Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 39 LIMA BULAN BERLALU


__ADS_3

Pov Erni


Lima bulan berlalu. Dari semenjak kejadian Ari menolak menjadi asisten pribadiku. sekarang aku sudah resmi menjadi janda, kesalahanku yang sangat fatal, sehingga pengadilan agama tanpa pikir panjang mengesahkan gugatan cerai yang dilayangkan oleh pihak suamiku. namun yang masih membuatku penasaran Sampai sekarang, aku belum pernah bertemu langsung dengan mantap suamiku. pernah aku mencoba mengikuti rapat putusan terakhir, dari pengadilan agama. untuk bertemu dengan suamiku, berharap ketika sidang putusan terakhir, suamiku akan datang. namun Harapan itu sia-sia, karena suamiku tidak menampakkan batang hidungnya.


Sebenarnya, Aku di bantu Farid, masih terus mencari keberadaan suamiku. Rasa bersalah masih menyelimuti Hati kecilku. Ingin rasanya meminta maaf secara langsung, atas kejadian yang pernah aku lakukan kepadanya. namun hasilnya tetap nihil. jangankan menemukannya, mencari jejaknya saja kami kesulitan.


Lima bulan lebih, setelah berpisah dengan suamiku. Aku masih tetap menjadi pemimpin perusahaan Erni Group, membangun kerajaan bisnisku, yang semakin berkembang pesat. karena semua karyawan yang dipilih oleh suamiku, mereka sangat kompeten dan sangat loyal terhadap atasannya. meski ada beberapa orang yang sudah mengundurkan diri, namun itu tidak membuat perusahaanku goyah, karena dengan cepat aku menutup celah itu, dengan mencari karyawan baru, yang sama talentanya dengan karyawan yang mengundurkan diri. Dan selama itu pula tidak ada pihak, yang menggugat atau merasa keberatan, karena aku mengambil alih kepemimpinan perusahaanku.


Ari, iya Ari! aku masih tetap mengejar untuk mendapatkan cintanya. karena sampai saat ini, aku masih belum bisa menaklukannya. pemikirannya yang begitu polos, sehingga dia tidak pernah melihat kehadiranku, yang selalu ingin diperhatikan olehnya. Namun aku akan terus berusaha, karena menurut pepatah, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti dia akan menemukannya.


Siang itu dikantor. ketika aku hendak beristirahat untuk makan siang, tiba-tiba aku dikagetkan dengan kelopak bunga mawar yang ditaburkan di depan pintu ruanganku, dengan begitu banyak. aku memindai ruangan koridor yang nampak sepi, mencari keberadaan orang yang melakukan ini. Namun aku tetap tidak menemukan siapa-siapa, yang ada mataku melihat ada bunga mawar utuh, yang berceceran. seperti memberi petunjuk, kalau aku ingin mengetahui siapa yang melakukan semua ini, maka Ikutilah bunga mawar yang berceceran itu.


Aku Mulai mengambil satu persatu bunga mawar yang berserakan di lantai. langkahku mengikuti di mana Bunga mawar Itu disimpan, hingga akhirnya aku sampai di Aula rapat. saking banyaknya bunga yang aku ambil dari lantai, sampai-sampai tanganku penuh dengan tangkai bunga berwarna merah. hingga akhirnya ceceran bunga itu terhenti dibuket bunga yang tersimpan rapi di atas meja.


Aku pindai seluruh ruangan aula rapat. namun aku tidak melihat ada orang di sana, karena mungkin semua karyawanku sudah turun ke lantai bawah, untuk makan siang. aku menyimpan bunga mawarku ke atas meja, di samping buket bunga yang begitu indah. Diganti dengan mengambil buket bunga, terlihat ada pesan yang tertulis di buket itu, sehingga dengan cepat aku pun membuka pesan itu, lalu membacanya.


"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup akan mulus sepanjang waktu. Akan ada saat-saat ketika hidup akan menjadi neraka... tapi, aku berjanji kita akan melewatinya bersama, selalu! Maukah kamu menikah denganku?" Isi  pesan yang ditulis.


"Please! jangan buat aku penasaran! kalau kamu benar-benar ingin mengajakku menikah, tunjukkanlah dirimu!" Teriakku setelah selesai membaca isi pesan yang ada dalam buket.


