
Pov Farid
Aku pindai area sekitar, terlihat di dinding ada salah satu foto yang menurutku tidak asing. karena beberapa tahun yang lalu, aku pernah menghajar pria yang ada di foto itu, gara-gara dia tidur dengan Erni, mantan istriku.
"Pak Farid....!" Panggil Dali yang mengagetkan, memecah Lamunan buruk dimasa lampau.
"Yah, Ada apa Pak?"
"Bantu saya untuk mengurus kepentingan pemakaman, saya mau menjemput istri di depan."
"Baik...! sebentar, saya tanyakan dulu sama pengurus di sini, bagaimana tata caranya."
"Ya Sudah, tolong ya....!" ujar Dali sambil keluar dari dalam rumah Ira, yang tidak terlalu penuh. karena mungkin keadaan siang hari, para warga kampung mungkin sedang bekerja. hanya terlihat ibu-ibu yang ikut menenangkan keluarga yang sedang duka.
Aku pun bangkit dari tempat duduk, kemudian keluar mencari para bapak-bapak untuk bertanya kebiasaan warga Kampung ketika mengurus jenazah. terlihat di dekat pintu pagar ada beberapa orang pria yang sedang mengobrol dengan yang lain, menceritakan kejadian yang menimpa warganya.
"Kasihan banget, sebenarnya Ari sangat baik, Dia selalu rajin pergi ke masjid. namun Setelah diperkosa oleh atasannya, sampai sekarang dia belum pernah sembuh, traumanya masih menghantui, sampai akhirnya meninggal," terdengar seseorang warga yang sedang menceritakan almarhum.
"Iya, sangat kasihan...! tapi, mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Yang terpenting kita doakan, Semoga arwahnya diterima di sisi sang pencipta." Sahut warga yang paling tua.
"Mohon maaf bapak-bapak, saya maumengganggu sebentar," sapaku sambil manggut memberi hormat.
"Ya, kenapa Pak?"
"Pak RT, yang mana?"
"Pak RT sedang mengambil keranda, sama pemandian jenazah, ada apa yah?" jawab salah seorang pria, balik bertanya.
"Saya rekan kerjanya Bu Ira, Saya ingin bertanya Bagaimana cara pengurusan jenazah di sini?"
"Kirain saudaranya. soalnya sepengetahuan saya, Bu Ismi tidak memiliki saudara dekat di sekitar kota Jakarta. dia perantau dari Bandung," tanggap salah Seorang warga.
"Tuh Pak RT-nya sudah datang," jelas salah Seorang warga sambil menunjuk ke arah orang-orang yang menggotong keranda dan tempat pemandian jenazah.
Setelah mereka menyimpan bawaannya, aku dengan cepat menghampiri, kemudian bertanya siapa pengurus di lingkungan itu.
__ADS_1
"Saya Roji, kebetulan saya sebagai ketua RT di sini. Ada keperluan apa," ujar salah seorang pria menjelaskan.
"Saya Farid Pak, orang yang tadi mengangkat telepon Bu Ira, karena beliau sedang tidak sadarkan diri."
"Oh Pak Farid, Iya ada apa Pak?" Pak RT mengulang pertanyaan.
"Saya mau bertanya, bagaimana cara membantu Bu Ira untuk mengurus jenazah, karena menurut keterangan, beliau tidak punya saudara yang dekat di Jakarta."
"Betul Pak, tapi untuk pengurusan jenazah Pak Ari. kami semua warga mengadakan iuran tiap bulan sebesar Rp25.000 untuk kematian. Uang yang terkumpul digunakan untuk kebutuhan warga yang meninggal. kami sebagai pengurus sudah menanggung semua biaya pengurusan jenazah, namun ada beberapa yang tidak bisa kami penuhi, karena minimnya anggaran."
"Apa saja itu Pak, biar kami bisa memikirkan."
"Untuk orang yang memandikan dan mengkafani kami sudah sediakan pelepas lelah, sama seperti kuburan kami sudah sediakan. namun yang jadi permasalahan adalah ambulans untuk membawa jenazah, dan mobil untuk pengiringnya. soalnya kalau meninggal siang seperti ini, para warga sudah pergi ke tempat kerja masing-masing, Jadi kami susah meminta bantuan mereka."
"Ada lagi yang dibutuhkan Pak?" tantangku setelah mendengar penuturan pihak pengurus.
"Saya Rasa itu sudah cukup.
"Ya sudah, kalau seperti itu saya usahakan."
"Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih, karena bapak sudah mau membantu keluarga Bu Ira."
"Itu sudah menjadi tanggung jawab Kami semua, sebagai pengurus."
