Dua Penghianat

Dua Penghianat
eps. 72 kerja diperusahaan ibu


__ADS_3

Pov Arfan


"Apa saya, nggak boleh bersedekah atas kebahagiaan saya?" jawab Dali yang terdengar tegas.


"Ya sudah! terima kasih ya bang, terima kasih banyak! semoga semuanya, diganti dengan yang berlipat ganda." ujar Karla setelah melihat keseriusan penjual mie ayam.


"Amin!" jawab Dali sambil tersenyum.


Karla pun mengambil pesanannya, untuk dibawa pulang. kemudian dia berjalan mendahuluiku, meninggalkanku bersama Dali. melihat Karla sudah tidak memperhatikan kita lagi, dengan cepat aku merogoh sakuku, kemudian menyimpan uang lembaran yang berwarna merah ke atas laci gerobak milik dali."


"Sudah, Pak! Nggak usah bayar." tolak dali, namun aku tak menghiraukan.


"Lain kali. aku ingin mengobrol dengan kamu, aku minta maaf karena sudah membuat karyawanku seperti ini." ujarku dengan cepat mengambil karung yang berisi sampah. kemudian menyusul karla yang sudah memperhatikanku dengan penuh curiga. Karena aku tidak kunjung mengikutinya.


"Terima kasih Pak!" ucap dali dengan pelan.


"Ngapain aja, sih! Lu lama banget!" tanya Karla sambil menatap penasaran ke arahku.


"Aku cuma bilang sama penjual mie ayam itu. mie ayam buatannya sangat enak. Dan aku menitipkan pesan, sering-sering saja ngasih gratisan seperti itu." ujarku dengan menenteng karung di belakang punggung.


"Kebiasaan, lu! kalau dikasih hati, lu pasti minta jantung." ujar Karla sambil membalikkan tubuh kemudian berjalan di hadapanku.


Akhirnya kita berjalan menelusuri trotoar, menuju arah pulang ke rumah.


"Aduh! gua Hampir lupa." ucap Karla tiba-tiba sambil berhenti, kemudian Dia menepuk jidatnya.


"Lupa kenapa?" Tanyaku yang ikut berhenti menatap ke arahnya.


"Ada salam buat kamu!"


"Dari siapa?" Tanyaku sambil menautkan alis.


"Pemilik perusahaan tempat aku bekerja, karena menurut pengakuan beliau, kamu adalah orang yang mengantarkan pulang. Ketika beliau menjengukku." jelas Karla.


"Ooooooh! terima kasih."


"Waalaikumsalam gitu!" Serunya.


"Maksudnya?" Tanyaku yang merasa heran.


"Iya kalau ada orang yang memberi salam, maka kamu harus menjawabnya dengan Waalaikumsalam!" ucap Karla menjelaskan.


"Waalaikumsalam, Maaf aku nggak tahu." ujarku sambil menundukkan pandangan, merasa malu karena pengetahuan ilmu agamaku sangat rendah.


"Oh iya, Beliau juga menitipkan pesan. apa kamu mau bekerja di perusahaannya, menjadi cleaning service menggantikan Posisiku, yang ditinggalkan." tawar Karla sambil mulai berjalan kembali, membuatku sedikit mengerutkan dahi, menerka-nerka Apa yang hendak ibu lakukan.

__ADS_1


"Coba kamu tanya, sama Saiful terlebih dahulu, Siapa tahu saja dia mau?"


"Kenapa emang, kamu nggak mau bekerja?"


"Bukan begitu, Siapa tahu saja Saiful ingin mencari kehidupan baru. aku belum puas menikmati status baruku sebagai pemulung sampah, tapi kalau Saiful tidak mau, baru aku yang bekerja."


"Ya sudah! nanti kamu tanyakan, apa dia bersedia atau tidak. Bekerja di perusahaan Atri Group."


"Kamu aja! kamu kan yang ditugaskan." tolakku.


Akhirnya perjalanan itu tak terasa melelahkan, karena diselingi dengan obrolan obrolan ringan. sehingga perspektif ku terhadap wanita aneh ini, mulai sedikit berubah. ternyata dia orangnya sangat asik, ketika diajak ngobrol seperti sekarang.


Kita berpisah, di dekat pertigaan menuju arah rumah masing-masing. tak lupa Karla meberikan bungkusan mie ayam, yang tadi aku pesan buat Saiful. Dan dia berjanji akan datang menemui Saipul, setelah mengantarkan mie ayam buat Pak Umar. Karena kalau kelamaan takut mienya membengkak. untuk menanyakan tentang kesediaan Saiful, bekerja di perusahaan ibuku.


Setelah aku sampai di rumah Saiful, dengan cepat aku memberikan mie ayam yang tadi aku beli kepadanya. setelah itu baru aku membersihkan tubuh. kemudian berlari ke masjid hendak melaksanakan salat ashar, selesai melaksanakan salat aku pun kembali ke rumah Saiful. terlihat Karla sedang duduk membantu Saiful merapikan sampah-sampah yang tadi ia kumpulkan.


"Lu aja, Fan! yang kerja. kasihan gua lihat lu, kalau harus kerja beginian." ujar Saipul tiba-tiba seperti itu.


"Maksudnya?"


"Dia nggak mau kerja menjadi cleaning service. katanya waktunya sangat mengikat, dan dapat gajinya Sebulan sekali." Karla melengkapi penjelasan Saiful.


"Iya memang benar, kan? kita harus berpakaian rapi, terus hidup di telunjuk orang. kita tidak bisa libur semau kita. kita harus patuh dengan aturan yang sudah dibuat oleh perusahaan, yang kebanyakan hanya menguntungkan mereka sendiri." Timpal Saiful memberikan kejelasan.


