Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 66 BERTEMU VINA


__ADS_3

Pov Arfan


Dua hari setelah menemani Karla, membuat laporan tentang penganiayaan oleh atasannya ke pihak yang berwajib. dan Alhamdulillah hari itu juga pihak yang berwenang, menangkap supervisor Karla. dan menjebloskannya ke penjara, sambil menunggu proses pengadilan.


Aku mulai bekerja, mengikuti jejak Saiful, yang mengais rezeki dari tong sampah. awalnya aku merasa jijik, karena ternyata di tong sampah itu, bukan hanya sampah plastik. masih banyak sampah-sampah yang lainnya, bahkan kotoran manusia pun bersarang di sana. namun setelah beberapa kali mencoba, aku mulai terbiasa.


"Yang begini, laku nggak full?" aku bertanya sambil mengangkat pembalut dengan cilong. besi bekas roll cat yang dtajamkan ujungnya.


"Isep, fan! lumayan buat nyimeng." jawab Saiful membalas candaanku


"Serius! Aku nanya nih, laku apa nggak?" aku bertanya kembali.


"Laku! Coba lu bawa ke klinik kecantikan! karena menurut sebagian keterangan yang gua dapat, itu bisa menyembuhkan jerawat." jelas Saiful sambil tersenyum mungkin merasa lucu dengan pertanyaanku.


"Masa, sih!" Tanyaku sambil mengerutkan dahi.


"Sudah buang! Lu jorok banget sih, jadi orang!" Gerutu Saiful.


"Ini yang jorok! masak sampah yang beginian dibuang ke tempat umum. apa mereka nggak malu, kalau ada orang yang membayangkan miliknya." ujarku sambil melemparkan benda itu ke arah tempat sampah.


"Lu nya aja kali yang Omes, masa yang begituan saja, kamu sampai berpikir ke sana!"


Aku hanya tersenyum tanpa membalas perkataannya, Aku terus membantu saiful mencari, mengumpulkan botol plastik serta kardus-kardus bekas. sambil terus diselingi dengan candaan dan tertawa yang begitu lepas.


Pukul 10.00, akhirnya gerobak yang dibawa oleh Saiful, sudah terisi penuh dengan sampah-sampah plastik dan kardus bekas.


"Alhamdulillah! cepat ya, kalau mengumpulkannya berdua seperti ini." ujar Saiful sambil memasukkan botol plastik terakhir ke dalam gerobak sampahnya.


"Emang biasanya sampai jam berapa, kalau sampai gerobak ini terisi dengan penuh.


"Jam 12.00, kalau bagus jam 11.00 juga sudah penuh.  Tapi kalau lagi jelek, bisa sampai jam 01.00 atau jam 02.00, aku baru bisa pulang." jelas Saiful


"Oh begitu!" sambil mencembungkan pipi. "terus Sekarang kita mau ke mana?" aku bertanya kembali.


"Pulanglah! mau ngapain lagi, nanti kalau nggak capek, habis salat zuhur dan makan siang. kita nyilong lagi!" ujar Saiful sambil berjalan ke arah depan Gerobak, kemudian ia menarik gerobak itu untuk segera pergi.


"bantu dorong Nggak full?"


"Dorong, lah! kalau nggak dorong. nanti gaji lu, gua potong!"

__ADS_1


"Sadis amat! punya bos."


"Hahaha! nanti, kalau ada tanjakan, baru lu bantu dorong! kalau datar seperti ini gua bisa sendirian." ujar Saiful yang terKehkeh.


Akhirnya kita berdua pun meninggalkan tong sampah, kemudian berjalan hendak pulang menuju rumah Saiful. Mungkin dia ingin menyimpan sampah hasil pagi ini terlebih dahulu. Kemudian dia akan melanjutkan kembali setelah melaksanakan salat zuhur.


"Kak Arfaaaaaan! Kak Arfan!" Panggil suara seorang wanita dari arah belakang.


Aku dan Saiful menghentikan langkah, kemudian saling menatap. lalu melempar tatapan itu, ke arah datangnya suara. terlihat ada seorang gadis cantik, berambut pendek yang berlari mendekati.


"Lu, kenal sama wanita cantik itu?" tanya Saipul sambil berbisik. Matanya tetap terfokus sama wanita yang sedang menghampiri.


Aku tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala, sambil terus menatap wanita yang semakin mendekat ke arah kita berdua.


"Kak Arfan! Ini benar kan, kak Arfan!" tanya wanita itu memastikan setelah berada di hadapan kita.


"Iya, saya Arfan, tapi mohon maaf Mbak, atau ibu ini siapa?" Tanyaku sambil menyipitkan pandangan, mengingat-ngingat wanita yang ada di hadapanku.


"Ini Vina, Kak! dulu Kakak pernah berkunjung ke kafe saya, ketika Kakak sedang mengurus pekerjaan pembuatan tempat wisata, yang berada di daerahku." jelas wanita yang ada di hadapanku


"Vina! Vina!" gumamku sambil terus memutar memori otakku, mengingat kembali ke masa lampau.


"Iya Vina! Masa, Kakak lupa?"


"Aku nggak mungkin salah orang, aku ingat betul ini kakak Arfan. Meski sekarang rambutnya sedikit panjang dan berpakaian seperti ini. aku tidak mungkin salah orang, kak!" Bela Vina yang tak mau kalah.


"Maaf Mbak! saya masih banyak urusan, saya yakin Mbak salah orang, karena orang yang Mbak sebutkan tadi, adalah orang yang sedang mengurus pembuatan tempat wisata. sedangkan saya hanya pemulung sampah. Maaf, saya pamit duluan, Assalamualaikum!" ujarku sambil mendorong gerobak, memberi kode kepada Saiful agar kita berdua cepat meninggalkan tempat ini.


