
Pov arfan
Mendapat ketegasan pertanyaan seperti itu, Aku hanya terdiam bingung harus menjawab apa. Kalau jujur aku sangat malu, karena sudah membohongi keluarga Pak Umar. kalau nggak, tetap saja lama-lama aku akan ketahuan, kalau aku berbohong. Itu akan membuatku lebih malu.
Truk! Truk!
Terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, terlihat Karla yang menghampiri, mungkin dia juga ingin mengetahui lebih detail tentang masa laluku. Atau dia ingin menjadi Hakim atas kesalahan yang aku perbuat.
"Jawab bod0h! ngapain kamu diam, apa gara-gara kami orang miskin, sehingga seenaknya kamu berbohong seperti itu." Ujar Karla dengan suara meninggi, Mungkin dia sudah merasa gemas dengan sikapku.
"Sudah kamu Duduk dulu! nggak baik Kalau ngobrol sambil berdiri seperti itu!" Pak Umar menenangkan anaknya yang terlihat barbar, yang tidak memiliki kesopanan dia langsung nyerobot ikut nimbrung.
"Nggak bisa Pak! karena ini sudah menyangkut keselamatanku, ketenanganku." Jawabnya Masih Berdiri.
"Karlaaaa!" tegas Pak Umar sambil menatap lekat ke arah anaknya. mendapat tatapan seperti itu dengan cepat Karla duduk di sampingnya. Kemudian menundukkan pandangan, tak berani beradu dengan sorot mata yang begitu berwibawa.
"Kalau nak Arfan, nggak mau jawab dan nggak mau jujur. itu hak nak Arfan. namun menurut saya, Buat apa berbohong? karena tidak ada gunanya, tidak ada untungnya. seperti nak Arfan tahu kita hanya orang yang biasa-biasa saja. tanpa ada yang bisa dimanfaatkan!" Jelas Pak Umar sambil membalikkan kembali tatapannya ke arahku.
"Sebelumnya, saya meminta maaf terlebih dahulu, karena saya sudah berbohong. Tapi saya melakukan itu bukan Tanpa Alasan. Saya sangat tertarik dengan perilaku warga sini, yang saling menolong, saya sangat tertarik sekali! meski kekurangan harta, warga-warga di sini masih bisa tertawa riang. dari ketertarikan itu saya ingin belajar mensyukuri dengan apa yang saya dapat. seperti yang Bapak tahu, kalau saya tidak diselamatkan oleh anak bapak, mungkin sekarang saya sudah tidak ada di dunia ini. dengan kesempatan ketiga ini saya ingin memperbaiki diri, dengan cara mendekatkan diri kepada sang pencipta. Jadi tolong bantulah saya agar berada di jalan yang tepat. Karena saya yakin bahwa kampung ini bisa menyembuhkan psikologis saya yang terganggu. Sekali lagi saya mohon maaf! saya sudah berbohong." ujarku panjang lebar berharap kedua orang yang ada di hadapanku mengerti dengan apa yang aku sampaikan.
"Terus Apa tujuannya nak Arfan membohongi kami itu seperti apa? Apa nak Arfan takut harta yang Nak Arfan miliki kami minta?" Tanya Pak Umar.
"Saya ingin belajar tentang cara mensyukuri hidup di sini, di rumah ini, di kampung ini. saya sudah mulai menemukan tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Izinkan saya untuk terus tetap tinggal di sini." Pintaku berharap.
Mendengar penuturanku Pak Umar hanya terdiam, seolah lagi menimbang baik buruknya, keputusan yang hendak beliau ambil. Membuatku berharap harap cemas, takut Pak Umar tidak menerima dengan semua alasanku.
"Apa cuma itu alasannya?" Tanya Pak Umar memastikan.
"Iya Pak!" jawabku sambil tetap menundukkan pandangan tak berani beradu tetap dengannya.
__ADS_1
"Baik Kalau seperti itu alasannya, saya maafkan. karena menurut saya, Semua orang punya kesalahan, namun yang terpenting ke depannya Bagaimana kehidupan kita untuk terus menjadi lebih baik. Tapi saya belum mendapat Jawaban dari pertanyaan saya sebelumnya."
"Terima kasih banyak Pak! telah memaafkan kesalahan saya yang teramat besar. mohon maaf pertanyaan apa ya, pak?" aku balik bertanya .
"Apa Nak Arfan kenal dengan wanita yang bernama Erni?"
Mendapat pertanyaannya seperti itu, Aku hanya menghela nafas pelan lalu membuang kembali, menenangkan darahku Yang berdesir seketika. Aku hanya bisa menganggukan kepala pelan, sebagai jawaban bahwa aku mengenal wanita itu dan merasa malu sama Karla, karena aku sudah berpura-pura, tidak mengenali mantan istriku.
"Jawab bukan ngangguk-ngangguk! kayak ikan lumba-lumba!"
"Sudah kalau kamu nggak bisa diam! kamu tunggu di atas. jangan ikut nimbrung!" tegas Pak Umar sambil menatap tajam ke arah anaknya.
