Dua Penghianat

Dua Penghianat
Bag 2. Mengantar


__ADS_3

Pov Ira


"Siapa yang memakai parfum ditumpahkan Pak? Sayang dong parfumnya mahal kalau memakai parfum di tumpahkan," jawabku mengukir senyum di Bibir tipis, meski merasa kesal bukannya pujian yang aku dapat, malah kerjaan yang dilontarkan oleh kak Dali.


"Yah, kamu apa nggak mikir, ini kan siang...! bisa pening kepala saya kalau berdampingan dengan bau seperti ini," jawabnya yang terlihat mendengus.


"Kakak kayak perempuan saja, mulutnya rewel deh...! jadi nggak ke rumah Pak Farid?"


"Jadi..., tolong kamu pesankan mobil online," pintanya sambil memalingkan wajah, hidungnya kembang kempis seperti kehabisan oksigen.


Aku yang merasa jengkel, karena Bukannya dia memuji, malah ngomong yang enggak-engak. Melihatnya yang semakin menjauh malah lebih ingin menggodanya, Aku duduk di samping Kak Dali, kemudian mengeluarkan handphone untuk memesan taksi.


"Di sana masih banyak tempat kosong, Kenapa kamu duduk di sini?"


"Gerah Pak...!" jawabku yang mencandainya sambil mengulum senyum. tanpa memperdulikan ocehannya lagi, aku mulai mengorder mobil untuk pergi ke rumah Pak Farid.


Semakin lama mengoceh, semakin senang mendengarnya, ini adalah salah satu bentuk perhatian yang diberikan Kak Dali, mungkin hanya pengungkapannya saja yang berbeda.


"Sudah Pak...! Mungkin beberapa menit lagi mobilnya akan sampai," ujarku memberitahu.


"Terima kasih! Oh iya, kamu kalau memakai parfum tidak harus banyak-banyak seperti ini," ujarnya yang sudah sedikit mereda, tidak ngomel-ngomel seperti emak-emak yang sedang menawar jualan di tukang sayur.


"Kenapa, Bukannya wanita itu harus wangi?"


"Emang harus, tapi wanginya yang sederhana saja, kalau berlebihan Bukannya itu tidak bagus?"


"Jadi kakak suka, kalau aku memakai parfum yang kalem begitu?" Tanyaku sambil mengangkat pandangan menatap bola mata yang terlihat begitu indah, bola mata yang bersih dengan hitam pekat.


"Bukan...! bukan begitu, maksud saya kalau kamu tidak berlebihan, akan banyak orang yang menyukai kamu"


"Emang Kakak nggak suka sama Aku?" Tanyaku yang tetap menatap wajahnya.


"Suka apanya?" tanya Kak Dali sambil memalingkan wajah, tak mau beradu tetap denganku.

__ADS_1


"Ya suka, suka....! suka apa ya...?" jawabku yang merasa bingung, karena kak Dali seolah menghindar, ketika aku mengajak berbicara hal yang serius seperti itu.


"Lah, aneh...! kalau saya boleh memberikan saran sebagai kakak kepada adiknya, Mulai sekarang kamu harus lebih dewasa, cara berpakaianmu juga harus lebih sopan, memang Pak Arfan tidak mempermasalahkan pakaian seseorang, namun sebisa mungkin kita harus tahu diri,"


"Maksudnya, berarti Kakak tidak suka cewek seksi sepertiku, kakak lebih suka cewek feminim seperti Kak Calista?"


"Bukan aku...! tapi kamu yang harus mulai mendewasakan diri dengan cara berpakaianmu. Emang kamu nggak sayang tubuhmu dinikmati oleh orang lain?"


"Maksudnya dinikmati?"


"Kamu itu sangat cantik, pasti banyak pria yang sangat tertarik dengan kamu, meski mereka tidak berani mengungkapkan dan memilikimu, tapi mata mereka bisa menikmati tubuhmu, lewat pakaian yang terbuka!"


"Kakak serius bilang aku cantik?" Tanyaku yang tidak percaya Dia berkata seperti itu, hidungku terasa mengembang seperti mau terbang.


"Iya kamu cantik, Soalnya kan kamu perempuan," jawabnya yang membuatku terasa Terhempas dari antariksa.


Aku sudah menarik nafas hendak melanjutkan pembicaraan, namun teleponku berbunyi, setelah aku melihat ternyata driver mobil online, dengan cepat aku mengangkatnya.


"Saya sudah berada di depan bu," ujar suara seorang pria memberitahu.


"Mobilnya sudah sampai?" Tanya Kak Dali yang terlihat penasaran.


"Sudah Kak, Ayo kita berangkat!"


Akhirnya kita berdua berjalan berdampingan menuju pintu keluar, rasanya aku ingin menggandeng lengannya yang sedikit terlihat kekar, baju kemeja yang menutupi tak mampu menyembunyikan otot yang berada di lengannya, rasanya mungkin akan sangat nyaman ketika aku gandeng.


Sesampainya di mobil, setelah mengkonfirmasi bahwa aku yang memesannya. sopir pun mempersilahkan untuk naik ke mobilnya, tanpa berbasa-basi mobil itu mulai melaju menuju ke arah rumah Pak Farid.