"Gimana lu, mau apa nggak?" tanya Saipul.


"Ya sudah! besok, aku akan coba datang ke sana." jawabku memberi keputusan.


"Iya kesempatan tidak boleh disia-siakan, karena kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kali." jelas Karla menyetujui keputusanku.


Akhirnya kami bertiga pun mengobrol ngalor ngidul. sambil terus membersihkan sampah plastik, yang tadi kita ambil. karena kalau tidak dibersihkan, maka harganya akan turun.


******


Keesokan paginya. aku pun sudah dijemput oleh Karla yang hendak mengajakku pergi untuk bertemu ibu di kantornya. setelah aku memakai pakaian dengan rapi, aku pun ikut dengan Karla, berjalan kaki menuju tempat kerjanya.


Sesampainya di tempat kerja, Karla pun dengan cepat merogoh tasnya. kemudian mengeluarkan handphone yang baru saja aku lihat.


"Handphone mu, baru ya?" Tanyaku yang sedikit kepo.


"Tahu aja, lu! Iya, ini, handphone baru gua. kemarin selain Ibu Aisyah mengajakku mengobrol, dia juga memberikan hadiah. menurutnya sebagai permintaan maaf, Padahal Minggu kemarin, Beliau juga ngasih uang sebagai uang permintaan maaf juga. makanya aku bagi-bagi sama anak anak." jelas Karla.


"Baik banget ya!" ucapku pura-pura kagum.


"Sudah jangan berisik! aku mau menelepon Ibu Aisyah terlebih dahulu." ujar Karla sambil memijat handphonenya, Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya dia menempelkan telepon itu ke telinga.

__ADS_1


"Dia sudah ada di sini Bu! terus saya harus ngapain?" tanya Karla sama orang yang ada di ujung sana.


Tak terdengar balasan orang di ujung telepon Karla, karena dia tidak meloud speaker panggilannya. sehingga aku hanya menatap cengok, seperti orang yang baru pertama kali melihat orang yang sedang bertelepon.


"Baik! nanti saya Fotokan, dan saya akan suruh dia seperti apa yang Ibu tugaskan." ujar Carla sambil mengakhiri panggilannya.


"Ada apa?" aku bertanya.


"Ibu Aisyah, baru bisa datang nanti siang. Tapi beliau menyuruh gua untuk mengirim foto lu sekarang, dan menyuruh lu agar mengikuti semua perintahku. ingat sekarang Gua adalah supervisor kamu! jadi kamu tidak boleh membantah dengan semua yang Aku perintahkan." ujar Karla kemudian dia mengarahkan kamera handphonenya ke arah mukaku.


"Bentar! bentar! Aku harus pose dulu dong! biar enggak kelihatan aneh." tolaku sambil meregangkan tangan mengisyaratkan untuk berhenti.


"Yah sudah kadung, sudah terkirim. Bagaimana ini, menghapusnya?" ujar karla yang terlihat panik, Karena setelah kulihat foto yang dia kirimkan kepada ibu. Foto itu sangat jelek karena akunya belum siap.


"Nggak tahu, aku juga belum tahu kalau menggunakan handphone bagus seperti ini." ujarku pura-pura.


Tring!


"Ya! beliau mengirimkan pesan, agar mengirimkan foto kamu lagi, yang lebih jelas."


"Ya sudah ambil lagi fotonya."


"Tunggu sebentar!" Ujar Karla sambil membenarkan posisi kancing bajuku yang tidak terlihat rapi. Membuatku bisa menatap lebih jelas wajah cantik wanita aneh ini.


Setelah dirasa semuanya sudah rapi, Dengan cepat Karla mengambil fotoku, kemudian mengirimkan kepada ibu.


"Selamat pagi! Ibu supervisor hasil dari memfitnah orang." sapa seorang wanita yang baru datang.


"Jaga mulutmu, Ratna!" bentak Karla yang terlihat matanya memerah.


"Kenapa marah? bener kan, kamu memfitnah Pak Arga, agar kamu bisa menjadi supervisor cleaning service di perusahaan Atri Group!" ujar wanita yang bernama Ratna semakin menjadi, memojokan Karla.


"Kurang ajar!" ucap Karla sambil mengangkat tangannya, hendak menampar wanita itu. namun dengan cepat aku segera menghentikannya. Aku tidak tahu kenapa Karla menjadi seberingas ini.


"Sabar! jangan terpancing emosi! sekarang kamu adalah pemimpin. kamu harus menunjukkan kepemimpinan kamu." aku menenangkan Karla sambil terus memegangi tangannya.


"Gua sudah cukup sabar! dengan semua yang lu lakukan selama ini terhadap gua! lu nggak pernah merasa Bagaimana sakitnya dilecehkan! bagaimana hinanya ketika pria sial4n itu hendak menggagahiku." suara Karla yang meninggi sedikit bergetar. menandakan amarahnya sudah tak tertahan.


"Bukannya lu! yang goda!" Timpal Ratna Semakin menjadi sambil memecingkan mata ke arah Karla.


"Kamu ngapain sih! masih di sini. Ayo kerja!" ujar salah seorang pria, yang dulu mengantar ibu datang ke rumah Karla. kemudian dia menarik tangan Ratna, agar segera menjauh dari kita.


"Baru saja gua merasakan kebahagiaan! kenapa selalu ada orang yang menghancurkan kebahagiaan itu. apa orang susah seperti gua, nggak berhak bahagia." ujarĀ  karla sambil tertunduk.


"Sudah! sudah! jangan hiraukan perkataan orang lain. biasanya kamu tidak pernah menganggap perkataan orang." tenangku sambil mendekatkan wajahnya ke Dadaku. Memeluknya agar dia semakin tenang.

__ADS_1


__ADS_2