Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 11 Nasihat


__ADS_3

POV Arfan


"Serius Kak?" tanya gadis cantik yang sekarang udah sah menjadi istriku. raut wajahnya terlihat bercahaya karena mendengar jawabanku yang menyanggupi bahwa Malam ini, kita akan menginap di rumah bapaknya, mertuaku.


"Serius Sayang! ayo siap-siap! Nanti keburu sore."


"Sebentar...! habiskan dulu jusnya, baru kita siap-siap. lagian kan rumah Bapak dekat ini, jadi aku nggak akan bawa baju ganti."


Akhirnya kita berdua pun terlarut kembali dalam obrolan obrolan ringan, sambil menghabiskan jus yang tadi dibuatkan oleh Karla. setelah Jus itu habis, aku dan Karla pun bersiap-siap untuk menginap di rumah pak Umar.


aku membawa baju kerja untuk baju ganti besok, agar tidak harus pulang ke rumah terlebih dahulu, ketika aku mau bekerja. Setelah semuanya dirasa sudah siap, kita berdua pun turun ke lantai bawah, untuk menemui Ibu. meminta izin bahwa Malam ini kita tidak menginap di rumahnya, kita mau nginep di rumah besannya.


Setelah mendapat izin, aku dan Karla diantar oleh Pak Andi sopir ibu menuju kerumah pak Umar. karena kalau bawa mobil ke rumah mertua, kita bingung Parkirnya di mana. sehingga aku minta tolong Pak Andi untuk mengantarkanku ke rumah Karla.


Sesampainya di rumah pak Umar, terlihat orang tua itu sedang membersihkan hasil mulung sampah hari ini.  padahal aku sudah melarangnya untuk bekerja seperti itu, namun dia tetap kekeh ingin tetap meneruskan pekerjaannya. menurutnya, ini bukan masalah uang. tapi ini adalah hiburan untuk mengisi waktu senggang, daripada terdiam melamun di rumah tak memberikan arti.


"Assalamualaikum!" ujar kita serempak.


"Waalaikumsalam!" jawab Pak Umar sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia mengelap tangannya dengan kain.


Karla pun mulai mengambil tangan itu, lalu mencium punggungnya. diikuti olehku yang melakukan hal yang sama. tak ada penolakan seperti waktu dulu, ketika aku hendak mencium tangan Pak Umar.


"Bapak, aku boleh nginep kan, di sini?" tanya Karla sambil menatap ke arah orang tuanya.


"Boleh...! Boleh banget! Lagian kamu gak harus minta izin, karena walaupun kamu sudah menikah, Bapak ini tetap akan menjadi bapakmu!" jawab Pak Umar


"Terima kasih banyak Pak!"


"Ya sudah, sana kalian masuk. Bapak tanggung masih ada pekerjaan sedikit."


Karla pun mengangguk, kemudian dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah. namun Aku menolaknya, karena ingin membantu Pak Umar membersihkan sampah yang sudah dikumpulkan hari itu.


"Nggak usah nak! nanti Tanganmu kotor." Tolak Pak Umar ketika aku hendak membantunya.


"Bapak masih begitu aja, lagian kan dulu saya juga pernah mengumpulkan sampah-sampah seperti ini."


Mendengar jawabanku Pak Umar hanya tersenyum, kemudian dia terfokus kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda. aku yang duduk di hadapannya, membantu merapikan sampah-sampah itu, membuang penutup plastik yang ada di cup atau membuka penutup botol untuk dipisahkan.


"Bagaimana urusan pekerjaan lancar?" tanya Pak Umar mengawali pembicaraan, memecah kekakuan antara menantu dan mertua.


"Alhamdulillah! untuk sekarang masih lancar."


"Syukurlah kalau begitu. Bapak doakan agar usahamu tetap lancar, diberikan rezeki yang halal dan barokah, untuk menafkahi anak istri."


"Amin....! oh iya pak, rencananya nanti hari Sabtu Karla mengajak Arfan ke Sukabumi."

__ADS_1


"Mau ngapain?"


"Mauuuuu, ituuuuu, mauuuuuu, anuuuuu," jawabku tergagap, tidak bisa menjelaskan tujuan yang sebenarnya karena rasa malu menyelimuti tubuh.


"Terus kenapa bilang sama bapak?" tanya Pak Umar seolah mengerti dengan apa yang hendak aku sampaikan.


"Kita mau minta izin, Apa boleh kita liburan ke Sukabumi?"


"Boleh, mau dibawa kemanapun Bapak tidak akan melarang. Karla sekarang sudah tanggung jawab kamu, namun sebagai orang tua. Bapak cuma titip pesan, jaga Karla baik-baik. bimbing dia untuk menuju keridhaannya sang pencipta."


"Insya Allah pak! terima kasih atas izinnya."


"Oh iya, mau berangkat ke sana sama siapa aja?"


"Karla berencana mengajak anak-anak untuk liburan ke sana."


"Anak-anak yang mana?"


"Anak-anak pengajian, Pak!"


"Bukannya Sukabumi itu sangat jauh, apa nggak kesusahan kalau membawa anak-anak?"


"Kurang tahu pak! namun Karla Mau mengajak Saiful untuk membantu."


Mendengar penjelasan mertua, aku hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti dengan apa yang beliau sampaikan. karena memang benar Kalau berlibur jauh, dengan membawa anak-anak yang masih dalam pengawasan orang tua. maka itu sangat membahayakan dan merepotkan.


"Benar juga ya pak!" Jawabku membenarkan apa yang disampaikan oleh pak Umar.


