
Pov Arfan
"Mau sampai kapan? kamu mengurung diri seperti ini." ungkap Ibu sambil terus menyuapiku.
Aku tidak menjawab ucapan ibu, aku hanya fokus mengunyah makanan yang ada di dalam mulut. rasa sakit yang begitu dalam, sehingga susah untuk terobati. aku lebih menutup diri, Berharap sewaktu-waktu ada malaikat yang menjemputku. Tanpa harus mengakhiri hidup.
Lima bulan yang lalu, aku pernah mencoba meminum obat penenang, dengan dosis yang begitu besar, agar aku bisa meninggalkan dunia ini. tak mampu menahan kenyataan yang begitu pahit.Bagaimana tidak, sahabat yang selalu aku banggakan, dengan istri yang begitu baik. mereka tega menghianatiku, mereka tega berhubungan badan di depan mataku, Tanpa ada sedikitpun penyesalan.
Namun usaha untuk meninggalkan dunia yang penuh tipu muslihat itu gagal. Setelah aku diselamatkan oleh ibuku, yang dengan cepat membawaku ke rumah sakit, sehingga nyawaku bisa tertolong.
Semenjak aku keluar dari rumah sakit, aku belum pernah menginjakkan kaki keluar dari kamarku yang sekarang. aku lebih sering mengurung diri, menghabiskan waktu untuk tidur. berharap bahwa yang aku alami hanyalah mimpi buruk.
"Kalau kamu tidak memiliki semangat untuk hidup, cobalah kamu lihat ibu yang sudah tua ini. apa kamu tega melihat masa tua Ibu dipenuhi dengan kesedihan, Ingat pesan almarhum Bapak. ketika kamu tidak bisa memberikan manfaat sama orang lain, minimal kamu jangan membuat susah. Kamu harus bangkit! masih banyak kebahagiaan yang bisa kamu kejar." ujar ibu terlihat dari sudut mataku, matanya mengeluarkan cairan bening. ingin rasanya aku memeluknya, namun tubuhku seolah menolak, untuk melakukan hal itu. aku hanya terdiam menatap ke arah depan, seperti orang yang kurang waras, namun otak sama hatiku masih bekerja dengan normal, sehingga air mataku tak bisa menyembunyikan Kesedihanku sekarang.
Setelah selesai menyuapiku, Ibu memberikan obat yang sedikit membuatku tenang, karena bisa tertidur dengan nyenyak.
"Sana, kamu istirahat! kamu harus kuat! Kamu harus sembuh. kasihan Ibu, harus menanggung semuanya sendiri." ujar Ibu sambil mengangkat tubuhku, kemudian menggandengku menuju tempat tidur.
Beliau tidak merasa jijik, walau aku belum pernah membersihkan tubuh, semenjak pulang dari rumah sakit. beliau dengan tulus merawat anak yang tidak berguna ini. Tanpa mengeluh sedikitpun, namun dia terus tetap memberikanku motivasi. agar aku segera Bangkit dari keterpurukan.
"Mau pakai senter?" tanya ibu setelah menundukkan tubuhku di atas ranjang, karena lampu kamarku sering aku pecahkan sehingga ruanganku sangat gelap. agar aku bisa menyendiri di dalam kegelapan.
"Maafkan aku ibu." ucapku dengan begitu pelan, semenjak aku berada di kamar ini, Aku belum pernah berbicara sedikitpun, terhadap orang yang menemuiku. aku lebih memilih berteriak sekeras mungkin, untuk meluapkan semua emosiku, daripada harus bercerita sama orang lain.
Ibu yang hendak mengambil senter. yang tadi dia taruh di atas lantai, seketika berhenti. kemudian berdiri sambil menatap ke arahk.u
"Kamu nggak perlu minta! Ibu hanya ingin kamu bangkit. kamu semangat lagi seperti Arfan yang Ibu kenal. Ibu ikhlas mengurusmu, walau seumur hidup ibu, namun ibu akan merasa sedih, ketika anak ibu yang selalu dibanggakan, sekarang seperti ini." ungkap ibu.
Aku pun terdiam kembali, sambil menatap ke arah kosong. tanpa menjawab pernyataan ibu. melihat sikapku kembali ke mode biasa, terdiam tanpa memperhatikan keadaan sekeliling. Ibu Pun melanjutkan niatnya untuk mengambil senter itu, kemudian beliau menaruhnya di atas nakas yang sudah rusak, tak berbentuk. agar ruangan kamarku menjadi terang, meski beliau tahu dengan Apa yang akan aku kulakukan terhadap senter itu.
