Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 26 SAMA SAMA MENCINTAI


__ADS_3

Pov Erni


Setelah selesai merapikan Semua barang-barang yang akan dibawa pulang dari rumah sakit. Aku pun kembali menghampiri Farid yang masih duduk di atas kursi sofa. kemudian dengan perlahan aku membantu dia untuk bangkit dari tempat duduknya, membantu berjalan menuju kursi roda yang tadi aku bawa.


Tidak susah ketika membantunya untuk dufuk, karena Farid yang hanya luka di bagian wajah, sehingga dia tidak terganggu ketika berjalan dan naik ke kursi roda.


Setelah Farid merasa nyaman duduk di atas kursi, dengan perlahan aku pun mendorongnya keluar dari ruang rawat inap. meninggalkan kamar yang sudah dua malam kita tempati, menuju parkiran rumah sakit di mana mobilku terparkir di sana.


Sesampainya di dekat mobil, aku pun membantu Farid untuk masuk ke dalam mobilku. Setelah dia duduk, dengan cepat aku mengembalikan kursi roda ketempat penyimpanan, kemudian berlari menuju pintu kemudi.


"Pulang ke mana?" aku bertanya sama pria yang menatap nanar ke arah depan kaca mobil.


"Ya ke rumah lah!" jawab farid menghela napas, kemudian dia menatapku sambil mengulum senyum.


"Kirain mau ke rumah aku?"


"Enggak, Kalau aku ke rumah kamu, nanti kita berdua tidak bisa beristirahat. ingin terus mengulang kejadian tadi malam di kamar rumah sakit." Jawab Farid mengingatkanku di mana tadi malam kita melakukan hubungan yang begitu luar biasa. Dia selalu membuatku terkesan dengan apa yang ia lakukan, bahkan seminggu yang lalu dia berani meminta jatahnya, di rumahku ketika Arfan sedang bermain Playstation dikamar kerjanya.


Mendengar penuturan farid yang seperti barusan. Aku hanya mengulung senyum, kemudian memfokusskan pandanganku ke arah depan, setelah mobil kuNyalakan, perlahan mobilku melaju pergi melaju, keluar dari rumah sakit menuju rumah Farid.


Diperjalanan pulang tidak ada yang kami bahas, kita hanya mengobrol yang ringan ringan saja, hanya untuk pengusir jenuh, ketika menghadapi macetnya Kota Jakarta.


45 menit berlalu. Akhirnya aku tiba di salah satu rumah yang tak begitu megah, namun sebanding dengan rumah-rumah yang ada di komplek itu.


Aku pun turun untuk membukakan pintu, karena rumah orang tua Farid berbeda dengan rumah Ibu Arfan suamiku. yang memiliki satpam di rumahnya, sehingga ketika aku mau memarkirkan mobil di dalam rumah farid. harus bersusah payah sampai turun seperti sekarang. namun itu tidak apa-apa, karena aku menikmati momen-momen kebersamaan dengan pria tampan yang ada disampingku.


Selesai membuka pintu, akupun kembali ke mobil, meneruskan Niatku memarkirkan mobilku di pekarangan rumah orang tua farid.


Setelah mobilku terparkir dengan sempurna. aku membukakan pintu mobil, membantu farid agar dia bisa keluar dengan aman. kemudian menggandengnya untuk berjalan menuju masuk ke dalam rumah.


"Bagus ya! lu malah asik-asik main sama perempuan, sedangkan orang tuamu di sini, kamu tinggalkan sendiri." sambutan hangat diberikan oleh seorang laki-laki tua, ketika melihat aku dan Farid masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf Pak! Bukannya aku tidak ingat pulang, tapi aku terkena musibah." jelas Farid berbohong, menyembunyikan kejadian sebenarnya.


"Halah! alasanmu busuk, nak! sini mana uang makan buat bapak." ujar pria itu tak menghiraukan penjelasan Farid, dengan cepat ia menghampiri kita berdua.