"Ya kalau mau ngajak anak-anak liburan, ajaklah main ke tempat-tempat wisata yang ada di Jakarta," Pak Umar mempertegas.


Akhirnya menantu dan mertua pun, terlarut dalam obrolan obrolan ringan. namun obrolan itu tidak jauh dari petuah-petuah seorang orang tua kepada anaknya. obrolan itu terhenti sebelum adzan maghrib berkumandang. kita berdua bergegas bersiap-siap untuk mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, yang jaraknya hanya terhalang beberapa rumah dari rumah mertuaku.


*****


Sehabis makan malam, kita berempat berkumpul di ruang Tengah yang biasa dijadikan tempat mengaji anak-anak pengajian. kebetulan Saiful menghampiri, untuk ikut  mengobrol. karena semenjak kemarin dia terus Menemani pak Umar, setelah Karla sah menjadi istriku.


"Karla..!" Panggil Pak Umar di sela-sela Obrolan.


"Yah kenapa Pak?"


"Kamu mau ke Sukabumi?" tanya Pak Umar mulai mengintrogasi.


"Iya Pak! Kenapa, Bapak mau ikut?"


"Nggak, Tapi bapak dengar dari Nak Arfan, bahwa kamu ingin pergi ke Sukabumi dengan membawa anak-anak pengajian?"

__ADS_1


"Iya Pak! mending Bapak sekalian ikut," jawab Karla penuh harap.


"Mohon maaf kalau bapak memberi nasehat," ujar Pak Umar yang selalu menghormati orang lain, meski itu adalah anaknya.


"Iya kenapa? maaf kalau Karla punya salah."


"Nggak bukan seperti itu, tapi menurut Bapak sebaiknya kalau kamu mau liburan bersama suami kamu. tidak harus membawa anak anak. karena kalau membawa anak-anak akan membutuhkan penjagaan ekstra. Apa kamu bisa menjaga anak anak sebanyak itu?" tanya Pak Umar sambil menatap lembut ke arah anaknya.


Mendapat pertanyaan dari Pak Umar, Karla pun terdiam seolah berpikir, mencerna apa yang dikatakan oleh bapaknya. "Tapi Pak, Karla kan Mau mengajak saipul, untuk menemani anak-anak" Karla menjelaskan niatnya.


"Mau sampai kapan kamu merepotkan Saipul terus, sekarang kamu sudah dewasa. Harusnya kamu mulai Mandiri, jangan sampai niat baikmu ternoda karena merepotkan orang lain. saran bapak kalau kamu mau mengajak anak-anak liburan, kamu ajak aja liburan ke tempat-tempat wisata di kota. selain dekat itu tidak akan membuat mereka capek, sehingga bisa menikmati acara liburan mereka." jelas Pak Umar panjang lebar.


Mendengar ucapan bapaknya seperti itu, Karla pun terdiam kembali, lalu menatap ke arahku seolah meminta bantuan jawaban. "aku terserah kamu, tapi benar apa yang dikatakan oleh Bapak, kalau kita mengajak anak-anak liburan jauh, nanti mereka akan kecapean di jalan, sehinga anak-anak tidak akan menikmati liburan mereka."


"Iya juga yah! Ya sudah berarti kita nggak jadi ngajak anak-anak ke Sukabumi," jawab karla yang sudah mengerti.


"Iya, tapi itu kan cuma anak-anak saja. kita harus tetap pergi ke sana." Timpalku sambil mengedipkan mata, membuat Gadis itu menekuk wajah.


Akhirnya Kami berempat berlanjut mengobrol masalah kehidupan sehari-hari. namun dari obrolan itu tidak jauh dari nasihat dan petuah dari orang tua kepada anak yang paling dia sayangi.


Kira-kira pukul 10.00, saipul berpamitan untuk pulang ke rumahnya. aku, Karla dan Pak Umar naik ke lantai dua, Di mana kamar kita masing-masing berada di sana.


"Maaf kamarnya berantakan, kamarnya nggak sebagus kamar di rumah ibu," ujar Karla yang terlihat sedang merapikan tempat tidurnya.


"Nggak apa-apa di manapun aku tidur, yang penting bisa berdua sama kamu." jawabku mulai menggodanya.


"Ih apaan siiiih! Oh iya, ini selimutnya!" ujar Karla sambil memberikan selimut yang masih terlipat.


"Kamu mau tidur di mana?" Tanyaku sambil menatap ke arah istriku yang memegang baju tidur hendak keluar.


"Mau ganti baju ke bawah, kalau di sini Ganti bajunya malu," jawab Karla sambil menundukkan pandangan.


"Ganti di sini aja! lagian aku sudah melihat tubuhmu," aku terus menggodanya, sambil mengulum senyum melihat kekonyolan Carla.


"Itu kan tadi pagi Kak! aku lepas kontrol, sekarang Maluku datang lagi."


"Bisa ya Malu datang Angin-anginan seperti itu?"


"Nanti keburu malam, aku mau ganti baju dulu yah!" ujar Karla sambil hendak keluar dari kamarnya, namun dengan segera aku tahan tangan lembut itu.


"Sudah ganti bajunya di sini! kakak janji nggak akan mengintip," tahanku sambil menarik tangan itu hingga tubuhnya jatuh ke pelukanku.


"Jangan kak!" ujar karla sambil membuang wajah ketika aku hendak menciumnya.


"Tapi ganti bajunya di sini saja," ujarku sambil melepaskan pelukannya kemudian aku menutup tubuhku dengan selimut, membiarkan istriku mengganti bajunya dengan baju tidur.

__ADS_1


__ADS_2