Setelah selesai bermusyawarah, aku pun berpamitan untuk menyampaikan semuanya kepada Dali. kemudian berjalan menuju teras untuk duduk melepaskan lelah dan menenangkan hati yang terus berdegup tak karuan. dari arah luar pagar terlihat orang yang ditunggu pun masuk sambil menggandeng istrinya.
Melihat atasanku masuk, aku pun mengikuti dari belakang. terlihat Calista sedang memeluk Ira begitu erat, layaknya seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya. Calista terus menenangkan Ira bersama ibunya, ya sedang merasakan duka yang begitu mendalam. sebisanya, semampunya, sedangkan aku diajak Dali untuk keluar kembali kemudian kita duduk di kursi yang berada di teras.
"Bagaimana?" tanya Dali mulai membuka diskusi.
"Untuk pengurusan jenazah, para warga memiliki uang kas kematian, sehingga itu bisa membantu keluarga yang sedang duka. namun ada beberapa hal yang tidak ditanggung oleh uang kas itu." Jawabku menyampaikan.
"Apa aja?" tanya Dali yang menatapku dengan begitu lekat.
"Mobil jenazah untuk membawa jenazah ke kuburan, dan mobil pengiringnya, Buat warga-warga yang mau ikut mengantar ke kuburan."
__ADS_1
"Ya sudah, sebentar....!" jawab Dali sambil mengambil handphone dari tasnya, kemudian dia memijat tombol untuk menelepon. tak lama menunggu teleponnya terhubung, kemudian dia meminta bantuan klinik untuk mempersiapkan mobil jenazah. setelah itu dia mengajakku untuk menemui Pak RT, yang sedang sibuk mengatur posisi pemandian.
"Maaf mengganggu Pak!" sapa Dali sambil manggut.
"Yah, Ada apa Pak?" jawab Pak RT sambil memberikan gorden penutup pemandian kewarga yang membantu.
"Kalau untuk mobil orang yang mengantar, biasanya pakai mobil apa Pak?" tanya Dali sambil menatap pria paruh baya itu.
"Biasanya pakai pick up, kalau nggak angkot. Yang terpenting para warga tidak kecapean berjalan. karena jarak dari kampung sini ke TPU jeruk purut lumayan jauh.
"Di mana kita bisa menemukan mobil itu?"
"Kalau biasanya ada warga yang baik, sehingga tidak susah mencari dan bayarnya pun cukup mengganti bensinnya saja. namun sekarang sudah pergi bekerja. Kalau Bapak mau, di pertigaan jalan ada mobil pick up yang disewakan, di situ juga harganya bisa miring, sebut saja nama pak RT Roji, pasti mereka sudah mengenal." Ujar pria itu memberikan saran.
"Siap kalau seperti itu. Oh iya, Butuh berapa mobil?" Ujar dalih bertanya lagi.
"Tiga juga kayaknya cukup pak. di sini biasanya sangat ramai, ketika ada berita duka seperti ini. Namun ketika ada yang meninggal siang seperti Pak Ari, para warga sudah banyak yang pergi ke tempat kerja masing-masing. sehingga mereka tidak mengetahui," jelas Pak RT.
"Pak Farid, tolong temui orang yang menyewakan mobil pick up! kalau ada yang nganggur, sekalian saja sewa buat mengantar para warga yang hendak ikut ke kuburan," pinta Dali sambil menatap ke arahku. kemudian dia mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk membayar sewa mobil.
"Baik Pak...!" jawabku sambil manggut, kemudian mengambil uang pemberiannya.
"Oh iya, kunci mobil saya masih ada di Bapak kan, sekalian aja bawa mobil, agar ketika tidak ada mobil yang siap di situ, bapak bisa mencari ke tempat yang lain!"
Aku hanya mengangguk, kemudian pergi keluar dari area rumah Ira, menuju Jalan Besar di mana mobil Dali terparkir. sebelum keluar dari gang terlihat Arfan bersama istrinya baru turun dari mobil. dengan cepat aku pun menghampiri, kemudian mengeluarkan tangan mengajak sahabatku bersalaman.
"Mau ke mana Pak Farid?"
"Mau mencari mobil pick up, buat membawa para warga yang mengantar jenazah."
"Oh begitu, Pak Dali ada di dalam?" tanya Arfan.
"Ada Pak! beliau bersama istrinya sedang menenangkan Bu Ira,"
"Ya sudah, saya ke dalam dulu!" jawab Arfan sambil menggandeng istrinya, yang terlihat semakin lama semakin cantik.
__ADS_1
Namun dengan cepat aku membuang pikiran seperti itu, aku takut kejadian yang lalu terjadi kembali. aku mulai melangkahkan kaki menuju mobil Dali terparkir, kemudian masuk ke dalam untuk mencari mobil pick up.