Di perjalanan tidak banyak pembicaraan, karena Kak Dali dia lebih menutup diri ketika di hadapan orang lain. Namun aku sering dinasehatinya, meski kadang terlihat cuek ketika di hadapan para temannya atau para karyawan lain, ini yang membuatku meyakini bahwa Kak Dali sebenarnya menginginkanku.


Semenjak dulu ketika ada dua orang pria yang menjenguk Kak Ari, yang baru mengalami depresi setelah diperkosa oleh atasannya. aku yang awalnya merasa sedih karena sudah menggantungkan hidup kepada Kak Ari, namun waktu itu orang yang dimintai tolong, yang dijadikan tulang punggung dalam keluarga mengalami sakit, sehingga harapanku untuk bertahan hidup perlahan mulai sirna, Mungkin aku akan hidup seperti wanita-wanita yang lain yang tidak memiliki keberuntungan.


Khayalanku dulu paling aku bisa bekerja jadi pelayan toko atau pramuniaga, karena aku yakin tidak bisa melanjutkan kuliahku. namun setelah kedatangan dua pria yang mengaku nama Arfan dan Dali ke rumah, seketika hidupku berubah. Pak Arfan yang mau mulai membuka usahanya kembali, Dia mengajakku untuk bekerja part time. namun meski begitu menurut keterangan beberapa karyawan Kak Ari adalah karyawan kesukaan Pak Arfan, karena walau masih muda sudah banyak pencapaian yang dicapai oleh kak Ari. sehingga aku mendapat hak istimewa, walau kerja paruh waktu aku tetap mendapat gaji yang sama, seperti para karyawan pada umumnya.

__ADS_1


Awalnya aku berharap Pak Arfan yang tidak memiliki istri sedikit tertarik atau melirik ke arahku, Namun sayang jangankan melirik mengobrol pun tidak pernah, yang dia lakukan hanya keseriusan-keseriusan tentang pekerjaan yang dia bicarakan.


Hatiku sangat hancur, ketika mendengar dia mau menikah dengan wanita yang bernama Karla, wanita yang tak jauh beda denganku, wanita yang hidup di pinggiran kali cimandiri, namun diselamatkan oleh pangeran dari kasta atas. Itu adalah Impianku yang direbut oleh gadis kampung.


Setelah pernikahan atasanku, berhari-hari aku tidak enak makan, tidak enak minum, rasanya aku adalah wanita paling gagal dalam hidup, karena pria yang aku dambakan dia malah lebih memilih meminang orang lain, namun ketika aku sudah lulus kuliah, Kak Dali yang selalu menyemangati dan menasehati layaknya seorang kakak, lambat laun aku mulai mengalihkan target ku, karena Baik Pak Arfan atau Kak Dali tidak ada bedanya, mereka sama-sama ganteng, sama-sama pintar, sama sama memiliki karakter yang tidak aku dapatkan dari laki-laki yang lain.


"Rumahnya sebelah mana Bu?" tanya sopir taksi mengagetkan lamunanku.


Sebelum menjawab aku pindai area di luar jendela mobil, ternyata sek.arang Aku sudah sampai di komplek perumahan Pak Farid


"Kenapa diam, kamu lupa?" tanya Kak Dali karena aku tak kunjung menjawab.


"Enggak bukannya lupa, tapi aku mau menarik nafas terlebih dahulu. terus lanjut Pak, nanti di depan ada pertigaan yang dekat tiang listrik, Bapak ambil belok kiri, dari situ sudah dekat" jawabku menjelaskan.


Mobil itu terus melaju dengan perlahan, karena banyak polisi tidur yang dibaringkan, mataku terus memindai ke arah depan takut rumah Pak Farid terlewat.


"Bukannya itu mobil kakak?" tanyaku memastikan sambil menunjuk ke arah depan, di mana ada sebuah mobil yang terparkir di luar rumah.


"Iya Itu mobil saya, Kenapa ada di luar?" tanya Kak Dali yang sama menatap penuh keheranan.


"Di depan berhenti Pak...!" pintaku sama sopir setelah mendekat ke arah mobil yang terparkir.


"Baik bu...!" jawab sopir taksi, setelah sampai depan pintu gerbang rumah Pak Farid, dia pun menghentikan mobilnya. aku dan Kak Dali pun turun.


"Terima kasih banyak Pak...!" ujarku sambil manggut memberi hormat.


"Sama-sama Bu!" sopir taksi kemudian mobil itu pun melaju untuk melanjutkan pekerjaannya.


CBenar ini rumahnya?" tanya Kak Dali sambil menatap ke arahku.


"Lah...! terus ini mobil siapa?" Tanyaku sambil mengulum senyum.


"Ada nggak ya orangnya?" ujar Kak Dali tak menggubris perkataanku.

__ADS_1


Aku pun menatap ke arah halaman rumah, yang terlihat sangat sepi namun Lampunya masih menyala, menandakan Rumah itu kosong tak berpenghuni. Namun membuatku merasa heran perginya Pak Farid, biasanya jangankan untuk tidak bekerja, ketika dia datang Agak terlambat pun dia pasti akan memberitahuku, di area carport terlihat ada mobil Avanza silver yang terparkir, ini menambah bahan pemikiran.


__ADS_2