"Jawab dulu! apa kamu mau menikah denganku?" balas suara seorang laki-laki.


"Bagaimana mau menjawab? kalau aku saja tidak mengetahui siapa yang mengajakku menikah?" jawabku sambil terus memperhatikan seluruh area aula rapat, mencari dari mana arah datangnya suara.


"Jawab dulu! mau apa nggak?" jawab pria misterius itu.


"Sudahlah! jangan membuat saya marah! Saya tidak punya waktu untuk bermain seperti anak kecil." ucapku yang mulai kesal, dengan cepat aku menyimpan kembali buket bunga, yang sempat tadi aku ambil, ke atas meja.


Namun, ketika aku membalikkan tubuh. entah datangnya dari mana, di hadapanku sudah ada pria yang menekuk lututnya, sambil mengangkat tangan yang memegang kotak hati berwarna merah.


"Farid!" desisku setelah melihat pria yang tertunduk di di hadapanku.

__ADS_1


"Iya! aku Farid ferdiansyah! Aku orang biasa yang mengharapkan cinta seorang putri. aku memang tidak semapan suamimu yang dulu, aku mungkin tidak bisa membahagiakanmu secara materi, karena aku adalah pria yang sangat banyak kekurangan. hanya satu kelebihanku, yaitu mencintaimu dengan sepenuh hati, Seluruh jiwa, seluruh raga! Maukah tuan putri menerima cinta yang luar biasa, dari pria yang sederhana ini?" ungkap Farid bak orang yang sedang membaca puisi.


"Iiiiikh! apaan sih, Rid? norak tahu!" ucapku sambil mengulum senyum, tak dapat kupungkiri, dari hati yang terdalam, aku bahagia diperlakukan seperti ini.


"Maaf! kalau cara hamba, mengungkapkan cinta sangat norak. namun Tuan Putri nggak usah khawatir, masih banyak kejutan yang akan lebih membuat Tuan Putri merasa kagum. Kalau tuan putri bersedia menerima cinta hamba!" ucap Farid sambil tetap tertunduk di hadapanku.


"Sudahlah Rid! bangun!" ucapku sambil menarik tangannya agar dia berdiri sama rata denganku.


"Jawab dulu! mau, apa nggak?"


Aku pun terdiam beberapa saat, untuk mengetes bagaimana kesungguhannya mengajakku menikah, karena Aku tidak mau gagal dalam rumah tangga untuk yang kedua kalinya, aku ingin menikah sekali seumur hidup.


"Maaf! kalau saya lancang!" ungkap Farid terlihat wajahnya menunjukkan kekhawatiran, mungkin dia mulai kehilangan kepercayaan dirinya.


Aku pun tersenyum, melihat perubahan wajahnya, yang terlihat sangat lucu. dengan cepat aku menarik tangan yang sedari tadi berada di hadapanku. Membuat tubuh Farid berdiri seketika, kemudian dengan cepat aku memeluk pria yang ada di hadapanku, dengan pelukan yang begitu erat. tak terasa butiran kebahagiaan pun mengalir membasahi pipi, melengkapi kebahagiaan yang sedang aku rasakan. Farid pun membalas pelukanku, mengusap-ngusap punggungku dengan sangat lembut, memberiku ketenangan.


Entah mengapa, aku bisa merasakan kebahagiaan sebahagia ini. padahal aku sering berhubungan dengan Farid, namun aku tidak bisa merasakan, kebahagiaan yang seperti sekarang aku rasakan.


"Terima kasih, Rid! terima kasih! sudah memberiku kesempatan untuk menjadi wanita yang lebih baik." ucapku tanpa melepaskan pelukan.


Lama berpelukan, akhirnya tangisku terhenti. dengan perlahan Farid melepaskan pelukannya. kemudian memegang pundakku, tatapannya memenuhi wajahku, seolah ingin tahu, apa yang sedang hatiku rasakan saat ini. Dipandang seperti itu membuatku sedikit merasa malu, sehingga aku menundukkan kepalaku, tak berani menatap wajah calon imam yang keduaku.


"Mau menikah, denganku?"  tanya Farid seolah Tak Bosan menanyakan hal seperti itu, karena mungkin dia belum mendapat kepastian dariku.


Aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban dari ajakan Farid. perlahan dia mengambil tangan kiriku, kemudian ia mengambil cincin yang ada di dalam kotak merah berbentuk hati. untuk dipasangkan di jari manisku.


Setelah cincin itu terpasang dengan sempurna, tak terasa butiran kebahagiaan pun kembali mengalir, membasahi pipiku. Dengan refleks tangan Farid mengusap, membersihkan cairan bening itu. kemudian dia mengangkat daguku, supaya aku bisa menatap wajah pria yang sudah lama menemaniku.


Lama saling menatap, akhirnya kedua sudut bibir kita pun tertarik ke atas. "terima kasih ya! sudah mau menjadi istriku." ungkap Farid dengan suara sedikit lirih, Mungkin dia juga merasakan hal yang sama, seperti apa yang sedang kurasakan sekarang. kemudian dia memeluk kembali tubuhku dengan begitu erat.


Prok! prok! prok! prok!

__ADS_1


Terdengar suara tepuk tangan yang sangat meriah, memenuhi Aula rapat. Kemudian muncullah para karyawanku, dari tempat persembunyiannya. Mereka keluar dengan membawa setangkai bunga mawar, dan balon yang bertuliskan "terima kasih sudah mau menjadi istriku." membuatku dengan cepat melepaskan pelukan calon Imamku. menatap ke arah wajahnya, seolah bertanya dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf aku pinjam karyawanmu!" Ujar Farid sambil mengulum senyum.


Terlihat para karyawanku, mulai mendekati ke arah kita berdua. "selamat ya, bu! semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah." ucap seorang karyawan sambil mengajak kita bersalaman, untuk memberi selamat. Kemudian memberikan bunga dan balon yang ia pegang.


Akhirnya semua karyawanku, satu persatu memberi selamat atas acara pertunangan yang sangat luar biasa ini. karena mengingat ketika Arfan melamarku, tidak dilakukan seperti sekarang. dia langsung melamarku kepada orang tuaku, sehingga momen romantis seperti sekarang, baru kali ini aku merasakannya.


Setelah semuanya selesai memberi selamat, dan memberikan hadiah bawaan mereka. Farid mengajak semua karyawanku, turun ke lantai bawah, untuk merayakan keberhasilannya mengajakku menikah.


Setelah sampai di cafe shop, dengan noraknya. Farid berdiri di atas kursi, entah apa yang hendak ia lakukan.


"Buat semua orang yang ada di sini! kalian boleh makan sepuasnya, biar aku yang mentraktir kalian! karena Bu Erni, sudah menerimaku menjadi suaminya. terima kasih! silakan nikmati hidangannya." ungkap Farid diiringi dengan tepuk tangan yang begitu meriah, serta siulan-siulan dari orang-orang yang bisa melakukannya. membuatku sedikit merasa kesal, karena di situ ada Ari, pria yang belum sempat aku miliki, karena ketika mengetahui hubunganku dengan Farid, aku takut dia semakin susah untuk didapatkan.


"Terima kasih, ya! Sekali lagi terima kasih. untuk semuanya." ungkap Farid setelah ia duduk kembali di hadapanku.


"Sama-sama! namun nggak usah seperti itu, kita kan sudah tidak muda lagi." ungkapku.


"Nggak apa-apa! kan, nggak setiap hari ini, Lagian kita belum pernah melakukan hal seperti ini." ungkap Farid sambil mengulum senyum.


"Ya sudah! Ayo kita makan! Sebentar lagi aku harus masuk kerja." ungkapku sambil mengangkat tangan, memanggil waiter untuk meminta menu makanan.


"Nggak libur aja dulu! kita rayakan hari jadi kita." saran Farid.


"Nggak bisa, soalnya pekerjaanku masih banyak!" tolakku dengan halus.


"Huuuuuuh!"


Farid hanya menghembuskan napas pelan, terlihat raut kecewa Terukir di wajahnya.


"Nanti setelah aku pulang kerja! kita makan malam ya! sekalian ajak orang tua kamu, Kenalkan aku sama beliau!"

__ADS_1


"Siap tuan putri, saya akan usahakan, karena keinginan tuan putri, adalah perintah bagi saya!" Ujar Farid, terlihat wajahnya bercahaya kembali.


__ADS_2