Setelah menyimpan senter Ibu pun berlalu pergi, keluar dari kamarku. meninggalkanku kembali, dalam kesendirian dan penyesalan yang begitu dalam. merasa bodoh dengan apa yang terjadi dalam kehidupanku.
__ADS_1
Setelah lama aku duduk di tepian ranjang, sambil memperhatikan area sekitar, yang mulai meredup, karena pencahayaan senter yang menggunakan baterai. Sehingga senter itu tidak kuat bertahan lama. perlahan mataku mulai mengantuk, mungkin efek dari obat yang tadi aku minum. kurebahkan tubuhku ke kasur yang sudah tidak memakai sprei, dengan warna sedikit kekuningan. baunya seperti ****** yang kekurangan air, karena ketika aku hendak membuang air kecil, aku lebih memilih pipis di dalam celana, seperti bocah yang baru berumur 2 bulan.
Sebelum tidur, tidak lupa aku memberi pilihan kepada Tuhan, antara mencabut nyawaku, dan mengembalikanku ke waktu yang sangat bahagia, ketika aku bersama istriku.
*****
Keesokan paginya, seperti biasa sebelum Ibu berangkat ke kantor, dia akan menyempatkan diri, untuk masuk ke kamarku, memberi sarapan dan memberikan obat.
"Assalamualaikum!" ujar Ibu sambil mendorong pintu kamarku, yang tak pernah dikunci. Mungkin beliau menganggap aku bukan orang gil4 sehingga tidak mengganggu. Ibu akan mengucapkan salam sebelum memasuki kamarku, meski beliau sudah tahu jawaban yang akan kuberikan.
"Waalaikumsalam!" jawabku dalam hati, jawaban yang tak bisa ku ungkapkan.
Ibu terdiam sesaat memperhatikan ke arah senter, yang masih berada di tempatnya, perlahan ya menghampiriku, kemudian duduk di tepian ranjang.
"Ayo Bangun! Sarapan dulu!" seru Ibu sambil menarik tanganku untuk bangun dari tempat tidur.
Dengan malas aku pun mengikuti tarikan ibu, kemudian duduk sambil menatap ke arah luar jendela yang tanpa kaca. Karena hancur setelah aku melemparnya.
Setelah selesai menyuapiku dan memberi aku obat. Ibu pun pamit untuk pergi ke kantor, walau aku tak memberikan respon apapun, dia akan terus bercerita tentang kegiatan apa yang akan dilakukannya hari ini.
Setelah Ibu pergi, aku masih duduk tanpa mengalihkan pandangan dari arah jendela. kegiatan ini bisa aku lakukan dari pagi sampai sore hari. Tak ada yang bisa merubah posisi itu, kecuali ngantuk yang menghampiri.
"Kalau kamu tidak bisa memberi manfaat sama orang lain, minimal kamu tidak merepotkan." lama termenung sehingga membuat halusinasiku seolah menangkap suara bapak, yang berbisik di dekat telinga.
Perlahan aku memelingkan wajah untuk melihat area sekeliling, memastikan suara yang aku dengar adalah benar suara bapak. namun ruangan itu nampak sepi, seperti semula. tak ada orang ataupun benda yang bergerak.
"Iya aku harus pergi dari dunia ini, agar ibu tidak repot mengurus orang yang tak berguna ini." pikirku sambil kembali menatap ke arah jendela, memikirkan cara terbaik untuk pergi dari dunia ini.
Aku bangkitkan tubuhku dari kasur, berjalan mendekati jendela. melihat ke bawah, menerka-nerka jarak, menghitung secara matematis. ketika aku menjatuhkan diri ke bawah, Apakah aku akan meninggal secara langsung, atau hanya luka-luka. karena kalau hanya luka-luka, itu akan semakin membuat Ibuku merasa sedih. Dan tersiksa dengan sikap bod0hku.
Setelah aku pertimbangkan, ternyata jarak segitu tidak akan mampu untuk membunuhku. sehingga aku berpikir untuk mencari jalan lain agar aku bisa mati seketika.
