
Pov Arfan
Lama berdiri, sambil menimbang Apakah aku mandi atau tidak, karena melihat air yang tidak bersih dan peralatan mandi yang tidak lengkap, membuatku berpikir berulang kali, untuk melakukan hal itu.
"Jangan lama-lama mandinya! kayak perawan aja." ujar Saiful yang terdengar dari arah dapur.
Aku pun mulai membuka pakaianku, lalu menyiram dengan air yang menguning, Entah kenapa airnya bisa seperti itu. kalau badanku tidak terasa gerah, Mungkin aku akan menunda aktivitas mandiku.
10 menit berlalu, akhirnya aku pun selesai mandi, kemudian aku menggunakan pakaianku yang dipinjamkan oleh Pak Umar kemarin. setelah selesai memakai pakaianku, aku keluar dari kamar mandi.
"Jorok amat sih! ganti baju lu! kalau sarung Biarkan saja, masih bersih kan?" Ujar saiful yang melihatku masih mengenakan baju yang kemarin, kemudian dia memberikan kaos tangan panjang.
Aku hanya menatap nanar ke arahnya, tak menyangka dia akan memperhatikanku seperti ini.
"Udah nggak usah bilang terima kasih, dan ingat! gua masih normal." jelas Saiful sambil masuk ke kamar mandi, tak mempedulikanku lagi yang masih berdiri. kemudian terdengar guyuran air yang terkena tubuh seseorang.
Aku pun membuka baju koko milik Pak Umar, kemudian menggantinya dengan baju yang dipinjamkan oleh Saiful, setelah mengganti pakaian, aku pun duduk di ruang tamu, yang berukuran 2x2 meter.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Saipul keluar dari arah dapur , sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk. kemudian dia masuk ke kamar, tak lama Ia pun kembali dengan memakai baju koko, sarung, lengkap sama pecinya.
"Mau ke mana?" aku bertanya.
"Kita ke masjid dulu, lu kalau mau salat, di sini aja!" ujar Saiful.
"Nggak, aku mau ikut ke masjid, tadi sholat ashar saja aku sudah belajar salat berjamaah."
"Wah mantap, Ya sudah! ayo kita ke masjid terlebih dulu, nanti kita ke rumah pak Umar. Sekalian kita tidur di sana."
*****
Keesokan paginya, setelah Saiful memberiku sarapan, dia langsung berpamitan untuk mencari kehidupannya. Sedangkan aku terdiam Merenung, memikirkan Langkah apa yang harus aku ambil ke depannya, Tidak mungkin aku terus terpuruk menyesali kejadian yang sudah berlalu.
Aku bangkitkan tubuhku, kemudian mengambil tongkat yang aku simpan di dinding, untuk melatih kembali kakiku yang sudah mulai tidak terlalu sakit. mungkin benar, apa yang dikatakan oleh Pak Umar, luka yang aku derita, akan sembuh dalam jangka waktu dua atau tiga hari kedepan.
Aku mulai belajar berjalan di halaman rumah, Seperti yang hari kemarin aku lakukan, aku terus melatih kakiku agar mampu menopang tubuh, agar aku bisa kembali ke kehidupanku yang semula.
Setelah terasa capek, akupun kembali mendekati teras, yang terbuat dari bambu, untuk beristirahat terlebih dahulu.
Sambil beristirahat, aku terus berpikir bagaimana membalas kebaikan karla, aku tidak mungkin terus berdiam diri, apalagi kejadian pemerk0saan terjadi di kantor ibuku. Aku harus cepat mengambil tindakan, agar masalahnya cepat bisa diselesaikan dan tidak menguap.
Setelah tenaga aku terkumpul kembali, aku pun bangkit untuk menutup pintu rumah pak Umar, kemudian menguncinya dari luar.
Setelah dirasa aman, aku berjalan menyusuri Jalan Gang, mencari seseorang untuk menanyakan sesuatu, kebetulan ada bapak-bapak yang sedang merapikan sampah, yang mungkin baru ia Ambil.
"Maaf Pak! saya mau numpang nanya, kalau rumah Ibu nanti sebelah mana ya?" aku bertanya sambil manggut, tanda menghormati orang yang lebih tua.
__ADS_1
"Ini rumahnya!" jawab pria itu sambil menunjuk rumah yang ada di hadapannya.
"Oh maaf! terima kasih Pak!" ujarku sambil berlalu mendekati rumah yang baru saja ditunjuk oleh bapak-bapak itu.
"Assalamualaikum!" Aku mengucapkan salam setelah berada di depan pintu.
"Assalamualaikum!" aku mengulang kembali mengucapkan salam, setelah tidak ada jawaban. Namun tak lama setelah iti akhirnya pintu rumah bu Narti terbuka, kemudian keluar anak kecil yang kemarin memberikan aku makan.
"Ibu kemana Dek?" Tanyaku sambil menatap pria kecil itu.
"Nggak tahu, mungkin lagi mulung." jelas anak itu tanpa sedikitpun raut wajah yang ia Tunjukkan.
"Kapan pulangnya"
"Nggak tahu, nanti ke sini lagi aja!" ujarnya sambil kembali menutup pintu rumah. Tak memperdulikanku yang masih berdiri menatap heran ke arahnya.
"Mungkin sebentar lagi pulang." ujar bapak-bapak yang tadi memberitahu keberadaan rumah Bu Narti.
"Oh begitu ya, pak! terima kasih." ucapku, kemudian aku duduk di atas tembok pembatas antara Gang dan teras rumah Ibu Narti.
