang mulai berani menghinaku, sambil terus menarikku keluar dari pintu gerbang.


"Lepaskan gua, bod0h!" bentakku sambil menghempaskan tanganku dengan keras, sehingga genggaman tangan pria sial4n itu terlepas, meski pergelanganku sedikit terasa sakit, karena aku memaksa melepaskannya.


"Sudah sekarang lu pulang! dan jangan menginjakkan kaki di rumah saya lagi!" ucap ibu yang menghampiri, dia mengancamku dengan tegas.


Tanpa membalas perkataannya, aku pun dengan cepat masuk ke mobil, kemudian menutup pintu lalu menguncinya.


Tiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnn!


Tiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnn!


Tiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnn!


Truk! truk! truk! truk!


Dor! dor! dor! dor!


"Buka pintunya!" terlihat Ibu mengetuk-ngetuk kaca pintu mobilku.


Aku pun menurunkan kaca itu sedikit, agar suara Ibu terdengar dengan jelas.


"Hentikan Jangan membuat keributan di sini! Saya malu dengan tingkahmu yang Barbar!"


"Oke! aku akan hentikan, tapi aku ingin bertemu dulu sama suamiku. aku tidak akan apa-apa! aku cuma ingin minta maaf." ujarku dengan berteriak agar suaraku tak terkalahkan oleh suara klakson.


"Jujur! Arfan gak ada di rumah." jelas ibu.

__ADS_1


"Jangan bohong! aku nggak percaya sama ibu! dulu saja Ibu bilang seperti itu, tapi ternyata Arfan berada di rumah." sanggahku.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mengecek keberadaannya. kamu boleh mencari Arfan di rumah saya!" jelas ibu sehingga membuatku menghentikan kelakuan Barbar ku.


"Serius?"


"Saya tidak pernah berbohong seperti kamu! yang mempunyai sifat culas di belakang! sifat yang merugikan orang lain dan dirimu sendiri!" Sindir ibu dengan nada sinis.


Dengan segera aku pun membuka pintu mobilku kembali, karena aku yakin ibu mertuaku adalah orang yang suka Teguh dengan ucapannya. benar saja, setelah berada di luar aku pun dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya.


"Silakan kamu bisa mengecek setiap inci dari rumah saya! kalau Arfan tidak ada disini. tolong cepat pergi dari sini dan jangan datang lagi ke rumah saya!" Ujar Ibu mempersilahkanku, setelah sampai di depan pintu rumahnya.


Dengan cepat aku pun masuk ke dalam rumah Ibu, rumah yang tidak asing lahgi bagiku. karena dulu seminggu sekali aku pasti menginap di rumah ini. aku mulai memindai seluruh ruangan, seluruh area. mulai dari lantai 1 sampai 2, mengecek dari kamar satu ke kamar yang lainnya. sambil terus berteriak memanggil nama mantan suamiku.


15 menit berlalu aku pun tidak menemukan apa yang aku cari, Bahkan aku sudah mencari ke kamar ibu, ruangan yang paling sakral di rumah ini. namun Arfan tetap tidak ada, tidak ditemukan keberadaan Arfan. aku mengulangnya sekali lagi, menyusuri setiap inci rumah Ibu. namun hasilnya tetap sama, tetap nihil. mantan suamiku tidak kunjung menampakan batang hidungnya.


"Bagaimana, apa kamu puas?"


"Puas! puas banget, malahan! tapi Ibu pasti tahu kan sekarang Arfan berada di mana?"


"Di luar kota! kan tadi saya sudah bilang, Arfan sekarang ada di luar kota. sedang mengurus pekerjaannya!"


"Jangan bohong!" Selidiku sambil memicingkan pandangan.


"Pembohong! akan terus menuduh orang lain berbohong, karena dia tidak memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri. sehingga apa yang diucapkan orang lain dia tidak akan percaya." Ibu menyindirku kembali.


"Iya deh! iya! Ibu motivator pengusaha memang pintar memutar balikan kata-kata. sekarang tolong kasih tahu saya! Arfan berada di kota mana?"


"Surabaya! sekarang Tolong kamu pergi dari rumah saya."


"Surabaya mana? Surabaya kan luas?" aku terus menyelidikinya.


"Kurang tahu! Arman tolong sekarang usir dia! kalau dia masih membunyikan klakson, Panggil penjaga Komplek lainnya! agar mendorong mobil wanita sial4n ini keluar dari Komplek. Kalau masih belum bisa, kamu panggil mobil derek sekalian!" Suruh ibu sama pria yang sejak dari tadi mengawalku.


"Nggak sekalian Panggil Doser saja, Bu! Biar sekalian diratakan." Timpal satpam bod0h itu. tanpa pikir panjang, Arman kembali mendekatiku, kemudian ia hendak memegang pergelanganku kembali.


"Hentikan! oke. sekarang ibu menang, tapi jangan panggil aku Erni! kalau aku tidak bisa menemukan keberadaan suamiku." ancamku sama ibu.


"Siapa yang mau memanggil kamu Erni! Kamu hanyalah sampah yang tidak berguna." Balas ibu sambil berlalu pergi masuk ke kamarnya.


"Silakan!" ujar Arman sambil melebarkan tangannya menyuruhku untuk berjalan.


Aku hanya menatap sinis ke arah pria itu, pria bod0h yang selalu tunduk sama majikannya, kemudian berlalu pergi menuju ke arah luar rumah Ibu.

__ADS_1


Setelah berada di luar, dengan cepat aku pun masuk ke dalam mobilku. lalu menghidupkan mesinnya, meninggalkan rumah mantan ibu mertuaku.


"Tolong kamu cari tahu, keberadaan pria yang ada di video itu. kalau kamu berhasil menemukannya. hadiah besar menantimu!" seruku sama seseorang di ujung telepon sana.


__ADS_2