__ADS_1
Kulangkahkan kakiku menuju arah luar pintu kamar, mencari jalan untuk naik ke rooftop rumah, karena menurut perhitungan, tidak ada orang yang selamat, ketika jatuh dari lantai 3. namun sialnya pintu menuju ke Rooftop itu terkunci. dan kuncinya tidak ada di situ, sehingga aku hanya berdiri sambil menatap ke arah pintu. Berharap Pintu itu terbuka dengan tiba-tiba.
20 menit berlalu aku masih tetap berada di tangga, menuju Rooftop rumah Ibu. berpikir bagaimana cara membukanya. namun bukannya ide membuka kunci yang kudapat, Melainkan aku punya ide lain untuk mengakhiri hidupku. Karena setelah aku berpikir lama, ketika aku meninggal, terus Ibu mengetahui tubuhku yang kaku, pasti dia akan merasakan sedih yang begitu luar biasa.
Setelah menimbang baik buruknya, dengan cara apa aku harus meninggalkan dunia ini. akhirnya aku memutuskan, aku harus meninggal tanpa ada yang mengetahui bangkai tubuhku.
Perlahan aku membalikkan tubuhku, turun dari tangga Rooftop. menuju kamarku kembali. kemudian mengambil sprei dan guling yang berserakan di atas lantai.
setelah selesai merapikan kamarku. aku pun keluar untuk melanjutkan Niatku, mencari tempat di mana Aku meninggal dengan tenang tanpa ada yang mengetahui. setelah berada di luar kamark, aku terus menyusuri koridor lantai 2 rumah ibu. dengan hati-hati, aku menuruni tangga, takut membuat orang yang berada di rumah curiga.
Terdengar suara orang yang sedang memasak di dapur. mungkin itu Mbok iyem yang sedang menyiapkan makanan untuk makan siang. aku terus berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan. menuju pintu rumah. Aku memperhatikan keadaan di luar melalui celah jendela. terlihat Arman yang sedang berjaga di posnya, namun tak lama menunggu, dia pun pergi meninggalkan pos satpam menuju toilet, Mungkin dia mau menunaikan hajatnya.
Melihat kesempatan yang begitu baik untuk keluar dari rumah ibu. dengan cepat aku pun membuka pintu rumah, berlari mendekati pintu gerbang. beruntung pintu gerbang itu, tidak terkunci, sehingga aku bisa keluar dengan mudah dari rumah.
Aku terus berjalan menyusuri jalan Komplek, agar segera menjauh dari rumah Ibu. banyak orang yang melihatku seolah merasa jijik, karena tubuhku yang belum pernah menyentuh air, selama aku berada di rumah ibu. sehingga mungkin mengeluarkan bau yang tak sedap.
30 menit berlalu, akhirnya aku sampai di salah satu jembatan yang sudah tidak terpakai. karena sudah diganti dengan yang baru. Biasanya jembatan seperti ini digunakan untuk jembatan sementara sebelum jembatan yang dibangun selesai. hanya pejalan kaki yang melewati jembatan ini, namun mereka tak memperhatikanku. mungkin mereka menganggapku orang yang kurang waras, sehingga tidak terlalu menarik perhatian mereka.
Aku berdiri di tengah-tengah jembatan, yang sudah berkarat. memperhatikan aliran air yang begitu deras, membayangkan kembali kehidupan suram yang menimpaku. Agar aku tidak menyesal melakukan hal ini.
"Eh, bod0h! kalau mau bunuh diri jangan ke air, karena kalau tubuhmu jatuh ke air, itu tidak akan membuatmu terluka." teriak suara seorang wanita yang berdiri tak jauh dariku.
Aku tidak mempedulikannya, mataku terus menatap ke arah bawah. mengumpulkan rasa sakit yang aku Derita, agar aku meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.
"Beg0! ngapain Masih Berdiri di situ! kalau lu terjun ke bawah. itu buang-buang waktu saja, mending ayo ikut gua makan mie ayam." ujar suara perempuan tadi, sehingga membuatku sangat kesal, masa dia menyamakan kesusahanku hanya dengan semangkuk mie ayam.
Dengan kesal aku pun melirik ke arah suara itu, terlihat ada seorang wanita yang berdiri tak jauh, dari tempatku berdiri. dengan sedikit menarik satu sudut bibirnya ke atas, seolah mengejek.
Melihat semua orang tak ada yang peduli dengan kehidupanku, akhirnya aku pun tanpa berpikir lagi, aku melompat terjun ke sungai dengan air yang begitu deras.
"Agggrrrrrrhhhhhhhwwwwwwww!"
__ADS_1