
Point Of View (POV) Farid
Hari Senin pagi, aku seperti biasa bekerja di kantor Mandiri Group, ketika sedang asik terfokus dengan pekerjaan, terlihat Ira menghampiri.
"Sibuk nggak?" tanya Ira tak seperti biasanya. karena biasanya kalau mau memberikan tugas dia tidak pernah bertanya terlebih dahulu.
"Nggak bu, namun ada pekerjaan sedikit," jawabku sambil membalikan tubuh menatap ke arahnya.
"Kalau gak sibuk, tolong bantu selesaikan pekerjaan ini!" ujar Ira sambil mengulum senyum.
"Apa ini bu?" Tanyaku sambil mengambil berkas yang baru ia serahkan.
"Tolong Kamu salin Rab ini, bikin file fdf nya, nanti kalau sudah selesai kamu serahkan sama saya," pintanya tanpa menunggu jawabanku Dia Kembali ke tempat kerjanya.
Sudut mataku menangkap ada yang aneh dengan Gadis itu, biasanya Ira terlihat sangat angkuh dengan jabatannya. dia akan semena-mena Ketika memberikan tugas yang harus dikerjakan, tanpa menunjukkan rasa hormat sedikitpun, walaupun orang yang disuruh umurnya berada jauh di atasnya. berbeda dengan hari ini, Dia terlihat mengulum senyum sambil terus menatap ke arah topi putih, Entah mengapa dia bisa seperti itu.
Namun walau ada yang membuatku merasa janggal, Aku tidak terus fokus memperhatikan Ira, yang kelakuannya sangat aneh, Tidak seperti biasanya. aku kembali fokus menatap ke arah layar komputer, sambil membuka file yang baru diberikan oleh Ira. Hingga akhirnya aku terlalut dalam pekerjaan.
Pukul 12.00, waktu istirahat pun tiba. Pak Karto seperti biasa menarik tangannya ke atas, untuk meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
"Yuk istirahat....!" ajaknya sambil menatap ke arahku.
"Duluan saja Pak, saya sebentar lagi, tanggung nih....! paling 5 menit lagi."
"Ya sudah, tapi kamu harus tetap istirahat nanti gajimu dipotong," ujar Pak Karto sambil mengulum senyum, kemudian dia pun bergabung dengan karyawan-karyawan lain keluar dari ruangan staf pemasaran.
Setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ira, aku mulai meng-save data itu beberapa kali, seperti kebiasaanku ketika bekerja.
Usai menyimpan data, aku pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh pak Karto, meregangkan otot-otot yang kaku setelah 4 jam bekerja. Awalnya aku mau menyusul para karyawan yang sudah istirahat duluan. namun mataku menangkap Ira yang masih Duduk menatap layar komputer, dengan cepat aku pun menghampirinya. Aku Ingin segera menyampaikan bahwa tugas yang ia berikan telah selesai aku kerjakan.
"Permisi Bu...!" Sapaku sambil manggut memberi hormat.
"Yah, kenapa Pak Farid?" tanya Ira sambil mengulum senyum membuatku sedikit agak aneh.
"Berkas yang Ibu Berikan, Saya sudah menyelesaikan pekerjaannya, mau dikirim lewat apa?" Tanyaku menatap ke arah lantai, rasanya malu ketika ditatap seperti itu.
__ADS_1
"Lewat email saja, Mana nomor HP bapak, nanti saya send alamat email saya," ujar Ira.
Aku menyebutkan nomor handphone ku, kemudian Ira mencatatnya di handphonenya, setelah selesai Ira pun menelepon nomor yang baru saja aku Sebutkan.
Dret! dret! dret!
Handphoneku yang ada di dalam saku celana bergetar, karena aturan kantor tidak boleh menyalakan handphone ketika sedang bekerja, Apalagi ditambah ada aplikasi pesan web, jadi ketika klien yang mau berdiskusi. kita bisa membalasnya melalui komputer, tanpa harus mengeluarkan handphone.
"Ini nomor aplikasi pesan juga kan?" tanya Ira sambil menyimpan nomor kontakku.
"Iya Bu..!"
Setelah menyimpan nomor handphone-ku, Ira pun bangkit dari tempat duduknya. "Ayo kita istirahat...!' ajaknya sambil berjalan mendahului.
Mendapat ajakan gadis Arogan itu, aku hanya mengerinyitkan dahi tidak mengerti dengan sikapnya yang berubah tiba-tiba. namun Walau begitu, kakiku tetap melangkah berjalan mengikutinya.