__ADS_1


"Aku belum mengambil uang pak, Perawatan rumah sakit saja Erni, yang bayar!" ungkap Farid yang menatap sayu ke arah pria yang dipanggil bapak.


"Ngomong aja! kamu tidak mau membagi uangmu dengan bapak! Dasar pelit! Ingat ya Farid, kamu bisa seperti sekarang, bisa bekerja di perusahaan besar, dengan gaji yang tinggi. itu adalah hasil keringat bapakmu Ini, yang rela kerja banting tulang, sehingga kamu sukses seperti sekarang." gerutu bapak Farid mengungkit perjuangannya.


"Beneran Pak! Farid baru saja kecelakaan, Farid belum sempat mengambil uang." Jelas farid mengiba.


Melihat perdebatan mereka yang semakin sengit, dengan segera aku mengambil dompet yang ada di dalam tas. kemudian mengambil beberapa uang lembaran merah, untuk diberikan kepada bapaknya Farid.


"Nah begini! contoh perempuan ini! walaupun dia bukan anak kandung bapak, namun dia tidak pelit sepertimu." Jelas bapak Farid sambil mengambil uang pemberianku.


"Terima kasih ya ni! nanti aku ganti!" ungkap Farid sambil menatap nanar ke arahku.


"Halah! jangan didengar pria Bulset dan pelit seperti dia. oh iya, kalau nggak salah kamu Istrinya si Arfan kan? anaknya si Aisyah itu!" tanya Bapak Farid. walaupun kita sudah bersahabat lama dengan anaknya. Namun aku dan suamiku jarang sekali main ke rumah Farid, karena seperti inilah kondisi keluarganya. sehingga membuat Siapa saja yang berkunjung ke rumah Farid, tidak akan merasa nyaman ketika harus bertamu lama lama.


Aku hanya tersenyum getir. membalas ucapan pria tua yang berlalu pergi menuju arah pintu keluar, kemudian terdengar suara Deru motor meninggalkan rumah.


"Maafin Bapak aku ya, sayang!" ungkap Farid sambil mengajakku, Untuk mengantarkan dia ke kamarnya.


"Nggak apa-apa mungkin sekarang beliau merasa pusing, karena semenjak ditinggal Ibu kamu, dia tidak punya teman yang dekat." aku sedikit menenangkan sahabat sekaligus kekasihku ini.


"Yang sabar ya! Coba nanti kamu ajak bicara dengan bapak, ikuti kemauannya. Siapa tahu saja, dengan seperti itu. hati beliau bisa luluh." aku memberikan saran, agar kekisruhan antara anak dan bapak itu bisa terselesaikan.


"Pernah sih! Aku berbicara dengan bapak. dia ingin membuka usaha jualan di pasar, namun sampai sekarang aku belum bisa mewujudkan permintaannya. gajiku yang kamu tahu juga tidak seberapa, terus ditambah kebutuhan-kebutuhan lainnya. sehingga rencana itu terus tertunda, dan entah kapan, Aku bisa mewujudkan permintaanya."


"Memang butuh modal berapa?"


"menurut dia, paling sekitar 500 jutaan. cukup buat sewa lapak, dan membeli barang-barang yang Iya mau jual, untuk modal awal."


Mendengar keterangan dari Farid, Aku mengambil handphone-ku, kemudian membuka aplikasi Mobile Banking, untuk mengirimkan uang yang baru saja Farid Sebutkan. karena buatku uang segitu bukan apa-apa, keuntungan pemilik saham di perusahaan suamiku, serta gaji suamiku yang dibagi dua. sehingga uang tabunganku tak terlihat berkurang, walaupun diambil dengan jumlah yang tadi disebutkan.


"Kamu mau ngapain?" tanya Farid sambil menatap penasaran ke arahku.


"Tuh! cek saldo rekening kamu!" Seruku sambil memasukkan kembali handphone ke dalam tas.