"Mau apa, mencari Ibu Narti?" tanya pria itu mulai bersosialisasi.
"Nggak ada Pak, saya hanya ingin menitipkan kunci rumah Pak Umar."
"Saya mau belajar jalan yang agak jauh, biar bisa cepat sembuh." Jawabku.
"Ya sudah tunggu dulu saja, nanti juga kalau udah waktunya pasti Ibu narti pulang."
Aku pun hanya mengangguk, kemudian terdiam dengan gelisah, takut Ibu narti pulang tidak sesuai dengan jadwal. namun setelah lama menunggu, akhirnya orang itu pun datang, dengan menenteng karung yang ada di pundaknya. aku pun bangkit dari tempat duduk, memberi hormat kepada wanita gagah yang baru pulang dari pertempuran.
"Nak Arfan!" sapanya sambil tersenyum ramah, kemudian dia melepaskan beban yang ada di pundaknya.
"Iya Bu, saya mau minta tolong sama ibu." aku mulai mengungkapkan maksud dan tujuanku.
Cklek!
Pintu rumah Ibu Narti terbuka, kemudian muncul anaknya, sambil membawa botol minum air dingin beserta gelasnya. kemudian anak kecil itu menyimpan minum itu di hadapan ibunya.
"Gelasnya satu lagi pik. buat kakak ini!" seru ibunya.
"Iya, baik bu." jawab anak kecil itu, sambil berlari masuk kembali ke dalam rumahnya, kemudian tak selang berapa lama Ia pun kembali dengan membawa gelas yang berada di tangannya.
Dengan telaten anak itu menuangkan air ke dalam gelas, kemudian dia masuk kembali ke dalam rumah.
"Minum Fan!" tawar Ibu Narti sambil mengambil gelasnya, kemudian meneguk air itu sampai habis, membuat wajahnya terlihat kembali segar.
__ADS_1
Aku pun mengangguk, kemudian mengambil gelas ku, lalu meminumnya, mengikuti apa yang dilakukan oleh ibu Narti.
"Oh ya! maaf tadi mau minta tolong apa?" tanya ibu Narti sambil menatap penasaran ke arahku.
"Takut Pak Umar pulang nanti siang, jadi saya mau nitip kunci rumahnya. karena saya mau menyelesaikan urusan saya terlebih dahulu. Mungkin nanti sore saya sudah pulang lagi ke sini.
"Oh begitu ya! sudah Mana kuncinya."
Aku memberikan kunci rumah Pak Umar, Kemudian aku berpamitan, tak lupa mengucapkan banyak terima kasih yang telah membantuku.
Aku berjalan menggunakan tongkat ketiak, diantar oleh tatapan Ibu Narti. aku terus berjalan menyusuri Gang. gerak kakiku yang terbatas, sehingga aku hanya bisa berjalan dengan perlahan.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya aku sampai di Jalan Raya. terlihat banyak mobil berlalu Lalang, terlihat juga beberapa taksi yang lewat. aku terus memindai area itu, menentukan lokasi di mana aku berada sekarang.
Setelah mengingat dan memperhatikan area sekitar, aku pun mulai paham, bahwa aku sekarang berada di dekat kantor ibu.
Aku mengangkat tangan, ketika ada mobil taksi yang melewati ku. namun sayang mobil itu tak berhenti, aku mencoba beberapa kali, namun hasilnya tetap nihil. mobil itu tidak ada yang berhenti sama sekali, membuatku merasa Aneh kenapa itu bisa terjadi.
Aku mulai mencoba memperhatikan pakaian yang aku kenakan sekarang. yang hanya memakai baju kaos lengan panjang, dan sarung. ditambah dengan tongkat ketiak penyangga tubuhku.
"Ya Allah! apakah sehina Inikah diriku sekarang, sampai orang-orang tidak mau membantuku." ujarku dalam hati, mungkin beginilah jadi orang miskin semua serba kesusahan.
Terik matahari yang sangat menyengat, karena waktu sudah mendekati tengah hari. Namun aku terus mencoba menghentikan taksi yang lewat di hadapanku.
Lama berusaha, akhirnya ada satu taksi yang berhenti tepat di hadapanku.
Dengan cepat aku pun menghampiri taksi itu kemudian menarik handle pintunya. namun pintu itu tidak terbuka. merasa aneh, kemudian aku berjalan mendekati pintu arah depan.
"Mau ke mana?" tanya sopir taksi sambil menatapku.
"Ke priya Semanan, Pak!" jawabku.
"Mau ngapain ke perumahan elit, mau ngemis di sana, ya?" tanya pria itu sambil menatap sinis.
"Enggak Pak, saya ada urusan di sana."
"Oh begitu, punya duit gak untuk membayar ongkosnya?"
"Punya Pak, nanti saya bayar lebih."
"Coba saya lihat dulu mana uangnya?" ujar Sopir itu, seolah tak percaya aku memiliki uang.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Aku hanya terdiam bingung menatap pria yang bertanya. untuk sekarang jangankan uang, untuk makan saja aku mengharapkan dari orang lain.
"Dasar orang gil4, Untung saja gua tanya terlebih dahulu. Nanti bisa-bisa gua rugi." dengus sopir taksi sambil menurunkan rem tangan, kemudian tanpa ada perkataan lagi, dia pun pergi meninggalkanku, yang masih menatap sedih ke arah kepergiannya.
__ADS_1