"Bagaimana betah nggak kerja di sini?" tanya Ira sambil berjalan.
"Alhamdulillah betah Bu, kebetulan rekan-rekan kerja di sini sangat baik,"
"Ah, saya nggak sesempurna itu Bu, saya hanya berusaha sebaik mungkin menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan oleh perusahaan.
"Bagus, kalau begitu terus kembangkan bakatmu, agar perusahaan Mandiri Group mendapat klien yang sangat banyak." Motivasi Ira bak presiden direktur perusahaan.
Kita berdua terus berjalan sambil terus mengobrol, Ternyata Gadis yang sangat menyebalkan ini bisa seakrab sekarang. aku awalnya menyangka, bahwa Ira tidak akan bisa memiliki teman, karena tidak ada yang mau berhubungan dengan orang yang sangat kaku sepertinya.
Sambil Berjalan, sambil ditemani obrolan obrolan ringan. membuatnya tak terasa hingga akhirnya kita berdua sampai di aula makan. aku dan Ira mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi. Awalnya aku hendak mencari tempat duduk yang lain, namun Ira mengajakku duduk bersama.
Sambil makan, sambil terus bercerita tentang masa lalu, tentang keluarga, tentang cita-cita. hingga dari cerita Ira, sekarang aku tahu bahwa dia adalah gadis yatim. Dia memiliki kakak yang sedang sakit, sedangkan Ibunya sudah renta tidak bisa ke mana-mana, hanya bisa merawat kakaknya.
"Kalau pacar punya nggak bu?" Tanyaku semakin berani mencandai gadis kaku itu.
"Hehehe....," Tak Ada Jawaban hanya senyum tipis yang Terukir di wajahnya.
"Pasti banyak ya pacarnya," ujarku terus menggodanya.
__ADS_1
"Emang saya cewek apaan, kok pacarnya bisa banyak..." jawab Ira sambil membulatkan mata membuatku menunduk.
"Maaf bu, saya lancang, soalnya Ibu tidak menjawab, karena ibu sangat cantik pasti banyak orang yang tertarik sama ibu."
"Heheheh..., Kalau pacar saya tidak punya, tapi kalau yang dekat, ada....!" Jawab Ira yang tidak lanjut marah.
"Pasti orang yang dekat sama Ibu, sangat tampan dan pemberani. karena ibunya juga cantik," pujiku mulai menjilat.
"Iya bukan tampan tapi ganteng banget, kadang aku juga tidak menyangka bisa dekat dengan pria segagah itu." jawab Ira penuh kekaguman.
"Pasti....! pasti....!
"Apanya yang pasti?"
"Iya kalau nggak gagah dan ganteng, Mana mungkin Ibu bisa tertarik."
"Hehehe, kamu bisa aja, Bagaimana kalau kamu?"
"Kalau saya sudah dua kali menikah, yang pertama sudah meninggal, yang sekarang baru setahun berjalan." jawabku.
"Aduh, maaf....., saya nggak tahu kalau istri bapak sudah tiada," ujar Ira yang terlihat tidak enak.
"Nggak apa-apa Bu, namanya juga bercerita tentang masa lalu, pasti ada suka dan dukanya. tapi Alhamdulillah saya sudah menemukan pengganti yang begitu luar biasa."
"Ya sudah, jangan bahas yang sudah meninggal, itu tidak baik. kita doakan saja semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa."
"Amin!"
Obrolan pun terus berlanjut hingga tak terasa semakin banyak yang diobrolkan, kita semakin akrab. Sebenarnya aku tidak menyangka bisa seakrab sekarang. karena Ira adalah orang yang banyak karyawan hindari untuk didekati. sebab Ira memiliki sikap yang sangat Arogan dan dekat dengan atasan. Mereka takut kalau pekerjaan mereka diadukan oleh Ira kepada atasannya.
Selesai makan aku meminta izin untuk ke mushola, sedangkan Ira dia kembali ke kantor, karena menurut keterangannya Dia sedang tidak salat.
Sesudah melaksanakan salat, aku pun kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku, setelah sampai dengan cepat aku membuka aplikasi pesan web untuk mengecek email Ira.
Setelah ketemu, aku mulai mengcopy lalu mempastekkan di email, kemudian mengirim hasil pekerjaanku tadi ke email Ira. setelah terkirim aku memberitahu Ira bahwa filenya sudah dikirim, Ira hanya membalas dengan emoticon senyum sambil mengangkat jempol.
__ADS_1