"Maaf Pak! Lagian kesal dari tadi ditanya ke mana, Jawabnya ke mana. Ada yang dijawab hanya ngangguk-ngangguk kayak ikan lumba-lumba. Dia kan nggak gagu Pak!" Jawab Karla seperti biasa dia tidak mau kalah berdebat.
"Benar! Saya mengenal Erni, itu adalah mantan istri saya!"
Mendengar ceritaku yang sangat memilukan. Membuat Pak Umar menarik nafas dalam, terlihat ada cairan bening yang mengalir di pipinya.
"Maafkan saya pak!" ujarku yang tak tahu harus berkata apa lagi.
"Bapak kok bersedih, cengeng amat! padahal ceritanya biasa saja. kejadian yang menimpa pria bod0h ini bukan kesalahan istrinya. ini murni kesalahan dia yang tak pandai membaca situasi, sehingga harimau yang sudah masuk ke dalam rumah, dia tetap cuek bahkan memberinya makan." ujar Karla sambil tersenyum sinis ke arahku.
"Nggak! Bapak nggak bersedih, Bapak cuma kelilipan!" jawab Pak Umar sambil mengedip-ngedipkan matanya, lalu menyusut cairan bening yang sudah tumpah dengan ujung lengan baju.
"Sekali lagi saya mohon maaf!"
"Bapak sudah memaafkan semua yang telah dilakukan oleh Arfan. namun kedepannya Bapak harap jangan diulangi lagi perbuatan seperti itu, sekecil apapun kebohongan, maka lama-lama akan semakin membesar. karena kebohongan yang kecil itu harus ditutupi dengan kebohongan yang lainnya."
"Terima kasih Pak! Terima kasih banyak."
__ADS_1
"Sudah jangan berterima kasih terus! karena saya tidak memberikan apapun untuk Nak Arfan. sekarang kita bahas untuk ke depannya, Bapak minta sama nak Arfan agar menyelesaikan masalah dengan istrinya terlebih dahulu. bukan Bapak mengusik atau mencampuri urusan pribadi, namun ketika urusan itu sudah menyangkut keluarga bapak, maka itu sudah menjadi tanggung jawab bapak untuk menyelesaikannya." Ujar Pak Umar memberikan keputusan.
"Baik Pak! Insya Allah secepatnya saya akan mengobrol dengan mantan istri saya. Agar dia tidak mengganggu kehidupan keluarga Bapak."
"Ya sudah! Terima kasih atas kesediannya. sekarang Arfan istirahat saja terlebih dahulu. Besok malam kita sambung lagi."
"Kok, bapak main nyuruh tidur aja! nggak marahin dulu gitu? Atau dimaki-maki agar ada sedikit efek jera, karena dia sudah membohongi kita!" tanya Karla sambil menatap penuh harap kepada orang tuanya.
"Buat apa?" tanya Pak Umar sambil menautkan alis.
"Ya biar! nggak ngulangin kesalahannya lagi Pak! apalagi tadi dia cerita dia sampai dua kali mau melakukan bunuh diri. berarti dia Tidak kapok, dengan apa yang dia lakukan."
"Nggak boleh menghakimi seseorang, kalau orang itu sudah mengakui kesalahannya. dan dia bersedia bertanggung jawab, kita mau nuntut apa lagi?" Pak Umar mengembalikan pertanyaan itu membuat Karla terdiam.
"Tapi harusnya gak semudah ini dong Pak!"
"Sudah sana Cuci muka! terus tidur " usir Pak Umar membuat Karla mendengus kesal sambil mencembungkan kedua pipinya.
"saya pamit dulu Pak! maaf kalau selama ini saya merepotkan. Terima kasih telah membantu saya!" ucapku sambil menguluarkan tangan kearah pria itu. lalu mencium punggungnya.
Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah pak Umar, hendak kembali ke rumah Saiful. sesampainya di rumah terlihat rumah saiful masih sepi, tak ada tanda-tanda keberadaan penghuninya, membuatku semakin merasa khawatir takut terjadi apa-apa dengan orang baik itu.
Aku membuka baju koko ku lalu dikaitkan ke atas paku. kemudian berbaring sambil menunggu kedatangan sahabatku. lama menunggu namun Saipul tak kunjung datang, aku meliihat jam di ponsel pemberian Karla sudah menunjukkan pukul 23.30. Namun orang yang ditunggu belum menampakkan batang hidungnya. aku terus menunggu dan berencana kalau Saiful 30 menit lagi belum pulang, Aku akan mencoba mencarinya. namun ketika aku hendak bangun, terdengar pintu rumah itu ada yang mendorong dari luar. kemudian masuklah Saipul dengan wajah yang sangat kusut, menandakan Dia sedang menghadapi masalah besar.
"Saipul Kamu kenapa?" Tanyaku sambil bangkit menyambut kedatangannya.
"Apaan lu ban9sat! Jangan mendekati gua pengkhianat!" bentak Saipul sambil mendorong tubuhku, namun tidak sampai terjatuh karena dorongan itu sangat pelan.
"Maksudnya full?" Tanyaku yang merasa kaget, karena aku adalah orang yang dikhianati. sekarang label itu Saiful tuduhkan kepadaku.
__ADS_1