"Ya ampun! kamu baik banget, padahal uang rumah sakit saja, belum aku ganti. sekarang Kamu sudah mengirimkan uang lagi?" ungkap Farid sambil menundukkan pandangan, Mungkin dia merasa malu atas semua kebaikanku. Dan biasanya laki-laki lah yang berkorban untuk perempuan.

__ADS_1


"Aku harap kamu pergunakan uang itu sesuai yang kamu utarakan. dan jangan banyak pikiran kemana-mana, karena Sekarang aku tidak memiliki siapapun, kecuali kamu." ucapku dengan jujur, sambil mendudukan tubuh disampingnya.


"Sekali lagi! terima kasih Tuan Putriku."


"Iya sama-sama! sekarang kamu istirahat, Aku mau pulang dulu, nanti jangan lupa kamu makan dan istirahat yang cukup! Agar kamu cepat pulit"


Sebelum pergi, tak lupa bibir kita saling bertemu mengungkapkan rasa cinta masing-masing, seperti orang yang hendak pergi lama. Setelah itu, aku berpamitan meninggalkan rumah Farid, menuju rumahku yang masih dalam tahap penyelesaian akhir. namun menurut pengakuan mandor proyek, rumah itu sudah bisa ditempati dengan aman.


30 menit berlalu, akhirnya aku tiba di rumah tingkat dua dengan gerbang yang begitu tinggi. meski belum sepenuhnya rampung, rumah itu terlihat sangat megah, sesuai dengan rumah impianku.


Setelah membuka pintu gerbang, dan memarkirkan mobilku dicarport yang ada disamping rumah, aku berjalan perlahan menuju teras rumah. khayalanku kembali ketika mendatangi untuk mengecek pembangunan rumah ini, dengan suamiku yang entah di mana sekarang.


Hatiku tiba-tiba terasa perih, ketika mengingat perjalanan hubungan Rumah tanggaku, dengan seorang pria yang begitu sangat menyayangiku. namun Entah mengapa hatiku tidak bisa menolak, ketika Farid Sahabat suamiku, memintaku untuk menemaninya.


Aku berada di dalam dua pilihan yang sangat sulit, mereka semua sama-sama menyayangiku, sama-sama mencintaiku dengan begitu tulus. memuliakanku sebagai wanita yang paling beruntung di dunia. Sehingga aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka, dan kalau diperbolehkan Aku ingin memiliki kedua-duanya.


"Arfan kamu di mana?" ucapku lirih sambil membuka kunci pintu rumah.


Pintu rumah terbuka, perlahan aku masuk ke dalam. terlihat barang-barangku yang masih menumpuk dan berantakan, belum disusun dengan rapih. karena kemarin ketika aku meminta orang untuk memindahkan barangku dari rumah suami, aku hanya meminta mereka untuk mengamankan barangku, agar tidak terkena hujan atau di gondol maling.


Aku pindai semua ruangan, yang masih nampak acak-acakan. Aku menghela napas berat. karena ketika aku mau menempati rumah ini, aku harus tetap merapikannya terlebih dahulu. Rumah yang dalam tahap finising dan para pekerja yang diberhentikan dengan sangat mendadak, sehingga ketika mereka pergi tidak sempat merapikan tempat kerjanya.


Aku mengambil handphoneku, lalu menekan salah satu nomor yang ada di sana.


"Iya ada apa, Bu?" tanya mandor proyek, yang kemarin menemuiku di rumah sakit. Ketika dia menyerahkan kunci pintu rumah ini.


"Kamu bisa ke sini sekarang?" pintaku.


"Bisa, tapi maaf? ke sini ke mana ya, Bu?" tanya mandor proyek yang Terdengar agak sedikit kebingungan.


"Oh maaf! saya sekarang lagi berada di rumah!" Aku menjelaskan


"Baik, bu!sebentar lagi saya sampai.


Tap! tap! tapa

__ADS_1


Telepon itu aku putus, lalu mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan badan yang sudah terasa lelah, karena sudah dua malam waktu tidurku tidak cukup.


__ADS_2