"Tunggu kak! tunggu dulu!" ujar Vina menghentikan gerobak itu.


"Elu! selesaikan dulu masalah lo! biar lu bisa bekerja dengan tenang." ujar Saiful menengahi, Mungkin dia merasa kasihan dengan perjuangan wanita itu.


"Apa yang harus diselesaikan, Ful? aku saja nggak kenal sama wanita ini." Jawabku yang tidak mau berkepanjangan membahas masalah yang sedang kuhadapi. Karena semakin lama aku mengobrol dengan Vina semakin besar juga latar belakangku akan terbongkar.


"Ya sudah! kamu jelaskan saja dulu, Siapa tahu saja wanita ini hamil dan mencari Bapak dari anak yang ada di kandungannya. kamu tidak boleh lari dari masalah! aku tunggu di rumah." ujar Saipul sambil menarik gerobaknya, kemudian dia pergi tanpa menghiraukanku lagi.


"Masa kamu tega, ful! meninggalkanku sendiri di sini."


"Itu cewek, Bro! cantik pula. kalau macam-macam lu bisa dekap dengan tubuh lu. Pasti dia diam." ujar Saiful tanpa memalingkan wajah, dia terus berjalan meninggalkanku.

__ADS_1


"Maaf Mbak! kayaknya Mbak benar-benar salah orang."


"Hiks! Hiks! Hiks!"


Tiba-tiba wanita itu menangis, sambil tertunduk. membuatku merasa risih dan takut disangka buruk oleh orang yang lewat.


"Kamu kenapa menangis? aku kan nggak ngapa-ngapain kamu!" ujarku yang gelagapan, tidak tahu harus berbuat apa.


"Usaha Cafeku ditutup. karena Hotel itu dijadikan tempat prostitusi, sekarang orang yang aku kagumi selama ini, meski baru hanya satu kali bertemu. dia malah pura-pura tidak mengenaliku." Ujar wanita itu sambil tersendu, Seperti orang yang sedang merasakan prihatin yang begitu mendalam.


"Sudah! jangan menangis ya! aku sekarang sudah ingat. kamu wanita yang memiliki usaha cafe di hotel tempat aku dulu menginap, ketika aku menangani proyek pembuatan tempat wisata." ujarku menenangkan Vina.


"Kenapa kakak tadi pura-pura tidak mengenaliku." tanya Vina sambil menatap ke arahku, matanya yang sebab membuatnya terlihat manis.


"Aku malu, aku sekarang bangkrut Vin." ujarku dengan jujur.


"Kenapa harus malu, aku nggak pernah memandang status orang, kak."  jelas Vina.


"Ya sudah! kita cari tempat Teduh, agar kita bisa mengobrol dengan tenang." ajakku sambil berjalan terlebih dahulu, mencari pohon yang rimbun, pohon yang berjajar rapi di samping jalan. kemudian diikuti oleh Vina, kita duduk berdampingan di pot bunga, yang terbuat dari tembokan.


"Jangan dekat-dekat! nanti bajumu kotor." pintaku sama Vina sambil menggeser tempat dudukku, agar sedikit menjauh dari Vina.


"Nggak apa-apa! Kalau boleh jujur, Aku juga sekarang sudah bangkrut, Kak!" ujar Vina sambil tertunduk, matanya yang mengembun, menunjukkan kesedihan yang teramat dalam.


"Kenapa? Terus kenapa sekarang Vina berada di sini?" aku mulai bertanya.


"Sekarang aku kerja menjadi asisten rumah tangga, di salah satu rumah, di komplek ini. Kebetulan tadi, ketika aku hendak membuang sampah, aku melihat Kakak. walaupun Awalnya aku ragu, karena aku hanya bisa melihat kakak dari belakang. Tapi aku yakin, itu kakak. Dan benar saja aku tidak salah orang." jelas Vina.


"Yang sabar ya! mungkin sekarang kita berada di titik terendah, tapi aku yakin suatu saat kita bisa bangkit kembali, bisa membangun kerajaan bisnis kita. memang Kadang hidup harus ke bawah terlebih dahulu, untuk bisa mensyukuri ketika kita lagi berada di atas. Seperti roda kehidupan yang akan terus berputar, mengikuti pola yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta." Ujarku memberikan motivasi.


"Amin! semoga saja begitu. Oh iya, kakak sekarang tinggal di mana?" tanya Vina, matanya yang indah menatap kedua bola mataku.


"Aku tinggal di salah satu perkampungan, di dekat sini." jawabku jujur.


"Kapan-kapan, aku boleh main nggak ke rumah kakak. Nanti ajak aku jalan-jalan mengeliling kota ini, Aku ingin tahu kehidupan kota metropolitan. tapi nanti ya, kalau aku sudah gajian. dan majikanku mengijinkanku untuk libur." ujar Vina sambil menghembuskan nafas berat.


"Iya, Insya Allah, Ya sudah! kamu sekarang balik ke tempat kerja kamu! nanti dicariin oleh majikan kamu." aku memberikan saran.


"Iya Kak! terima kasih ya, lain kali jangan pura-pura nggak kenal."

__ADS_1


"Maaf, aku tadi benar-benar lupa."


Akhirnya vina pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan mendekati salah satu rumah yang ada di komplek itu, dengan Melambaikan tangan, Ia pun masuk ke dalam pintu gerbang.


__ADS_2